
Terima kasih masih setia baca.
**************
Happy reading ....
**************
“If Papa die, then I want to die too ( Jika Papa meninggal, maka aku mau meninggal juga )-“ ucap Anthony pada Putra, kala keduanya saling tersambung di saluran telepon.
“Oh Anth..”
Putra berkesah sendu, dan hatinya kini merasa dilema sekali.
“Please don’t talk like that, Anth. It’s hurting for me to hear that ( Tolong jangan bicara seperti itu, Anth. Menyakitkan untukku mendengarnya )”
Suara Putra terdengar lirih, menanggapi ucapan Anthony. Ditambah Anthony sedang terisak lagi diseberang telepon.
Namun pendengaran Putra menangkap jika ada beberapa orang yang sedang bersama Anthony, karena samar-samar mendengar Anthony sedang ditenangkan.
Putra terdiam sejenak.
“I’m afraid, Papa. I’m afraid if I lose you ( Aku takut, Papa. Aku takut kehilanganmu )-“
Anthony menjawab ucapan Putra tak lama kemudian. Putra pun tersenyum tipis ditempatnya, seliain haru.
“If I remember, you ever told me that you brave guy? Then why feel afraid now ( Seingatku, kamu pernah bilang jika kamu adalah pria pemberani? Lalu mengapa takut sekarang )?”
“I am Papa. I’m a brave guy .... I’m just afraid if I losing you just like I lost Daddy and Mommy ( Iya Papa. Aku memang pria pemberani .... Aku hanya takut jika aku kehilanganmu seperti aku kehilangan Daddy dan Mommy ) ....”
Anthony menjawab dengan polos dan tulusnya ucapan Putra yang tersenyum di seberang telepon sana.
“You won’t Anth, you won’t lose me ( Tidak akan Anth, kamu tidak akan kehilanganku )” ucap Putra. “Not me, not all of your parents you have now ( Tidak aku, tidak semua orang tua yang kamu punya sekarang )” tambahnya. “Okay?”
Anthony manggut – manggut di tempatnya.
“Anth, do you hear me ( Anth, apa kamu mendengarku )? –“ ucap Putra seraya bertanya.
“Yes Papa, I heard ( Iya Papa, aku dengar ) ......”
Anthony menyahut.
“Now please don’t cry anymore, would you? ...... I’m okay here ( Sekarang kamu jangan menangis lagi, ya? ...... Aku baik – baik saja disini )”
“But I heard Padre, Madre and Opa said that you got shot ( Tapi aku dengar Padre, Madre dan Opa bilang kalau Papa tertembak )” ujar Anthony.
“Don’t worry, the bullet just scratching my skin. I don’t feel anything ...... Your Papa is a crackerjack, remember ( Jangan khawatir, pelurunya hanya menggores kulitku saja. Aku tidak merasakan apapun ...... Papamu ini kan jagoan, ingat )? ......”
Putra berucap dengan nada tenang agar Anthony pun dapat menjadi tenang dan tidak khawatir lagi hingga bersedih. “Yes Papa,” sahut Anthony.
“That’s why you don’t need to feel worry about me, okay ( Jangan lagi khawatir tentangku, Oke )? ......”
“Yes Papa.”
“Good, then ......”
“But would you comehome soon, Papa ( Tapi bisakah Papa pulang secepatnya )?” pinta Anthony.
Putra tersenyum tipis di tempatnya. “Right after I finished everything here, I promise I’ll go straight backhome ( Tepat setelah aku menyelesaikan semua disini, aku berjanji padamu aku akan langsung pulang )”
“....”
“I wish you understand my boy ...... What me, Daddy Dami and Daddy Garret do at here, is for you, for all of us too. so we can live in peace ( Aku harap kamu mengerti ini anakku ...... Apa yang aku, Daddy Dami dan Daddy Garret lakukan disini, itu untukmu, juga untuk kita semua. Agar kita dapat hidup damai )”
“....”
“I have to punish that bad guy. For Daddy Rery and Mommy Madelaine, also for all of your uncles that he killed, and also because he ever tried to harm you ( Aku harus menghukum orang jahat itu. Untuk Daddy Rery dan Mommy Madelaine, juga untuk para pamanmu yang ia bunuh, dan juga karena ia pernah mencoba untuk mencelakaimu )”
“....”
“And I can’t feel peace if I haven’t punish that bad guy ( Dan aku tidak merasa tenang jika aku belum menghukum orang jahat itu )”
Putra menjeda sejenak untuk menghela nafasnya.
“Can you understand it ( Apa kamu bisa memahaminya )?-“
“Yes Papa, I can get it ( aku bisa memahaminya )“ jawab Anthony.
__ADS_1
Putra tersenyum lagi di tempatnya. “That’s my boy –“
“But you are really okay right, Papa ( Tapi Papa benar baik – baik saja, kan? ) ......” tanya Anthony kemudian.
“I’m talking to you right now, am I ( Aku sedang bicara denganmu sekarang, bukan )?”
“Yes, Papa ......”
Anthony menyahut tenang.
“Then trust me ( Maka percayalah padaku )”
“....”
“I’ll be home as soon as possible ( Aku akan pulang ke rumah secepatnya )-“
Anthony manggut – manggut, seolah Putra ada dihadapannya.
“Can’t promise you that me, Daddy Dami, Daddy Garret also Uncle Dev will be home right at Christmas ...... But we’ll be home ( Tidak janji jika aku, Daddy Dami, Daddy Garret juga Uncle Dev akan pulang tepat pada saat Natal ...... Tapi kami pasti pulang )” janji Putra.
“Yes Papa, I trust you ( aku percaya padamu )-“
Anthony menyahut patuh, dan hal itu membuat Putra kini merasa lega.
“Now tell me, why still wake up at this time and eavesdropping to Padre, Madre and Opa conversation? ...... I thought that you guarding Mama ( Sekarang katakan padaku, kenapa masih terjaga di jam seperti ini dan menguping pembicaraan Padre, Madre dan Opa? ...... Aku pikir kamu sedang menjaga Mama )?”
“I didn’t mean to eavesdropping Padre, Madre and Opa conversation ( Aku tidak bermaksud untuk menguping pembicaraan Padre, Madre dan Opa ), Papa.”
“Then?” tukas Putra seraya bertanya.
“I was heard they’re talking when me and Mama want to go the kitchen because I’m a little bit hungry after Mama ( Aku mendengar mereka berbicara saat aku dan Mama hendak pergi ke dapur karena aku sedikit lapar setelah Mama )-“
“....”
“What ( Apa ), Mama?”
“Anth?-“
“Yes ( Ya ), Papa?...”
“What is it?”
“Is Mama Gadis with you now?”
“( Apa Mama Gadis sedang bersamamu sekarang? )”
“Yes, Papa.” jawab Anthony seraya mengangguk.
“I bet she is as worry as you.”
“( Aku yakin dia sama khawatirnya seperti dirimu )”
Putra tersenyum ditempatnya. Ia menduga seperti itu, karena sudah memahami sifat Gadis sepenuhnya.
Jika Anthony begitu khawatirnya sampai anak angkat tercintanya menangis seperti tadi, pasti Gadis akan berpikir macam-macam tentang dirinya yang sudah Gadis dengar telah tertembak.
Ah Gadis, Putra rindu sekali padanya.
****
“She is, Papa. Mama is even more worry and sad than me ( Iya, Papa. Mama bahkan lebih khawatir dan sedih daripada aku )...” jawab Anthony atas pertanyaan Putra sebelumnya.
Putra tersenyum lagi di tempatnya.
Ingin sekali Putra berbicara dengan Gadis, namun ia tidak tega juga untuk meminta Anthony berhenti bicara padanya selagi bocah itu nampak masih antusias bicara dengannya di sambungan telepon.
Tapi tak apa, Putra rela menahan rasa rindunya pada Gadis asalkan Anthony tidak khawatir dan bersedih lagi.
Jadi Putra akan membiarkan Anthony bicara dengannya sampai anak angkat tercintanya itu sendiri yang menyudahkan untuk bicara di sambungan telepon.
“Too worry and sad, untill Mama was screaming at her sleep ( Terlalu khawatir dan bersedih hati, sampai-sampai Mama berteriak didalam tidurnya )----”
“She what ( Dia apa )?-“
“Mama was screaming on her sleep and cry a river until she snapped up. That’s why I woke up shockly then I feel that I’m a little bit hungry. Then I ask Mama to get me a glass of milk and cookies. And when me and Mama wants to go to the kitchen, we heard voice of people talking in the work office. That’s how I know that you were been shot, Papa.”
“( Mama berteriak dan menangis sejadi-jadinya dalam tidur, sampai ia tersentak bangun. Itulah mengapa aku terbangun dengan kaget lalu merasakan jika aku sedikit lapar. Lalu aku meminta Mama untuk memberikanku segelas susu dan beberapa biskuit. Lalu saat aku dan Mama hendak pergi ke dapur, kami mendengar suara orang berbicara di ruang kerja. Itulah bagaimana aku mendengar jika Papa telah tertembak )”
__ADS_1
Anthony bicara panjang lebar, dan Putra mendengarkannya dengan seksama. Sementara mereka yang bersama Anthony tersenyum saja melihat Anthony yang antusias bercerita pada Putra, meski masih ada gurat kemuraman di wajah Anthony.
‘Seharusnya tadi aku sempat mengatakan pada Anthony agar tidak menceritakan apa yang menimpaku agar Putra tidak menjadi khawatir.’ Batin Gadis.
Gadis sudah sedikit merasa lega sekarang, karena mengetahui jika Putra baik-baik saja setelah mengalami mimpi buruk tentang Putra yang membuat jantung Gadis terasa berhenti seketika. Dan sekarang, meski sedikit masih ada kekhawatiran selain rindunya pada Putra, setidaknya Gadis berpikir jika mimpinya itu adalah koneksi batinnya saat Putra tertembak, bukan karena Putra ‘pergi’ untuk selama-selamanya.
‘Aku akan mati jika itu terjadi!’ Gadis membatin lagi, membayangkan jika hal yang paling ia takutkan terjadi pada Putra itu menjadi nyata.
****
“*I was heard they’re talking when me and Mama want to go the kitchen because I’m a little bit hungry after Mama*( Aku mendengar mereka berbicara saat aku dan Mama hendak pergi ke dapur karena aku sedikit lapar setelah Mama )-“
Tadi saat Anthony berkata seperti itu, Gadis yang telah menerima segelas susu berikut biskuit untuk Anthony, menyadari jika Anthony akan bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya kepada sang Papa tercintanya.
“No Anth, No.”
Jadi Gadis langsung membuat gestur pada Anthony agar jangan mengatakan apa-apa tentang yang terjadi pada dirinya.
“What ( Apa ), Mama?”
Tapi sepertinya Anthony tidak memahami kode dari Gadis itu.
Namun saat Gadis hendak mengatakan pada Anthony agar jangan memberitahukan Putra tentang apa yang terjadi padanya dengan gestur tubuh dan mulut tanpa suara, perhatian Anthony teralih darinya karena sepertinya Putra mengajak lagi Anthony bicara.
“Yes ( Ya ), Papa?...” ucap Anthony yang kemudian mengalihkan pandangannya dari Gadis karena fokus pada Putra yang bicara padanya. “Yes, Papa.”
Anthony nampak manggut-manggut ditempatnya, dan empat orang yang menemani Anthony membiarkan saja Anthony asyik bertelepon ria dengan Putra, karena sekarang ekspresi wajah Anthony sudah tidak tampak lagi menyedihkan.
Wajah Bruna, Gadis, Ramone dan Addison pun juga nampak lega setelah meyakini jika Anthony memang sedang berbicara dengan Putra di telepon.
Yang mana artinya, kondisi Putra baik-baik saja setelah tertembak.
“She is, Papa. Mama is even more worry and sad than me ( Iya, Papa. Mama bahkan lebih khawatir dan sedih daripada aku )...”
Gadis tersenyum pada Anthony saat bocah tampan itu memandanginya lagi.
“Too worry and sad, untill Mama was screaming at her sleep ( Terlalu khawatir dan bersedih hati, sampai-sampai Mama berteriak didalam tidurnya )....”
Namun kemudian Gadis menggigit bibir bawahnya, sedikit panik.
Tadi ia sudah sempat merasa lega karena Anthony, Gadis pikir tidak akan membahas hal itu lagi pada Putra.
Dan memang Gadis juga tidak ingin hal itu sampai ke Putra, semata-mata tidak ingin Putra menjadi tidak fokus dan mengkhawatirkannya.
Memang, Gadis sebenarnya tidak mengharapkan Putra pergi untuk membalas dendamnya pada pria yang membunuh orang tua Anthony dan saudara-saudaranya di Italia.
Bahkan Gadis sempat kesal karena Putra yang katanya mencintainya itu, tidak mengindahkan permintaannya untuk tidak usah membalas dendam.
Tapi setelah mendengar penjelasan Putra dengan gurat kesedihan dan luka selain amarah, juga mendengar cerita dari mulut para saudara dan satu saudari Putra, Gadis sadar untuk tidak boleh egois pada Putra.
Karena balas dendam Putra itu, tidak hanya menyangkut diri Putra sendiri, namun semua orang yang Putra sayangi.
Termasuk diri Gadis.
Yang Gadis yakini, setelah Putra selesai dengan urusannya, mereka akan memulai hidup baru yang lebih damai dan bahagia tentunya.
Dan paranoid Gadis itu saat ia bangun dengan berteriak kencang dari tidurnya, Gadis tidak ingin hal itu sampai ke telinga Putra, karena Gadis takut Putra gusar, lalu tidak fokus, dan bisa saja tertembak lagi karena rasa bersalahnya pada Gadis.
‘Kenapa sih aku harus menjadi orang yang mudah khawatir dan panikan????!!!! –‘ gerutu Gadis dalam hatinya. Dan kemudian perhatian Gadis teralih lagi pada Anthony yang sedang bercakap dengan Putra itu, namun sepertinya Anthony tidak mengerti kode dari Gadis.
Karena Anthony masih meneruskan ucapannya pada Putra, bahkan panjang lebar sekarang.
"Mama berteriak dan menangis sejadi-jadinya dalam tidur, sampai ia tersentak bangun. Bla .... Bla ...."
Gadis hanya bisa meringis pelan saja di tempatnya, dan memikirkan antara Putra akan kepikiran akan kondisi dirinya lalu hilang konsentrasi hingga akan lagi membuat Putra dalam bahaya nantinya, atau Putra akan menceramahinya karena sikap terlalu khawatir Gadis yang berlebihan.
‘Ah Anthony kenapa jujur sekali sih??? ....’
“Oh by the way Papa, I’m going to have little sister and brother ( Oh ngomong-ngomong Papa, aku akan memiliki adik kecil )! .....”
‘Ah, ya ampun!’
Gadis berkesah dalam hatinya.
'Itu kan belum pasti juga, Anthony .....'
*******
__ADS_1
To be continue....