
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Author’s Pov ..
Italy ...
Putra dan keluarganya yang bernaung dibawah nama ‘Adjieran’, kini telah berada di sebuah ibukota provinsi Ravenna, Italia.
Kesemua orang yang menjadi keluarga karena suatu keadaan itu, meski sebelumnya juga sudah begitu akrab satu sama lain – namun karena sebuah tragedi yang juga membuat banyak dari mereka yang sudah akrab selama bertahun – tahun itu kehilangan para saudara mereka yang lain, akhirnya meninggalkan kota yang sedang mereka datangi saat ini.
Kota yang memiliki banyak kenangan dengan orang – orang yang Putra, Damian, Addison, Bruna, Garret bahkan Anthony kenal dengan sangat dekat layaknya keluarga sendiri – dimana kebanyakan dari orang – orang itu telah tewas karena perbuatan Jaeden dan orang – orangnya, yang sudah dibereskan oleh Putra dan para saudaranya yang masih tersisa.
Baik yang ikut dengan Putra pindah dan menetap di salah satu negeri kawasan Asia yang kaya budaya, maupun mereka yang berada di negara asal Putra dan para saudaranya termasuk kedua orang tua Anthony menetap sebelumnya. Yang sama – sama setia pada almarhum ayah kandung Anthony, juga keluarganya.
---
Ravenna, Italy ...
Kota yang sedang didatangi Putra dan dan para anggota inti dari keluarga barunya.
Kota yang merupakan ibukota Kekaisaran Romawi Barat dari tahun 402 sampai runtuhnya kekaisaran itu pada tahun 476.
Dan di satu bagian kota yang mosaiknya cemerlang dan lokasinya di dekat Laut Adriatik itu, ada satu dari dua bangunan yang memiliki cerita sendiri bagi Putra dan para saudaranya.
Terlebih untuk Anthony. “My, home.... Papa.... I will meet Daddy and Mommy ( Rumah, ku.... Papa.... Aku akan bertemu Daddy dan Mommy ).... Hiks....“ yang kemudian melirih pun sedikit terisak, ketika satu bangunan yang memiliki banyak kenangan untuknya dan telah ia tinggalkan selama beberapa waktu itu, kini sudah ada di dalam pandangannya secara langsung.
*****
Setelah ditenangkan Putra dan Gadis, Anthony lalu langsung turun dari mobil dibantu oleh Putra. Dengan satu buket bunga yang merupakan satu jenis bunga kesukaan almarhum ibu kandungnya. Yang memang sudah dipesankan dari jauh hari, agar buket bunga tersebut dan beberapa buket bunga lainnya – siap saat Putra dan keluarganya tiba di Italia.
Lalu Anthony berjalan bergandengan bersama Gadis di depan Putra yang berjalan berdampingan dengan seorang pria yang selama ini membantu menjaga dan merawat kediaman lamanya Anthony dan almarhum kedua orang tuanya, sambil Putra dan pria bernama Dante itu berbincang santai.
Seseorang yang punya cukup kuasa di Ravenna, dan di beberapa kota sekitarnya. Dimana cukupnya kekuasaan yang pria bernama Dante itu miliki sampai dengan saat ini, ada jasa almarhum ayah kandung Anthony yang cukup besar di dalamnya.
Makanya Dante, bisa dikatakan juga adalah orang yang setia pada ayah kandungnya Anthony itu, yakni, Rery Kingsley Smith. Yang tentunya langsung menerima amanat Putra dengan senang hati, kala ia diminta untuk menjaga kediaman Anthony dan almarhum keluarganya itu yang pasti akan menjadi target Jaeden, baik untuk di obrak – abrik – bahkan mungkin ingin dikuasai oleh pria yang membunuh Rery dan istrinya itu, berikut orang – orang setia mereka.
Author’s Pov – Off.
*****
“Want directly to the grave? ( Ingin langsung ke kuburan? )” Addison yang bersuara ini.
Bertanya sambil memandang kepada Putra yang telah mendekat ke tempat Addison berdiri bersama 4 orang lainnya.
Dimana Putra datang bersamaan dengan Anthony, Gadis dan Dante.
Lalu Dante yang menyahut.
“Better through inside. So you all can see, that I taking care this place so very well --- And I will give you the bill to pay for my hardwork for taking care this house, also avoiding that @s$hole name Jaeden and his people to get inside.”
“( Sebaiknya lewat dalam. Jadi kalian semua dapat melihat, kalau aku merawat tempat ini dengan sangat baik --- Dan aku akan memberikan tagihan untuk kalian bayar untuk merawat rumah ini, juga menghadang bajingan bernama Jaeden dan orang – orangnya untuk masuk )”
Menanggapi ucapan Dante yang sedikit berguyon itu, Putra dan para saudaranya berikut Ramone pun terkekeh --- sementara Gadis dan Bruna sedang sibuk dengan Anthony sambil mengarahkan pandangan mereka pada sekeliling halaman depan tempat mereka berada. Lalu mulai berjalan masuk ke dalam bangunan yang sempat dihuni oleh Anthony dan kedua orang tuanya itu, karena Anthony menyerukan ajakan untuk segera masuk ke dalam rumah lamanya tersebut.
“Let’s ask Anth ( Mari bertanya pada Anth )” ucap Putra selepas ia sempat terkekeh kecil bersama yang lainnya karena guyonan Dante. “Anth....”
Lalu Putra memanggil Anthony yang langsung menoleh kepadanya dan menyahut. “Yes, Papa?.....” sambil Anthony menahan langkahnya. Dan bocah tampan itu pun langsung ditanyai oleh Putra.
“Do you want to go to Daddy Rery and Mommy Madelaine final resting place, or want to look inside before? ( Kamu ingin langsung pergi ke tempat peristirahatan terakhir Daddy Rery dan Mommy Madelaine, atau ingin melihat ke dalam lebih dulu? )”
*****
“Is it okay if I go inside? ( Apa tidak mengapa kalau aku masuk ke dalam? )”
Anthony menjawab pertanyaan Putra dengan ia yang balik bertanya pada Papa Putranya itu.
__ADS_1
“Sure it’s okay. This is your home ( Tentu saja tidak mengapa. Ini rumahmu ), Anthony,” tukas Dante.
“I thought you already bought my home, Uncle ( Aku kira Uncle sudah membeli rumahku ini )” balas Anthony.
Dante lalu tersenyum, begitu juga Putra dan lainnya --- yang kesemuanya sedang memperhatikan Anthony itu.
“I just taking care and guard it, to make sure that this house will be always be yours ( Aku hanya merawat dan menjaganya, untuk memastikan kalau rumah ini akan selalu menjadi milikmu )”
Dante lalu menjawab. Dan Anthony langsung membalas ucapan Dante lagi dengan wajah polosnya yang terlihat tulus itu ketika mengatakannya.
"And even I bought this house, I won't avoiding you to come anytime you want ( Dan meskipun aku membeli rumah ini, aku tidak akan menghalangi kamu kapan pun kamu ingin datang )"
“Thank you, Uncle Dante –“
“My pleasure, Anth –“
“Let’s go in then.”
Putra lalu mengajak Anthony masuk ke area dalam rumah lamanya itu.
Dimana Anthony lalu langsung menanggapi dengan bersemangat ajakan Putra tersebut.
Membuat senyuman terbit lagi di bibir para orang dewasa yang bersama dengan Anthony.
*****
“Is my room still there? ( Apa kamarku masih ada? )” tanya Anthony sambil memandang pada Dante, ketika kaki kecilnya sudah di ambang pintu rumah lamanya itu.
“Of course!” jawab Dante antusias.
“Want to go there before meeting Daddy and Mommy?”
( Ingin pergi kesana sebelum menemui Daddy dan Mommy? )
Putra lalu langsung menawarkan. Lalu Anthony terdiam. Nampak berpikir.
“I think I want to meet Daddy and Mommy first, because they’re must be missing me that much.”
*****
Setelah mendengar jawaban Anthony atas pertanyaannya, Putra pun tersenyum.
Begitu juga lainnya yang memang ada didekat Anthony. “Let’s go then ( Ayo kalau begitu )”
Satu ayah angkat Anthony selain Putra lalu bersuara. Mengajak Anthony dan yang lainnya untuk meneruskan langkah.
Yang kemudian langsung Anthony iyakan. Dan bocah tampan yang hatinya sedang berbahagia serta ada sedihnya juga itu kembali mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah yang pernah ditinggalinya bersama kedua orang tua tercinta.
Namun sayangnya, kali ini, kala Anthony kembali ke dalam rumah lamanya itu, kedua orang tuanya tidak ada disana.
Tapi Anthony tetap menampakkan senyumnya. Walau ada sedih di hatinya, tapi Anthony sudah menerima satu kenyataan pahit dalam hidupnya itu.
Dan itu semua karena Papa Putranya, yang memberikan Anthony kehangatan sebuah keluarga yang berisikan beberapa ayah dan dua ibu, serta satu kakek yang merawat dan memperhatikan serta memperlakukannya dengan penuh kasih sayang --- tanpa Anthony harus sulit dan kesepian karena tidak punya orang tua diusianya yang masih terbilang kecil itu.
Jadi sedihnya Anthony karena kehilangan kedua orang tua kandung untuk selamanya, tidaklah parah.
“Kenapa Anthony?....” suara Gadis terdengar menyebut nama bocah itu yang menghentikan langkah dengan tiba-tiba kala mereka berada pada satu ruang dalam rumah lamanya Anthony.
Gadis bertanya dalam bahasa Indonesia yang spontan tercetus dari mulutnya.
*****
Anthony yang sebelumnya riang, dalam sekejap Gadis perhatikan menjadi tegang. Mata bocah tampan itu nampak nanar memandang ke satu sudut, dimana ada satu ruangan yang pintunya nampak tertutup disana.
Gadis merasakan tangan Anthony yang sedang ia genggam mulai mendingin. Lalu Gadis rasakan Anthony menegang, dari genggaman tangan bocah tampan itu di tangan Gadis yang merasakan seperti ada yang salah dengan Anthony.
Lalu tak lama setelah Gadis merasakan jika ada yang salah dengan Anthony,
__ADS_1
Srek!
Buket bunga yang dipegang Anthony di tangan bocah tampan itu yang satunya, terlepas dari sana.
Bersamaan dengan tubuh Anthony yang lunglai dan nampak akan tumbang.
*****
“ANTHONY!!!”
“ANTH!!!”
Dan pekikan panik para orang dewasa yang berada di dekat Anthony pun langsung terdengar bersamaan.
“Anth....”
Putra yang dengan cepat meraih tubuh Anthony yang juga keburu dipegangi Gadis hingga tubuh bocah itu tidak sampai membentur lantai, melirih khawatir sambil ia mengangkat tubuh Anthony.
Yang kemudian Putra bawa tubuh Anthony yang tidak sadarkan diri itu ke sebuah ruang dimana ada sofa panjang disana. Lalu membaringkan tubuh lunglai Anthony yang pingsan diatas sofa panjang tersebut.
Dan Bruna serta Gadis yang kemudian melesak untuk memeriksa kondisi Anthony yang wajahnya kini nampak pucat itu.
*****
“Aku perhatikan tadi Anthony mulai tegang waktu lihat ruangan itu....” ucap Gadis sambil memandang pada Putra, sambil menunjuk ke salah satu sudut. Dimana mata Putra spontan mengikuti arah telunjuk Gadis.
“That room ( Ruangan itu )....”
Ramone menggumam. Sambil ia juga melihat ke satu ruangan yang ditunjuk Gadis.
“Where’s that m*therf*cker killed Rery and Madelaine in front of Anth ( Tempat dimana keparat itu membunuh Rery dan Madelaine di depan mata Anth )....”
Damian lalu meneruskan gumaman Ramone, dengan ekspresi prihatin. Lalu ia menghembuskan nafas beratnya.
*****
Sama halnya dengan Damian, semua orang yang tadi panik bersama termasuk Putra, juga menghembuskan nafas mereka dengan berat setelah melihat ke titik yang ditunjuk Gadis—lalu pemikiran yang sama terbersit di otak mereka. Tentang mengapa Anthony jadi tiba-tiba pingsan. Dan kondisinya kini tidak sadar dengan keringat dingin yang mulai muncul di dahi dan tangan bocah tampan kesayangan mereka itu.
“It’s Anth’s trauma, because he remember about what happened that day when he saw that room ( Ini traumanya Anth, karena ia mengingat tentang apa yang terjadi hari itu ketika ia melihat ruangan itu )” dan pemikiran kesemua orang dewasa itu dicetuskan oleh Bruna.
“How can I missed to think about that when decided here and before we take Anth in? ( Bagaimana aku bisa melewatkan berpikir tentang hal itu saat memutuskan untuk kesini dan sebelum kita membawa Anth masuk? )....” sesal Putra.
“So how it’s gonna be? ( Jadi bagaimana? )”
“I’m confused then ( Aku bingung sekarang )” jawab Putra pada Addison yang barusan bertanya.
“Ditunggu sampai Anthony sadar saja, Putra,” ucap Gadis kemudian. “Setelah melihat ruangan itu memang membuatnya trauma, tapi kalau kita juga membawanya pergi dari sini begitu saja sementara Anthony kita semua tahu sangat ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya, apa nanti ga mengecewakan dia?”
*****
“Eengg—“
“Anth?....”
Putra yang pada akhirnya menyetujui usul Gadis itu, kemudian langsung meraih tangan Anthony sambil ia usap lembut kepalanya.
“Pa-pa....” lirih Anthony. “I.... saw when Mommy died with blood in her body.... and then... and then Daddy was shot.... then they took me awaay.... ( Aku.... melihat saat Mommy meninggal dengan darah.... ditubuhnya... lalu.... lalu Daddy ditembak.... lalu mereka membawaku pergi.... )”
“I know, Anth.... I know ( Aku tahu, Anth.... Aku tahu )....”
Putra lalu menenangkan Anthony.
“But now that’s just a bad memories.”
( Tapi sekarang itu hanya menjadi kenangan buruk )
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
__ADS_1
To be continue....
Terima kasih masih setia.