
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indo,
"Haa .. sial sekali nasibku." Begitu yang diucapkan Putra, setelah dirinya merebahkan Gadis di atas ranjang mereka. “Sudahlah istriku ceroboh hingga sampai tidak sadar dijahati orang dan melukainya juga, menunda urusan pentingku di London, dan sekarang aku harus menahan hasratku sebagai lelaki.”
“Maafkan aku,” ucap Gadis kemudian, setelah mendengar ocehan Putra barusan.
Putra yang sebenarnya hanya mengoceh dalam canda saja, kemudian tersenyum geli atas Gadis yang meminta maaf padanya itu dengan wajah penuh penyesalan memandang pada Putra.
Putra menggeleng kecil setelahnya.
“Beristirahatlah, Gadis ..”
Kemudian ia menarik pelan tubuh Gadis yang langsung ia dekap.
***
Senyum Gadis merekah saat Putra membawanya dalam dekapan, hingga membuat kepala Gadis kini telah bersandar di dada Putra yang memang Gadis rindukan untuk bersandar di sana seperti seringnya.
‘Akhirnya Putra kembali hangat padaku.’
Lalu Gadis membatin bahagia dalam hatinya.
Hingga pada akhirnya Gadis dapat memejamkan matanya dan kiranya dapat tidur dengan tenang sekarang.
***
Gadis sudah sempat memejamkan matanya.
Namun beberapa detik kemudian, Gadis membuka matanya lagi.
Lalu Gadis bergerak hati – hati untuk melihat ke arah wajah Putra.
Dimana si empunya wajah, sepertinya sudah jatuh tertidur.
‘Aku sungguh merindukannya,’ batin Gadis ketika ia perlahan menggerakkan tubuh dan kepalanya, agar bisa melihat wajah Putra lebih leluasa. Gadis juga sudah menggerakkan tangannya. Ingin sekali menyentuh dan membelai garis rahang Putra yang tegas itu.
***
‘Putra sudah lelap belum ya?’
Gadis membatin lagi dan menggantungkan tangannya yang hendak menyentuh wajah Putra di udara, sambil Gadis masih mendongak memperhatikan wajah suaminya yang matanya sudah terpejam itu.
‘Sepertinya sudah ..’ Gadis meyakinkan dirinya. ‘Aku sungguh merindukan kamu, Putra ..’ ucap Gadis dalam hatinya, setelah ia memberanikan dirinya untuk menyentuh wajah Putra yang ia lakukan dengan sangat perlahan.
Gadis tersenyum di tempatnya, dan sudah cukup merasa puas melepaskan kerinduannya pada Putra yang belum sempat ia lakukan.
Karena sudah keburu ada hal menegangkan yang terjadi di vila, yang berimbas pada hubungannya secara personal dengan Putra yang sedang Gadis elus pelan garis rahangnya itu.
Melihat wajah Putra, walau Gadis hanya dapat melihat wajah itu tidak secara keseluruhan ---- lalu ia sentuh dengan perlahan itu, menghadirkan keinginan lain dalam hati Gadis ---- namun Gadis agak ragu untuk melakukannya.
‘Aku juga rindu dicium oleh Putra .. tapi aku malu untuk memintanya ..’
Gadis menggigit bibirnya sendiri.
‘Putra juga tidak menunjukkan gelagat jika ia ingin menciumku. Apa karena dia masih kesal padaku? Tapi tadi Putra sudah bicara dengan lembut padaku? Juga mengakui kalau dia sangat dan akan selalu mencintaiku ..’
Gadis bermonolog agak panjang dalam hatinya.
‘Meski seperti itu ---- telah mengakui betapa dia mencintaiku, sedikit banyak Putra pasti masih ada kesalnya padaku atas sikapku yang terkesan membela ibu dan Madya jadi rasanya dia enggan untuk menciumku. Ditambah selepas keguguran, aku tidak bisa dulu melayani Putra selama kurang lebih dua minggu ..’
Gadis bermonolog panjang dalam hatinya kemudian, dengan berekspresi sendu.
Namun tak lama berselang, Gadis tersenyum.
Dengan Gadis yang masih memperhatikan wajah Putra dari posisinya.
‘Tak apalah .. seperti inipun sudah cukup untukku. Putra sudah tidak terlalu dingin padaku sikapnya, dan dia bahkan sudah mau mendekapku seperti ini saat tidur, seperti biasanya.’
Gadis masih lanjut bermonolog dalam hatinya sekali lagi.
Lalu Gadis, sekali lagi juga menarik sudut bibirnya ---- bergerak hati – hati kemudian, untuk sedikit lebih mendongak dan menaikkan posisi kepalanya.
***
Cup.
__ADS_1
Sebuah kecupan kecil dan singkat kemudian Gadis labuhkan di satu sisi antara garis rahang dan pipi Putra yang dapat Gadis jangkau.
“Selamat malam, Putra,” ucap Gadis kemudian dengan nada suaranya yang begitu kecil. Samar, hampir terdengar seperti desisan.
Gadis sudah berniat untuk lanjut tidur, yang ia pastikan jika tidurnya sekarang pasti akan nyenyak.
Namun sebelum Gadis kembali ke posisinya sebelum ia mengecup Putra, dirinya lalu terkejut di tempatnya.
“Selamat malam, Gadis.” karena suara Putra yang terdengar agak serak itu, membalas ucapan selamat malamnya untuk suaminya tersebut tadi.
“Put – ra? .. kamu .. belum tidur? ---“
“Sudah seharusnya, jika kamu tidak mulai bergerak saat aku hendak pulas tadi.”
Suara Putra terdengar lagi, menukas ucapan Gadis. Sambil Putra membuka matanya.
“Ma – af .. aku ---“
***
Gadis yang terkejut karena nyatanya Putra belum lelap tertidur itu, kemudian tergugu berucap karena merasa malu tertangkap basah oleh Putra sampai Gadis diam – diam mengecup suaminya Putra.
“Jika memang berniat mengecupku, lakukanlah dengan benar ..” ucap Putra yang kini sedikit menggeser turun tubuhnya. “Dan lagipula, kenapa harus sembunyi – sembunyi melakukan itu, hem?”
Putra berucap lagi, dengan dirinya yang kini menatap pada Gadis.
“Aku .. malu ---“
“Baru dirimu sepertinya, istri yang malu – malu mengecup suaminya? ---“
“Ya .. itu .. karena aku takut kamu masih merasa enggan padaku .. karena sebelumnya kan kamu begitu kesal padaku ..”
***
Putra mendengus geli setelah mendengar ucapan Gadis barusan.
“Jika aku masih enggan padamu, aku tidak akan mau tidur satu ranjang denganmu sekarang, Gadis ---“
“Iya, memang ---“
“Dan aku tidak akan mendekapmu seperti ini ---“
Putra pun spontan terkekeh mendengar pertanyaan Gadis itu, sekaligus Putra menjadi gemas sekali pada Gadis sekarang.
“Tadi bukankah kamu sudah sempat memelukku, hem? ---“
“Memang? ---“
“Saat aku memangkumu tadi ---“
“Oh iya, ya? ---“
“Kamu ini. Terlalu polos untuk ukuran wanita seusiamu, tahu?”
Gadis tersenyum simpul mendengar ucapan Putra barusan.
“Ya habis, aku terlalu gugup setelah pertengkaran kita dan merasakan kemarahan kamu, hingga rasanya otakku menjadi kacau ---“
“Salah siapa, hem?” potong Putra, sambil ia menjepit dagu Gadis dengan gemas.
“Salahku. Maaf sekali lagi,” jawab Gadis.
“Sudahlah .. sekarang lebih baik kamu berikan aku kecupan yang benar ..”
***
Gadis langsung tersenyum setelah mendengar ucapan Putra yang memintanya untuk mengecup suaminya itu, meski ucapan Putra terkesan seperti sebuah perintah. Namun perintah itu lebih bernada seperti seorang anak kecil yang ingin dibujuk saat sedang merajuk.
Dan perintah Putra tersebut, dengan senang hati akan Gadis lakukan.
Cuup ..
Gadis pun mendaratkan sebuah kecupan di pipi Putra.
Dimana Putra, kemudian tersenyum lebar di posisinya.
Lalu ucapan Putra berikutnya, membuat Gadis agak tersipu.
“Di sini, tidak? ..” sambil Putra menunjuk bibirnya.
__ADS_1
Yang kemudian karena tak sabar, Putra sendiri yang kemudian mencium bibir Gadis lebih dulu. Putra lalu memegang tengkuk Gadis dengan posesif, lalu Putra segera menahan kepala Gadis lewat tengkuk istrinya itu.
Dan dengan cepat, Putra menempelkan bibirnya ke bibir Gadis.
“Hosh ..”
Sampai Gadis kemudian jadi sedikit tersengal, karena Putra mencium bibirnya dengan cukup memburu.
***
‘Damned!’
Putra merutuk dalam hatinya, sebelum ia melepaskan bibir Gadis dari bibirnya.
Pasalnya, karena hasrat kelakian Putra yang sebelumnya cukup adem ayem itu ---- sekarang mulai naik akibat dirinya hanya berciuman saja dengan Gadis.
‘Seharusnya aku hanya mengecup bibir Gadis sekilas saja, lalu langsung tidur!’ Putra mengomeli dirinya sendiri dalam hati.
“Putra? ---“
“Ehem. Ya?”
“Ada apa? ..”
Gadis bertanya, karena Putra nampak melamun di matanya.
“Kamu melamun?” tanya Gadis lagi.
“Tidak.” Putra pun menjawab. “Sudah, lebih baik kita tidur sekarang.”
Gadis lalu mengangguk setelah mendengar ucapan Putra barusan. Namun sekejap kemudian Gadis kembali bersuara. “Eum,Putra ---“
“Haish, apalagi Gadis?” Putra menukas ucapan Gadis dengan cepat, sambil ia berkesah ---- karena baru saja ia hendak memejamkan mata dan mematikan lampu duduk di atas nakas samping tempat tidur, Gadis malah menunjukkan gelagat untuk mengajaknya bicara lagi.
“Maaf, tapi ada satu lagi yang ingin aku tanyakan ---“
“Ya sudah cepat katakan, lalu segeralah tidur,” tukas Putra.
“Tentang hasil tes mengenai rahimku ..” ucap Gadis kemudian.
“Ada apa dengan itu? ..”
“Bila pada kenyataannya aku memang tidak bisa hamil lagi, apa kamu akan merubah keputusanmu untuk tidak pernah melepasku? ..” Gadis pun mengatakan apa yang ingin ia tanyakan pada Putra.
Putra tak segera menjawab pertanyaan Gadis.
Terdiam, hanya memandangi istrinya yang juga sedang menatapnya penuh harap.
Namun sebentar saja Putra terdiam. “Aku pria yang memegang teguh kata – kataku.”
Dan Putra mulai berkata.
“Kamu silahkan membunuhku jika aku mengingkari janjiku padamu.”
Putra berkata lagi.
“Aku mencintaimu, dan itu tidak akan pernah berubah, sekalipun kita bertengkar hebat, bahkan lebih parah dari pertengkaran kita yang belum lama terjadi. Perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Jadi tenanglah, aku pria yang setia.”
Putra menampakkan senyuman tipisnya pada Gadis, namun tangannya terulur mengusap lembut satu pipi Gadis. Sambil Putra masih bicara pada istrinya itu yang sudah nampak tersenyum haru.
“Aku tidak akan meninggalkan wanita yang tulus mencintaiku hanya karena wanita lain yang hanya menyebabkan ketertarikan sesaat, dan aku tahu kamu tulus mencintaiku, Gadis,” kata Putra lagi.
Membuat haru dalam hati Gadis bertambah pada Putra, yang terlihat masih ingin berkata padanya.
“Aku menikahimu bukan karena ingin menjadikanmu mesin pembuat anak. Tetapi karena aku begitu menginginkanmu untuk berada di sisiku dan menemaniku seumur hidup. Dan itu, karena aku mencintaimu .. aku memang sangat ingin memiliki anak yang merupakan darah dagingku sendiri. Tetapi itu hanya darimu .. tak ingin dari wanita lain ..”
Putra berkata dengan gurat ketulusan dan kesungguhannya pada Gadis.
“Jadi meski kamu tidak dapat memberiku seorang anak, cintaku padamu tidak akan terkikis hanya karena itu ---“
“Putraa ..” Gadis tak tahan untuk segera berhambur ke pelukan Putra.
Dan Putra langsung menyambut tubuh istrinya itu yang kemudian ia dekap dengan sayang.
“Satu saja yang aku minta darimu. Jangan pernah mengkhianatiku .. karena andai itu terjadi, dihari dimana aku tahu kamu mengkhianatiku, aku tidak akan segan memberikan hukuman padamu. Hukuman panjang dan menyakitkan, sampai kamu memohon agar aku membunuhmu dengan segera.”
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
To be continue ..
__ADS_1