
Happy reading .....
***********************
“Don’t push him ( Jangan memaksanya )”
“It can be needed sometimes ( Itu diperlukan sewaktu – waktu )”
Ilse bersikeras. Anthonypun sama. Dia tidak ingin ikut dengan Ilse, dan ia melingkarkan dengan kuat tangannya di leher Putra.
“Come Anthony ( Sini Anthony )”
“Doctor Ilse!” Raut wajah Putra mulai berubah. “Put your hands off from my son. ( Jauhkan tanganmu dari anakku )”
Putra berkata dengan menatap wajah Ilse dengan raut wajah yang datar dan nada suaranya terdengar dingin.
“But... ( Tapi ) ...”
Air muka Ilse pun juga berubah. Nampak kegugupan seolah menjalar disekujur tubuh Ilse diberikan tatapan yang tak mengenakkan oleh Putra.
“I said, Put your hands off from my son. ( Aku katakan, Jauhkan tanganmu dari anakku )”
Wajah tampan yang biasanya terlihat ramah meski jarang tersenyum itu kini nampak berbeda dihadapan Ilse.
“I-I’m sorry... ( Ma-maafkan aku... )”
Ilse berkata dengan gugup. Sementara itu Damian langsung mendekat pada Putra yang sepertinya sedikit emosi dengan sikap Ilse pada Anthony.
“I don’t like your attitude Doctor Ilse ( Aku tidak suka sikapmu Dokter Ilse )”
“I... ( Aku ... )”
“From now on I stopped Anth counselling with you ( Mulai sekarang kuhentikan konsultasi Anth denganmu )”
Datar saja Putra berbicara pada Ilse. Namun tatapan dan penekanan katanya cukup tajam.
“Please, Putra. I am so sorry if I nudge you. I really don’t meant it. Forgive me, ya? ( Tolong, Putra. Aku benar – benar mohon maaf jika aku menyinggungmu. Aku tidak bermaksud begitu. Maafkan aku, ya? )”
Ilse menunjukkan wajah penuh penyesalan yang bercampur dengan kegugupannya. Pasalnya baru ini dia dipandangi seperti itu oleh seseorang. Pandangan yang membuat diri Ilse tidak nyaman.
Namun tidak ada tanggapan dari Putra.
“I also ask an apologize from you too Anthony, would you? ( Aku juga meminta maaf padamu Anthony, maukah kamu memaafkanku? )”
Namun sama saja seperti Putra, tak ada tanggapan dari Anthony.
Damian, Addison, Bruna dan Garret memandang iba pada Ilse yang nampak jelas diabaikan oleh Putra dan Anthony saat ini.
Ada rasa kasihan, tapi empat orang tersebut sebal juga pada Ilse atas sikapnya pada Anthony yang jelas sedikit memaksakan kehendaknya pada bocah kesayangan mereka itu.
“Now step aside ( Sekarang minggirlah )” Ucap Putra Datar dengan tetap memandang tajam pada Ilse yang wajahnya nampak sedikit memucat.
Ilse nampak pasrah dan ia pun mengangguk kemudian dengan kegugupannya yang masih terlihat. Lalu Ilse menggeserkan tubuhnya.
“I really sorry ( Aku sangat menyesal )”
Namun ucapan Ilse tidak diindahkan oleh Putra yang sudah mengayunkan langkahnya menuju kearah yang Anthony minta.
***
Putra sudah mengayunkan langkahnya menuju ruang perawat berdampingan dengan Damian dan Anthony kini sudah berpindah tangan dalam gendongan Damian.
Sementara Addison, Bruna dan Garret berjalan di belakang mereka. Mereka juga meninggalkan Ilse begitu saja setelah Putra memberikan peringatannya pada Dokter cantik itu perihal sikapnya pada Anthony.
Meski Dokter Cantik itu sekilas Addison, Bruna dan Garret tampak sedih setelahnya. Namun mereka ambil sikap masa bodoh saja. Salah dia sendiri juga seperti itu – Begitu kira - kira batin ketiganya.
***
“I’m sure she shock ( Aku yakin dia syok )” Celetuk Garret.
“Her mistake! ( Salahnya sendiri! )” Sahut Addison.
“Huh! We even never talk loud to Anth neither force him ( Kita sendiri saja bahkan tidak pernah berbicara keras ataupun memaksa pada Anth )”
“She wants to get your attention through Anthony I guess, Putra ( Dia mau mencari perhatianmu melalui Anthony aku rasa, Putra )”
“Not interested ( Tidak tertarik )” Datar saja Putra menjawab.
Membuat empat saudaranya terkekeh kecil.
***
“Selamat pagi ..”
Putra menyapa pada seorang perawat di balik sebuah meja kayu setelah ia dan rombongan sampai ke ruangan yang Putra duga adalah ruangan khusus untuk para perawat di rumah sakit tersebut.
Tempat pertama kali Anthony bertemu dengan Gadis, setahu Putra.
Damian dan yang lainnya berdiri dibelakang Putra.
“Selamat pagi, Tuan”
Perawat yang sedang duduk dibelakang meja itu seketika berdiri dan membalas sapaan Putra dengan ramah.
“Saya ingin bertemu dengan perawat bernama Gadis, apakah bisa?”
“Gadis?”
Perawat tersebut bertanya balik pada Putra, dan Putra pun langsung mengangguk.
__ADS_1
“Iya benar Gadis” Jawab Putra. “Dia salah satu perawat disini, bukan?”
“Iya benar Tuan” Perawat tersebut menjawab pertanyaan Putra berikut dengan anggukan juga.
“Apa bisa kami bertemu dengannya?” Tanya Putra lagi.
“Maaf, jika boleh saya tahu ada kepentingan apa?. Apakah anda dari keluarga pasien yang ingin mengajukan keluhan atas sikap salah satu perawat kami?”
“Oh, tidak. Sama sekali tidak. Anakku ingin bertemu dengannya jika bisa” Putra menggeserkan sedikit tubuhnya dan menunjukkan Anthony yang digendong Damian pada perawat tersebut.
Dan tak Putra serta saudaranya sangka, perawat tersebut menampakkan senyum sumringahnya saat melihat Anthony. “Oh.. Anak Tampaan..”
Putra dan saudaranya spontan tersenyum karena perawat tersebut keluar dari balik meja dan menghampiri Anthony dengan sumringah.
“Hallo anak tampan .. kita bertemu lagi” Ucap perawat tersebut pada Anthony. “Sayang Suster Neni tidak mengerti Bahasa Inggris”
Anthony menunjukkan senyumnya, kala perawat itu menunjukkan sikap gemasnya pada Anthony.
“Eh, Maaf Tuan”
Perawat itu menyadari sikapnya karena lima pasang mata orang dewasa yang berada didekatnya itu memperhatikan dirinya, hingga akhirnya ia kikuk sendiri meski lima orang asing itu menampakkan senyumnya.
“Soalnya putra Tuan sangat menggemaskan. Dan kami sudah sangat menyukainya sejak ia tersasar kesini”
“Tidak apa – apa”
“Cuma saat datang kesini, dia diam saja ditanya juga diam saja. Jadi kami pikir dia tidak bisa mengerti bahasa Indonesia kalau kami lihat dari perawakannya yang pasti bukan orang Indonesia”
Perawat itu nyerocos saja dihadapan Putra dan yang lainnya.
“Untung saja ada Gadis yang sedikit – sedikit paham bahasa Inggris. Jadi kami tidak kesulitan waktu itu untuk mencari orang tua dari anak tampan ini. Dan Gadis yang akhirnya membawa anak ini waktu itu untuk mempertemukannya dengan orang tuanya”
Putra masih tersenyum lalu manggut – manggut.
“Jadi kamu mau bertemu dengan Suster Gadis ya, anak tampan?”
“She asked whether you want to meet Gadis, Anth ( Dia bertanya soal kamu yang ingin bertemu dengan Gadis, Anth )”
“Yes ..” Ucap Anthony pelan.
“Nah kalau itu, Suster Neni mengerti deh. Iya kan berarti?”
Putra terkekeh kecil melihat sikap perawat yang menyebut dirinya Suster Neni itu.
“What did she said? ( Dia bilang apa memang? )”
Bruna bertanya karena penasaran melihat Putra sedikit terkekeh.
“She doesn’t understand English. But ‘yes’, she understand ( Dia tidak paham bahasa Inggris. Tapi ‘yes’ dia paham )”
Bruna pun manggut – manggut, juga yang lainnya. Kemudian menyusul mengeluarkan kekehan kecil dari mulut mereka.
“Tentu saja boleh Tuan. Gadis ada, tapi dia sedang berkeliling memeriksa pasien menemani salah seorang Dokter”
“Begitu ya?”
“Jika anda dan keluarga mau menunggu, silahkan saja. Mari, tunggu di dalam. Lebih nyaman”
Perawat itu mempersilahkan Putra dan rombongannya untuk menunggu Gadis di ruangan khusus mereka.
“Sebentar, saya tanyakan dulu apa anak laki – laki dan keluarga saya mau menunggu”
Perawat itu mengangguk. Dan ia tetap berdiri untuk menunggu jawaban Putra. Sementara Putra mengatakan apa yang perawat itu jelaskan padanya barusan.
“Apa tidak mengganggu jika kami menunggu Gadis di dalam?” Ucap Putra kemudian pada perawat yang bernama Neni itu setelah Anthony mengiyakan untuk menunggu dan empat orang keluarganya pun tidak keberatan untuk itu.
Toh mereka cukup merasa penasaran kenapa Anthony sangat ingin bertemu dengannya. Sementara saat normal saja dulu saat di Italia, Anthony itu terbilang sulit didekati oleh orang yang baru ia temui.
“Tentu saja tidak Tuan” Sahut Suster Neni ramah. Lalu ia mempersilahkan Putra dan rombongannya untuk masuk ke dalam ruangan khusus perawat tersebut.
“Maaf, siapa namanya putra Tuan ini?” Tanya Suster Neni.
“Anthony”
“Wah cocok. Bagus namanya. Sesuai sama wajahnya yang tampan”
“Terima kasih”
“Anthony, mau ikut dengan Suster Neni?”
Suster Neni bertanya dengan ramah pada Anthony yang langsung melirik pada Putra dan Putra pun mengartikan ucapan Suster Neni dalam bahasa Inggris pada Anthony.
Anthony mengangguk dan Suster Neni makin melebarkan senyumnya. “Ayo kita masuk” Ajak Suster Neni pada Anthony yang sudah diturunkan Damian dari gendongan lalu meraih tangan Suster Neni yang kini sudah menggandengnya.
Damian, Addison, Bruna dan Garret juga tersenyum saja melihat Anthony tidak membatasi sikapnya pada perawat tersebut, seperti pada Ilse tadi.
“What a surprise Anth that easy accept someone that he just met ( Kejutan sekali melihat Anth bisa menerima seseorang yang baru ia temui )”
“Anth can assess people who sincere to him ( Anthony bisa menilai orang yang tulus padanya )” Ucap Putra.
Kemudian Putra berjalan mengekori Anthony yang sudah digandeng Suster Neni masuk ke dalam ruangan bersama empat saudaranya yang manggut – manggut setelah mendengar ucapan Putra.
**
Suster Ilse mempersilahkan lima orang yang bersama Anthony untuk duduk pada satu tempat yang lengkap dengan sofa dan meja sementara ia sendiri masih menggandeng Anthony.
“You want to sit here, Anth? ( Kamu mau duduk disini, Anth? )” Tanya Damian sambil menepuk – nepuk tempat diatas sofa dekatnya.
Suster Neni paham maksud Damian yang tertuju pada Anthony meski ia tidak paham ucapan Damian secara harfiah. “Anthony, duduk dulu ya? Suster ambilkan susu coklat untuk kamu”
__ADS_1
“She told you to sit here Anth. She will get chocolate milk for you ( Dia memintamu untuk duduk disini Anth. Dia akan mengambilkan susu coklat untukmu )” Putra mengartikan ucapan Suster Neni dan Anthony mengangguk lalu
menghampiri Putra dan duduk dipangkuannya.
“Tunggu sebentar ya?” Ucap Suster Neni pada Anthony lalu Putra mengulang lagi ucapan Suster Neni hingga Anthony mengangguk.
Suster Neni juga menawarkan minuman untuk Putra dan rombongannya, namun Putra tolak dengan halus karena ia merasa sungkan.
*
“You are so popular here, hem?* ( Kamu sangat populer sekali disini, hem? )”
Putra menggoda Anthony yang ia pangku, karena setiap suster yang wara wiri dan melihat Anthony pasti langsung menyapa dengan senyuman sumringah dan menyebutnya dengan ‘Anak Tampan’
“Silahkan Tuan”
Suster Neni datang dengan membawa baki berisi lima cangkir teh dan segelas susu coklat. Meski tadi Putra sudah menolak dengan halus kala Suster Neni menawarkan minuman untuknya dan empat orang lainnya.
“Maaf, jadi merepotkan anda” Ucap Putra yang menjadi tidak enak pada perawat yang ramah dan baik itu.
“Tidak merepotkan sama sekali Tuan” Sahut Suster Neni. “Silahkan diminum” Suster Neni pun mempersilahkan.
“Terima kasih”
“Thank you”
“Sama – sama” Sahut Suster Neni yang ikut duduk sembari juga mengangguk pada Damian, Addison, Bruna dan Garret.
Putra dan empat lainnya kemudian meraih cangkir teh didepan mereka, untuk menghormati perawat tersebut yang sudah menyediakan minuman untuk ke limanya.
Lalu tercipta obrolan ringan yang lebih banyak di dominasi oleh Putra dan Suster Neni, Damian dan yang lainnya sama sekali tidak paham bahasa Indonesia. Mereka semua menunggu dengan sabar menemani Anthony yang sangat ingin bertemu dengan Gadis.
**
“Anthony suka sekali sama Suster Gadis ya?” Tanya Suster Neni pada Anthony yang lagi – lagi menoleh pada Putra yang langsung menerjemahkan pertanyaan Suster Neni pada bocah itu. “Tapi memang ya, Anthony kecil – kecil sudah pintar menilai ya”
Suster Neni sedikit terkekeh.
“Tahu aja sama wanita cantik walau masih kecil juga. Matanya jeli ya?”
Putra ikutan terkekeh mendengar guyonan Suster Neni pada Anthony.
Membuat jiwa – jiwa penasaran yang tak paham bahasa Indonesia jadi ingin tahu kalau Putra sudah terkekeh begitu.
Damian meminta Putra menterjemahkan apa yang Suster Neni katakan barusan, dan Putra pun menterjemahkan. “Maaf Tuan ini ...”
“Saya Putra”
“Oh iya, Tuan Putra. Anda ayahnya Anthony ya?”
“Iya”
“Lalu ibunya?”
“Ibunya sudah tiada” Jawab Putra "Bruna ini Bibinya Anthony"
“Oh, maaf Tuan Putra. Saya turut berbelasungkawa”
“Tidak apa – apa. Terima kasih” Ucap Putra ramah.
Suster Neni membalas dengan anggukan dan senyum ramah.
“Sini Anthony, apa kamu mau Suster Neni pangku?”
Meski Anthony tidak paham bahasa Indonesia seperti halnya Suster Neni yang tidak paham bahasa Inggris, namun Anthony paham maksud Suster Neni yang menepuk – nepuk kedua pahanya.
Anthony menggeleng, dan Suster Neni pun tersenyum. “Kenapa?. Suster Neni tidak beautiful seperti Suster Gadis ya?”
Suster Neni berguyon dan Putra pun tersenyum.
“Anthony mungkin hanya sedikit malu” Ucap putra.
“Iya, tidak apa – apa Tuan. Putra anda ini sangat menggemaskan. Sudah mencuri hati para suster disini sejak pertama kali dia datang. Meski tidak berbicara tapi sudah bisa kami lihat dia anak yang baik dan sopan” Timpal Suster Neni.
“Terima kasih Suster, anda terlalu memujinya”
“Pasti ibunya Anthony cantik ya?”
“Iya”
“Pantas kalau begitu”
“???”
“Soalnya Anthony sepertinya tahu saja, kalau Suster Gadis adalah perawat paling cantik di Rumah Sakit ini. Mungkin karena ibunya cantik, jadi walau masih kecil tapi Anthony sudah bisa menilai perempuan ya Tuan. Karena terbiasa melihat wanita cantik di sekelilingnya?”
Suster Neni terkekeh kecil selepas ia mengeluarkan guyonannya. Putra menarik sudut bibirnya.
“Tuan sendiri sudah pernah bertemu dengan Suster Gadis?”
“Iya sudah”
“Bagaimana menurut Tuan? Suster Gadis cantik sekali bukan?”
Ehem!
*
To be continue...*
__ADS_1