
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia,
“Mohon maaf mengganggu, Nyonya Gadis, Nyonya Bruna...“ Pak Abdul, pelayan setia Putra dan keluarga yang kini hidup bersama pria itu---menghampiri Gadis dan Bruna yang tengah menyantap hidangan makan malam di ruang makan villa.
“Ada apa, Pak Ab – dul? ...” Bruna yang langsung merespons.
“Ada seorang perempuan muda di depan yang memaksa masuk, Nyonya –“
“Itu Madya pasti, Dis!“ ibu tiri Gadis yang ikut serta makan malam bersama Gadis dan Bruna langsung saja menyambar ucapan Pak Abdul yang sebenarnya bicara pada dua majikannya.
Dimana ibu tiri Gadis itu juga sudah berdiri dengan bersemangat dari duduknya. Sementara Gadis menghela nafasnya, merasa tidak enak pada Bruna.
“So sorry, Bru.”
Gadis lalu menyampaikan ketidakenakannya itu pada Bruna.
“Never mind, Gadis.”
**
Gadis permisi pada Bruna untuk beranjak dari tempatnya barang sejenak, untuk menyusul ibu tirinya yang tadi meloyor tanpa etika begitu saja dari ruang makan di hadapannya dan Bruna.
“Eh Gadis, bener ini kamu. Ya ampuun! Aku pikir si Sari cuma ngada – ngada bilang kamu dateng lagi ke desa terus bawa ibu ... ternyata beneran! ...”
“Halo, Madya, apa kabar? –“
“Baik dong, Dis!” jawab wanita yang disapa Gadis itu dengan cepat dan antusias.
“Syukurlah.”
“Kata ibu, ini rumah kamu, Dis?! ...”
“Rumah suamiku dan keluarganya, Mad.”
Gadis lalu menjawab pertanyaan wanita yang baru datang itu, yang adalah saudara tirinya.
Lalu mengajak saudari berikut ibu tirinya itu untuk kembali ke ruang makan, karena masih ada Bruna di sana.
“Yaah kalo rumah suami kamu, ya berarti rumah kamu juga –“
“Nanti saja mengobrolnya ya? Sebaiknya kita ke ruang makan, karena masih ada saudari iparku di sana.”
“Oh iya Mad kamu belum makan kan? Makanannya enak – enak Mad –“
“Pasti lah, Bu –“
‘Ah iya, aku harus mengingatkan pada mereka soal etika di sini –‘
“Ayo, Dis.” Ucap ibu tiri Gadis sambil ia dengan semangat menggandeng anak perempuannya yang belum lama tiba itu.
“Sebentar, Bu,” cetus Gadis kemudian. “Lain kali jangan seperti ibu berlalu begitu saja dari ruang makan tanpa permisi di hadapan Bruna.”
“Iya iya, tadi kan ibu udah ga sabar mau nyambut Madya takut ga boleh masuk sama para penjaga di depan ...”
“Pokoknya tolong ibu dan Madya jaga etika saat anggota keluarga ini sedang berada di dekat kalian –“
“Iya Dis iya –“
**
“I’ll go to Anth’s room to replace Garret and Arthur accompany Anth cause maybe they want to do some works ( Aku akan ke kamar Anth untuk menggantikan Garret dan Arthur menemani Anth karena mungkin mereka ingin membahas pekerjaan )”
Bruna berkata pada Gadis, selepas ia menyelesaikan makan malamnya. Lalu Gadis mengiyakan. “Iya, Bru, nanti aku menyusul.”
Bruna pun mengangguk seraya tersenyum. “Just take your time ( Santai saja ), Gadis –“
**
Bruna paling dulu meninggalkan ruang makan dari Gadis, ibu dan saudari tirinya yang masih bertahan di ruangan tersebut.
Gadis juga sebenarnya telah selesai dengan makannya. Namun berhubung ibu dan saudari tirinya itu masih belum selesai, jadi Gadis mau tidak mau bertahan di ruang makan.
“Itu nyonya londo ternyata bisa bahasa kita, Dis? ...” Ibu tiri Gadis yang bertanya, karena Bruna yang berpamitan padanya dan anak perempuannya tadi, menggunakan bahasa Indonesia.
“Bisa, tapi hanya sedikit,” jawab Gadis.
“Oo ...”
Ibu dan saudari tiri Gadis langsung menyahut kompak.
**
__ADS_1
“Ga sangka aku, Dis. Lama ga ketemu, tau – tau kamu udah jadi orang kaya –“
“Suamiku dan keluarganya pemilik semua ini, Mad –“
“Iya kan Ibu bilang tadi, kalo suami kamu kaya ya berarti kamu juga kaya hitungannya, Dis. Dan yang suami sama keluarganya punya ya punya kamu juga. Gimana sih kamu? ...”
Ibu tiri Gadis menyambar bicara. “Betui itu kata ibu. Harta suami kamu ya harta kamu juga.“ Saudari tiri Gadis lalu menimpali. Gadis tersenyum saja menanggapinya.
Lalu diam sejenak, sambil menunggu dua orang yang duduk di hadapannya itu selesai makan.
Gadis kemudian mengingat sesuatu. ‘Ah iya, aku harus menghubungi Putra dan mengatakan perihal aku mengajak ibu ke sini tanpa bilang sebelumnya. Nanti tahu – tahu seperti waktu itu Putra pulang diam – diam untuk memberi kejutan, yang ada dia akan marah saat melihat ibu dan Madya di sini –‘
“Eh Dis ...” suara saudari tiri Gadis yang memanggilnya membuyarkan lamunan Gadis.
“Ya, Mad? –“
“Aku dikasih kamar sendiri ya, Dis? ...” ucap saudari tiri Gadis kemudian.
Gadis tersenyum kecil sebelum ia menanggapi ucapan saudari tirinya itu. “Mohon maaf Madya, aku tidak bisa sembarangan memberikan kamar begitu saja –“
“Yah kan kamu sekarang Nyonya di istana ini, gimana sih?“ tukas saudari tiri Gadis. Yang langsung diiyakan oleh ibunya.
“Ini rumah suamiku dan keluarganya Madya, aku harus meminta ijin mereka dulu, termasuk memberikan kamar tamu untuk kamu ...“
Gadis pun langsung menanggapi ucapan saudari tirinya yang bernama Madya tersebut.
Dan Madya pun langsung juga menimpali ucapan Gadis barusan.
“Ya masa aku tidur di ruang tamu kalo aku tinggal disini?”
“Kamu bisa tidur di kamar yang sama dengan ibu. Dan lagi, aku tidak bilang kalian akan tinggal di sini –“
“Loh kok gitu, Dis??!! ... Kita ini keluarga kamu loh!”
Madya menukas dengan ekspresi ketidakpuasan di wajahnya.
“Di sini ada kepala keluarga yang mana keputusan untuk apa – apa di dalam villa ini berdasarkan apa yang dia katakan ...”
“Ya kan seharusnya kamu juga punya hak Dis? ...” sergah ibu tiri Gadis. “Apalagi bener kata Madya kalo kita ini keluarga kamu.”
“Tetap di sini ada peraturan, Bu, Madya.”
“Pelit banget kamu, Dis!” sambar Madya yang lalu cemberut. “Sombong mentang – mentang udah kaya – aduh! –“
“Gini loh, Dis. Ibu ngerti dulu Madya suka seenaknya sama kamu. Maafin Madya sama Ibu juga, Dis. Kalo kamu ga mau ajak kami berdua tinggal di sini gara – gara kamu masih marah sama kami soal dulu. Ibu sama Madya tulus minta maaf sama kamu. Iya kan, Mad?” Ibu tiri Gadis memotong ucapan Madya dan Gadis yang heran karena mendengar Madya mengaduh.
Dimana Gadis kemudian melipat bibirnya.
“Iya, Dis. Maafin sikap aku loh yang dulu – dulu ke kamu.” Madya menimpali ucapan ibunya.
“Aku sudah melupakan sikap Ibu dan Madya di masa lalu saat aku masih tinggal di desa. Dan itu tidak ada hubungannya dengan ijin untuk kalian tinggal di sini. Keputusan tetap berada di tangan kepala keluarga untuk sesiapapun yang diperbolehkan tinggal disini. Dan dia sedang berada di luar negeri saat ini. Ibu aku bawa ke sini tadi, karena khawatir kamu tidak pulang dan obat asma ibu juga habis.”
Gadis memberikan penjelasan kemudian.
“Berhubung Bruna mengerti soal medis, jadi aku memutuskan untuk mengajak ibu ke sini agar besok setidaknya jika memang bisa membuat janji mendadak dengan dokter spesialis penyakit dalam, ibu dapat langsung aku bawa menemui dokter itu.”
Lalu setelahnya Gadis memutus pembicaraan dengan bangkit dan pamit untuk menghampiri Pak Abdul dan berbicara pada pria itu kemudian.
Dimana saat Gadis berada di jarak yang agak jauh dari ruang makan, ibu dan saudari tiri Gadis itu kasak – kusuk sambil sesekali melirik ke arah dimana Gadis berada.
“Pokoknya kita harus tinggal di sini gimana cara, Bu ...”
“Ya iyalah!”
“Jadi kita harus mengulur waktu sampe itu orang yang kata si Gadis itu kepala keluarga di sini pulang dan kita ketemu sama dia –“
**
“Kalau kalian sudah selesai, Ibu Marsih akan mengantar kalian ke kamar karena aku tidak bisa. Ada yang harus segera aku kerjakan –“
“Iya ga apa – apa Dis ...”
Madya yang menyahut. Gadis menarik sudut bibirnya.
“Kalau begitu aku permisi –“
“Oh iya Dis, ngomong – ngomong soal berobat, aku tuh inget kalo ibu sebenarnya udah di rujuk ke rumah sakit di ibukota besok lusa. Nah dua hari ini kami boleh dong Dis nginep di sini? Kan kalo dari desa, harus subuh – subuh berangkat buat sampe tepat waktu ketemu dokter. Masa kamu tega sama ibu yang harus numpang mobil sayuran?”
“Baiklah ... kalau hanya untuk dua hari menginap, mungkin aku bisa dapat ijinnya –“
“Nah gitu dong, Dis.” Madya bereaksi senang.
Gadis kemudian tersenyum sejenak lalu berpamitan kemudian berlalu dari hadapan Madya dan ibu tirinya.
**
__ADS_1
Di waktu Gadis berniat untuk meminta Garret atau juga Arthur yang ia sambangi di ruang kerja di malam yang sama dimana adalah malam pertama ibu dan saudari tirinya menginap di villa untuk menghubungi Putra, Gadis tidak mendapatkan kesempatan untuk berbicara pada Putra dan bicara perihal ibu dan saudari tirinya yang sedang menginap di villa mereka.
Karena tidak ada panggilan telepon dari Putra, pun Garret dan Arthur yang seringkali mencoba untuk menghubungi Putra di Inggris tidak bisa juga tersambung dengan pria itu dan mereka yang sedang bersama Putra di Inggris.
Jadi selama itu, ibu dan saudari tiri Gadis tinggal di villa dengan seijin Garret dan Bruna.
Dimana Gadis yang polos dan mungkin juga naif itu, tidak menyadari adanya konspirasi antara ibu dan saudari tirinya tersebut yang memiliki niatan jahat padanya.
Bahkan berniat untuk menghabisi Gadis.
Dan hal itu yang terjadi, sebagai puncak aksi dua wanita berhati jahat itu pada Gadis yang sebelumnya telah meracuni Gadis secara perlahan.
Lalu puncak ibu dan saudari tiri Gadis itu adalah dimana mereka merencanakan membuat Gadis terjatuh dari tangga lantai dua, dan Madya sebagai pelaksananya --- yang mana rencana jahat ibu tiri Gadis dan Madya untuk membuat Gadis terjatuh dari lantai dua, sukses adanya.
“Sshh ...”
“Gadis ...”
“Bru –“
“Don’t move, Gadis ...”
**
“Bru ... my baby and Putra is okay, right? ( bayiku dan Putra baik – baik saja, bukan? )”
Gadis yang sudah sadarkan diri tanpa luka yang parah itu, selain memar di beberapa bagian tubuhnya --- langsung bertanya pada Bruna.
Karena Gadis ingat apa yang terjadi padanya.
Dan tentu karena ingat jika ia terjatuh dari lantai dua, pikiran Gadis langsung tertuju kepada bayi dalam perutnya.
Bruna menggigit bibirnya. Menatap Gadis dengan ekspresi sendu dan tak tega.
“I’m sorry to say this, Gadis. But your baby can’t survive ( Maafkan aku yang harus mengatakan ini, Gadis. Tetapi bayimu tidak selamat )”
“Ya Tu – haan ...”
Gadis meluruh kemudian.
“Apa ... apa kamu sudah benar – benar memeriksanya, Bru? –“
“I did, Gadis ... blood, came out from your under when we found you sprawled near the back stairs ( Sudah, Gadis ... darah, keluar dari bawahmu saat kami menemukanmu tergeletak di dekat tangga belakang )”
Bruna menjawab Gadis dengan lirih.
"And that's your baby ( Dan itu adalah bayimu ) ..." kata Bruna lagi. "And I confirmed it ( Dan aku juga sudah memastikannya )"
Gadis meluruh lagi.
**
Beberapa belas jam kemudian,
“PAPAA!”
Anthony berseru kencang dengan wajah yang sumringah. Disaat satu sosok masuk dengan tergesa ke dalam kamar dimana Anthony dan beberapa orang berada.
Yakni, kamar Gadis dan Putra.
“Putra ...”
Dan si empunya kamar lah yang datang dengan nampak tergesa dan khawatir itu.
Yang langsung memeluk serta mengangkat Anthony yang berhambur kepadanya, kemudian langsung menghampiri Gadis yang Putra langsung peluk dengan erat setelah Anthony ia lepaskan.
**
Gadis masih bergelayut sedih dalam pelukan Putra setelah ia sempat menangis dan mengadu pada Putra dengan amat menyesal karena dirinya yang sampai keguguran. Dan Putra pun masih memeluk kasih istrinya itu, seraya membesarkan hati Gadis meskipun Putra sendiri cukup sedih karena harus kehilangan janin yang bakal menjadi keturunan kandung pertamanya.
Namun Putra kemudian berpikir positif jika akan ada kesempatan baginya dan Gadis untuk memiliki calon buah hati yang tumbuh di perut Gadis, lalu lahir dan menjadi adik Anthony. Jadi Putra menepiskan kekecewaannya, dan memilih untuk menghibur Gadis. Tetapi di sela waktu itu, Putra kemudian mengernyit saat matanya menangkap dua orang asing baginya, berada di dalam kamarnya dan Gadis.
Dua orang wanita beda usia yang tidak dapat Putra kenali siapa.
“Who are they? ( Siapa mereka? )“
Putra bertanya dengan dingin.
Dimana Putra langsung bicara lagi dengan cepat dan tetap dingin. Berikut ekspresi ketidaksenangan yang kini nampak di wajahnya.
“And who let people that I don’t know be in my room? ( Dan siapa yang membiarkan orang yang tidak aku kenal berada di kamarku? )”
*****
Bersambung ...
__ADS_1