LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 83


__ADS_3

Happy reading ...


“Maaf Tuan ...” Ibu Marsih datang ke ruang kerja dengan raut wajahnya yang nampak gugup.


“Iya, ada apa Ibu Marsih?” Tanya Putra yang menyadari kegugupan dari wajah Ibu Marsih.


“Itu Tuan, ada polisi datang!”


“Polisi?” Tanya Putra lagi.


Ibu Marsih pun mengangguk cepat. "Iya, Tuan"


“Biar saya yang menemui mereka terlebih dahulu Tuan”


Putra menjawab dengan anggukan ucapan Pak Abdul.


“Tidak apa jika mereka ingin bertemu dengan pemilik kediaman ini. Aku akan menemui mereka” Ucap Putra sebelum Pak Abdul pergi menemui polisi yang datang itu.


“Baik Tuan”


Pak Abdul kemudian mohon diri untuk ke lantai bawah.


**


Ada dua pria berseragam kepolisian saat Putra menyambangi ruang tamu Villa.


“Selamat pagi”


Putra menyapa dengan ramah.


Seorang pria berseragam yang nampak sedang melihat foto – foto yang tertempel di dinding ruang tamu seketika terkesiap. Dan satunya yang tadi sedang duduk di sofa kemudian langsung berdiri saat melihat Putra datang.


“Selamat pagi Tuan ..”


“Putra” Sahut Putra seraya menyambut uluran tangan seorang pria berseragam yang nampaknya memiliki pangkat yang entah apa.


Hanya sebatas penilaian Putra saja, kalau dilihat dari penampilannya dan seragam yang dipakai nampak sedikit ada perbedaan dengan petugas yang satunya.


“Saya Hasan. Senang bertemu dengan anda” Ucap petugas yang tadi sedang melihat – lihat foto itu. Putra mengangguk sekali dan menyambut juga uluran tangan petugas satunya saja yang hanya menjabat tangan Putra tanpa memperkenalkan dirinya.


Putra mempersilahkan keduanya duduk.


***


“Jadi, kiranya apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya Putra setelah ia juga mendudukkan dirinya disebuah sofa single, dimana kedua polisi tersebut memperhatikan Putra yang duduk dengan elegan di hadapan mereka.


“Mohon maaf jika kedatangan kami pagi ini mengganggu kenyamanan anda Tuan Putra” Jawab petugas yang memperkenalkan dirinya sebagai Hasan tadi.


“Tidak masalah”


“Tapi sebelumnya, mohon maaf untuk menanyakan ini..” Ucap Hasan. “Apa anda pemilik Villa ini?”


“Bisa dikatakan seperti itu” Sahut Putra dan petugas bernama Hasan itu manggut – manggut, namun melirik pada lukisan gambar diri Rery, Madelaine dan Anthony. “Itu kakakku dan keluarganya” Ucap Putra yang menyadari kalau petugas bernama Hasan itu melirik lukisan tersebut.


“Huumm..”


“Tapi jika ingin bertemu dengannya, anda harus terbang ke surga terlebih dahulu”


“Hah?..” Hasan sedikit terkesiap.


“Kakakku sudah meninggal dunia”


“Oh maaf, maaf Tuan ..”


“Tidak masalah”


Putra tersenyum tipis.


“Kami turut berduka cita..” Ucap Hasan dan petugas yang satunya menganggukkan kepala.


“Terima kasih” Sahut Putra.


“Baik Tuan Putra, langsung saja kalau begitu..” Ucap Hasan. “Kedatangan kami ini bisa dikatakan sebagai proses penyelidikan ..”


“Mengenai?” Tanya Putra dengan sikapnya yang nampak tenang.


“Apa anda mengenal Bapak Baskoro?” Tanya Hasan sembari satu petugas lainnya mengeluarkan buku catatan.


“Tidak” Jawab Putra. “Aku dan keluargaku belum lama tinggal disini, jadi kami belum mengenal siapapun” Sambung Putra.


Hasan manggut – manggut.


“Jika boleh tahu, mengapa menanyakan ini padaku?”

__ADS_1


“Ah itu terkait kebakaran yang menimpa rumah orang yang tadi saya sebutkan namanya Tuan”


“Hemm” Putra berdehem rendah.


“Apa anda mendengar suara keributan atau sesuatu yang mencurigakan semalam?”


“Darimana anda masuk tadi?”


“Maaf?, apa?..” Hasan mengerutkan keningnya.


“Anda masuk dari arah mana saat kesini?” Tanya Putra lagi.


“Dari gerbang depan” Jawab Hasan dan Putra sedikit menarik sudut bibirnya.


“Kalau begitu anda tahu seberapa berjarak nya pintu masuk di halaman depan kami dengan bangunan ini”


“Ah..”


“Jadi rasanya apa yang terjadi di jalanan luar sana, kami yang berada di dalam sini tidak akan mendengar apapun”


“Ah iya Tuan. Benar juga” Hasan terkekeh garing.


‘Stupido!’


Putra membatin.


“Jika aku boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Seperti yang saya katakan tadi, ada kebakaran di Villa milik salah seorang yang terpandang disini. Pak Baskoro, seperti yang saya katakan tadi” Jawab Hasan.


“Lalu?” Tanya Putra.


“Kami sedang menyelidiki, apakah kebakaran tersebut murni karena kelalaian dari dalam rumah tersebut, atau ulah seseorang”


“........”


“Sedikit sulit, karena Villa tersebut habis terbakar tanpa sisa .. yang membuat kami khawatir adalah sepertinya kami menemukan jasad di dalam Villa tersebut yang sudah sulit sekali dikenali, bahkan hancur ...”


Putra mendengarkan saja Hasan yang sedang bicara panjang lebar.


“Jadi sebagai antisipasi, takutnya ada kejahatan yang mulai berada di lingkungan ini, kami mendatangi setiap rumah di sekitar sini. Terutama Villa – Villa besar seperti milik Tuan Putra ini”


“Heem..”


“Jadi mohon maaf jika sedikit mengganggu kenyamanan anda saat ini”


“Tapi setidaknya saya bisa lebih mengenal orang – orang yang tinggal di lingkungan dimana saya bertanggung jawab di dalamnya”


Putra manggut – manggut saja.


“Saya harap anda tidak terganggu dengan kedatangan kami ini” Ucap Hasan.


“Tidak sama sekali”


“Baiklah Tuan Putra, saya rasa itu saja.. kami permisi. Senang berkenalan dengan anda Tuan. Jika ada sesuatu, anda mungkin bisa mencari saya..”


“Sesuatu, dalam arti?” Sambar Putra yang sepertinya melihat sedikit celah dari petugas yang bernama Hasan yang kemudian menarik sudut bibirnya itu.


“Sesuatu maksud saya dalam hal keamanan Tuan. Apapun itu. Kebetulan saya juga baru ditempatkan di daerah ini, jadi saya ingin berhubungan baik dengan mereka yang tinggal disini”


“Hem, mungkin kita bisa bicara mengenai ‘berhubungan baik’?. Karena kebetulan, sebagai orang yang belum lama tinggal disini, aku butuh ‘relasi’”


Putra tersenyum penuh arti sembari menatap lekat pada Hasan.


“Bagaimana Tuan Hasan?” Tanya Putra, namun Hasan tidak langsung menjawab dan dia sejenak saling tatap dengan satu petugas yang bersamanya itu. “Apa anda ingin menjadi relasi untukku dan keluargaku?”


Putra yang memang tidak suka berbasa – basi itu langsung saja berbicara langsung pada intinya. Namun begitu, kelebihannya dalam membaca sifat orang, sangat Putra manfaatkan demi terwujudnya semua tujuan yang ia dan para saudaranya punya.


Dan Putra tidak akan membuang waktu, jika ia sudah melihat sebuah kesempatan.


“Baiklah ..” Sahutan Hasan kemudian.


**


“So what you offered him?.. ( Jadi apa yang kau tawarkan padanya? )”


Itu Addison yang bertanya, setelah dua petugas yang ditemui Putra tadi meninggalkan kediaman mereka.


Addison yang hendak pergi bersama Bruna menunda kepergiannya karena mendengar dari Pak Abdul bahwa ada polisi yang datang.


“Standard thing.. ( Hal standar ) .. A mutualism symbiosis relation ( Hubungan timbal balik )”


“He’s a dirty officer? ( Apa dia petugas yang kotor? )” Tanya Addison lagi yang sudah duduk bersama Putra, berikut Garret dan Damian.

__ADS_1


Sementara Bruna menemani Anthony yang masih antusias beberes di kamar barunya.


“Haven’t know yet, I will ask Danny or Arthur to inquire about him further more later .. ( Belum tahu pasti, aku akan meminta Danny atau Arthur untuk menyelidiki lebih jauh tentangnya nanti )..” Jawab Putra.


“Heeem..” Tiga orang yang bersama Putra kemudian manggut – manggut.


“The most important is, we need to make an ‘acquaitance’ from many societies, don’t we?”


“( Yang penting sekarang adalah, kita perlu ‘berkenalan’ dengan berbagai macam kalangan, bukan begitu? )”


“Sure we are! ( Tentu saja! )” Sahut Addison, Garret dan Damian bersamaan dengan senyuman penuh arti yang sama seperti Putra saat ini, yang sudah memiliki sederet daftar rencana dalam otak tampannya, untuk segala hal yang akan ia lakukan di depan.


Dan keempat orang yang bersama Putra, selalunya mendukung semua keputusan yang pria itu ambil dan lakukan, meski Putra tidak membicarakan dahulu dengan mereka sebelumnya, pada saat – saat tertentu, dimana Putra,


katakanlah sering berimprovisasi.


Namun Bruna, Addison, Garret dan Damian tahu betul kalau seorang Putra adalah orang yang penuh pemikiran meski terkadang ia mengambil keputusan dengan cepat.


Pembicaraan kelima orang tersebut terhenti karena Bruna datang bersama Anthony yang telah merasa puas beberes di kamar barunya itu.


Senyum Putra, Addison, Garret dan Damian pun mengembang melihat Anthony yang datang menghampiri mereka dengan wajah senang.


“Papa! Are you going to make the paint in my room looks like a sky?? .. ( Apa Papa jadi membuat cat di kamarku menjadi seperti langit??.. )”


“If my Boss want it, then I will do it! ( Jika Bosku menginginkannya, maka akan kulakukan! )” Celoteh Putra yang membuat Anthony tersenyum lebar lalu mengangkat tangannya.


"Complete with the bright cloud and sun? ( Lengkap dengan awan cerah dan matahari juga? )"


"Sure! ( Tentu saja! )"


“Yeaayy!!..” Anthony bersorak senang.


‘It feel kind long time I haven’t seen this cheerful face of Anth..’


‘( Sepertinya sudah lama sekali aku tidak melihat wajah Anth ceria seperti ini .. )’


Putra membatin.


‘So lucky that Anth meet Gadis.. ( Beruntung Anth bertemu dengan Gadis.. ) Ah! Gadis!. I suddenly miss her ( Aku tiba – tiba merindukannya )’


Putra tersenyum tipis, lalu ia melirik arloji di pergelangan tangannya.


‘Gadis must be already arrived at Hospital right now ( Gadis pasti sudah sampai di Rumah Sakit saat ini )’


Putra masih membatin, saat Addison dan Bruna juga berpamitan untuk pergi dan Putra hanya menjawab dengan anggukan.


‘I’m going to call her then ( Aku akan menghubunginya kalau begitu ). But.. ( Tetapi.. )’


Putra melirik Anthony yang sedang diajak bersenda gurau oleh Garret dan Damian.


‘No, I should not tell Anth that I want to make a call to Gadis, or that little guy will conquer the conversation and make me lose my chance to talk with her, can’t let that happen again ..’ 


‘( Tidak, aku sebaiknya tidak memberitahu Anth jika aku ingin menghubungi Gadis, atau pria kecil itu akan menguasai pembicaraan dan membuatku kehilangan kesempatan untuk bicara dengan Gadis, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi ) ..’


Ada sedikit tanduk yang muncul di kepala Putra.


‘Heemm..’ Putra menyeringai dalam hati. “Anth!” Panggil Putra.


“Yes Papa?” Sahut Anthony.


“Why don’t you go for a ride on horse with Dad Dami and Dad Garret? ...”


“( Mengapa kamu tidak berkeliling naik kuda bersama Dad Dami dan Dad Garret?.. )”


Anthony langsung mengangguk antusias dimana Putra melebarkan senyumnya.


“You’re not coming Papa? ( Papa tidak ikut? )” Tanya Anthony.


“I’ll catch you up guys sooner, I have a small thing to do before ..”


“( Aku akan menyusul secepatnya, ada hal kecil yang akan kulakukan terlebih dahulu ) ..”


“Okay Papa!”


‘Hehehe ..’ Ada seringai licik dalam hati Papa Putra. ‘Sorry Anth ( Maaf ya Anth )’


Ada sedikit rasa bersalah dalam hati Papa Putra sih sebenarnya.


Tapi berhubung Papa Putra takut tersabotase lagi untuk melepas rindu dengan Gadis, yah mohon maaf terpaksa Papa Putra akan menghubungi Gadis diluar sepengetahuan Anthony.


‘But I promise I will tell Gadis to call and talk to you after she finish working. I do, I will Anth! ( Tapi tenang saja,  aku janji akan meminta Gadis untuk menghubungi dan bicara denganmu setelah ia selesai bekerja. Pasti! Percayalah Anth! )’


Tekad si Papa.

__ADS_1


**


To be continue..


__ADS_2