LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 91


__ADS_3

Happy reading....


******************


“Baiklah sampai jumpa...”


( Gadis berpamitan sembari mengangkat tangannya sebelum ia berbalik pergi dari hadapan Putra ).


“Sampai jumpa”


( Putra menjawab datar saja dan tidak membalas lambaian tangan Gadis ).


“Kita pergi sekarang Tuan?” ( Suheil menghampiri Putra saat dirinya sudah melihat suster yang Tuannya bilang adalah merupakan calon istrinya sudah masuk ke area dalam Rumah Sakit tempat dirinya mengantar sang Tuan dan wanitanya itu ).


( Putra tidak menjawab pertanyaan Suheil ).


“Ini”


( Putra menyodorkan beberapa lembar uang pada Suheil dari dalam dompetnya )


“Kau pergilah makan...” ( Ucap Putra ). “Ada hal yang ingin kulakukan terlebih dahulu”


“Tidak usah Tuan, saya akan menunggu Tuan saja”


“Jangan membantah ku, Suheil”


“Ma-maaf Tuan ..”


“Ambil ini dan pergilah makan, jika sudah selesai dan kau belum bertemu denganku, maka tunggu saja di mobil”


**( Suheil pun menuruti apa yang Putra minta padanya dengan mengambil beberapa lembar uang yang sudah disodorkan oleh Putra, lalu beranjak pergi setelah Putra masuk ke area dalam Rumah Sakit ).


******


“Selamat pagi”


( Putra sudah berada di depan sebuah meja kayu  di sebuah bagian Rumah Sakit, dengan dua orang berseragam suster dibaliknya )


“Selamat pagi Tuan, ada yang dapat kami bantu?”


“Aku ingin bertemu dengan Bapak Tamas. Apa dia ada di tempat?”


“Maaf, apa Tuan sudah membuat janji sebelumnya?”


“Belum”


“Begini Tuan, anda harus membuat janji dahulu jika ingin bertemu dengan Bapak Tamas. Lagipula Bapak Tamas juga tidak setiap hari berada disini. Dan kebetulan juga, beliau tidak ada saat ini dan tidak memiliki jadwal untuk berada disini pada hari ini, Tuan ...”


“Seperti itu ya?”


“Iya, Tuan”


“Apa ada orang lain yang kiranya bertanggung jawab dalam Rumah Sakit ini dan bisa saya temui saat ini selain Bapak Tamas?”


“Eemm, sebentar ya, Tuan?”


( Suster yang berbicara dengan Putra itu kemudian berdiri dan meminta Putra untuk menunggu, sementara ia masuk ke sebuah ruangan yang berada tak jauh dari tempatnya duduk tadi ).


“Ini Bu, Tuan yang mencari Pak Tamas ..” ( Putra menoleh saat suara suster yang sebelumnya berbicara dengannya itu terdengar berbicara dengan seseorang ).


“Eh?. Andaa..... Tuan Putra Adjieran bukan?” ( Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahunan itu mengenali Putra ).


“Iya betul”


“Ya ampuun, maaf ya Tuan. Mereka tidak tahu siapa anda soalnya”


“Tidak masalah”


“Apa kabar Tuan Putra?”


“Saya baik. Terima kasih”


“Senang dapat bertemu anda lagi Tuan Putra.... Mari ...”


“Terima kasih”


“Oh iya Tuan, apa anda memiliki janji temu dengan Pak Tamas pagi ini?”


“Tidak sih, kebetulan saya memiliki hal mendadak yang ingin saya katakan Bapak Tamas untuk sedikit membantu kepentingan saya di Rumah Sakit ini”


“Pasti lah Tuan, Bapak Tamas akan membantu anda untuk itu. Bahkan beliau sudah mewanti kami juga sebelumnya untuk membantu Tuan Putra jika memang Tuan ada kepentingan di Rumah Sakit ini”


“Saya merasa tersanjung” ( Sahut Putra ).


“Untuk seorang donatur terbesar kami saat ini, bahkan donasi dari anda dan keluarga berkali lipat besarnya daripada donatur terbesar kami selama ini, dan donasi anda itu sangat membantu untuk pembangunan Rumah Sakit rasanya sudah sepantasnya jika anda dan keluarga mendapat perlakuan spesial dari kami Tuan...”


( Putra menarik sudut bibirnya. Tersenyum ramah ).


“Jadi jika Bapak Tamas tidak di tempat, apa anda yang kemungkinan bisa membantu saya?”


“Tentu Tuan, itu sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu kepentingan Tuan disini .. Tapi kebetulan Pak Tri ada disini saat ini. Beliau pasti akan senang sekali dapat bertemu anda secara langsung. Mengingat beliau tidak ada saat anda dan Pak Tamas bertemu hari itu ...”


“Pak Tri itu siapa?”


“Beliau Wakil Kepala Yayasan, Tuan”


“Hemm....”



( Putra disambut dengan sangat baik oleh laki-laki paruh baya yang bernama Tri, yang merupakan Wakil Kepala Yayasan Rumah Sakit di tempat Putra berada saat ini ).


“Jadi Tuan Putra, apa yang dapat saya bantu untuk anda saat ini?”


( Pria bernama Tri yang berlaku ramah dan sumringah pada Putra itu bertanya setelah Putra sedikit berbasa – basi dengannya ).


“Well, sebenarnya ini sedikit pribadi”


“Eeuumm, apa perlu saya hubungi Pak Tamas agar beliau datang kesini sekarang juga Tuan?”


“Sebenarnya aku ingin mengajukan complain”


“Kom – komplain?...”


“Ya”


“Katakan Tuan, apa ada staf kami yang berlaku tidak sopan atau membuat anda tidak nyaman?..”


( Putra tersenyum tipis ).


‘Bisa gawat kalau Tuan Putra tersinggung dan tidak lagi mau menjadi donatur di Rumah Sakit ini. Bisa – bisa program pembangunan Rumah Sakit tertunda. Sementara uang donasi dari Tuan Putra dan keluarganya bisa membeli alat-alat Rumah Sakit dari luar negeri yang mahal sekali harganya itu’


( Wakil Kepala bernama Tri itu membatin cemas ).


“Apa seperti itu Tuan?. Katakan jika memang ada sikap staff kami yang membuat anda tidak nyaman, atau mungkin hal lainnya yang membuat anda terganggu di Rumah Sakit ini?”


“Bukan itu”


“Katakan saja apa yang menjadi keluhan anda Tuan. Kami akan berusaha untuk memperbaikinya”

__ADS_1


“Seperti yang saya katakan tadi, ini bersifat pribadi. Tapi berhubung saya merasa kalau calon istri saya merasa tertekan bekerja disini, jadi rasanya saya perlu mengatakannya”


“Ca – calon istri?? ...” ( Si Wakil Kepala Yayasan nampak terkejut ).


( Putra langsung mengangguk pasti ). “Ya”


“Ca – calon istri Tuan Putra bekerja di Rumah Sakit ini? ...” ( Tanya si Wakil Kepala lagi pada Putra dengan wajahnya yang masih menyiratkan keterkejutan ).


( Sekali lagi Putra mengangguk pasti ). “Ya” ( Sahut Putra ). “Saya merasa dia tertekan dengan peraturan di Rumah Sakit ini, sehingga dia tidak memiliki waktu untuk sarapan dengan baik. Dan itu, membuatku merasa tidak nyaman”


“Bo – boleh saya tahu nama calon istri anda itu, Tuan Putra? Dan dia bekerja dibagian apa?. Jika memang anda merasa dan menilai seperti itu, pastinya itu beralasan. Saya akan segera mengurusnya”


“Bisa diurus sekarang juga? Karena kebetulan dia memang tidak sarapan dengan layak, dan aku tidak ingin dia jatuh sakit karenanya .... Bila itu terjadi, aku akan sangat merasa terganggu .... Hal kecil memang, tapi saya harap anda mau membantu”


“Tentu! Tentu saja!... Calon istri Tuan mana mungkin kami anggap hal kecil. Saya sendiri yang akan menemui calon istri anda itu Tuan, dan memintanya untuk pergi sarapan sekarang juga” ( Si Wakil Kepala nampak antusias ).


“Maaf merepotkan anda dengan hal sepele ini. Karena jika saya yang memintanya, calon istri saya itu akan menolak bahkan mengusir saya, karena dia mengatakan kehadiran saya bisa membuatnya mendapatkan sanksi kedisiplinan”


( Si Wakil Kepala menggelengkan kepalanya ).


“Seperti yang saya katakan tadi Tuan, sebagai donatur terbesar Rumah Sakit ini, kepentingan anda disini akan menjadi prioritas kami apapun itu... Saya pribadi tidak akan membiarkan ada sedikit pun hal yang membuat anda merasa tidak nyaman selama itu berhubungan dengan Rumah Sakit ini. Pak Tamas juga pasti akan langsung mengurusnya jika beliau ada disini sekarang ... Jadi saya akan mengurus hal yang anda minta tadi Tuan...”


( Putra menarik tipis sudut bibirnya seraya ia membatin )


‘Seperti yang sudah pernah kubilang, jika uang dapat mengubah peraturan’


“Saya akan menemui calon istri anda itu sekarang juga Tuan ...”


“Apa saya boleh ikut?”


“Tentu saja boleh Tuan!”


“Sebelumnya, boleh saya meminjam telepon untuk menghubungi seseorang?. Karena kebetulan saya berada disini, saya rasa saya akan memberikan sedikit donasi untuk tambahan. Jadi saya ingin menghubungi orang saya yang mengurus hal itu”


( Dan wajah Pak Wakil Kepala pun langsung berbinar seraya mempersilahkan Putra menggunakan telepon dalam kantor tersebut ).


***


“Oh iya Tuan Putra, calon istri anda itu bekerja di bagian mana? ....” ( Tanya Pak Wakil Kepala ). “Apa dia salah seorang Dokter wanita yang punya praktik di Rumah Sakit ini?”


“Bukan” ( Jawab Putra ). “Dia seorang perawat”


“Perawat?? ...”


“Ya”


“Boleh saya tahu siapa namanya?”


“Gadis”


**


“Selamat pagi semua! ...”


“Selamat pagi Pak Tri! ...”


“Apa kabar ...”


Sementara pria disebut bernama Tri, yang merupakan Wakil Kepala Yayasan Rumah Sakit itu menyapa para perawat yang berada dalam ruangan mereka dan para perawat pun sudah mulai satu per satu berjalan mendekati si Wakil Kepala Yayasan Rumah Sakit untuk menyalaminya, beberapa perawat ada yang langsung kasak – kusuk.


Setelah melihat seseorang yang datang bersama si Wakil Kepala Yayasan Rumah Sakit berikut sekertarisnya.


“Dis!” Mba Neni memanggil Gadis dengan berbisik. “Tuh!...”


Mata Mba Neni seperti memberikan kode pada Gadis yang sedikit merasa bingung.


“Ya ampuun...”


Dan pada akhirnya Gadis mendelik seraya terkejut, setelah melihat siapa yang berada di belakang pria paruh baya yang merupakan Wakil Kepala Rumah Sakit tempat Gadis bekerja.


‘Pu – Putra??!!! ...’ Gadis membulatkan matanya. ‘Kenapa dia masih disini??!! ..’


Gadis tak hanya terkejut, namun merasa sedikit cemas juga saat ini.


‘Aduhh, kenapa dia harus datang disaat yang bersamaan dengan kedatangan Pak Tri dan Ibu Mira untuk inspeksi????!! .. Habislah aku jika Putra masuk dan mendekat sekarang! ...’


“Dis, ada papanya si bocah tampan itu!” Bisik Mba Neni dan Gadis langsung mengangguk lesu. “Pasti mau nemuin kamu itu!”


“iya aku tahu, Mba Nen”


“Temui gih sana!” Titah Mba Neni seraya berbisik.


“Gimana mau nemuin si Mba?! Ini bisa gawat urusan kalo aku nemuin tamu secara pribadi pas ada Pak Tri dan Bu Mira begini?”


“Iya sih! Tapi kalau ijin sebentar ga apa – apa kali, Dis?” Bisik Mba Neni lagi dan suster yang lebih senior dari Gadis itu menghentikan kasak – kusuknya dengan Gadis saat dia sudah berdekatan dengan si Wakil Kepala dan sekertarisnya, kemudian bersalaman.


Diikuti oleh Gadis dibelakang Mba Neni yang sempat mendesah frustasi sebelum ia bersalaman dengan Pak Wakil Kepala dan sekertaris yang merangkap asisten para petinggi Rumah Sakit tempat Gadis bekerja tersebut.


Gadis kemudian sengaja berdiri dibelakang Mba Neni yang mengambil posisi berdiri di dekat sofa, disamping Pak Wakil Kepala.


Sepertinya Mba Neni juga paham kondisi Gadis.


Gadis tidak memperhatikan Pak Wakil Kepala yang seperti sedang memberitahukan sesuatu pada para perawat.


Gadis sedang merasa gelisah atas kehadiran Putra yang orangnya sedang berdiri di ambang pintu ruangan para perawat tersebut.


Gadis mencuri – curi pandangan ke arah Putra dari belakang Mba Neni. Tepat saat Putra seperti ingin melangkah lebih masuk, Gadis langsung mengangkat rendah satu tangannya diam-diam ke arah Putra yang mengisyaratkan agar Putra tetap diam saja di tempatnya.


Putra yang memang sedari tadi memperhatikan Gadis itu tersenyum tipis dan mensedekapkan kedua tangannya lalu bersandar di pinggir pintu, tak jadi melangkah masuk. Membuat Gadis sedikit bisa sedikit bernafas lega. ‘Hh... setidaknya Putra mengerti untuk tidak masuk kesini saat ini’


Lalu Gadis memfokuskan lagi perhatiannya pada Wakil Kepala Yayasan yang disaat yang sama menoleh ke arah belakangnya lalu memanggil seseorang dengan tersenyum. “Tuan! ....” Panggil Pak Wakil Kepala ke arah pintu, dimana semua mata juga akhirnya menoleh ke arah dimana Wakil Kepala itu mengarah.


Gadis merasa cemas lagi, namun sedikit heran juga pada sebutan ‘Tuan’ yang barusan diucapkan oleh Pak Wakil Kepala.


Gadis cemas, karena Putra ada di ambang pintu ruangan dan bersedekap dengan santainya. Sementara Pak Wakil Kepala menyebut ‘Tuan’ dan tak ada orang lain selain Putra.


“Mari, Tuan Putra....” Ucap Pak Wakil Kepala dan seketika Gadis merasa terheran –heran sekaligus terkejut lagi.


‘Pak Tri kenal dengan Putra??..’ Batin Gadis bertanya – tanya.


“Silahkan ..”


“Yang dimaksud Pak Tri itu berarti papahnya si bocah tampan??...”


Salah seorang rekan Gadis berbisik dan membuat Gadis menoleh padanya.


“Apa?...”


Gadis sontak bertanya.


“Memang Pak Tri bicara apa tadi?” Tanya Gadis lagi.


“Lah, kamu ga denger Pak Tri bilang soal donatur yang kasih dana lumayan besar baru-baru ini?.. Papahnya si bocah tampan itu..”


“Ha....”


“Tuan Putra, silahkan ..”


Gadis menoleh lagi ke arah Wakil Kepala yang memang sedang melangkah mendekati Putra.

__ADS_1


“Saya dilarang masuk” Suara Putra terdengar menyahut, sembari ia memandang pada Gadis yang sudah melongo itu.


“Siapa yang berani melarang anda masuk, Tuan?”


Wakil Kepala spontan menoleh ke arah dimana mata Putra memandang.


“Perawat itu!” Tunjuk Putra dengan dagunya. “Perawat yang bernama Gadis”


“Oh Tuhan!” Gadis spontan ber-kesah dalam gumaman dan semua mata memandang ke arahnya. ‘Putra? Donatur yang menjadi buah bibir akhir-akhir ini itu?? ...’


“Dia yang melarangku masuk” Ucap Putra lagi sambil mengulum senyum pada Gadis yang masih melongo tak percaya itu.


‘Demi Tuhan ... apa Putra sengaja agar aku kehilangan pekerjaankuuu???!! .....’ Gadis membatin sangat cemas.


“Kan sudah saya katakan tadi, calon istri saya itu pasti akan mengusir saya jika melihat saya disini saat jam kerjanya. Dia itu cantik, tapi galak” Bisik Putra yang kemudian mendengus geli, pada si Wakil Kepala yang terkekeh kecil setelah mendengar ucapan Putra yang terdengar seperti guyonan itu.


“Gadis”


“I – iya Pak Tri?...” Sahut Gadis tergugu.


“Benar kamu melarang Tuan Putra untuk masuk?...”


“I – itu...”


“Saya memperkenalkan anda dulu pada para perawat ini dulu bagaimana Tuan?..”


Pak Wakil Kepala berbicara dengan berbisik pada Putra.


“Saya sebenarnya sudah mengenal sebagian dari mereka”


“Begitu ya?....”


Putra mengangguk.


Semua mata masih terfokus pada dua pria yang nampak sedang kasak-kusuk itu.


“Saya perkenalkan lagi secara resmi pada mereka, agar mereka paham posisi anda yang penting bagi Rumah Sakit ini, bagaimana? ...”


“Heemm...”


“Jadi Gadis tidak akan lagi berani marah-marah pada Tuan jika dia tahu kalau calon suaminya itu merupakan seorang donatur terbesar disini” Usul Pak Wakil Kepala yang memang mengenali para perawat yang bekerja di Rumah Sakit tersebut.


Dan Pak Wakil Kepala itu juga cukup terkejut kalau Gadis yang memang ia kenal secara pribadi karena selain cantik, Gadis merupakan perawat yang cukup berpredikat baik selama ini, selain juga sangat sopan dan ramah.


“Baiklah”


“Mari kalau begitu Tuan”


Putra melangkahkan kakinya untuk masuk bersama Pak Wakil Kepala lalu berdiri bersisian dengan laki-laki bernama Tri tersebut yang memperkenalkan Putra sebagaimana seperti yang sudah ia katakan sebelumnya tadi, bahwa ia ingin memperkenalkan seorang donatur baru yang memberikan donasi dengan jumlah yang cukup besar untuk kepentingan Rumah Sakit tempat mereka bekerja itu.


Dimana Gadis terkejut setengah mati mendengar apa yang disampaikan oleh pak Tri.


“Jadi saya harapkan kalian semua dapat berprilaku baik pada Tuan Putra dan keluarganya jika mereka memiliki kepentingan disini apapun itu”


Pak Wakil Kepala mengatakan hal yang bagi para staf Rumah Sakit adalah sebuah perintah yang harus dilakukan.


Semua yang berada dalam ruangan khusus perawat itupun serempak mengiyakan. “Iya Pak!”


“Dan terlebih untuk kamu, Gadis”


“I-iya, Pak...” Gadis yang masih tergugu itu menyahut gugup.


“Jangan galak-galak sama calon suamimu yang dermawan ini”


Dan tentu saja lagi-lagi Gadis melongo setelah mendengar ucapan lugas yang keluar dari mulut Pak Wakil Kepala Rumah Sakit tersebut, disaat yang sama Putra mengulum senyumnya lagi dan kericuhan kecil dari rekan-rekan Gadis pun sontak tak dapat dielakkan.


“Nah, sekarang kamu ikut Tuan Putra sana”


Pak Wakil Kepala berucap lagi pada Gadis yang terdiam terpaku itu.


“Gadis”


“Dis!”


“Hum?”


Gadis yang sepertinya sedang melamun itu terkesiap karena Mba Neni menyentuh lengannya, karena Gadis tidak menyahut saat Pak Wakil Kepala menyebut namanya.


“Diajak ngomong sama Pak Tri itu! ..” Bisik Mba Neni.


“Eh, iya. Maaf. Bagaimana Pak Tri?...” Tanya Gadis dengan tergugu.


“Tuan Putra ada perlu dengan kamu ... Kamu sekarang ikut dengan calon suamimu ini, ya? ...”


Gadis yang seolah kehilangan fokusnya itu mengangguk saja pada Pak Wakil Kepala.


Namun Gadis tetap saja bergeming di tempatnya, nampak linglung.


“Baiklah, mohon mengganggu waktu kalian. Saya permisi” Suara Putra kemudian terdengar, seiring Putra membalikkan badannya setelah sedikit menundukkan kepalanya untuk memberikan salam hormat pada semua orang yang berada di hadapannya itu.


“Gadis!” Pak Wakil Kepala memanggil Gadis yang nampak linglung itu.


“I-iya Pak???...” Sahut Gadis yang salah tingkah jadinya sekarang.


“Sana, itu susul calon suami kamu”


Pak Wakil Kepala berucap sembari kepalanya bergerak ke arah Putra yang sedang berjalan santai keluar dari ruangan tersebut.


“Oh. I-iya ...” Sahut Gadis yang kemudian bergegas mengejar Putra.


“Gadis” Panggil Pak Tri lagi.


“Iya Pak Tri?”


Gadis menghentikan langkahnya karena Pak Wakil Kepala memanggilnya lagi.


“Ingat, jangan galak-galak loh sama calon suamimu itu. Biar bagaimana juga kamu harus menghormati dia sebagai donatur terbesar kita”


“Iya Pak”


“Pokoknya kamu, bikin Tuan Putra senang aja ya?”


“Iya Pak”


Gadis menyahut patuh.


‘Aku merasa seperti seorang anak perempuan yang sedang dijual ayahnya untuk membayar hutang pada pria kaya kalau begitu sih’ Batin Gadis.


**


“Putra...”


Gadis sudah berada di belakang Putra kini.


Putra yang mendengar suara Gadis memanggilnya itu sontak saja langsung menoleh setelah Putra menyembunyikan senyumannya.


“Semua ini...”


“Sudah kubilang, aku tidak bisa menerima penolakan”

__ADS_1


**


To be continue ...          


__ADS_2