
Happy reading ......
*****************
“We’re in when our guys make an diversion in front door (Kita masuk saat orang-orang kita membuat pengalihan di pintu depan)”
“Would it be success? (Apakah itu akan berhasil?)...” tanya Garret dengan santai.
Putra mengangguk yakin.
“No matter how the diversion will success or not, that father and son would directly send to morgue by tonight (Sukses atau tidak pengalihannya, ayah dan anak itu akan tetap langsung dikirim ke kamar mayat malam ini juga)”
Dan dengan yakin juga Putra berucap.
“Totally do not waste your time, huh? (Benar-benar tidak ingin membuang waktumu, ya?)”
Bale pun menimpali.
Putra manggut-manggut.
“Because I want to return to Indo as soon as possible and meet my boy and wife, you know? (Karena aku ingin segera kembali ke Indo dan menemui anak lelaki dan istriku, tahu?)”
Lalu Putra sedikit mencebik.
“And supposed to be I’m holding my wife now! (Dan seharusnya aku sedang memeluk istriku saat ini!)” sungut Putra. “Poor me, (Kasihan sekali diriku ini),” sambung Putra. “I’m newly wed, not even get a honey moon, and have just few days enjoy my time as bridegroom (Aku ini pengantin baru, bahkan belum berbulan madu, lalu hanya beberapa hari saja menikmati waktuku sebagai pengantin)...”
Putra bercerocos.
“And now I have to spend time with two weathered bachelor along this cold weather! (Dan sekarang aku harus bersama dua bujang lapuk di cuaca yang dingin!)”
Dan Bale bersama Garret terkekeh geli mendengar Putra yang sedang bercerocos ria sembari mengeluarkan unek-uneknya karena merindukan Anthony, dan Gadis tentunya.
“If I’m not finished all this mess up fastly, then my ‘little brother’ will be freezing to rust (Dan jika aku tidak menyelesaikan semua kekacauan ini dengan cepat, maka ‘adik kecilku’ akan membeku sampai karatan)”
Bale dan Garret pun tergelak geli.
***
Tak butuh waktu lama bagi Putra, Bale dan Garret untuk berada berjarak dari Rumah Sakit yang hendak ketiganya sambangi saat ini.
Beberapa orang dari anak buah Ramone yang secara otomatis adalah juga anak buah dari ketiga orang tersebut melakukan pengalihan di depan gerbang Rumah Sakit.
Hingga membuat semua perhatian semua orang yang berada di area Rumah Sakit tertuju pada satu titik tersebut, dimana mata orang-orang berikut fokus mereka tertuju pada sesuatu yang dilemparkan dari dalam mobil yang kemudian melesat dengan cepat dari depan gerbang Rumah Sakit.
Termasuk beberapa orang yang berpenampilan seperti tukang pukul yang berdiri di depan gerbang seperti sedang mengamati situasi.
Dan hal itu tentunya dipergunakan oleh Putra, Bale dan Garret untuk segera turun dari mobil, lalu menyusup masuk ke area dalam Rumah Sakit.
“Let me distract them (Biar aku yang mengalihkan mereka)” Cetus Garret saat mereka berada di dalam satu lorong Rumah Sakit yang sepertinya sengaja dilowongkan dan ada dua orang berbadan tegap berdiri di depan sebuah kamar.
Putra dan Bale langsung mengangguk, menyetujui ide Garret tersebut.
“S*it!!!” Putra sontak mengumpat, saat sebelum Garret melangkahkan kakinya ke tempat yang dimaksud, dua orang yang berperawakan seperti pengawal pribadi itu datang dari arah lorong masuk dan menuju ke lorong lowong tersebut.
“I think that they want to give information about what they have found outside (Aku rasa mereka mau memberikan informasi tentang apa yang mereka temukan diluar)” ucap Bale, saat dia dan Putra berikut Garret langsung
menyembunyikan diri mereka, saat dua orang pria yang tergesa tadi datang ke arah mereka.
“Means that Henrick is inside Jacco’s room (Itu artinya Henrick sedang berada di kamar Jacco)” Tukas Putra.
“Think so (Sepertinya begitu)” Bale dan Garret menyahut.
“Even better (Bahkan lebih baik)”
Putra menggumam. Dan tak lama, seorang yang dikenali wajahnya oleh Putra, Bale dan Garret, nampak berjalan keluar dari lorong lowong tersebut dengan tergesa.
**
Putra, Bale dan Garret langsung bergerak cepat dari tempat mereka untuk kembali menyusuri lorong Rumah Sakit yang terkesan lowong itu untuk menuju suatu kamar.
“Use knife (Gunakan pisau)” Ucap Putra pada Bale dan Garret yang sudah bersiap untuk menghadapi dua orang penjaga pribadi yang berdiri tegap di masing-masing sisi pintu kamar.
“......”
JLEB!
Tanpa membuang waktu Bale dan Garret dengan cepat merobohkan dua penjaga pribadi tersebut, dengan tusukan pisau dibagian yang dapat membuat korban tusukan dapat langsung kehilangan banyak darah dan kemungkinan besar tidak akan dapat selamat jika tidak segera diberi pertolongan.
“A—HMPH!“
Dua orang penjaga pribadi yang hendak memekik karena tusukan secara tiba-tiba di bagian perut keduanya, langsung dibekap ketat oleh Bale dan Garret.
***
(Anggap aja percakapan menggunakan bahasa Belanda yah)
😊😊😊😊
“Bagaimana kabarmu Jacco?”
Putra menyapa dingin pada pria yang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit dengan beberapa bagian tubuh yang terbalut perban, serta katup oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya.
Yang nampak sangat terkejut melihat kehadiran Putra, dan dua orang yang bersamanya.
__ADS_1
Terlihat betapa bola mata pria muda sebaya dengan Putra itu, yang kini sedang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit membulat sempurna menatap pada Putra.
Terlebih dua orang yang pria itu kira adalah penjaga pribadinya, kini diseret masuk dengan paksa serta bersimbah darah, bahkan mungkin sudah tak bernyawa.
Putra menyeringai, termasuk juga Bale dan Garret.
“Sepertinya tidak begitu baik, ya?...” Putra menjawab sendiri pertanyaannya.
Putra menatap tajam pada pria a yang adalah Jacco itu dengan tersenyum miring.
Lalu Putra sedikit merundukkan tubuhnya. “Kau beruntung apa kau tahu itu?...” Ucap Putra.
Sementara Jacco terlihat mengucapkan kata-kata dari balik katup oksigen yang menutupi mulutnya.
“Ak-aku ...” Suara Jacco terdengar seperti gumaman.
Putra lebih merundukkan lagi tubuhnya sambil tetap menatap tajam pada Jacco. “Simpan saja tenagamu itu...”
“To-tolong... am—“
“Untung saja kau masih memiliki jasa pada ayahku,” sambar Putra, kala Jacco berbicara lagi. “Karena jika tidak, kematianmu akan aku buat menyakitkan.”
Dan dengan cepatnya tangan Putra mengambil bantal di bawah kepala Jacco, lalu membuka selang oksigen yang menutupi mulut dan hidung Jacco.
“HHMPHHH...” Dan dengan cepatnya juga, bantal itu kini telah berpindah ke wajah Jacco.
“Terima kasih dari ayahku untuk jasa-jasamu selama ini. Sayang sekali kau terlalu tamak, sama seperti ayahmu.”
“HHMPHHH...”
“Tidurlah yang nyenyak.”
Putra menyeringai iblis, kala tubuh yang wajahnya dibekap bantal dengan sangat ketat oleh Putra itu kini tak lagi menunjukkan pergerakan, dan mesin yang menunjukkan garis-garis grafik kini sudah berganti menjadi garis lurus.
“Someone is coming (Ada yang datang)...”
Bale berucap pelan di dekat pintu kamar, saat ia mendengar beberapa langkah kaki mulai mendekat.
“Let them in (Biarkan mereka masuk).”
Putra menyahut datar.
*****
“Jacco!”
Suara pekikan seorang pria paruh baya langsung terdengar, saat pria itu memasuki kamar dimana Putra, Bale dan Garret berada.
Hanya sejenak saja ia terpaku, melihat pria muda yang sudah tidak bernyawa, dengan sebuah bantal menutupi wajahnya, dan tangan pria muda itu sudah terkulai, dimana salah satunya terlihat terulur lemas melewati batas
Hanya sejenak saja, pria muda paruh baya itu, terpaku pada pria muda yang sudah tergolek tak bernyawa di atas ranjang Rumah Sakit. Karena kemudian, tatapannya selain nyalang, namun diselimuti juga keterkejutan bercampur was-was dan takut.
“HHMPHHH...”
Pria paruh baya yang merupakan Henrick, ayah dari Jacco yang sudah dihabisi Putra beberapa detik sebelum Henrick memasuki kamar rawat anak lelakinya itu, nampak kembali terkejut, karena dua orang yang merupakan pengawal pribadi yang ikut masuk ke dalam kamar rawat ayahnya itu karena tidak melihat dua penjaga yang
seharusnya ada di depan kamar, kini juga sudah dihabisi dengan cepat oleh Bale dan Garret.
“Ka-kau...”
Henrick tergagap sambil menatap pada Putra.
“Ingin pergi?”
Bale berucap, saat Henrick nampak perlahan memundurkan kakinya.
Bale sedang bersandar di pintu yang telah ia tutup dengan cepat, sembari tersenyum miring pada Henrick dengan sebuah pisau yang berlumur darah di tangannya.
Henrick hendak berteriak, namun sebelum itu terjadi, tangan Garret sudah membekap mulut Henrick dan men-cengkeramnya kuat, sembari menempelkan ujung pisau yang Garret pegang ke leher Henrick.
Dan Henrick langsung mengangkat tangannya, lalu Bale menggeledah tubuh Henrick, dan mengeluarkan senjata api yang tersimpan di balik mantel panjang pria paruh baya itu, kemudian merebut dan mengamankannya.
“Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan sebentar ....”
Putra berucap, sembari ia mematikan mesin yang terhubung dengan tubuh Jacco yang sudah tidak bernyawa itu.
“Bekerjasamalah, saat kami membawamu keluar dari pintu itu....” Ucap Putra. “Jika kau tidak ingin membuat saudaraku itu mengiris nadimu dengan perlahan, hingga kau bisa merasakan dulu darahmu keluar dari sana sebelum kau mati dengan merasakan sakit yang tak terkira”
“Bersikaplah seperti biasa, jika kau tidak ingin cucu dan menantumu yang sedang kau amankan di rumah kalian, mati mengenaskan.” Timpal Bale. “Hanya satu kode dari kami, kau akan melihat keduanya terbakar tanpa sisa.” Sambung Bale.
Henrick yang masih dalam bekapan Garret itu langsung mengangguk takut.
“Bagus.”
“Katakan pada perawat yang ada disana ....”
Putra berucap pada Henrick saat ia telah berada di depan kamar, sembari menunjuk pada suatu sudut dimana ada dua perawat dibalik sebuah meja yang ada di sudut lorong Rumah Sakit sekitar kamar rawat Jacco. Sementara Henrick yang masih dalam cengkraman Garret itu, berdiri di ambang pintu kamar.
“Untuk tidak mengganggu anakmu selama beberapa waktu kedepan,” sambung Putra.
Henrick sekali lagi mengangguk patuh.
“Ingat untuk tidak bertindak bodoh, setelah kau begitu bodoh mengkhianati kepercayaan ayahku bersama dengan anak lelakimu itu, berikut orang-orang yang bersama kalian, serta kebodohan dengan meninggalkan cucu dan menantumu di rumah. Semua penjaga yang kau tempatkan di rumah kalian, aku rasa sudah tak ada lagi yang bernyawa.”
__ADS_1
Putra sekali lagi memberi peringatan pada Henrick.
“Jadi cucu dan menantumu itu sudah dalam genggaman kami.”
Putra menegaskan.
“Dan jika kau ingin mereka hidup dengan nyaman, maka ikuti perkataanku.”
Putra menyeringai.
“Tapi jika kau bertindak bodoh, aku dengan cepat dapat menangkapmu kembali, dan akan kubuat kau melihat cucu dan menantu kesayanganmu mati dengan cara yang menyakitkan didepan matamu, sebelum aku menghabisimu dengan cara yang mengerikan. Jadi silahkan saja jika ingin mencobaku.”
Suara Putra datar, dengan nada yang rendah, namun tajam dan penuh penekanan pada Henrick. Dimana didetik berikutnya, Henrick mengangguk pasrah.
Putra kemudian mengkode Garret dengan anggukan kepalanya. Lalu Garret melepaskan cengkramannya pada Henrick.
**
Sesuai perintah Putra padanya, Henrick patuh dan melakukan apa yang Putra perintahkan padanya. Henrick mengatakan pada perawat yang ada di balik meja perawat di sudut lorong berjarak dari kamar rawat Jacco agar tidak masuk ke kamar rawat anaknya itu, dan beralasan jika sang anak sedang beristirahat dan jangan diganggu.
Dimana Putra, Bale dan Garret berjalan mendahului Henrick dengan tidak menoleh ke arah meja perawat tersebut.
Namun begitu, rasanya tidak ada celah bagi Henrick untuk kabur dari ketiga orang tersebut.
Dimatanya kini, seorang Putra nampak lebih menyeramkan daripada Ramone. Setamak-tamak dan seburuk-buruknya dia, Henrick menyayangi cucu dan menantu satu-satunya itu.
Dan rasanya, meskipun pada akhirnya hidupnya harus berakhir malam ini di tangan Putra, yang penting cucu dan menantunya itu selamat, meski anak lelakinya sudah mati.
Meskipun juga Henrick berharap akan ada pengampunan dari Putra yang telah mengetahui kecurangan yang ia
lakukan bersama Jacco. Bahkan sampai berniat untuk menghabisi Ramone.
Henrick masih bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana seorang Putra dapat menemukan fakta-fakta tersebut, meski tak menunjukkan bukti-bukti kecurangannya pada Ramone.
Namun Henrick teringat ucapan Putra saat di aula Kediaman pribadi Ramone.
‘Masaku, Peraturanku.’
Jadi rasanya tak ada bukti pun, semua kini ada di tangan seorang Putra, yang telah ditunjuk Ramone untuk menggantikan pria itu memimpin kerajaan dunia bawahnya di Belanda.
Dan nasib Henrick, kini tergantung keputusan Putra ke depannya.
Henrick pun hanya bisa pasrah. Rasanya ia sudah tidak ada harapan untuk melawan Putra. Toh sekutu terbesarnya juga sudah dihabisi Putra dan jasadnya dibuang begitu saja didepan Rumah Sakit, padahal sekutunya yang bernama Gijs Jürgen itu cukup terbilang berkuasa di Belanda.
Dan Putra dapat menghabisi pria itu dengan mudah, padahal Gijs Jürgen punya pengawal pribadi yang tak sedikit
jumlahnya.
Jadi Henrick rasanya tidak mungkin melawan Putra, dan tinggal menunggu waktunya saja. Namun Henrick tetap berharap akan ada pengampunan dari Putra untuknya.
**
“Masuk!” Perintah Putra pada Henrick saat ia, Bale dan Garret berikut Henrick, telah sampai di mobil yang tadi ketiganya tumpangi, dengan Bale yang mengemudikan mobil tersebut untuk mencapai Rumah Sakit Kota.
“Anj*ng-anj*ngmu ini setia juga rupanya.” Ucap Bale pada Henrick\, karena beberapa orang pengawal pribadi Henrick tetap mengikuti Tuannya\, meski Tuannya itu sudah meminta mereka untuk mundur.
“Biarkan saja para anj*ng itu mengikuti tuannya ini.” Timpal Putra pada Bale. “Habisi mereka sebelum sampai di Pelabuhan nanti.”
Bale pun mengangguk.
Lalu Putra, Bale dan Garret segera memasuki mobil sebelum ada keributan yang mungkin muncul jika ada yang masuk ke kamar Jacco.
Kini formasi duduk berpindah.
Putra tetap duduk di kursi penumpang depan.
Sementara Bale dan Garret duduk di kursi penumpang belakang, mengapit Henrick dengan menodongkan senjata, berikut pisau pada pria itu.
Dan kemudi kini diambil alih oleh salah seorang anak buah Putra, Bale dan Garret yang telah tersebar di sekitar Rumah Sakit Kota.
Yang dikerahkan, sebagai jaga-jaga, andainya ada perlawanan dari pihak Jacco dan Henrick yang mungkin sudah menyiapkan pasukan.
Meski kenyataannya pengawal yang dikerahkan Jacco dan Henrick untuk mengawal mereka, walaupun cukup banyak, tetapi tidaklah lebih banyak dari pengawal yang dimiliki dan telah dikerahkan oleh Putra.
“Ak-aku....”
“Aku tidak memintamu bicara.”
Putra segera menyambar, saat Henrick bersuara.
“Jangan sentuh cucu dan menantuku ....”
Namun Henrick tetap membuka mulutnya untuk berbicara.
“Apa kau sedang memohon?” Ucap Putra sinis.
“Kau seharusnya tidak menyentuh mereka karena aku sudah ikut denganmu....”
“Tergantung bagaimana nanti mood ku.” Sahut Putra.
“Ta-tapi ....”
“Diamlah, dan pikirkan nasibmu sendiri ....”
__ADS_1
**
To be continue ..