LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 120


__ADS_3

Happy reading....


“Mmm .... Aku mencintaimu Putra....”


Suara Gadis terdengar pelan, namun matanya masih nampak terpejam.


Putra menarik lagi sudut bibirnya karena Gadis meracau dalam tidurnya dan membawa tubuh Putra dalam dekapannya.


“Aku lebih mencintaimu” Bisik Putra. Lalu ia mengecup kening Gadis yang nampak memposisikan dirinya senyaman mungkin dalam tidurnya. “But sorry, I have to go (Tetapi maaf, aku harus pergi)”


Putra beringsut sangat pelan dari tempatnya.


**


Putra bergerak dengan perlahan meski ia sudah bangkit dari ranjangnya. Ia tidak ingin mengganggu tidur Gadis yang nampak lelah itu akibat perbuatannya beberapa jam lalu. Yang tubuhnya ia rajai bahkan sampai dua kali. Putra sadar memang, Gadis merasakan sakit di bagian intinya, karena kehilangan mahkotanya yang paling berharga untuk yang pertama kali.


Tapi mau bagaimana, ”Gadis terlalu nikmat untuk dilewatkan. Dan salahnya sendiri memancingku lagi, ” Kalau kata Putra.


Putra menyambar pakaiannya dan bathrobe miliknya yang dikenakan Gadis semalam dan tercecer di lantai kamar pribadinya itu.


Lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan mengenakan celana bawahan piyama yang sudah juga Putra ambil dari dalam lemarinya.


“Naughty Gadis... ( Gadis yang nakal ) ...”


Putra menggumam sekaligus tersenyum geli kala ia melihat pantulan dirinya di cermin dalam kamar mandinya.


Ada beberapa tanda kepemilikan Gadis disana.


Putra memandangi beberapa tanda kemerahan tersebut sebentar, lalu kemudian ia mendengus dan menggerutu sendiri.


‘Haish,’ Kesah Putra dalam hatinya. ‘Hold yourself Putraaaa ...’ Kata Putra dalam hatinya, karena tanda tersebut membuatnya teringat kembali dua sesi panas nan memabukkan nya bersama Gadis.


Dan akibatnya, tubuh Putra berdesir sekarang karenanya.


“Have a mercy to your Gadis, Mister Putra ( Berbelas kasihanlah pada Gadis-mu, Tuan Putra ) ...”


Putra berkata pada dirinya sendiri sembari bercermin. Lalu mendengus geli sendiri.


‘Damned, Gadis. You making me crazy ( Sial, Gadis. Kamu membuatku gila )’ Batin Putra.


Putra menggerakkan pelan kepalanya sembari mengulum senyum, lalu menyegerakan diri untuk mencuci mukanya.


***


Saat Putra mengatakan dirinya harus pergi saat sebelum ia beringsut dari ranjangnya tadi, Putra bukan hendak pergi meninggalkan Gadis jauh-jauh. Ia hanya ingin membuatkan makanan untuk Gadis karena Putra yakin, saat Gadis bangun nanti pastinya Gadis akan merasa sangat lapar, mengingat tenaga Gadis Putra kuras habis semalam.


‘What food that I should make for her? ... ( Makanan apa yang harus aku buatkan untuknya? ) ...’ Batin Putra.


Putra membatin saat telah keluar dari kamar mandi sembari memandangi Gadis yang masih nampak pulas di atas ranjang.


‘Better I check the supplies in the refrigerator ( Sebaiknya aku cek persediaan yang ada di dalam kulkas ) ...’ Putra pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar pribadinya tersebut dengan perlahan.


***


Putra spontan menghentikan langkah dengan mendadak saat melihat Arthur yang tahu-tahu menongol dari arah dapur bersih kediamannya itu. “Damned Ar” Ucap Putra dengan spontan karena ia sedikit terkejut juga.


“Hi Boss” Sapa Arthur dengan menampakkan senyumnya kemudian.


“What makes you come this morning ( Apa yang membuatmu datang pagi-pagi begini ), Ar? ....”


Putra kemudian bertanya pada Arthur.


“Well, I just want to check is everything is okay with you and your lady ( Yah, aku hanya ingin memastikan apakah keadaanmu dan kekasihmu itu baik-baik saja )....”


Jawaban Arthur membuat Putra langsung mendengus geli.


“What? You think that I tortured her? ( Apa? Kau pikir aku menyiksanya? )....” Jawab Putra yang berjalan ke arah dapur bersih dan berhenti di dekat mesin pembuat kopi. ‘Well, I am ‘tortured’ her ( Yah, aku memang ‘menyiksanya’ juga )’


Putra kemudian membatin. Sembari ia mengulum senyum.


Arthur terdengar mendengus geli.


“Seem that .... She is, who ‘tortured’ you ( Sepertinya .... Dia, yang ‘menyiksamu’ )” Arthur melayangkan pandangan ke arah dada Putra yang memang tidak memakai atasan saat ini.


Tadi Putra hanya meraih bawahan piyamanya saja, tanpa mengenakan set atasannya.


“Hahaha!!!”


Putra yang menyadari pandangan Arthur itu spontan tertawa.


“And Sir, it’s almost noon for your information ( Dan Tuan, sekedar informasi jika ini hampir siang hari ) ....”


Putra yang baru saja menyiapkan kopi dalam mesin pembuat kopi kemudian menatap pada Arthur.


“Really??? .... ( Benarkah???.... )”


Arthur menjawab pertanyaan Putra dengan anggukan sembari menunjukkan waktu di arlojinya.


“Wow!” Lontar Putra. “I don’t know if I sleep quite long ( Aku tak mengira jika aku tidur selama itu )”


“She’s great then. From my perception .... Because she made you that tired.... ( Dia hebat kalau begitu. Menurut pandanganku .... Karena dia mampu membuatmu selelah itu )....”


Putra spontan tertawa lagi atas celotehan Arthur.


“Have you eat ( Kau sudah makan  ) Ar? ....”


“I have.... ( Sudah .... )” Jawab Arthur sembari mengikuti Putra yang sudah masuk ke area dapur kotor kediamannya.


Putra manggut-manggut sembari membuka kulkas dan memperhatikan barang-barang yang ada didalam sana.


***


“You want to cook? .... ( Apa kau hendak memasak? ) ....”


Arthur spontan bertanya pada Putra yang sudah mengeluarkan beberapa barang dari kulkas lalu menyiapkan juga alat-alat untuk memasak.


Putra mendengus geli mendengar pertanyaan Arthur.


“Why? You afraid that I blow up this kitchen? ( Kenapa? Kau takut aku meledakkan dapur ini? )”


Gantian Arthur yang mendengus geli mendengar sahutan Putra.


“You think I can’t? ( Kau pikir aku tidak bisa? )”


“Well, knowing how wealthy you and your family are, I believe that all of you are usual with a lot of maids around you”


“( Yah, mengingat betapa kaya rayanya kau dan keluargamu, aku rasa kalian sudah terbiasa dikelilingi oleh banyak pelayan )”


Putra manggut-manggut.


“We did ( Iya memang )....”


“........”

__ADS_1


“But my late Mom, like to cook. And quite often cook and prepare food herself for my Dad ( Tapi almarhumah ibuku, suka memasak. Dan sering memasak serta menyiapkan sendiri makanan untuk ayahku ), even we have some of maids ( Meskipun kami memiliki beberapa pelayan )”


“I see ( Seperti itu )”


Gantian Arthur manggut-manggut.


“And I sometimes helped my mom while she cooked .... Makes me know how to do it also then”“( Dan aku kadang-kadang membantu ibuku saat dia memasak .... Membuatku akhirnya tahu juga bagaimana melakukannya )”


“What a righteous Young Master ( Sungguh Tuan Muda yang berbudi )”


“Hahahahaha ....”


Sekali lagi Putra tertawa, sembari tangannya sudah mulai sibuk dengan bahan makanan yang ia keluarkan dari kulkas.


***


“However ( Ngomong-ngomong ), Ar....”


“Ya?”


“Is there any problem after I take Gadis from JP (Apa ada masalah setelah aku membawa Gadis dari JP) , Ar?”


“Haven’t sure, but Hidde a.k.a Frans, called me and ask for a confirmation about it (Aku belum terlalu yakin, tetapi Hidde alias Frans menghubungiku dan bertanya untuk mengkonfirmasikan hal itu),”


“Just it? .. (Hanya itu?..)”


“Well, he asked again how do you know Ramone Zeeman (Yah, dia bertanya lagi tentang bagaimana kau mengenal Ramone Zeeman)”


“Then? (Lalu?) ..”


“I told Hidde to ask you by himself (Aku katakan pada Hidde untuk menanyakannya langsung padamu)”


“Hemm”


“That would be okay right? (Tidak apa-apa bukan?)”


“Sure that okay (Tentu saja itu tidak apa-apa),”


“May I ask something? (Boleh aku bertanya sesuatu?)”


Putra mengulurkan tangannya, lalu menyalakan rokoknya sembari ia menjeda kegiatannya.


“Go ahead (Silahkan saja)..”


“Who is Ramone Zeeman? (Siapa itu Ramone Zeeman?)”


“An old friend (Seorang teman lama)”


“I see (Begitu)” Arthur manggut-manggut.


“Back to that JP’s owner (Kembali tentang pemilik JP itu)”


“Ya?”


“Did you tell him that I took Gadis for forth, and I won’t let her get back there anymore? (Apa kau mengatakan padanya jika aku membawa Gadis untuk seterusnya, dan tidak akan membiarkannya kembali kesana lagi?)..”


“He didn’t ask about that so I didn’t think to tell him about it (Dia tidak bertanya soal itu dan akupun tidak sampai berpikir dan mengatakan hal itu padanya)”


Putra manggut-manggut.


“I will go to Villa by today, and I will take Gadis with me (Aku akan kembali ke Villa hari ini, dan aku akan membawa Gadis bersamaku)”


Arthur kembali manggut-manggut.


“Okay”


“If he asked that means I bought Gadis from him.. (Jika ia bertanya itu artinya aku membeli Gadis darinya..)”


Putra menggantung ucapannya seraya mengkode Arthur untuk tak berbicara lagi.


“Get out from your place (Keluar dari tempatmu),” Putra berucap.


Pada seseorang yang Putra tahu sedang menguping pembicaraannya dan Arthur.


“Mmmm....” Suara gumaman seorang wanita berikut sosoknya kemudian muncul di ambang sekat pintu dapur yang ber-void tipis.


“Gadis”


‘Oh Wow!’


Putra menyebut nama Gadis yang orangnya nampak muncul di tempatnya dan Arthur saat ini.


Sementara Arthur yang memang kemudian menoleh ke arah samping dari tempat duduknya saat Putra merasa ada orang yang sedang menguping pembicaraan mereka lalu menyuruh orang itu keluar dari tempatnya, spontan berdecak kagum dalam hatinya saat orang yang ternyata sedang menguping adalah Gadis.


“Close your eyes if you still care to your them ( Tutup matamu jika kau masih menyayangi keduanya ) Arthur!” Putra berseru seraya melangkah ke arah Gadis dengan mata yang sedikit mendelik. “Hish!”


Putra langsung mendesis sinis.


“Putra!”


Gadis spontan memekik saat Putra langsung menyambar tubuhnya, serta mengangkatnya.


Bagaimana Putra tidak panik melihat Gadis yang tahu-tahu muncul?. Bukan karena Gadis mungkin saja menguping banyak, tetapi penampilan Gadis membuat Putra rasa tak rela jika ada orang lain yang melihat Gadisnya dengan penampilan .... Yah bisa dikatakan lumayan seksi itu.


Gadis mengenakan kemeja Putra yang panjangnya hanya sampai setengah paha Gadis saja, hingga paha berikut kaki mulus Gadis itu terekspose dengan indahnya.


****


“Lain kali jangan menunjukkan dirimu dihadapan orang lain jika penampilanmu seperti ini!”


Putra sudah membawa Gadis kembali ke kamar pribadinya. Lalu menurunkannya dengan posisi duduk di atas ranjang.


“Aku tidak suka kamu mempertontonkan tubuhmu itu di hadapan orang lain”


“Yaaaa, mana aku tahu jika ada Tuan Arthur bersamamu??? ....”


“Ck!”


“Aku kan berniat mencari kamu”


Gadis bersungut.


“Enak saja bilang aku mempertontonkan tubuhku! .... Memang aku perempuan macam apa, coba?....”


“Ck!” Putra kembali berdecak melihat wajah Gadis yang merungut itu. “Ya sudah maaf, aku tidak bermaksud kasar padamu”


“......”


“Sudah jangan merungut seperti itu. Jelek wajahmu jika seperti itu ....”


“Salahmu yang suka seenaknya memarahiku!”


“Iya, iya aku salah ....”

__ADS_1


“Menyebalkan!....”


Gadis masih menggerutu dengan wajahnya yang juga masih nampak bersungut.


“Ya sudah, lebih baik kamu berendam sekarang. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu ....”


“Eh tidak usah Putra! Biar aku sendiri saja!”


Gadis spontan bangkit. Tetapi saat ia bergerak, nyeri di bagian inti Gadis, ia rasakan lagi.


“Shh ....”


Hingga Gadis spontan meringis kecil dan itu tidak luput dari pendengaran Putra.


“Sakit sekali ya?”


“Lumayan ....”


“Maafkan aku ....” Kata Putra yang sudah membungkuk di hadapan Gadis, lalu mengecup pucuk kepala Gadis.


Gadis mengangguk pelan.


“Aku rasa ini wajar, karena ini yang pertama kali untukku ....”


Gadis berujar.


‘Apalagi aku kehilangan dua kali kesucianku, kan? ....’


Gadis spontan membatin, dan wajahnya sedikit memerah.


“Kamu duduk saja disitu, aku akan menyiapkan air hangat untukmu”


“Ya sudah”


****


“Tunggu disini sebentar ....”


Putra berbicara pada Gadis selepas ia keluar dari kamar mandi.


“Kamu mau kemana memangnya? ....”


“Tunggu saja disini dan jangan bergerak dari tempatmu sampai aku kembali”


Alih-alih menjawab pertanyaan Gadis, Putra malah menurunkan perintahnya lagi.


“Iyaa....”


“Ngomong-ngomong, mana kunci rumahmu?”


“Un-tuk apa?”


“Mengambil pakaianmu ....”


“Oh, iya....”


Namun tak lama, Gadis menempelkan telapak tangannya di jidat.


“Ada apa?” Tanya Putra.


“Aku kan semalam langsung dibawa oleh anak buah kamu, jadi tasku masih tertinggal di JP ....”


Putra spontan mendengus setelah mendengar ucapan Gadis.


“Salahmu ....”


“Iya, iya salahku lagi....” Potong Putra sebelum Gadis melanjutkan kalimatnya. “Ya sudah, kamu tunggulah disini”


Gadis mengangguk saja, lalu Putra melangkahkan kakinya pergi keluar dari kamar pribadinya itu.


****


“Ini, minumlah terlebih dahulu sebelum dirimu berendam....” Putra memberikan secangkir teh hangat pada Gadis.


“Terima kasih ....” Tutur Gadis. Menerima cangkir teh dari Putra kemudian langsung menyesap nya pelan-pelan.


Sembari Putra masuk kembali ke dalam kamar mandi dan keluar lagi tak berapa lama.


“Airnya sudah siap”


Gadis pun mengangguk pada Putra dan hendak berdiri lagi setelah meletakkan cangkir teh di atas nakas samping ranjang Putra.


Gadis dibuat terkejut lagi, kala Putra kembali mengangkat tubuhnya.


“Aku masih bisa berjalan Putra.... Tadi aku cukup kuat berjalan ke dapur, kan?....”


“Kamu cerewet sekali”


Gadis kembali bersungut.


‘Bukankah dia sendiri yang cerewet????’****


Gadis dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Putra saat sudah berada di dalam kamar mandi yang berada di area dalam kamar pribadi Putra itu. “Ka-kamu mau ap-apa, Putra??? ....” Tanya Gadis yang spontan langsung memegangi kemeja bagian atas yang sedang ia kenakan, kala Putra mendudukkannya di pinggir bathtub.


“Membukakan bajumu ....”


“Ah, a-aku bisa sendiri!”


Gadis mencoba mengelak.


“Ck! Apa yang mau kamu tutupi? Aku sudah melihatnya! Aku sudah melihat semuanya”


Tapi Putra menyingkirkan tangan Gadis dan kedua tangan Putra sudah mulai membuka kancing kemejanya yang dikenakan Gadis.


“I-iya meski begitu....” Gadis mencoba mengelak lagi.


Namun tetap Putra tak menggubrisnya. Hingga Gadis spontan merona kala Putra sudah meloloskan kemeja yang dikenakan Gadis itu berikut satu helai dalaman yang menutupi bagian bawah Gadis, hingga tubuh Gadis kini sudah polos sepenuhnya.


“Masuklah....”


Gadis mengangguk malu-malu lalu beranjak dan segera menenggelamkan tubuhnya sebatas leher dalam kamar mandi, selepas ia mencepol rambutnya ke atas.


Gadis pikir Putra akan segera pergi saat dirinya sudah masuk ke dalam bathtub yang airnya terasa hangat berbusa dan menenangkan itu, dengan harum lavender yang tercium dari alam air rendaman di bathtub tersebut.


Tapi kenyataannya....


“Ka-kamu mau apa, Pu-Putra?....”


Gadis terbata dan spontan panik, juga memalingkan wajahnya, saat Putra menurunkan bawahan piyama yang ia kenakan.


“Menemanimu berendam, apalagi?”


****

__ADS_1


To be continue ......


__ADS_2