
Happy reading .....
***************
Bandung, Indonesia ....
“Don’t you feel dissapoint if Papa not gather with us now to celebrate christmas, Mama ( Tidakkah Mama merasa kecewa jika Papa tidak berkumpul bersama kita untuk merayakan natal )?”
Ada Anthony yang sedang berbicara dengan Gadis, kala bocah tampan itu nampak termenung sendirian di dekat jendela kediaman ia dan keluarga angkatnya di sebuah daerah yang berada di barat jawanya Indonesia.
Gadis kembali tersenyum dan mengusap lagi pucuk kepala Anthony dengan lembut, setelah sebelumnya ia melakukan hal yang sama pada bocah tampan kesayangannya dan Putra----berikut semua orang yang tinggal di kediaman megah mereka tersebut, saat Anthony telah mengatakan keluhannya tentang tiadanya tanda-tanda kedatangan Putra di hari natal seperti yang Papa Putranya itu janjikan padanya.
Dimana saat mengusap dengan lembut pucuk kepala Anthony itu, Gadis berucap dengan lembut juga untuk memberikan pengertian pada si bocah tampan kesayangan semua orang tersebut.
“I do, I do will feel dissapoint ( Tentu, Tentu aku akan merasa kecewa ) ...”
“.......”
“But, I will think positive. Maybe, Papa, Daddy Damian and Garret, are still busy at there. Or, have a problem, so they can’t comeback here right on christmas.”
“( Tapi, aku akan berpikir positif. Mungkin, Papa, Daddy Damian dan Garret, masih sibuk di sana. Atau, ada masalah, sehingga mereka tidak bisa datang ke sini tepat di hari natal )”
“Mama Gadis was right ( Mama Gadis benar ), Anth.” Satu suara lagi kemudian terdengar dari arah belakang Anthony dan Gadis. “Remember that still winter at England? ... so perhaps the snow is falling quite hard at there then the plane was has a difficulties to fly over ( Ingat bukan jika di Inggris sedang musim dingin? ... jadi mungkin saja salju sedang turun sangat lebat di sana dan pesawat memiliki kesulitan untuk terbang ) ...”
Adalah Addison yang datang mendekati Anthony dan Gadis bersama dengan Bruna dan Ramone.
“I know. But Papa don’t even make a call to say Merry Christmas ( Aku tahu. Tapi Papa bahkan tidak menelefon untuk mengatakan Selamat Natal ), Padre ...”
*****
“Let’s call Papa again Padre, maybe he’s already finish what he was did ( Ayo kita hubungi Papa lagi Padre, mungkin dia sudah selesai dengan apa yang dia lakukan ) ...”
Anthony mendekat pada Addison.
“I just make a call ( Aku baru saja menghubungi ) ...” Addison angkat suara untuk menanggapi ucapan Anthony yang berupa permintaan tersebut.
“Then? ... “ tukas Anthony sebelum Addison menyelesaikan kalimatnya.
“The line is no longer active ( Salurannya sudah tidak aktif ) ...”
****
Anthony kembali menampakkan ekspresi sendunya setelah mendengar ucapan Addison, yang membuat bocah tampan itu kian kecewa.
“Come, let’s go to continue decorate our christmas tree ( Ayo, kita melanjutkan menghias pohon natal kita )?”
“I want to go back to my room ( Aku ingin kembali ke kamarku ) ---“
“An ---“
“.....”
__ADS_1
Gadis tidak langsung melanjutkan ucapannya yang ingin menahan Anthony dimana bocah tampan itu nampak mulai merajuk, karena Ramone menyentuh pelan lengannya lalu memberi kode dengan gerakan mata agar membiarkan saja Anthony dulu.
“Ah, aku jadi kasihan sekali pada Anthony. Dia pasti sangat mengharapkan kedatangan Putra hari ini ... Karena biar bagaimanapun ini adalah natal pertama Anthony tanpa kedua orang tuanya, dan dia pasti menginginkan kehadiran seluruh anggota keluarga barunya saat ini.”
****
“Ya, mau bagaimana? ...”
Ramone yang mengerti bahasa Indonesia dengan sangat baik itu langsung merespons ucapan Gadis yang terdengar seperti gumaman itu.
“Dari informasi yang didapat Ad terakhir saat menghubungi orang kami di London kemarin, Putra masih mengurusi pria pembunuh Rery dan Madelaine ---“
“Iya aku mengerti, Vader ---“
“Dan saat Ad coba untuk menghubungi lagi, saluran kami sudah tidak aktif ...”
****
“Tetapi apakah Putra dan lainnya baik – baik saja, Vader? ...”
“Suamimu itu pria yang sangat tangguh, Gadis.”
Ramone menjawab pertanyaan Gadis yang nampak was – was itu.
“Iya Vader, aku tahu jika Putra adalah pria yang tangguh. Tetapi aku tetap saja tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkannya ---“
“Tenanglah, aku yakin Putra dan lainnya baik – baik saja,” tukas Ramone. Dan Gadis pun mengangguk.
“Putra akan segera pulang. Mereka hanya sedang berpindah tempat, dan itu sesuatu yang biasa kami lakukan jika kami selesai melakukan sebuah ‘pekerjaan’ ...”
Ramone lagi menukas ucapan Gadis untuk menenangkan, sekaligus menekankan jika urusan Putra di Inggris akan segera tuntas dan akan kembali ke tengah-tengah mereka dalam waktu yang tidak lama lagi.
****
“I’ll go to see Anth ( Aku akan melihat Anthony )”
Addison angkat suara.
Gadis, Bruna dan Ramone pun mengangguk. “Well, I start to prepare food for dinner then ( Ya sudah, kalau begitu aku akan mulai menyiapkan makanan untuk makan malam ) ...” timpal Gadis.
“Let’s go then ( Ayo kalau begitu ) ...”
“For this special day, I will help you, ladies ( Untuk hari yang spesial ini, aku akan membantu kalian, nona – nona ) ...”
Lalu Ramone menimpali ucapan Bruna yang berupa ajakan pada Gadis.
“However, I’m a good chef, for your information ( Untuk kalian ketahui, kalau aku adalah koki yang handal ) ---“
“Vader bisa memasak?” tukas Gadis seraya bertanya.
“You might fall in love with me, if you met me first than Putra, then you tasted my cook, Gadis.”
__ADS_1
“( Kamu bisa saja jatuh cinta padaku, seandainya kamu lebih dulu bertemu denganku sebelum bertemu Putra, kemudian kamu merasakan masakanku, Gadis )”
Ramone berseloroh.
“You also, My Dear Bruna ( Kamu juga, Sayangku Bruna ) ...”
Ramone berseloroh lagi sambil memandang pada Bruna, kemudian ia dan dua wanita cantik yang bersamanya itu terkekeh bersama.
****
Selama beberapa waktu, Bruna – Ramone dan Gadis berkutat di dapur dengan dibantu oleh dua orang asisten rumah tangga mereka yang tidak terlalu banyak terlibat dalam acara masak – memasak ketiga orang yang nampak seperti ayah dan dua anak perempuannya itu.
“Jadi Gadis, apa Putra pernah memasak untukmu? ...”
Ramone yang sudah hampir merampungkan masakannya itu kemudian iseng bertanya.
“Sudah, Vader ...” jawab Gadis.
“Benarkah?” selidik Ramone.
Dan Gadis mengangguk antusias. "Benar, Vader ..." ucap Gadis kemudian.
“Kamu tidak sedang meninggi – ninggikan suamimu itu di depanku bukan?”
Gadis lalu terkekeh kecil mendengar sekali lagi selorohan Ramone.
“Tidak Vader, aku tidak bohong. Putra sudah pernah membuatkanku makanan, meskipun bukan makanan berat.”
Gadis tersenyum dan sedikit menerawang.
“Tapi seperti itu saja, aku sudah bahagia Vader ...” ucap Gadis masih dengan tersenyum. “Aku bahkan tidak menyangka jika pria seperti Putra mau menurunkan harga dirinya untuk memasak demi seorang wanita. Dan aku sungguh tersanjung karena itu ...”
“Bahkan instingnya pun bekerja saat memilih wanita ...” tukas Ramone seraya tersenyum. “Dan anakku satu itu sangat beruntung mendapatkan wanita sepertimu, Gadis.”
Gadis tersenyum hangat pada Ramone yang memujinya. “Aku yang rasanya beruntung dapat bersanding dengan Putra, Vader.”
“Yaah, tapi kamu akan senantiasa diuji kesabaranmu dengan kekeras kepalaan anakku yang satu itu.”
“Ah, kalau yang satu itu aku setuju. Selain keras kepala dia juga hobi sekali memaksakan kehendaknya padaku ...”
“Oh ya? ...”
“Iya.”
Gadis menanggapi ucapan yang seolah mempertanyakan kebenaran ucapannya sebelumnya.
“Dia itu tidak ...“ ucap Gadis tapi tidak kemudian ia menggantungkan kata – katanya. Mengernyit, sebelum mata Gadis membola dengan mulut yang menganga ketika ia berbalik badan.
“Tidak apa? ---“
*******
__ADS_1
To be continue ...