
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia,
“Molto noioso ( Benar – benar menyebalkan )!”
Satu kalimat bernada sinis keluar dari mulut Putra dalam bahasa Italia, selepas saudari tiri Gadis yang Putra nilai lancang itu, telah keluar dari kamar pribadinya dan Gadis.
“Did I shock you, Prince? ...” Wajah kesal Putra langsung berganti teduh kala ia telah beralih pada Anthony yang Putra elus lembut pucuk kepalanya, dengan Putra yang agak merundukkan tubuhnya.
“A little bit ( Sedikit iya ), Papa,” jawab Anthony dengan menggemaskan, hingga membuat Putra, Gadis dan Bruna tersenyum dengan spontan.
**
“Well –“
“Maaf ya, Putra ...”
Gadis bersuara tepat saat Bruna hendak berkata, selepas interaksi Putra dan Anthony.
“Madya tahu – tahu masuk begitu saja tak lama sebelum kamu kembali dari ruang kerja, tanpa aku sempat mencegah dia.“
Membuat Bruna jadi menjeda ucapannya untuk sejenak, dan memilih untuk mendengarkan pembicaraan Putra dan Gadis yang bisa Bruna pahami --- karena Gadis berbahasa Indonesia dengan pelan.
**
“Jika sekali lagi dia berani masuk ke kamar ini dengan lancangnya, aku tidak akan segan mengusir dia dan ibunya dari sini tak peduli waktu andai hari ini dia kembali mengulangi sikap kurang ajarnya itu. Dan aku tidak akan mempedulikan protesmu.“ Putra kemudian berujar pada Gadis dengan nada suara yang normal, namun kalimatnya cukup menyiratkan sebuah penegasan.
Dan Gadis pun menangkap makna penegasan Putra dalam ucapannya barusan.
Jadi Gadis langsung mengiyakan tanpa berniat untuk menyergah ucapan Putra.
Begitu juga setelah kalimat penegasan Putra berikutnya. “Tapi tetap juga, mereka harus hengkang dari sini besok pagi ...“
“Iya, Putra. Selepas makan malam aku akan mengatakan itu pada mereka –“
“Ya sudah.”
**
“Well I better off now ( Kalau begitu sebaiknya aku undur diri sekarang )” Bruna bersuara.
“Okay, Bru ...” sahut Putra dan Gadis juga sama mengiyakan ucapan Bruna yang hendak keluar dari kamar mereka itu.
“Come Anth.”
Bruna lalu mengulurkan tangannya pada Anthony.
“Let him here ( Biar saja dia disini )” ucap Putra yang menangkap gelagat jika saudarinya itu ingin mengajak Anthony keluar dari kamarnya dan Gadis. "Let me who accompany him ( Biar aku yang menemaninya )--"
**
Karena Anthony mengiyakan ucapan Putra yang meminta jika Bruna membiarkan saja bocah tampan kesayangan mereka untuk bersama Papa Putra dan Mama Gadisnya di kamar pribadi keduanya, Bruna pun undur diri sekalian untuk pergi dari hadapan ketiga orang yang sempat bersamanya itu.
“Any special request of the menu for dinner ( Ada permintaan khusus untuk menu makan malam )?” tanya Bruna sebelum ia hengkang dari kamar pribadi Putra dan Gadis.
“French fries.” Anthony yang lantas menjawab dengan cepat dan bersemangat pertanyaan Bruna itu. “Also chicken burger of course,” tambah Anthony. Membuat Bruna, Putra dan Gadis langsung mendengus geli.
“You’re not eating burger at dinner, Prince ( Kamu tidak memakan burger saat makan malam, Pangeran )”
Bruna lalu berujar. Dan Anthony langsung mengerucutkan bibirnya.
Membuat Bruna, Putra dan Gadis jadi mendengus geli sekali lagi. Kemudian tangan Putra terulur untuk mengacak gemas rambut Anthony.
“Madre was right, you are not suggested to eat burger at dinner ( Madre benar, kamu tidak disarankan untuk memakan burger saat makan malam ) ...”
Putra lalu berkomentar. Yang komentar Putra itu kemudian diaminkan oleh Gadis.
“Beside, we don’t have supplies of burger bread here right now nor the meat for it ( Lagipula, kita tidak memiliki persediaan roti burger di sini sekarang dan juga dagingnya )” timpal Bruna.
“But if you really want it, we can go to buy it tomorrow ( Tetapi jika kamu sangat menginginkannya, kita dapat pergi untuk membelinya esok hari )”
Suara Putra terdengar lagi.
“I think I will take Gadis to hospital tomorrow, to have more details check up of her condition ( Aku pikir aku akan membawa Gadis ke rumah sakit besok, untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih mendetail tentang kondisinya ) ...”
Putra lanjut bicara, sambil ia kemudian melempar pandangannya pada Bruna dan Gadis. Dimana Bruna langsung mengangguk mengiyakan. Begitu juga Gadis.
“Tetapi itupun jika memang kondisimu sudah memungkinkan untuk bepergian –“
__ADS_1
“Iya, Putra. Aku rasa besok aku sudah bisa beraktifitas seperti biasa.”
Gadis langsung mengiyakan lagi ucapan Putra.
Dan Bruna pun undur diri dari hadapan Putra, Gadis dan Anthony.
Dimana Putra--Gadis dan Anthony, kemudian berinteraksi hangat bertiga.
**
“Pak Ab – dul ... ada perlu, dengan saya? ...” Bruna yang sudah keluar dari dalam kamar Putra dan Gadis itu, bertanya pada kepala pelayan villa mereka yang Bruna lihat nampak melamun di tempatnya. Dimana yang bersangkutan kemudian agak tergugu karena ia memang sempat melamun sebelumnya.
“Oh, engga Madam. Itu eeng ...” gugu Pak Abdul. ‘Duh sampe lupa aku ke sini mau ngapain gara – gara merhatiin itu saudari tirinya Nyonya Gadis!’
Sambil sang kepala pelayan itu membatin. Namun kemudian ia langsung menjawab pertanyaan Bruna tadi.
“Tadi ibu tirinya Nyonya Gadis, cari anaknya. Dan kalo saya ga salah liat, tadi dia naik ke lantai ini –“
“Ah ya. Wanita muda itu ... memang tadi ada di kamar Putra and Gadis ... tetapi ... dia sudah pergi ... eum ... sedari tadi ...”
Bruna langsung menanggapi ucapan Pak Abdul, dimana pria paruh baya itu langsung membatin lagi dalam hatinya. ‘Bener dugaan aku, kalo saudari tirinya Nyonya Gadis itu abis nguping omongan dari kamar Tuan Putra dan Nyonya Gadis ...’
“Pak Ab – dul ... ada perlu, dengan Putra? –“
‘Aku bilang ga ya sama Tuan Putra soal ini? ...’
Pak Abdul kembali larut dalam pikirannya saat Bruna bertanya padanya barusan.
“Pak Ab – dul? ...” tidak mendapat jawaban dari Pak Abdul, Bruna kemudian menegurnya.
“Eh, iya, Madam –“
“Apa ... kamu sakit?”
“Oh engga, Madam ... mohon maaf jika saya tidak memperhatikan. Saya itu ... anu ... ingin menanyakan soal menu makan malam ...”
“Bicara dengan, saya saja, untuk hal itu ...” ucap Bruna kemudian.
Pak Abdul pun langsung mengangguk mengiyakan .
“Mari Pak Ab – dul, lebih baik, kita pergi, ke dapur..” ucap Bruna lagi.
“Baik, Madam ...“ jawab Pak Abdul. ‘*Lebih baik* aku pikirkan dulu baik-baik soal aku perlu bilang atau engga ke Tuan Putra atau juga pada Madam, soal dugaanku kalo saudari tirinya Nyonya Gadis itu nguping tadi ... lagian juga aku ga ada bukti kalo aku bilang perempuan itu tadi nguping meski aku kurang suka padanya.’
'Tapi hatiku emang ga sreg sama keluarganya Nyonya Gadis itu.'
**
Sementara itu di dapur villa,
Ada anak dan istri Pak Abdul yang terlibat percakapan.
“Bengong aja dari tadi, Bu?”
Suheil menegur ibunya yang ia lihat lama tertegun dari sejak ia datang untuk membersihkan wastafel villa yang sedikit tersumbat.
“Eh kamu, Su.”
Ibunya Suheil itu pun sontak terkesiap.
“Mikirin apa sih?” tanya Suheil kemudian.
“Engga mikirin apa-apa.”
“Nah bengong begitu dari tadi Su perhatiin.”
“Ibu cuma lagi mikirin itu dua ibu sama saudara tirinya Nyonya Gadis ...”
“Kenapa? Lebih udik dari kita ya?”
“Hush!”
“Ya emang udik banget Bu sikap mereka dari dateng.”
“Bukan itu.”
**
“Ibu ngerasa ada yang aneh sama mereka.“
Ibu Marsih mengatakan dugaannya pada anak lelaki satu – satunya itu dengan tetap berbisik.
__ADS_1
“Anehnya? –“
“Mereka tuh suka kasak – kusuk di kamar, kayak lagi ngerencanain sesuatu.”
“Hayo lagi ngomongin apa? Anak sama ibu kompak banget ngegosip bareng?”
Saat Suheil hendak menanggapi ucapan ibunya, seorang asisten rumah tangga lain telah masuk ke dapur villa dengan satu orang asisten lagi yang membawa beberapa sayuran dalam keranjang.
Suheil dan ibunya segera menoleh.
“Enak aja gosip. Aku lagi ngomongin kenyataan.”
Ibunya Suheil langsung menjawab dugaan rekannya itu.
“Iya maap. Jangan marah atuh. Saya kan becanda. Emang Ibu sama Suheil lagi ngomongin apa sih? –“
“Ibu sama saudari tirinya Nyonya Gadis. Menurut saya teh mereka mencurigakan ...” tukas ibunya Suheil dengan masih agak berbisik dalam bicara.
“Kenapa, Bu Minah, Pak Tri? ...” celetuk Suheil yang menangkap dua orang yang ia sebutkan namanya itu saling lirik setelah ibunya berbicara.
“Gini ...” kemudian satu orang asisten rumah tangga yang bernama Minah itu angkat suara. Tapi omongannya terjeda, dengan ia yang kemudian celingukan.
Lalu Minah menyelempitkan dirinya diantara Suheil dan ibunya, lalu suaminya yang bernama Tri itu mendekat padanya-Suheil dan Ibu Marsih.
“Aku sama Mas Tri itu sebenarnya, pernah ngeliat saudari tirinya Nyonya Gadis itu di rumahnya juragan Baskoro ...” sambung Minah dengan nada suara yang rendah seperti Ibu Marsih bicara sebelumnya.
Kemudian Minah menoleh pada suaminya untuk mendapatkan dukungan. “Iya bener itu. Makanya saya sama Minah selalu menghindar buat bertatap muka sama dia. Soalnya dugaan saya itu, dia salah satu simpenannya juragan Baskoro. Karena waktu dateng itu malem-malem terus keluar dari sana malem-malem juga. Terus diendokin dalem kamar tuh seharian sama itu juragan mesum.”
**
Ucapan pria bernama Tri itu diaminkan oleh wanita bernama Minah, yang adalah istri pria bernama Tri tersebut, lalu pertanyaan keluar dari mulut Ibu Marsih.
“Terus kalian kenapa takut tatap muka sama saudarinya Nyonya Gadis? Terus kok ga bilang dari awal kalo kalian kenalin mukanya itu saudarinya Nyonya Gadis?”
“Bukannya takut, Bu. Males kita tuh. Orangnya rese banget.” Minah yang menjawab.
“Iya. Terus kita ini takutnya pas dia ngenalin saya sama Minah, nanti dipikirnya kami sekongkol sama dia buat bikin dia ada di sini. Padahal mah jijik—“
“Iya. Ih ... waktu di rumah juragan aja seliweran pake baju kurang bahan.” Minah menyambar ucapan suaminya sambil menggerakkan tubuh dan wajahnya menunjukkan ekspresi muak.
“Belom lagi ga tau malu. Moso begituan sama juragan Baskoro di ruang makan? Padahal ada tukang pukul yang lagi tugas jaga. Kalo tau mereka lagi maen, ogah aku bawain minuman mereka waktu itu--”
**
“Udah ngomong sama Nyonya Gadis? ...”
“Ya mana berani kami atuh? Orang ga ada bukti, selain mata saya sama Mas Tri.”
“Iya, nanti disangka kami fitnah.”
“Tapi kalo menurut saya sih, mending Pak Tri sama Bu Minah kasih tau Nyonya Gadis. Mumpung ada Tuan Putra juga tuh.”
“Bener kayaknya yang dibilang Suheil. Kalo itu saudarinya Nyonya Gadis perempuan nakal, apalagi saya teh ngerasa gelagat dia sama ibunya mencurigakan, mending kita laporan sama Tuan Putra. Takutnya mereka ada niat jahat sama Nyonya Gadis—“
“Aku sama Mas Tri ga berani ah, Bu. Takut kita dibilang tukang fitnah terus malah diusir dari sini. Soalnya Nyonya Gadis kayaknya perhatian sama itu ibu dan saudari tirinya ...”
“Iya, nanti kalo saudari tirinya Nyonya Gadis itu nyangkal omongan saya sama Minah ditambah kami ga punya bukti bener kata Minah yang ada kami diusir. Takut ah, Bu. Saya sama Minah betah banget kerja di sini. Untung tuh si Baskoro yang kejem itu dipateni sama Tuan Putra dan sodara – sodaranya jadi saya sama Minah bisa bebas dari kerja rodi sama dia. Terus boleh kerja disini, dapet majikan baik banget, ya sayang toh ... engga mau ah ngomong soal itu saudarinya Nyonya Gadis yang kami ceritain tadi.”
“Diomongin sama bapak aja kalo gitu ... terus tanya pendapatnya bapak. Terus nanti Bu Minah sama Pak Tri lakuin apa yang bapak suruh—“
“Iya, Suheil bener. Bapak kan lebih deket sama Tuan Putra, kalo bapak suruh kalian ngomong tentang apa yang kalian ceritain tadi, diikutin. Karena bapak pasti jamin kalian ...”
**
**
“Permisi—“
“Mau apa kau?—“
“Jangan galak-galak atuh, Tuaan ... aku cuma mau anter kopi buat Tuan—“
“Aku tidak meminum minuman dari sembarang orang—“
“Ya ampun, Tuan ... saya kan keluarganya Gadis. Dan saya jamin, Tuan pasti suka sama kopi buatan saya ... ketagihan malah nanti ...”
“Letakkan saja di meja itu dan pergilah.”
“Tuan Putra coba dulu, nanti kalo engga enak saya bawa lagi kopinya. Tapi saya yakin Tuan pasti suka ...”
“Bawa kesini kalau begitu.”
__ADS_1
****
To be continue .....