
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia ...
“Bagaimana, Ray?”
“Dua perempuan itu ada di rumahnya, Tuan. Dan kami telah membawa mereka ke tempat yang tadi anda bilang.”
“Hem .... “Lalu apa yang sudah mereka akui? ....”
“Banyak sekali mereka menjahati Nyonya Gadis, Tuan. dari Nyonya Gadis masih tinggal dengan mereka, sampai baru-baru ini –“
“Apakah itu berhubungan dengan istriku yang jatuh dari tangga? ....”
“Iya .... Tuan –“
“Memang mereka pantas mati,”
“Mohon maaf sebelumnya Tuan, jika anda ingin menghabisi mereka, biar saya yang melakukannya –“
“Tidak. Aku yang akan menghabisi mereka dengan tanganku .... Tunggu saja aku di bawah.”
“Baik, Tuan –“
🔼
“I’ll go with you.”
Damian bersuara ketika Putra berdiri dari duduknya.
“Just stay here ( Tinggal saja disini )”
Putra menanggapi ucapan Damian.
“It’s just a small thing, to vanish two filthy women.”
( Ini hanya masalah kecil, untuk melenyapkan dua wanita menjijikkan )
“Well I’m bored. For at least I can get some entertainment if I go with you ( Yah aku bosan. Setidaknya aku mendapatkan hiburan jika aku ikut denganmu )”
Damian kukuh dengan keputusannya.
“And also just in case if suddenly your reluctant feeling appear to them? I can replace you, to vanish people who already made difficulties to my brother and my sister in law ( Dan juga berjaga – jaga jika tiba – tiba rasa tidak tegamu muncul pada mereka? Aku dapat menggantikanmu, untuk melenyapkan orang – orang yang sudah memberikan kesulitan pada saudara lelaki dan kakak iparku )”
“Heh!” dengus Putra.
“Meet you in minute.”
🔼
Putra kemudian langsung menggerakkan kakinya selepas Damian melangkah berjalan mendahuluinya untuk keluar dari ruang kerja utama dalam villa tempatnya berada sekarang. Tak menahan Damian yang sepertinya kukuh untuk ikut serta pergi bersamanya ke sebuah tempat dimana ibu dan saudari tiri Gadis ditahan anak buahnya, sesuai dengan perintah Putra.
“Putra?...”
Putra mendapatkan sapaan dari Gadis yang sebelumnya ia pikir jika istrinya itu telah lelap tertidur, saat ia tengah berjalan menuju walk in closet pribadinya dan Gadis.
“Teruskan saja tidurmu...”
Dimana Putra langsung menyahut dengan datar pada Gadis, dan langsung melanjutkan langkahnya lagi ke dalam walk in closet.
“Kamu... Mau pergi?...”
Gadis mengikuti langkah Putra.
Yang mesti acuh tak acuh padanya, namun Gadis tetap mengajak Putra bicara dengan ia yang bertanya saat menyadari jika Putra mengambil pakaian yang semi formal.
🔼
“Ya.”
Putra menjawab singkat dan datar saja pertanyaan Gadis sambil mengganti atasannya.
“Malam-malam begini?...”
“Hem.”
“Kemana?...”
🔼
“Putra...“
Gadis melirih memanggil Putra yang tidak menjawab pertanyaannya, dimana Gadis ingin tahu kemana Putra akan pergi malam-malam begini.
Putra nampak sibuk sendiri setelah berganti baju.
Dimana kesibukan Putra kemudian membuat Gadis merasa was-was seketika.
“A – ada apa ... Putra? ...”
__ADS_1
Hingga Gadis tergugu, setelah matanya melihat sebuah benda yang telah diambil Putra dari dalam sebuah kotak kayu.
“Putra aku bertanya padamu ...”
Tak mendapat tanggapan Putra atas pertanyaannya, Gadis sedikit menekan Putra dengan menarik lengan suaminya itu agar mereka jadi berhadapan.
“Setelah urusanku selesai baru aku akan bicara padamu.”
Baru kemudian Putra menjawab Gadis. Itupun Gadis rasa tidak menjawab keingintahuan atas rasa penasarannya pada Putra yang hendak pergi secara tiba – tiba pada malam hari, lalu juga mengeluarkan sebuah pisau yang setelah menjawab Gadis, Putra masukkan ke dalam saku celananya.
Terlebih, beberapa saat sebelumnya Gadis sempat mendengar Putra menyebut ibu dan saudari tirinya kala bicara dengan beberapa orang di dalam ruang kerja utama. Yang meski sayup – sayup dan Gadis tidak terlalu jelas pembahasan Putra dan mereka yang bersama suaminya saat itu mengenai ibu dan saudari tirinya, namun Gadis jadinya mengira dengan was – was dan khawatir kalau Putra yang hendak pergi dengan membawa pisau itu ada hubungannya dengan kedua wanita tersebut.
“Aku akan melenyapkan mereka.”
“A-apa?“ Gadis lantas tergugu setelah mendengar ucapan Putra barusan.
Yang mana ucapan Putra tersebut adalah respons dari ucapan Gadis yang mengatakan jika ia mendengar kalau Putra menyinggung soal ibu dan saudari tirinya kala Gadis sempat hendak menyambangi Putra untuk mengajaknya bicara soal dirinya dan Putra yang sedang digelung ketidaknyamanan.
🔼
“A-apa katamu, Putra? –“
“Aku akan melenyapkan ibu dan saudari tirimu dari dunia ini karena mereka sudah cukup merugikanku. Jangan coba menghalangiku jika tidak ingin aku berlaku kasar padamu.”
Putra menukas ucapan Gadis yang bertanya dengan tergugu itu, dengan Gadis yang kemudian terbata dan mengulang kembali satu kata dari kalimat yang barusan Putra ucapkan.
Karena Gadis memang tak paham maksud Putra. Pun ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut, “Me-merugikan? ...“
“Kembalilah beristirahat ...“ namun Putra tak menghiraukan Gadis yang ia tahu ingin meminta penjelasan.
🔼
“Putra.”
Gadis yang tidak dihiraukan Putra yang melangkah berlalu dari hadapannya setelah mengambil sebuah jaket dan langsung memakainya itu, segera mengejar Putra yang sudah melangkahkan kakinya lebar – lebar sambil memakai sepasang sarung tangan kulit yang juga ia ambil bersamaan dengan jaket berbahan kulit yang sudah Putra kenakan tersebut.
Dimana Gadis menghadang langkah Putra yang sedang berjalan menuju pintu kamar mereka, “Kamu ...” gugu Gadis lagi. “Kamu tidak sungguh – sungguh kan Putra? –“
“Kembali beristirahat aku bilang –“
“Aku tidak mau sebelum kamu jelaskan padaku mengenai ini.”
Gadis membantah sekaligus menuntut penjelasan Putra.
“Ibu dan Madya merugikan kamu seperti apa sampai kamu mau menghilangkan nyawa mereka Putra? –“
“Sudah aku bilang aku akan bicara padamu setelah aku selesai mengurus mereka. Jadi kamu pergilah kembali beristirahat dan tunggu aku kembali –“
“Aku tidak ada waktu sekarang –“
“Putra!” seru Gadis saat Putra kembali melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mereka.
🔼
“Putra! ...” Gadis terus berseru sambil berusaha mengejar Putra yang melangkah cepat dan lebar.
“Perhatikan langkahmu!”
Putra yang menyadari Gadis juga berjalan cepat tanpa berhati – hati, lalu berhenti dan bicara tajam pada Gadis.
“Sekali saja jangan ceroboh! Bisa?!” geram Putra.
Yang kemudian mencengkeram kedua lengan Gadis yang matanya sudah berkaca – kaca.
Dimana situasi itu sekarang menjadi perhatian orang – orang yang ada di lantai dua, termasuk Bruna yang merasa mendengar suara misuh – misuh di luar kamarnya.
“What is happening???” tanya Bruna pada Damian dan Garret yang kebetulan berpapasan dengannya.
“Is Anth sleeping?”
Garret yang menanggapi Bruna dengan balik bertanya tentang Anthony.
Bruna mengangguk. "He was fast asleep ( Dia sudah tertidur lelap ) ..." ucapnya kemudian. "Look very tired ( Tampak begitu lelah )" kata Bruna lagi yang memang sudah memastikan jika Anthony tidak mendengar suara misuh - misuh di luar kamar Bruna dan Addison tempat Anthony tertidur sekarang.
Namun begitu, Bruna tetap bangun dengan perlahan guna tidak mengusik tidur Anthony yang ia lihat cukup pulas.
Lalu Ramone juga nampak keluar dari kamarnya. Kemudian langsung bertanya pada Devoss dan Arthur yang ada dalam pandangannya.
“What is going on??“ tanya Ramone yang kemudian Devoss memberikan penjelasan pada ayah baptis Putra itu.
🔼
Menanggapi pertanyaan Bruna, Garret kemudian memberikan penjelasan pada Bruna, terkait sikap Putra sekarang. Lalu menyuruh Bruna untuk kembali lagi saja ke kamar, berjaga jika Anthony terusik tidurnya yang mana jika bocah itu bangun dan melihat Papa Putra dan Mama Gadisnya nampak bertengkar sekarang, Anthony pasti akan sedih.
Namun Bruna menolak saran Garret itu, karena menurutnya dia perlu bersama Gadis yang sama - sama perempuan.
Lalu saran Garret, Bruna kembalikan pada satu saudaranya itu.
Yang mana Garret lah yang kemudian masuk ke kamar Bruna dan Addison untuk menjaga Anthony untuk mengalihkan jika bocah itu terusik tidurnya dan terbangun karena misuh - misuh di luar kamar Bruna dan Addison tersebut.
Sementara itu, Damian melangkah mendekati Putra dan Gadis yang nampak sedang bertengkar, walau bukan pertengkaran hebat.
__ADS_1
Karena Putra masih kiranya sadar situasi dengan menahan nada suaranya saat sedang bicara seolah sedang memarahi Gadis itu. Yang mana sebenarnya Putra khawatir jika Gadis yang berlari mengejarnya itu akan terjatuh.
Namun karena sedang kesal, jadi sikap Putra terkesan seperti sedang memarahi Gadis karena suatu kesalahan. “Aku mohon jangan lakukan niat kamu itu, Putraa.” Gadis melirih memohon kepada Putra. “Apa kesalahan ibu dan saudari tiriku itu pada kamu?? ... katakan saja padaku, biar aku yang bicara dengan mereka –“
“Heh!” tukas Putra dengan mendengus sinis.
Dimana setelahnya Putra langsung menatap serius pada Gadis.
“Membiarkanmu bicara dengan mereka lalu kamu dibodohi lagi oleh dua wanita keparat itu dan memberikan lagi mereka kesempatan untuk mencelakaimu?? –“
“Dibodohi bagaimana?? –“
“Sudahlah –“
“Lalu, mencelakaiku?? ... kapan ibu dan Madya mencelakaiku? –“
“Mereka yang sudah membuatmu jatuh dari tangga dan membunuh bayi dalam perutmu itu –“
“A – apa??” Gadis kembali dibuat terkejut lagi oleh ucapan Putra.
🔼
“Tidak mungkin –“
“Meragukan kembali perkataanku? –“
“Apa kamu punya bukti kalau itu perbuatan mereka? –“
“Kamu tidak percaya pada suamimu sendiri? –“
“Bukan begitu ... tapi –“
“Sudah. Waktuku sudah cukup terbuang untuk membiarkan 2 wanita keparat itu hidup lebih lama –“
🔼
Putra berbalik dari hadapan Gadis dan hendak melangkah menuju tangga.
Dimana Gadis yang sempat tergugu karena mendapat sedikit penekanan dari Putra karena keraguan yang Gadis tampilkan, kemudian terkesiap.
“Putra!”
Kembali memanggil sambil kembali mengejar Putra.
Namun Putra tidak menghentikan langkahnya.
“Tidak Putra! Tunggu!”
Dan Gadis kembali menghadang jalannya.
“Kembali ke kamar Gadis!”
Putra berkata tajam pada istrinya itu.
Dimana Gadis pun kukuh dengan sikapnya.
Sambil terus mencegah Putra melakukan sesuatu yang menurut Gadis begitu mengerikan.
“Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak akan membiarkan kamu membunuh orang Putra –“
“Silahkan saja jika memang kamu sanggup menahanku ...” namun Putra lebih kukuh lagi dengan pendiriannya.
Dan Putra kembali melangkahkan kakinya seraya menghindari Gadis, kemudian menoleh ke arah Damian dan Bruna serta Ramone juga Arthur dan Devoss di belakangnya.
Dimana Putra kemudian bicara dengan mata yang memandang kepada 2 saudara dan satu saudarinya, dengan juga menggerakkan dagunya yang tertuju pada Gadis.“Hold her –“
“Son ...” Ramone bersuara, hendak menyergah Putra.
“Please hold my naive wife until I’m back here.”
( Tolong jaga istriku yang naif ini sampai aku kembali ke sini )
Putra langsung melemparkan kalimatnya tersebut dengan memandang pada Ramone serta juga Damian dan Bruna.
“Tidak Putra! Berhenti! Putraa!! ...“ seruan Gadis terdengar lagi, kala ia yang kembali hendak mengejar Putra yang sudah menuruni tangga itu kemudian dipegangi oleh Damian.
“Leave him, Gadis. You can’t do anything if Putra already made a decision ( Biarkan dia, Gadis. Kamu tidak dapat melakukan apa – apa kalau Putra sudah membuat keputusan )” Damian lalu berujar sambil memegangi Gadis.
Damian tidak seberapa menggunakan tenaganya memegangi Gadis. Namun pegangan Damian cukup bisa menahan Gadis yang hendak mengejar Putra dan sudah terlihat frustasi. Pun Gadis berseru dengan agak histeris.
Kemudian Bruna dan Ramone berikut Garret ikut membujuk Gadis. Dimana ketiganya mengiyakan ucapan Damian. Namun Gadis tak menghiraukan bujukan empat orang tersebut.
Matanya masih fokus pada Putra yang sudah hampir mencapai ujung tangga di lantai bawah, dimana saat Garret, Bruna dan Ramone coba membujuknya selepas Damian memberikan peringatan secara halus padanya, Gadis berseru sengit.
Dimana seruan Gadis itu, kemudian membuat Putra menghentikan langkahnya.
“Jika kamu tetap bersikeras melakukan rencana gila kamu, aku pastikan aku akan pergi dari sini!”
🔼 🔼 🔼 🔼
To be continue ...
__ADS_1