LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 112


__ADS_3

Happy reading..


********************


“Tuan Putra menghentikan mobilnya dengan tiba – tiba Bos ...”


Seorang pria menoleh ke arah kursi penumpang belakang dalam mobil yang ditumpanginya.


“Tetap pada jarak kita sekarang, sesuai dengan perintah Tuan Putra”


“Oke Bos Arthur”


Itu Arthur, yang berada dalam sebuah mobil bersama dengan dua orang anak buahnya dan Putra yang berada cukup berjarak dibelakang, dari mobil yang dikendarai Putra.


“Berhenti dulu disini, kita jalan jika mobil Tuan Putra sudah kembali berjalan ...”


“Oke Bos ...”


***


Tak berapa lama kemudian...


“Bos, Tuan Putra sepertinya sudah akan bergerak lagi!” Ucap anak buah Arthur yang berada di bagian kursi depan mobil secara bersamaan. Arthur pun reflek mencondongkan tubuhnya dan melihat ke arah mobil Putra.


“Jalan” Ucap Arthur.


“Oke, Bos”


Anak buah Arthur yang mengemudikan mobil pun kembali menjalankan mobil tetap pada jarak semula.


***


“Bos, Tuan Putra ngebut itu!...”


Anak buah Arthur yang berada di kursi penumpang depan berkata seraya menunjuk ke arah mobil Putra.


‘Apa yang Gadis katakan hingga membuat Tuan Putra menjadi bertambah kesal seperti itu?’ Batin Arthur. “Tetap berada di belakang mobil Tuan Putra...”


“Oke, Bos”


“Jika Tuan Putra tidak memberikan kode pada kita untuk mendekat, maka tetap pada jarak ini saja”


“Oke, Bos”


***


“Pu ..”


“Kau begitu tertarik pada uang, hem?”


“Ini ..”


“Aku akan menambahkan nya, kau tenang saja ...”


“Apa maksudmu??!”


“.........”


“Katakan apa maksudmu?!”


“.........”


“Aku mengumpulkan uang yang kamu lemparkan padaku tadi, karena aku ingin mengembalikannya padamu asal kamu tahu!”


“.........”


“Kalau kamu menganggapku rendah, itu hak kamu! Tapi asal kamu tahu, aku tidak pernah mengincar uangmu!”


“Berhenti bersikap munafik didepanku, Nona Delima...”


Bruk!


“Ini uangmu, dan turunkan aku disini!”


Pash!...


“Sudah kubilang berhenti bersikap munafik di depanku!”


“.........”


“Aku akan menambahkan dengan jumlah yang lebih banyak padamu Nona Delima! Dan akan kupastikan jauh lebih banyak dari jumlah mereka yang pernah membayar mu untuk ‘mencicipi’ tubuhmu!”


Plaakk!!


“Ma ..”


“Akan kupastikan kau membayarnya!”


Putra berucap dengan nada suara yang terdengar dingin setelah ia memalingkan wajahnya dari Gadis, dan menggerakkan dengan kasar perseneling mobilnya lalu melajukan mobil yang ia kendarai dengan cepatnya, sebelum Gadis menyelesaikan ucapannya.


“Pu – tra...” Lirih Gadis.


Menjadi gugup karena Putra begitu cepat melajukan mobil, meski jalanan sudah sangat sepi.


“Pu – tra...” Gadis kembali melirih karena Putra yang mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi itu


bergeming. Terlepas dari entah Putra mendengar atau tidak suara Gadis yang melirih itu.


Satu tangan Gadis berpegangan pada gagang pintu mobil.


Gadis melirik Putra yang mata dan tubuhnya tetap lurus saja.


“Pu – tra...” Pada akhirnya Gadis memberanikan diri untuk menyentuh salah satu lengan Putra saat tangan Putra menggerakkan perseneling.


“Singkirkan tanganmu!”


“Pu – tra...”


“Aku katakan singkirkan tanganmu!”


“Tidak sampai kamu menurunkan kecepatan mobilmu!”


Gadis memberanikan dirinya, selain spontan menyahut pada hardikan Putra.


“Turunkan kecepatan mobil kamu, Putra...”


Setelahnya, Gadis langsung berkata lagi dengan nada suara yang pelan.


“Turunkan kecepatan mobil kamu, Putra... Jangan seperti ini, aku mohon ...”


Gadis melirih lagi seraya memohon dengan wajahnya yang memelas. Namun Putra tetap bergeming.


“Jangan membahayakan diri kamu ... Karena kamu kesal dan marah padaku...” Lirih Gadis. “Aku tidak perduli pada diriku, tapi keselamatan kamu penting, Putra...”


“.........”


“Aku tidak punya sesiapa yang akan menangisi ku jika hal buruk menimpaku ...”


“.........”

__ADS_1


“Tapi kamu punya Anthony... Pikirkan dia, Putra... Anthony pasti akan sangat bersedih jika hal buruk menimpa kamu ...”


‘Damned! ...’ Putra spontan merutuk dalam hatinya. Ucapan Gadis barusan bagaikan air es yang menyiram kepalanya yang sedang panas itu.


Putra menghela nafasnya pelan kemudian, sembari mulai menurunkan kecepatan mobilnya hingga mobil yang Putra kendarai melaju di kecepatan normal kembali.


Gadis menarik sudut bibirnya. Tersenyum tipis pada Putra, lalu menjauhkan tangannya dari lengan Putra. ‘Syukurlah Putra mau mendengarkanku ... Aku hanya takut jika kami kecelakaan dan Putra terluka. Dan Anthony pasti akan sangat bersedih jika itu terjadi pada papanya. Aku tidak perduli apa yang akan menimpaku. Mati pun tak apa ... Toh aku tidak punya sesiapa yang akan bersedih jika aku mati apalagi menangisi ku’


Gadis membatin.


****


Gadis bersandar di sandaran jok mobil dengan matanya yang ia pejamkan, selepas Putra kembali melajukan mobil yang di kendarai Putra dalam kecepatan normal. Bukan tidur juga sih, Gadis hanya sekedar memejamkan matanya sembari menerka – nerka kemana Putra akan membawanya.


Ingin bertanya, tapi Gadis tidak berani lagi berbicara.


“Turun”


Hingga suara Putra membuat Gadis sedikit terkesiap.


Di saat yang sama Gadis menyadari, jika mobil yang ia tumpangi sudah berhenti di suatu tempat kala Gadis spontan membuka matanya setelah mendengar suara Putra yang tak bernada tinggi, namun kesan datar dan dingin tetap ketara.


‘Ini, dimana??...’ Batin Gadis yang bertanya – tanya, karena tempat tersebut cukup asing baginya. Sembari melihat ke sisi kirinya dari dalam kaca mobil, dimana ada sebuah pekarangan berumput yang mungkin bisa menampung dua atau tiga mobil disana.


Gadis masih terduduk di tempatnya, lalu mengedarkan pandangannya ke arah selurusan kaca mobil di depannya. Sedikit temaram pencahayaan di arah selurusan mata Gadis. Namun Gadis masih dapat melihat banyak bunga indah beragam jenis, bentuk dan warna yang tumbuh di sekitar pekarangan tersebut.


“Kau tuli? Kubilang turun”


Suara Putra kembali terdengar, dan orangnya sudah keluar dari mobil. Putra nampak sudah berdiri di sisi mobil yang berlawanan dengan sisi dimana Gadis duduk.


“Silahkan, Nona...” Sebuah suara yang terdengar di sisi kiri Gadis bersamaan dengan pintu mobil yang dibukakan dari luar, membuat Gadis spontan menoleh.


****


“Pu ...”


“Masuk dan tunggu aku di dalam” Sambar Putra.


“Iya...” Gadis mengiyakan seraya menganggukkan kepalanya kala Putra sudah membuka dan melebarkan pintu kayu di hadapan Gadis.


Gadis yang tadi hendak bertanya, akhirnya menelan kembali saja pertanyaannya, dan memilih untuk menuruti setiap ucapan Putra saja saat ini. Gadis melangkahkan kakinya untuk masuk ke bagian dalam tempatnya berada saat ini. Sementara Putra kemudian berdiri di tempatnya, seiring suara mobil yang terdengar memasuki pekarangan tempat tersebut.


****


“Aku menyuruhmu masuk dan menungguku...”


Gadis yang berdiri di sebuah ruangan yang merupakan sebuah ruang tamu dan sedang mengedarkan pandangannya pada ruangan tersebut sedikit terkesiap kala suara Putra terdengar di arah belakangnya.


‘Ini kan aku sudah masuk!’


Gadis menjawab sedikit ketus ucapan Putra barusan tapi tentunya dalam hati Gadis saja.


Putra yang sudah menutup pintu bangunan yang merupakan sebuah kediaman itu kemudian berjalan begitu saja melewati Gadis yang berdiri setelah Putra berucap tadi.


“Apa ini rumahmu? ...”


“Apa matamu buta?...”


Putra menjawab cepat pertanyaan Gadis dengan sarkastik.


“Kau tidak melihat foto – foto dan lukisan yang berada di dinding memangnya?!” Sinis Putra.


Gadis hanya menghela nafasnya saja.


Sementara Putra sudah berada dalam ruangan lain yang juga ada set sofa di sana dan berjalan menuju ke satu sudut yang bisa di lihat dari tempat Gadis berdiri saat ini.


“Mau sampai kapan kau berdiri disana?!” Putra berdiri miring sembari menatap seraya berbicara dengan nada suaranya yang masih ketus.


“Selain menjadi tuli dan buta, apa kau juga bodoh?!...” Sarkas Putra lagi yang nampak sudah memposisikan dirinya menghadap Gadis dari tempatnya berdiri.


Lagi, Gadis menghela nafasnya, melapangkan dadanya di tempatnya berdiri.


“Hish!” Putra terdengar mendesis sinis. “Kenapa masih berdiri di sana?!” Ketus Putra. “Kemari dan duduklah!” Tambahnya.


‘Ya Tuhaan! Hanya untuk menyuruhku masuk dan duduk apa harus dengan mengataiku dulu?! Jika dia kasar terus seperti ini lebih baik aku pergi saja kalau begitu!’


Gadis mengomel dalam hatinya.


‘Memang berani ya kamu Gadis pergi sekarang dari sini?’


Hati Gadis bertanya sendiri.


‘Tentu saja tidak!’ Kemudian Gadis juga menjawab sendiri pertanyaan dihatinya. ‘Mana mungkin aku berani mencari lagi masalah dengan Putra saat ini’


“Gadis!” Suara Putra yang berseru itu menyadarkan Gadis yang sedang sibuk berkutat dengan hatinya sendiri itu.


“I – iya...”


“Aku bilang kemari dan duduk disini!”


“Iya Putraa...” Jawab Gadis dengan suaranya yang terdengar pasrah. Gadis pun mengayunkan langkahnya untuk memasuki ruangan yang tembus dari tempatnya berdiri itu.


Dan Putra meneruskan kembali niatnya yang tadi hendak berjalan ke satu sudut, dimana ada sebuah lemari kayu dengan pintu kaca.


Kemudian Putra mengeluarkan satu botol yang berisi cairan berwarna coklat pekat di dalamnya berikut dua gelas sloki dan membawanya ke tempat dimana Gadis berada. Putra menatap Gadis yang berdiri itu.


“Apakah duduk adalah hal yang sulit untukmu?...” Ucap Putra yang sudah memposisikan dirinya dihadapan Gadis setelah meletakkan botol minuman berikut gelas yang ia bawa di atas meja.


Gadis menggeleng seraya menatap Putra ragu – ragu. “Ti – dak, aku hanya...”


Namun Gadis menggantungkan kata – katanya kala ia memperhatikan wajah Putra dimana pipi sebelah kanan Putra masih tampak sedikit merah.


‘Apa aku menamparnya dengan sangat keras ya??...’


Pash...


Tangan Gadis yang spontan terulur untuk menyentuh pipi Putra itu, dengan cepat ditepiskan oleh Putra sebelum tangan Gadis sampai ke pipinya.


Gadis menghela nafasnya dengan berat namun pelan. “Maaf ...” Lirih Gadis.


“Duduk!”


“Iya ...”


****


Gadis dan Putra sudah duduk bersisian disebuah sofa panjang yang ada didalam ruang tengah Kediaman Putra. Namun keduanya duduk cukup berjarak.


‘Sebenarnya apa mau Putra?... Jika hanya diam-diaman seperti ini, lalu untuk apa dia mengajakku kesini?... Aku pikir dia mau mengajakku berbicara, memberikanku kesempatan untuk menjelaskan... Kalau begini...’


Gadis terduduk dan membatin dengan menundukkan kepalanya, sembari menautkan jarinya dan memainkannya, faktor kegugupan Gadis.


Sreett...


Gadis terkesiap dan spontan menoleh kala sebuah gelas kecil terdorong kearahnya diatas meja.


“Aku tidak minum alkohol, Putra...” Ucap Gadis seraya menggeser kembali gelas yang tadi terdorong kearahnya pada Putra.


Hanya terdengar kekehan singkat dari Putra yang menuang lagi minuman kedalam gelasnya, setelah sempat menuang dan menenggak sekali minuman beralkohol yang ia keluarkan dari dalam lemari tadi.

__ADS_1


Gadis spontan menolehkan kepalanya dan menatap Putra.


“Wanita sepertimu tidak mungkin tidak meminum alkohol...” Ucap Putra pelan seperti menggumam, namun bernada sinis setelah ia menenggak lagi minumannya tanpa menoleh pada Gadis.


“Wanita sepertiku?...” Sahut Gadis yang mendengar ucapan Putra barusan, meski pelan Putra ucapkan. Tapi tertangkap oleh telinga Gadis.


Gadis menatap Putra yang spontan menoleh padanya karena mendengar Gadis berbicara. Gantian Gadis yang terkekeh singkat bernada frustasi, lalu menyunggingkan senyuman getir. “Wanita murahan maksudmu?”


“.....”


“Iya, itu maksudmu tentang ‘wanita sepertiku’” Sambung Gadis lagi sembari masih menatap Putra.


“.....”


“Itu kan maksudmu?...”


Namun Putra bergeming dan sudah memalingkan wajahnya dari Gadis sembari hendak menuangkan lagi minuman kedalam gelasnya.


Pakk ...


“Jawab!”


Entah mendapat keberanian darimana, Gadis yang sudah berdiri dari duduknya dan mendekati Putra itu menepak gelas yang berada di tangan Putra dan berseru sembari menatap tajam pada Putra meski mata Gadis nampak berkaca-kaca.


“Aku tahu, aku salah tidak jujur pada kamu!...”


“.....”


“Aku minta maaf untuk itu... tapi apa yang sudah kuhadapi selama ini jauh dari sebelum kamu datang dalam hidup aku, membuatku tidak memiliki cara lain untuk mencari uang... kau pikir aku mau bekerja sejak pagi hingga malam


seperti ini, bahkan kadang aku tidak cukup beristirahat jika aku tidak memiliki alasan yang kuat untuk itu? Hah?! ...”


“Lalu apa alasannya?!”


Putra pun dengan lekas berdiri dari duduknya, memberikan tatapan tajam, sama seperti Gadis menatapnya tadi selepas menghempaskan gelas dari tangan Putra.


“Kau ingin hidup bermewah-mewah?! ...”


“Jika aku ingin hidup bermewah-mewah dengan aku bekerja di Pub sebagai penyanyi, aku tidak akan tinggal di tempat yang aku kontrak sekarang! ... Penghasilanku sebagai penyanyi di JP, bahkan di setiap aku mengisi di beberapa tempat, berikut tips dari mereka yang sering datang untuk melihatku tampil, itu cukup untuk menyewa satu flat bagus disini, asal kamu tahu! Aku pun tidak akan membeli pakaian di toko murahan!”


Gadis pun tak mengalah.


“Lalu untuk apa?!!”


Putra sama juga tak mengalah.


“Sudah kubilang kamu tidak tahu apapun tentangku Putra, tapi saat kukatakan itu di JP saat tadi kamu menemuiku disana, kamu langsung saja menuding ku macam-macam, kamu bilang aku munafik... bahkan kamu melemparkan uang padaku...”


“.....”


“Aku salah padamu, ya, aku akui itu, karena hubungan kita sudah lebih dari sekedar kenalan. Aku mengerti kamu marah, aku terima! Meskipun terlambat, pada akhirnya kamu mengetahui apa yang aku sembunyikan darimu sebelum aku sendiri yang mengatakannya padamu ... tapi setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjelaskan ...”


“.....”


“Kamu, terus-terusan saja merendahkan ku, menghinaku...”


Gadis menunjuk dirinya sendiri dengan isakannya yang tertahan dengan masih menatap Putra.


“Sampai disinipun, aku pikir kamu akan mengajakku bicara, tapi apa? Tak habis-habis cibiran yang keluar dari mulut kamu ...”


Gadis menempatkan telunjuknya di dada Putra.


“Wanita sepertiku ...”


Kembali Gadis terkekeh getir.


“Aku memang bukan wanita terhormat dari kalanganmu... dianggap sebagai wanita tidak baik hanya karena aku bekerja sebagai penyanyi di sebuah Pub saat malam hari, itu sudah biasa untukku ... tapi tolong kamu camkan baik-baik, aku hanya menjual suaraku, bukan tubuhku...”


“.....”


“Silahkan kamu tanya pemilik JP, tentangku. Kamu mengenalnya bukan?... Setelah itu terserah, kamu mau percaya atau tidak, itu hakmu... Tapi satu hal ...”


Gadis menetralkan suaranya, dengan masih menatap Putra dimana mata dan wajah Gadis sudah tersiram air mata.


“Aku, tidak pernah tertarik pada seorang pria, sebagaimana aku tertarik padamu ... yang baru aku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada seorang pria, itu baru padamu... dan bagaimana bahagianya aku, saat kamu melamarku...”


Meski mata dan wajahnya sudah basah dengan air mata, Gadis tetap menahan isakannya. Berbicara dengan menatap tanpa gentar ke netra Putra.


“Jika setelah kamu tahu tentang kebenaran mengenai profesiku yang sebagai penyanyi ini,  atau kamu tetap


berpikir aku ini adalah wanita munafik dan murahan dan untuk itu kamu menarik lamaranmu padaku, bahkan tak sudi lagi bertemu denganku, aku terima, Putra ...”


“.....”


“Tapi tolong, cukupkan... cukup sudah hinaan dari kamu... hatiku sudah tak tahan mendengarnya...”


“.....”


“Aku tahu kamu marah, kamu kecewa padaku... dan otak serta hati kamu akan berpikir buruk tentangku... aku tidak menyalahkan kamu Putra... karena memang bukan hanya kamu, orang yang akan berpikir seperti itu tentangku... tentang kami, para wanita yang bekerja di klub malam, yang ‘benar-benar’ bekerja tanpa memberikan pelayanan lain...”


Putra tetap bergeming. Mendengarkan Gadis yang bicara panjang lebar padanya tanpa lagi menginterupsi. Mata Putra memperhatikan wajah Gadis yang sudah nampak basah itu dan juga menatapnya lamat-lamat sembari wanita itu berbicara padanya.


Sedang Putra baca raut wajah Gadis yang nampak terluka itu, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan dalam hatinya tentang ketulusan Gadis.


“Aku tidak akan memaksamu untuk percaya... tapi tolong, sekali lagi tolong, jika memang kamu tidak bisa mempercayaiku tak apa... tapi tolong, berhenti melemparkan hinaanmu padaku... aku sudah cukup mendengar cibiran dan hinaan dari banyak orang yang membuat telingaku panas... yang membuat hatiku sakit, tapi aku tetap menahannya disini...”


Gadis menunjuk dadanya.


“Kamu ingin membuangku, buanglah... tapi jangan melemparkan hinaanmu lagi padaku... aku mohon...”


Gadis melipat tangannya.


“Karena mendengar kata-kata menyakitkan dari orang yang aku cintai dengan tulus-, itu beribu ka-li sakitnya!...”


Gadis menghela panjang nafasnya, mendongakkan kepala, menghapusi air matanya yang tak kunjung berhenti namun isakannya perlahan keluar dan sudah memalingkan wajahnya dari Putra. Tak lagi menatap Putra yang masih bergeming di tempatnya. Gadis hendak pergi.


“Sekali lagi aku minta maaf ...” Ucap Gadis dengan suaranya yang parau. “Aku...” Gadis hendak berucap lagi, hendak juga berpamitan pada Putra.


Namun belum sempat Gadis mengutarakannya...


Syut!.


Tubuh Gadis sudah keburu tertarik dengan cepat.


“Jangan pergi...”


****


To be continue ....


Ritual jempol, jangan lupa


( Ga maksa ciihh, tapi masa iya tega, dukungan jempol aja ga dikasih )


Hehehe ...


Tetep enjoyy yang penting


Semoga syuka

__ADS_1


Loph Loph


__ADS_2