
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Italy .....
Hari dimana Putra membawa Anthony ke tempat dimana bocah tampan itu dilahirkan dan menjalani hidup di sana selama beberapa tahun, hingga kemudian sebuah tragedi memilukan terjadi dan Anthony dibawa Putra ke suatu negeri yang jauh sekali dari tempat kelahirannya itu, telah tiba.
Anthony kini telah berada dalam satu mobil yang sama dengan Putra dan Gadis setelah menempuh perjalanan udara selama belasan jam, lalu sempat singgah di sebuah hotel ternama untuk beristirahat, sebelum pergi menuju ke sebuah hunian yang merupakan tempat tinggal Anthony dari sejak ia lahir sampai sebelum orang tuanya dibunuh dengan keji oleh Jaeden.
“I look handsome, right Papa? –“
“Very ( Sangat ), Anth.”
Putra yang ditanyakan oleh Anthony itu pun lekas menjawab pertanyaan bocah tampan tersebut, yang nampak begitu bersemangat.
Dimana semangat Anthony itu nampak begitu menggebu, bahkan dari mereka masih berada di negeri tempat tinggal mereka selama beberapa waktu.
Bocah tampan itu juga tak menampakkan kelelahan sedikit pun walau sudah menempuh perjalanan bahkan sekitar lebih dari dua puluh jam dari negeri tempat mereka berada, sebelum bertolak ke Italia.
Kemudian beristirahat di hotel tempat mereka singgah hanya beberapa jam saja. Karena Anthony sedang banyak merengek untuk segera diantar ke Ravenna, tempat tinggalnya dahulu --- semasa orang tuanya masih hidup.
Yang mana dimaklumi sikap Anthony itu oleh Putra dan lainnya, mengingat kalau mereka paham betul, betapa Anthony tak sabar untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Meski kedua orang tua bocah tampan itu, hanya dapat Anthony temui dalam bentuk pusara.
Dan mungkin, Anthony tak sabar untuk bisa melihat kembali rumah tinggalnya dahulu yang memiliki banyak kenangan bersama kedua orang tuanya itu.
“You’re not lying right, Papa ( Papa tidak bohong, bukan )? ....” Anthony bertanya lagi pada Putra. “That I am look so handsome and neat ( Bahwa aku terlihat tampan dan rapi ) ....”
“I only honest to you ( Aku hanya jujur padamu )”
Putra kembali menanggapi ucapan Anthony yang kerap kali menanyakan hal yang kurang lebih sama padanya.
“You tootally handsome and neat. Even a real prince in the real kingdom is nothing to compare with you ( Kamu saangat tampan dan rapi. Bahkan seorang pangeran di kerajaan yang sesungguhnya tidak ada apa – apanya jika dibandingkan olehmu ) –“
“Well I trust you ( Kalau begitu aku percaya padamu ), Papa –“
“Of course you have to trust me ( Tentu saja kamu harus percaya padaku )....”
Putra menimpali ucapan Anthony yang menimpali juga ucapannya sebelumnya, sambil juga Putra menahan geli di perutnya.
“Haish.”
Putra lalu berkesah samar, saat Anthony yang dibiarkan duduk di kursi penumpang depan samping supir itu --- seperti permintaan bocah tampan itu sendiri yang meminta pada Putra agar diijinkan duduk sendirian di kursi penumpang depan dalam mobil yang ia tumpangi bersama dua orang tua angkatnya tersebut, telah beralih dari Putra yang duduk bersama Gadis di kursi penumpang belakang.
“Jika aku hitung – hitung, dia sudah bertanya padaku tentang apakah dia sudah terlihat tampan itu sebanyak 50 kali dari sejak di dalam jet....” Putra lalu berbisik pada Gadis yang duduk rapat di sebelahnya, dimana Gadis sontak terkekeh kecil mendengar ucapan Putra yang dibisikkan kepadanya itu.
🔵
Hanya perlu menempuh waktu sekitar 30 menit dari hotel tempat Putra dan rombongannya singgah, untuk sampai ke kota kelahirannya Anthony.
Dimana mobil yang ditumpangi Putra, Anthony dan Gadis berikut seorang supir yang selama perjalanan tidak hening suasananya --- karena Putra membuat dirinya macam tour guide untuk Gadis, yang tentunya juga diselingi dengan celetukan Anthony, akhirnya sudah sedikit lagi sampai ke kediaman lamanya Anthony bersama almarhum kedua orang tuanya.
“We’re close to my home, right ( Kita sudah dekat dengan rumahku, benar bukan ), Papa?!”
Lalu Anthony bertanya dengan sangat antusias, saat ia masih mengenali lingkungan yang disusuri oleh mobil yang ia tumpangi itu.
“You still recognize this neighbourhood ( Kamu masih mengenali lingkungan ini ), hem? –“
“I do, Papa.”
“Then look ahead now ( Sekarang lihatlah ke depan )....”
__ADS_1
“My, home.... Papa.... I will meet Daddy and Mommy ( Rumah, ku.... Papa.... Aku akan bertemu Daddy dan Mommy ).... Hiks –“
🔵
‘Oh Anth....’
Putra langsung membatin sendu saat Anthony melirih di tempatnya, dengan mata Anthony yang nampak sangat berkaca-kaca, namun ada senyumannya di sana.
Putra tak sanggup berkata-kata, begitu pula Gadis. Namun sepersekian detik dari dirinya yang membatin sendu, Putra langsung memajukan dirinya. Tangannya langsung juga terulur mengusap lembut pucuk kepala Anthony, sambil Putra tersenyum pada bocah tampan kesayangannya, yang nampak begitu terharu itu.
🔵
“You supposed to show your smile to Mommy and Daddy, don’t you? ( Bukankah seharusnya kamu menunjukkan senyummu pada Mommy dan Daddy? )....”
Selang beberapa detik setelah ia mengusap lembut kepala Anthony dengan sayang, ia pun berkata untuk menenangkan bocah tampan kesayangannya dan keluarga baru mereka itu.
“So they can feel peace, knowing that you live so well now ( Jadi mereka dapat merasa tenang, mengetahui bahwa kamu hidup dengan baik sekarang ) –“
“And happy, because you not make me live in this world alone ( Dan bahagia, karena Papa tidak membuatku hidup sendirian di dunia ini )....”
Anthony menimpali ucapan Putra dengan kalimatnya yang membuat Putra terenyuh.
Putra pun tersenyum teduh.
“I will taking care of you with my life.”
( Aku akan menjagamu dengan nyawaku )
“Thank you, Papa.... and thanks to you too, Mama Gadis....”
Gadis pun mengangguk seraya ia tersenyum hangat pada Anthony.
“Let’s erase these tears, and show a smile ( Sekarang hapus airmata ini, dan tersenyumlah ), hem?”
Putra berkata, sambil ia menghapusi dengan lembut pipi Anthony yang sedikit basah. Karena Anthony sempat meneteskan sebulir airmatanya.
Lalu Anthony langsung mengangguk seraya tersenyum setelah mendengar perkataan Putra. “Yes, Papa,” kata Anthony kemudian, sambil juga ia ikut mengusap pipinya sendiri.
Putra pun tersenyum, begitu pula Gadis.
“Want me to carry on you? ( Kamu ingin aku gendong? )”
Anthony langsung menggeleng setelah mendengar pertanyaan Putra tersebut.
“No, Papa. I want Mommy and Daddy see me walk as a gentleman ( Aku ingin Mommy dan Daddy melihatku berjalan sebagai seorang pria sejati )”
🔵
“Don’t forget the flowers ( Jangan lupa bunganya )” ucap Gadis pada Anthony yang sedang melepaskan seatbelt yang terpasang di tubuhnya.
“I won’t, Mama –“
“Can you open it? ( Apa kamu bisa membukanya? )”
“Yes I can ( Iya aku bisa ), Mama....” jawab Anthony pada Gadis yang berpikir kalau Anthony menemui kesulitan melepaskan seatbeltnya.
Gadis kemudian tersenyum dan mengangguk samar, dimana Anthony tak lama juga sukses melepaskan seatbelt yang mengikat dirinya di dalam mobil.
Sementara Putra sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil. Lalu berbicara dengan orang yang datang bersama satu orang lain yang membukakan pintu mobil di sebelah Putra.
“Shall we? ( Ayo? )” ucap Putra pada Anthony setelah ia selesai bicara sebentar dengan orang yang menghampirinya dan masih juga berada di dekat Putra saat Putra mengulurkan tangannya pada Anthony yang masih duduk di dalam mobil dan baru saja meraih buket bunga yang ada di atas dashboard mobil depan kursi yang Anthony duduki.
__ADS_1
“Hi Anthony, I hope you still remember me ( Aku harap kamu masih mengingatku )....” seorang pria yang sebelumnya menghampiri Putra itu lalu menyapa Anthony. Disaat bocah tampan itu telah keluar dari mobil. Lalu Anthony menatap pada pria itu sebelum ia menjawab ucapan yang bersangkutan.
“Yes I remember now, you are my daddy’s and also all of my uncles friend ( Iya sekarang aku ingat, kamu adalah temannya daddy dan para uncleku ) –“
🔵
“Dante, questa eh Gadis ( Dante, ini Gadis )” Putra yang sudah menghampiri Gadis saat orang yang bernama Dante itu sedang menyapa Anthony, kini telah membawa Gadis kehadapan pria itu dengan menggandengnya. “Mia moglie ( Istriku ) –“
“Ciao, piacere di conoscerti ( Halo, senang bertemu denganmu ) –“
“Non capisce l'italiano ( Dia tidak mengerti bahasa Italia ), Dante.”
Putra kemudian menukas ucapan salah seorang teman dekatnya dan semua saudaranya itu, baik yang masih ada maupun yang sudah tiada.
Pria bernama Dante itu pun mengangguk seraya tersenyum.
“English?” kata Dante seraya bertanya kemudian. “Because I only know that two language ( Karena aku hanya tahu dua bahasa itu )”
“Yes, Mister Dante –“
“Just Dante, please.”
“Oh, okay –“
“I consider Putra as my brother. So it makes you become my sister in law ( Aku sudah menganggap Putra saudaraku. Jadi itu berarti kamu adalah kakak iparku )”
Dante kemudian langsung bicara lagi. Dan Gadis pun tersenyum seraya mengangguk mengiyakan.
Lalu tak lama kemudian, Putra, Gadis, Anthony serta Dante bergerak dari tempat mereka untuk menyusul Damian dan lainnya yang sudah melangkah untuk masuk ke kediaman lama Anthony dan orang tuanya.
Nampak Damian, Garret, Bruna serta Ramone dan Addison yang juga sudah menyusul dari Inggris --- berdiri bersama di satu titik.
Menunggu Putra, Anthony dan Gadis berikut Dante --- mendekat kepada mereka.
“Want directly to the grave? ( Ingin langsung ke kuburan? )” Addison kemudian langsung mencetuskan pertanyaan pada Putra yang sudah mendekat ke tempatnya berdiri itu.
“Better through inside. So you all can see, that I taking care this place so very well ( Sebaiknya lewat dalam. Jadi kalian semua dapat melihat, kalau aku merawat tempat ini dengan sangat baik )”
Dante yang kemudian menimpali selepas Addison mencetuskan pertanyaan.
“And I will give you the bill to pay for my hardwork for taking care this house, also avoiding that @s$hole name Jaeden and his people to get inside ( Dan aku akan memberikan tagihan untuk kalian bayar untuk merawat rumah ini, juga menghadang bajingan bernama Jaeden dan orang – orangnya untuk masuk )”
Lalu Putra bersama rombongannya terkekeh kecil selepas mendengar ocehan Dante barusan.
🔵
Srek!
“ANTHONY!!!”
“ANTH!!!”
Pekikan panik terdengar serempak dari beberapa orang dewasa yang berada disekitar Anthony.
Kala setelah satu buket bunga cantik favorit almarhumah ibu kandung Anthony terlepas dari pegangan bocah itu.
Bersamaan dengan Anthony yang kemudian lemas dan hampir jatuh ke lantai di bawah kakinya, andai saja Gadis tidak memeganginya, dan Putra tidak segera melesat untuk menyambar tubuh Anthony yang lunglai.
🔵🔵🔵🔵🔵🔵🔵🔵
To be continue......
__ADS_1