
Happy reading....
***************
Salisbury, Inggris ..
“You call Hiz ( Kau pergi hubungi Hiz ), Dam.” titah Putra pada Damian yang memang mengenal pria yang Putra sebut namanya tersebut.
“Tell him to come here? ( Memintanya untuk datang kesini? )..” tanya Damian pada Putra untuk memastikan.
“No..”
Putra menjawab cepat.
“Tell him that we will meet him at his home ( Katakan padanya kita akan menemui dirinya di rumahnya )” sambung Putra.
“Okay.”
Damian pun mengiyakan seraya mengangguk.
“While we will ‘visit’ some of Kingsley Smith loyal family that still breathing until now ( Sekalian kita ‘mengunjungi’ beberapa anggota keluarga setia Kingsley Smith yang masih bernafas saat ini ).....”
Putra bangkit dari duduknya.
“I feel excited to ‘hunt’, by the way.....”
“( Aku sepertinya, sedang bersemangat untuk ‘berburu’ ).....”
Putra menyungging miring kemudian.
“You guys want to come? ( Kalian mau ikut? )”
Putra berucap sembari melirik pada Damian dan Garret.
“How can we refused ( Bagaimana kami dapat menolak? )”
Garret menyahut.
“Yeah, how can we to do a fun thing? ( Iya, bagaimana kami dapat menolak untuk melakukan hal yang seru? )”
Damian pun menimpali sahutan Garret pada Putra.
Lalu Damian dan Garret sama-sama terkekeh kecil. Dan keduanya yang tadi juga duduk seperti Putra di dalam gudang anggur yang ada di dalam Mansion pribadi Putra dan almarhum kedua orang tuanya yang berada di Salisbury ini, kemudian bangkit juga dari duduk mereka seperti halnya Putra.
Devoss juga ikut bangkit dari duduknya.
**
“Let’s choose another ‘toys’ then ( Mari pilih ‘mainan’ yang baru kalau begitu ) ..”ucap Damian.
Sambil Damian mengekori Putra yang sudah lagi berjalan mendekati peti-peti pemberian Accursio yang berisikan beragam senjata yang terbilang cukup banyak jumlahnya.
Dan tanpa butuh waktu lama, Putra, Damian dan Garret telah memilih ‘mainan’ yang mereka sukai. Karena ‘mainan’ sebelumnya yang Putra dan dua saudaranya gunakan semalam, tidak ingin mereka gunakan lagi.
***
“Do you want to go with us again ( Apa kau juga ingin pergi bersama kami lagi), Dev?....” tanya Putra pada Devoss, dengan melirik sebentar pada pria itu saat Putra sedang memperhatikan sebuah pisau belati yang berada di tangannya.
“Well, since I don’t like boredom. So yes, I’m coming again ( Yah, karena aku tidak menyukai kebosanan. Jadi iya, aku akan ikut lagi )”
Jawaban Devoss membuat Putra tersenyum tipis, sementara Damian dan Garret mendengus geli. “I like your spirit ( Aku suka semangatmu )” ucap Putra kemudian, sambil ia menyungging miring dan Devoss menampakkan seutas senyuman.
“Are you going to take that knife? ( Apa kau akan membawa pisau itu? )” tanya Devoss pada Putra yang masih memperhatikan pisau di tangannya itu dengan teliti. Putra tidak langsung menjawab pertanyaan Devoss.
Putra hanya menoleh sekilas dan tersenyum tipis pada Devoss. “You want it? ( Kau menginginkan ini? )” ucap Putra kemudian sembari mengarahkan pisau belati di tangannya itu pada Devoss.
“No.”
Devoss menjawab seraya menggeleng.
“There’s a proverb said, ‘You don’t bring knives in the gunfight’ ( Ada pepatah yang mengatakan, ‘Kau jangan membawa pisau dalam pertarungan senjata’ )”
Lalu Devoss berkomentar.
Setelahnya, seutas senyum terbit di wajah Putra.
“But there’s a time, when your gun is unable to work in the middle of the fight ( Tapi ada kalanya, saat senjata apimu tidak bisa bekerja di tengah pertarungan ) –“
Putra membalas ucapan Devoss yang menyertakan sebuah pepatah tadi, sembari melempar pisau yang ia pegang dan perhatikan.
“And when that happened, knife, is needed ( Dan saat hal itu terjadi, pisau, dibutuhkan )”
Putra menambahkan.
“Then you feel another atmosphere of fighting.”
__ADS_1
“( Maka kau akan merasakan atmosfir lain dalam bertarung )”
Putra masih berbicara.
Setelahnya Putra menaikkan satu kakinya ke atas peti senjata yang berada di bawah dekat kakinya.
“Especially if you fight.. or slayed ( Terutama jika kau bertarung.. atau membantai ) ..”
Putra menarik sedikit celananya, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam benda yang terikat pada salah satu kakinya itu.
“With this ( Dengan ini ) ..”
Dimana Putra menunjukkan sebuah pisau belati dengan gerigi-gerigi tajam yang terbaris rapih disisi bawah belati yang Putra keluarkan dari dalam sebuah benda menyerupai sarung, yang terikat di kakinya.
“Handmade custom, made by Damascus steel. Inspirated by Mainz Gladious ( Buatan tangan khusus, dibuat dari baja Damaskus. Terinspirasi dari Mainz Gladious ) ....”
Putra menerangkan tentang pisau miliknya itu. Sebuah pisau yang terinspirasi dari belati Romawi.
“And this, can cut arteries very easily. Smooth. You won’t feel it when it cut your arteries, until you feel your blood is getting out from your neck, before you die ( Dan ini, dapat memotong pembuluh nadi dengan sangat mudah. Halus. Kau tidak akan menyadari dan merasakan saat ini memotong nadimu, sampai kau merasakan darah merembes dari lehermu sebelum kau mati )”
“Wow.” Devoss berdecak kagum.
“And I’m more enjoy that moment. Moment when I watch my enemies die slowly, and watch how they greeting the angel of death in so much pain ( Dan aku lebih menikmati momen tersebut. Saat dimana aku melihat musuh-musuhku mati dengan perlahan, dan melihat mereka sangat menderita sebelum menyambut malaikat maut )”
Putra berbicara lagi dengan senyuman di wajahnya. Senyuman yang lebih mirip sebuah seringai, dengan nada suara yang datar terdengar dingin, dan tatapan yang nanar.
Tahu, bahwa Putra sedang tidak berusaha menakut-nakuti nya.
Namun Devoss merasakan hawa dingin di tengkuknya dengan sikap dan roman wajah Putra sekarang ini.
Walaupun cara bicara Putra yang terdengar dari nada suaranya biasa saja.
‘What a man ( Pria yang menakjubkan dan mengerikan disaat yang bersamaan )’
Devoss membatin.
*
“Thom, you stay here ( kau tetap disini )”
Putra yang akan bersiap untuk pergi itu menurunkan perintah pada Thomas.
“Make another contact with your Boss, and tell him to inform anything through you ( Hubungi Bosmu lagi, dan katakan padanya untuk menginformasikan segala hal melalui dirimu )”
“Dev ..” panggil Putra pada Devoss yang sudah juga ada di dekatnya, dan Devoss dengan segera menyahut. Devoss pun melangkah maju sekali guna lebih mendekat pada Putra.
“Yes Boss?”
“Do you bring some droppers here? ( Apa kau membawa beberapa penyadap kesini? ) ..”
Lalu Putra bertanya pada Devoss.
Devoss mengangguk.
“Yes I bring some ( Iya aku membawa beberapa )”
“Bring here and put on in the car that I used, so Thomas will know where to get me, if there’s any important thing that he wants to tell me after he got some of new information.”
“(Bawa itu kesini dan pasangkan pada mobil yang aku gunakan, jadi Thomas tahu dimana mencariku, jika ada hal penting yang hendak ia sampaikan padaku setelah dia memiliki beberapa informasi baru ) --”
Putra memberikan tugas pada Devoss.
Namun sebelum Devoss yang mengangguk mengiyakan tugas yang diberikan Putra padanya barusan, Thomas menginterupsi.
“I beg your pardon Sir ( Sebelumnya aku mohon maaf Tuan )” ucap Thomas. “I already put droppers in every cars here, Sir ( Aku telah memasang penyadap di semua mobil yang berada disini, Tuan )”
Thomas melanjutkan ucapannya, sebelum Devoss mengayunkan langkah untuk mengambil benda yang Putra minta.
“So Accursio has those too? ( Jadi Accursio memilikinya juga? )” ucap Putra seraya bertanya pada Thomas.
“Yes Sir.”
Thomas menjawab dengan sigap.
“Alright then.” Putra pun manggut-manggut. “Let’s move ( Ayo pergi )”
Ajakan Putra tertuju pada Garret, Damian dan Devoss.
Berikut dengan beberapa anak buah yang akan menyertai ke empat orang tersebut.
Kesemua orang yang akan pergi bersama Putra itupun dengan segera mengangguk serempak.
*
“Why we have to come to NC again? ( Mengapa kita harus pergi ke NC lagi? )....”
__ADS_1
Damian yang kini berada di dalam satu mobil bersama Putra itu sontak bertanya saat Putra mengatakan pada mereka semua sebelum memasuki mobil, bahwa dia hendak diantar ke kota dimana target mereka semalam berada.
“Just seeing situation ( Hanya melihat situasi )” jawab Putra.
Damian pun manggut-manggut.
“Maybe we find something interesting ( Mungkin saja kita menemukan sesuatu yang menarik )”
Putra kembali berucap disaat Damian manggut-manggut.
“Hope so ( Semoga saja begitu )”
Damian menyahut.
Lalu Damian menyandarkan dirinya di kursi mobil penumpang belakang yang sedang ia duduki itu.
*
Newcastle, Inggris ..
“Hey Dam ..” panggil Putra pada Damian, saat mobil yang ia tumpangi bersama Damian dan seorang supir berada di depan sebuah galeri seni yang berada di kota yang bernama Newcastle, kala mobil yang di tumpangi nya bersama Damian seorang supir itu telah memasuki kota tersebut.
“Hem?” tanggap Damian sambil menoleh pada Putra.
“If I’m not mistaken, that is your late father’s beloved car, right? ( Jika aku tidak salah, itu mobil kesayangan milik ayahmu, bukan?)” ucap Putra seraya bertanya.
Dimana Damian dengan segera menegakkan duduknya, sambil menatap searah lurus matanya menembus kaca mobil depan yang sedang ditumpanginya bersama Putra itu.
“Oh how can I unable to recognize it? ( bagaimana bisa aku tidak mengenalinya? ) ..” ucap Damian dengan nada suara yang datar, namun rahangnya nampak mengetat.
“Follow that car ( Ikuti mobil itu )”
Putra memerintahkan sang supir untuk mengikuti mobil yang ditunjuk Putra, yang memang tepat berada di depan mobil mereka.
Sementara itu Damian nampak diam dengan mulutnya yang terkatup rapat, namun matanya tajam memperhatikan mobil yang sedang mereka ikuti itu.
*
Mobil yang ditumpangi Putra bersama Damian berikut seorang supir yang bukan supir biasa, karena supir tersebut adalah salah satu anak buah Putra yang diberikan oleh Accursio untuk menyertainya itu-berada tepat dibelakang mobil yang dikenali Putra dan Damian sebagai mobil kesayangan almarhum Damian.
Yang mana, menurut dari apa yang Damian dan Putra ketahui, bahwa almarhum ayah Damian itu tewas karena Jaeden. Yang tidak Damian dan Putra ketahui dengan pasti, apakah ayah Damian tewas di tangan Jaeden langsung sebagaimana Rery, atau Jaeden menyuruh salah satu anak buahnya untuk menghabisi ayah Damian karena menolak bekerjasama dengan Jaeden.
Namun apapun dan bagaimanapun atau siapapun yang telah menghabisi ayah Damian itu, yang jelas saat ini baik Damian dan Putra penasaran dengan orang yang menggunakan mobil kesayangan almarhum ayah Damian itu, padahal si empunya sudah tiada.
“I wonder who’s inside that car ( Aku penasaran siapa yang berada didalamnya )”
Putra berucap.
“Whoever he is, I will make a computation with that person.”
“( Siapapun itu, aku akan membuat perhitungan dengan orang tersebut )”
Damian bersuara setelah Putra berucap.
Datar, sama seperti tadi saat Damian mengenali jika mobil yang sedang diikuti mobil yang ditumpangi olehnya itu adalah mobil kesayangan almarhum ayahnya yang notabene seharusnya berada di dalam tempat tinggal sang ayah, sampai ada ahli waris yang mengurusnya.
Yang mana, tentu saja Damian sebagai anak satu-satunya dari sang ayah. Namun bukan perihal warisan yang membuat Damian nampak geram sekarang - meski raut wajah dan nada suaranya saat berbicara saat memperhatikan mobil yang sedang diikuti oleh mobil yang ia tumpangi itu datar saja.
Yang membuat Damian geram adalah kelancangan orang yang menggunakan mobil tersebut, dimana bahkan Damian tidak tahu bagaimana sang ayah yang telah ia dengar beritanya telah tewas terbunuh itu dimakamkan.
Karena pada saat sang ayah tewas terbunuh, Damian sudah meninggalkan Inggris sesuai perintah sang ayah untuk segera pergi menemui almarhum Rery yang berada di Ravenna, Italia. Untuk memberikan apa yang dititipkan oleh almarhum ayahnya itu untuk Rery.
Dan karena mengingat hal tersebut, dimana seharusnya , segala aset yang ayah haruslah dibekukan sampai ada ahli waris yang mengurusnya, termasuk mobil kesayangan sang ayah yang sedang melaju di depan mobil yang Damian tumpangi itu. Itu membuat Damian penasaran sekaligus gemas dan geram disaat yang bersamaan.
“If the person inside the car could use your father’s car, there are two explanation that might be right .. first, someone has playing dirty by making your father wealthy become his. Second, your father’s death was hiding here.”
“( Jika seseorang di dalam mobil itu dapat menggunakan mobil ayahmu, ada dua penjelasan yang kemungkinan benar .. Pertama, seseorang telah bermain kotor dengan menjadikan kekayaan ayahmu miliknya. Kedua, kematian ayahmu disembunyikan disini )”
Putra berkomentar sesuai dengan spekulasi yang ada di dalam otaknya.
“Then I have no hesitation to vanish that person from this world ( Maka aku tidak akan ragu untuk melenyapkan orang itu dari dunia ini )”
Damian dengan cepat menimpali ucapan Putra barusan, dengan tatapannya yang tajam ke arah mobil yang sedang diikuti olehnya dan Putra saat ini.
“I feel that we really find something interesting here ( Aku merasa jika kita benar-benar menemukan sesuatu yang menarik disini )”
Putra menyungging miring, karena mobil yang sedang mereka ikuti itu ternyata mengarah ke daerah dimana sebuah tempat yang menjadi target mereka semalam berada.
“I’ll go to see ( Aku akan pergi untuk melihat ) ..” Damian berucap dengan telah mengeluarkan senjatanya, saat mobil yang sedang mereka ikuti itu mulai melambat, seperti akan menepi.
Dimana Damian terlihat sudah nampak tak sabar untuk meletuskan satu peluru dari senjata miliknya.
*
To be continue ..
__ADS_1