
Happy reading .....
***************
England...
Putra sudah berada di dalam kamar lama milik almarhum Rery dalam mansion megah keluarga dari ayah kandung Anthony itu, dimana kamar Rery sendiri memanglah dikhususkan pada sebuah paviliun istimewa dalam mansion tersebut.
‘That m*therfucker!!!!! ( Keparat sialan itu!!!!! )’
Putra merutuk dalam hatinya, ketika ia masuk dan melihat kondisi kamar pribadi almarhum Rery yang lama dalam mansion keluarga ayah kandungnya Anthony itu berubah --- meski tidak secara keseluruhan.
"Seems that you'd already messed up this room before, m*therfucker ( Sepertinya kau sudah mengacak-acak kamar ini sebelumya, keparat ) ...."
Putra berucap sambil menahan geramnya pada Jaeden ketika melihat keadaan kamar almarhum Rery yang menjadi sedikit berbeda dari yang sebelumnya Putra ingat, bagaimana keadaan kamar tersebut secara detail, termasuk segala benda yang ada di dalamnya.
"But seems you haven't found something very precious in this place ( Tapi sepertinya kau belum menemukan sesuatu yang sangat berharga di tempat ini )"
Putra berucap lagi kemudian, dengan tersenyum miring dan sinis pada Jaeden. Menatap remeh sekaligus penuh kebencian pada pembunuh Rery itu.
Dimana Jaeden, yang wajahnya sudah babak belur dengan luka yang bisa dikatakan cukup parah karena hantaman tinju Putra yang menggunakan sepasang knuckle di tangannya itu----nampak agak bingung, sekaligus masih sesekali terlihat meringis menahan sakit atas luka di wajahnya.
*
“What did you get from here? ( Apa yang kau dapat dari sini? ) ....” Putra kembali berucap dari tempatnya berdiri, yang sedikit berjarak dari Jaeden, bahkan dari beberapa anak buah yang menyertainya ke dalam kamar Rery dengan membawa serta Jaeden penuh paksaan.
Termasuk juga Accursio yang masih betah berada di belakang Jaeden yang sedang dalam tawanan ketat beberapa anak buahnya dan Putra.
Accursio hanya sedikit bergeser sedikit saja dari tempat ia berdiri sebelumnya, sehingga dirinya dapat melihat Putra dan Jaeden searah matanya.
*
“A lot of money that Rery’s kept inside his saving box behind this paint? ( Banyaknya uang yang Rery simpan di dalam brankas miliknya di balik lukisan ini? ), huh? ...” ucap Putra lagi dengan posisi tubuhnya menghadap ke arah di mana tempat tidur Rery berada.
Namun Putra sebentar menoleh ke arah sebuah lukisan yang letaknya ada pada dinding yang di belakangi oleh sebuah sofa klasik khas Eropa, lalu menoleh lagi ke arah Jaeden yang Putra tatap sinis dengan sorot mata penuh kebencian serta menyungging miring.
Tak berapa lama kemudian, Putra berbalik badan dan berjalan menuju ke satu sofa bergaya khas Eropa dalam kamar lama Rery di mansion keluarganya tersebut.
__ADS_1
“Gold? ...”
Sraaakk ...
Putra kembali berucap, bersamaan dengan kakinya yang mendorong kuat sofa panjang dalam kamar lama almarhum Rery itu ke satu sudut, hingga menimbulkan suara gesekan.
Bruk!
Kemudian suara benda yang terjatuh pun terdengar, karena Putra dengan cepat sudah mengambil lukisan pada dinding di dekatnya itu yang kemudian ia lempar sembarang ke atas lantai.
“Heh!” Putra mendengus sinis ketika ia membuka sebuah pintu brankas yang tertanam di dalam dinding ketika lukisan yang menutupinya telah Putra jauhkan dari tempatnya tadi. “Seems I am right ( Sepertinya aku benar )”
*
Putra kembali menghadap pada Jaeden setelah ia membuka bekas brankas pribadi Rery lalu melihat ke dalam brankas tanam tersebut yang mana tidak terkunci, dimana tadinya akan Putra hancurkan pintu brankas tersebut apabila terkunci dan nomor sandinya telah di ganti.
Namun pintu brankas tanam di dalam kamar lama Rery pada sebuah paviliun dalam mansion keluarga ayah kandung Anthony itu tidaklah terkunci hingga dapat dengan mudah Putra buka, dan sempat menggeleng pelan serta tersenyum miring ketika Putra tidak melihat apapun dalam brankas tanam tersebut.
Di detik berikutnya Putra terkekeh sendiri sembari menatap Jaeden dengan sangat remeh. “Once a filthy street snatcher, he’ll always be ( Penjahat jalanan yang hina tetaplah penjahat jalanan yang hina )”
“Even he already wear an expensive suit ( Meskipun dia sudah memakai setelan mahal )-“
“What exactly the point you take me here?”
( Apa sebenarnya tujuanmu membawaku kesini? )
Jaeden bersuara, setelah Accursio sempat menimpali ucapan Putra yang mencetuskan sebuah kalimat hinaan tertuju pada Jaeden.
“To show you something ( Untuk menunjukkan sesuatu padamu )”
*
“Rapacious and stupid ( Tamak dan bodoh ) ...” ucap Putra yang kini sudah melangkah menuju ke satu sudut yang agak dalam di kamar lama milik almarhum Rery pada mansion keluarganya yang megah itu. “Dumb, not only stupid ( Tolol, tidak hanya bodoh ) ...”
Sekali lagi Putra melontarkan kata hinaan yang ditujukan pada Jaeden.
Lalu Putra diam sejenak sambil ia berjalan untuk sampai ke satu sudut yang menjadi tujuannya itu, dimana ada dua buah meja di sana.
__ADS_1
Yang satu adalah meja kecil dengan sebuah pesawat telepon di atasnya, dan satu lagi adalah meja yang merupakan sebuah meja kerja.
*
“If Kingsley’s wealthy that you see, is everything about your aim ( Jika harta kekayaan Kingsley yang kau lihat, adalah segalanya yang menjadi incaranmu ) ...”
Putra kembali bicara, setelah ia mencapai satu sudut dalam kamar lama almarhum Rery di tempat tinggalnya dulu.
“Then what you see until you dare to kill Rery, is nothing ( Maka apa yang kau lihat sampai kau berani membunuh Rery, bukanlah apa-apa )”
Putra tersenyum miring. Lalu mengkode anak buahnya yang menjaga Jaeden untuk membawa pria itu lebih mendekat padanya.
“You messed up this room ( Kau sudah mengacak-acak kamar ini ) ...”
Putra mengeluarkan kursi yang disangkutkan menjorok sebagian ke kolong meja kerja almarhum Rery yang lowong, lalu mengeluarkan kursi tersebut dari tempatnya.
“Let me, Boss ( Biar saya yang melakukannya, Bos ) ...” cetus salah seorang anak buah Putra dan Accursio yang menangkap gelagat jika Putra hendak memindahkan kursi yang sudah Putra pegang kedua sisinya itu.
Namun Putra dengan segera mengangkat satu tangannya, untuk menyergah satu anak buah tadi yang sudah bergerak untuk berinisiatif membantu Putra setelah menduga jika satu tuannya itu hendak mengangkat sebuah kursi yang sedang di pegangnya itu.
“I’m sure you don’t know about this. Because if you know, you won’t go to Ravenna and did what you have did ( Aku yakin kau tidak tahu mengenai ini. Karena jika iya, kau tidak akan pergi ke Ravenna dan melakukan apa yang sudah kau lakukan )”
Putra lanjut berbicara pada Jaeden, sambil ia mengangkat kursi yang telah dipegangnya itu serta Putra pindahkan posisinya.
“Dumb m*herfucker ( Keparat tolol ) ...” hina Putra dengan tajamnya pada Jaeden dengan wajahnya yang mengetat, sambil Putra seperti memposisikan kursi tersebut untuk suatu hal.
Dimana hal tersebut nyatanya membuat semua orang tercengang dan terperangah, ketika di detik berikutnya, satu bagian sudut lain dalam kamar Rery perlahan terbuka secara satu per satu.
*
To be continue .....
Makasih untuk kalian yang masih setia nungguin update karya ini, yang slow banget beberapa hari ke belakang.
Harap maklum, karena authornya sedang ada urusan mendesak di dunia nyata.
Salam sayang,
__ADS_1
Emaknya Queen.