
Happy reading ..
◽◽◽◽
“Ayo..”
“Kemana?.. Apa ingin melihat Anthony?”
“Tengah malam nanti baru kita temui Anth”
“Jadi kamu mau mengajakku kemana?”
“Mengajakmu mencoba kenyamanan ranjang di kamar ini ..”
***
Putra sudah membawa Gadis berbaring di atas ranjang dalam kamar yang seharusnya adalah kamar almarhum kedua orang tua Anthony. Namun karena Anthony sudah meminta untuk mempunyai kamarnya sendiri yang memang sebelumnya sudah dipersiapkan dan dibuat terhubung dengan kamar orang tuanya seperti kamar Anthony yang berada di Mansion-nya di Ravenna. Jadilah Putra mau tidak mau menempati kamar orang tua Anthony yang sudah tiada itu.
“Kenapa hem?....”
Putra mesam-mesem, melihat Gadis yang nampak canggung disisinya yang sama-sama sudah berada di atas ranjang dalam kamar tersebut.
“Kemari, dan berbaringlah”
Putra menepuk-nepuk bantal yang sudah ia posisikan berada didekatnya.
“Jangan hanya duduk, berbaringlah baru kamu dapat merasakan bagaimana nyamannya ranjang ini”
Gadis tidak menyahut, tidak juga bergerak. Nampak ragu-ragu, gugup lebih tepatnya. Kalau menyangkut ranjang dan ada Putra didekatnya, Gadis rasanya was-was.
Sedang menerka-nerka dalam otak dan hatinya, apa Putra akan melakukan hal seperti kemarin malam di kamar Putra yang berada di Kediamannya di Ibukota.
“Hei! Gadis” Panggil Putra dan Gadis pun terkesiap.
“Y-a?....”
Putra yang nampaknya paham dengan apa yang sedang Gadis pikirkan itu nampak masih mesam-mesem saja.
“Kemari dan berbaringlah disini seperti yang aku katakan tadi ...”
“.........”
“Berbaring disini dan beristirahatlah, karena aku juga sedikit mengantuk ...”
“Maksudmu, mengajakku mencoba kenyamanan ranjang ini, itu.... tidur?...”
Putra mendengus geli, melihat ekspresi Gadis yang bingung dan nampak memiliki tanda tanya dalam hatinya itu.
“Memangnya apa yang kamu pikirkan? ....”
Gadis menggeleng pelan.
“Tidak ada ...”
Putra bangkit dari posisinya yang berbaring miring dengan satu tangan yang menopang kepalanya itu.
Dan Gadis spontan menegang, bahkan sedikit memundurkan dirinya karena kaget pada Putra yang tiba-tiba sudah sangat dekat padanya saat ini, dengan sebuah seringai kecil dibibirnya.
“Otakmu sedang berpikir kotor pasti, ya? ....”
“Enak saja kamu bicara!”
“Lalu, mengapa kamu bertanya soal aku yang mengajakmu mencoba kenyamanan ranjang ini hem? ....”
Gadis sedikit gelapan.
“Yaaaa .... itu kan karena ucapanmu soal mencoba kenyamanan ranjang terdengar ambigu?...”
“Ambigu bagaimana? ...”
“Yaaaa ...” Gadis hendak menyahut.
“Jangan-jangan kamu sedang berharap jika aku sedang berada diatasmu seperti semalam ya? ...” Tapi Putra sudah keburu memotong ucapan Gadis.
“Putraaa ...”
“Hahaha!!! ...”
*****
“Putra?...”
Gadis yang baru saja bangun dari tidurnya itu memanggil Putra yang nampak sedang berdiri di dekat pintu kamar tempatnya dan Putra berada saat ini.
Putra yang posisinya seperti sedang menguping itu kemudian menempelkan telunjuknya di bibir Putra sendiri, mengkode agar Gadis jangan bersuara.
“Ada apa? ...” Gadis yang sudah bangkit dari ranjang itu sontak bertanya pada Putra yang menempelkan telinganya di daun pintu sembari tersenyum kecil, hanya dengan gerakan bibirnya saja.
Putra kemudian meraih tangan Gadis dan membawanya menjauh dari pintu kamar.
“Ada Anth diluar kamar ini” Ucap Putra dengan berbisik pada Gadis.
“Lalu bagaimana? .... Kita tidak jadi memberikan Anth kejutan tengah malam nanti, jika sekarang dia masuk ke kamar ini? ....”
“Anth sedang merajuk untuk bisa masuk ke kamarnya yang baru, sementara memang sengaja aku kunci dan akan aku bukakan nanti saat sudah tengah malam sebagai hadiah untuknya....”
“Lalu jika Anthony masuk ke kamar ini, bagaimana?. Bukankah kamar ini dan kamar Anthony kamu bilang berhubungan? ....”
“Tenang saja, aku juga sudah mengunci kamar ini ...” Kata Putra yang berbicara dengan sama-sama berbisik pada Gadis, seperti halnya juga Gadis yang berbicara dengan berbisik pada Putra.
Gadis kemudian mengangguk sembari mengangkat jempolnya.
“Syukurlah kalau begitu ...” Kata Gadis dengan masih berbisik.
Putra melirik jam yang ada di kamar barunya itu.
__ADS_1
“Masih ada empat jam lagi sebelum tengah malam....”
“Lalu, apa rencanamu?...”
“Mandi bersamamu”
***
Sementara itu, seperti apa yang Putra tadi dengar dari balik pintu kamarnya, Anthony yang sudah bangun dari tidur sorenya itu memang benar sedang merajuk, dan tiga orang ayah angkat serta satu ibu angkatnya ada bersama Anthony karena Anthony yang sedari siang tadi sudah merajuk karena kesal menunggu Putra yang tidak datang-datang kembali ke Villa.
Empat orang tua angkat Anthony itu sedikit nampak kerepotan dan merasa geli diwaktu yang sama karena Anthony yang sedang merajuk itu.
“Papa is so awful now! ... (Papa itu menyebalkan sekali sekarang!) ....”
Itu Anthony yang bersedekap sembari cemberut di depan pintu kamarnya yang baru.
“He already broken his promise to me to come home today! But Papa still not coming until now!”
(Dia sudah mengingkari janjinya padaku untuk pulang hari ini! Tapi sampai sekarang Papa belum pulang juga!)
Sementara para orang dewasa yang sedang bersama Anthony itu mendengus geli saja mendengar cerocosan Anthony dalam rajukannya itu.
“And now he lock my room ... Also breaking his promise to allow me sleep in my own room! .... (Dan sekarang dia mengunci kamarku ... Juga mengingkari janjinya untuk membiarkanku tidur di kamarku sendiri! ...)”
“Your room still not neat yet, Anth ..... (Kamarmu itu belum rapih, Anth.....)”
“It’s already neat Daddy Dami ..... (Sudah rapih Daddy Dami..)”
“But the workers was not coming again. So it means that my room is already neat and I can occupy it (Tetapi para pekerja sudah tidak datang lagi. Jadi itu berarti kamarku sudah rapih dan aku bisa menempatinya)...”
“Haish ...”
Damian pun mendengus pelan.
‘This young boy is so talkative just like his Papa Putra when that guy is carping....’
(Pria muda ini cerewet sekali macam papa Putra-nya saat pria itu sedang mengomel! ...)
Damian menggerutu geli dalam hatinya.
“Look Anth, your room is neat, but need to be cleaned once again before you can occupy it ...... Okay? ... (Dengar Anth, kamarmu memang sudah rapih, tetapi tetap harus dibersihkan dulu sekali lagi sebelum kamu bisa menempatinya ... Oke? ....)”
“Daddy Dami was right Anth ... Just wait for your Papa come, then you can give an direct order to him to open your room (Daddy Dami benar Anth ... Tunggu saja sampai papa-mu datang, lalu kamu bisa langsung memberikan perintah padanya untuk segera membuka kamarmu ini) .....”
Garret ikut membantu membujuk Anthony yang masih cemberut itu.
“I also will chide him! .... (Aku juga akan memarahinya!)”
“I couldn’t agree more with you! ... (Aku setuju sekali denganmu!..)”
“Then we will chide Papa Putra together right after he arrives here!... How is it?”
(Kalau begitu nanti kita marahi Papa Putra bersama-sama tepat saat dia sampai kesini! .... Bagaimana?)...
Addison ikut menimpali ucapan Bruna dengan memasang wajah yang berlagak serius pada Anthony seraya ia menatap Anthony, dan sedikit membungkukkan badannya di depan bocah yang sedang cemberut itu.
Garret, Bruna dan Damian manggut-manggut dengan cepat didepan Anthony juga dengan wajah mereka yang dibuat berlagak serius.
“Okay! (Oke!)” Sahut Anthony lantang.
“Good (Bagus)” Empat orang tua angkat Anthony yang sedang bersama bocah itu pun sama-sama mengangkat jempolnya.
“Now, how about we play Halma? (Sekarang, bagaimana jika kita bermain Halma?)...”
“Okay Padre!”
“Then I will give you a gift if you can win from me ... (Aku akan memberikanmu hadiah jika kamu bisa menang dariku .....)”
“How about if the gift is punishment for Papa because he’s breaking his promise to me?..... (Bagaimana jika hadiahnya itu hukuman untuk Papa karena mengingkari janjinya padaku? ...)”
Dan ke empat orang dewasa yang bersama Anthony itu tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh atas ucapan Anthony barusan.
****
Satu jam telah berlalu dan waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam waktu setempat.
Selepas mandi, yang mana mandi bersama hanya sekedar godaan Putra pada Gadis, seperti godaan Putra soal mencoba kenyamanan ranjang, yang maksudnya memang beristirahat dalam arti yang sebenarnya, begitupun untuk mandi.
“Kamu bosan ya? ...” Tanya Putra pada Gadis yang duduk disisinya di atas sofa dalam kamar tempat mereka menunggu waktu untuk memberikan kejutan pada Anthony tengah malam nanti, tepat di jam dua belas malam.
“Tidak kok”
Seraya Gadis menggeleng.
“Lapar? ...”
“Tidak juga ...”
“Ingin teh dan kudapan?”
“Tidak usah, nanti saja...”
“Tidak apa, aku akan meminta Pak Abdul membawakan teh dan kudapan untukmu ....”
“Jangan, nanti saja ... Hanya tinggal tiga jam lagi, nanti jika kamu keluar sekarang, sia-sia kita bersembunyi untuk mengejutkan Anthony”
“Aku bisa menghubungi Pak Abdul di dapur tanpa harus keluar kamar ...”
Putra menunjuk pada meja kerja di sudut ruangan, dan ada sebuah pesawat telepon yang ada di atas meja kerja tersebut.
“Aku akan meminta Pak Abdul untuk mengantar teh dan kudapan kesini tanpa sepengetahuan Anth” Ucap Putra yang hendak berdiri dari duduknya.
“Tidak usah .....” Tahan Gadis.
“Ya sudah”
__ADS_1
“Jika boleh, aku ingin melihat kamar Anthony?”
“Tentu saja boleh”
Putra pun berdiri seraya mengajak Gadis.
“Ayo, kita lihat kamar anak kita?...”
Gadis menampakkan senyumnya pada Putra selepas pria itu mengucapkan apa yang ia ucapkan barusan pada Gadis.
“Kita akan menikah .... Ah, aku tepatnya yang akan menikahimu. Dan Anth adalah anakku.... Jadi Anth akan menjadi anakmu juga nantinya...” Ucap Putra sembari memandang pada Gadis.
“Tidak, Putra ...”
“Apa kamu keberatan jika aku memintamu menganggap Anth sebagai anakmu sendiri?. Anak kita? ...”
“Bukan nanti ... Tapi Anthony ... bagiku, ia sudah menjadi anakku sekarang....”
“Terima kasih Gadis” Ucap Putra tulus pada Gadis, dan wanita itu mengangguk seraya tetap menampakkan senyumnya yang juga tulus pada Putra.
“Sama-sama....”
“Tidak salah jika Anth sudah sangat menyukaimu sejak kali pertama ia berjumpa dengan kamu...”
“Aku juga merasa sangat beruntung bisa bertemu dan berkenalan, serta disayangi Anthony sampai seperti itu. Aku sangat tersanjung.... Karena itu, aku pun bisa bertemu, berkenalan dengan kamu... bahkan sampai dicintai olehmu” Ucap Gadis yang ketulusan sarat dalam ucapannya itu.
Sesaat, dua pasang netra itu saling melempar tatapan teduhnya.
“Dan hatiku tidak salah memilihmu”
Cup!
Satu kecupan kemudian Putra daratkan di kening Gadis.
****
“Apa kita akan memberi kejutan pada Anthony disini? .....” Tanya Gadis saat ia dan Putra sudah berada di dalam kamar Anthony yang baru.
“Iya ...” Jawab Putra. “Aku rasa Anth sudah dibawa masuk ke kamar kami yang lama ..”
Gadis mengangguk selepas Putra berbicara padanya setelah mereka berdua selesai sedikit beberes di kamar Anthony yang baru itu, sekaligus menata hadiah-hadiah yang sudah disiapkan untuk Anthony dari Putra, Gadis dan semua orang yang menyayangi bocah tampan itu disekitarnya saat ini.
Kamar Anthony juga sudah didekorasi sedemikian rupa oleh Damian dan Garret dengan dibantu Pak Abdul secara diam-diam. Hanya dekorasi sederhana, namun terlihat cukup meriah juga untuk sebuah kejutan ulang tahun Anthony yang ke tujuh tahun itu.
“Sebentar, aku akan menghubungi Pak Abdul ....”
Gadis mengangguk saat Putra sudah akan kembali masuk ke kamar yang akan menjadi kamarnya mulai saat ini, yang terhubung juga dengan kamar Anthony yang baru.
****
“Are we still taking Anth here?... he’s already sleeping... (Apa kita tetap akan membawa Anth kesini?... dia sudah tertidur ....)”
Itu Addison yang datang menyambangi Putra ke kamar Anthony yang baru selepas Putra menghubungi Pak Abdul dan empat pelayan lainnya yang memang belum pergi untuk beristirahat itu.
“It's okay.... Just take Anth here if the time has come ..... I’m sure he won’t get sleepy anymore after this ... (Bawa saja Anth kesini jika waktunya sudah tiba ... Aku yakin dia tidak akan lagi mengantuk setelah semua ini ...)”
“Alright then (Baiklah kalau begitu)..”
Addison pun mengangguk seraya tersenyum, dan Pak Abdul serta empat pelayan lainnya kemudian datang dengan berjalan perlahan dan berhati-hati membawa kue ulang tahun Anthony hasil buatan tangan Bruna, dan beberapa kudapan serta minuman untuk pesta kejutan ulang tahun Anthony malam ini.
“Apa ada lagi yang mau dibawakan?” Tanya Gadis dengan ramah pada Pak Abdul. Sementara Putra bercakap dengan Addison serta empat pria lain yang kemudian menyusul muncul.
“Tidak ada Nona, ini sudah semuanya”
Pak Abdul menjawab ramah dan sopan.
“That handsome little guy will be very happy ... (Pria kecil tampan itu pasti akan sangat bahagia ...)”
Itu Damian yang juga sudah menyambangi kamar baru Anthony, dan tetap disana hingga Bruna yang menemani Anthony di kamar lama yang ditempatinya bersama Putra membawanya ke kamar barunya itu setelah waktunya tiba.
“I really hope so ... (Aku sangat berharap seperti itu...). After all that he been through (Setelah semua yang dia alami), Dam....”
“He will, Putra ... Anth will be so much happy even Rery and Madelaine is no longer here to celebrate his birthday like those years behind (Pasti, Putra .... Anth akan sangat bahagia meskipun Rery dan Madelaine tidak disini lagi untuk merayakan ulang tahunnya seperti tahun-tahun sebelumnya) ....”
“Dami was right, that handsome little guy will be very happy knowing that he get this birthday surprise from all of us (Dami benar, pria kecil tampan itu akan sangat bahagia saat mengetahui bahwa dia mendapatkan kejutan ulang tahun dari kita semua)”
“I guess it’s right (Aku rasa itu benar)”
Danny yang memang sudah menginap di Villa milik Putra dan keluarganya itu ikut menimpali
“Anth will be so much happy ... I believe that he don’t even think that we are prepared a birthday surprise for him”
(Anth akan sangat bahagia ..... Aku rasa dia juga tidak menduga kalau kita sudah menyiapkan kejutan ulang tahun ini untuknya)
Addison kembali berbicara.
“Sure he is. From what I see, that Anth is not noticed about his birthday (Pasti dia bahagia. Dari yang aku perhatikan bahkan, sepertinya Anth tidak ingat tentang ulang tahunnya)...”
“Really?...... (Benarkah?.....)”
“Hu’um”
Damian manggut-manggut menanggapi Putra.
“Because if he remember, he will not stop talking to remind us for not forget preparing gifts for him, just like when the time for Christmas almost come ..... remember how fussy Anth will become if his birthday almost arrived?...”
(Karena jika ia ingat, dia tidak akan berhenti bicara untuk mengingatkan kita agar tidak lupa menyiapkan hadiah untuknya, sama seperti saat natal akan tiba ... ingat betapa cerewetnya Anth jika ulang tahunnya hampir tiba? ....)
Putra, Damian, Addison dan Garret sontak terkekeh bersama.
Sementara Danny dan Arthur yang baru bergabung dalam ruang lingkup hidup Putra dan para saudaranya itu hanya ikut tersenyum, mendengar sedikit obrolan nostalgia para Tuan pemilik Villa megah itu.
****
To be continue ........
__ADS_1