LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 113


__ADS_3

Happy reading .....


“Aku tidak akan memaksamu untuk percaya... tapi tolong, sekali lagi tolong, jika memang kamu tidak bisa mempercayaiku tak apa... tapi tolong, berhenti melemparkan hinaanmu padaku... aku sudah cukup mendengar cibiran dan hinaan dari banyak orang yang membuat telingaku panas... yang membuat hatiku sakit, tapi aku tetap menahannya disini...”


Gadis menunjuk dadanya.


“Kamu ingin membuangku, buanglah... tapi jangan melemparkan hinaanmu lagi padaku... aku mohon...”


Gadis melipat tangannya.


“Karena mendengar kata-kata menyakitkan dari orang yang aku cintai dengan tulus-, itu beribu ka-li sakitnya!...”


Gadis menghela panjang nafasnya, mendongakkan kepala, menghapusi air matanya yang tak kunjung berhenti namun isakannya perlahan keluar dan sudah memalingkan wajahnya dari Putra. Tak lagi menatap Putra yang masih bergeming di tempatnya. Gadis hendak pergi.


“Sekali lagi aku minta maaf ...” Ucap Gadis dengan suaranya yang parau. “Aku...” Gadis hendak berucap lagi, hendak juga berpamitan pada Putra.


Namun belum sempat Gadis mengutarakannya...


Syut!.


Tubuh Gadis sudah keburu tertarik dengan cepat.


“Jangan pergi...” Putra membawa Gadis dalam dekapannya.


Membuat Gadis sontak terkejut dan menegang sesaat.


Kedua tangan Putra kini sudah berada di belakang tubuh Gadis, lalu satu tangannya menyentuh kepala Gadis yang langsung Putra sandarkan di dadanya.


“Maafkan aku ....” Ucap Putra yang sudah menempelkan pipinya di rambut Gadis yang sedang Putra usap-usap. “Maaf...” Lirihnya lalu mengecup pucuk kepala Gadis.


Gadispun akhirnya luruh dalam dekapan Putra.


*****


Untuk beberapa saat, Putra membiarkan Gadis yang luruh terisak dalam pelukannya.


“Maafkan aku...”


Putra menangkup wajah Gadis dan membuat wajah itu menghadapnya setelah isakan Gadis terdengar melemah dan bahu Gadis tak lagi bergetar.


Gadis mengangguk pelan dan Putra menunjukkan senyumnya sembari menyeka air mata Gadis yang sudah membasahi wajah wanita itu.


“Duduklah ...”


Putra meraih pergelangan tangan Gadis dan mendudukkannya di sofa tempat mereka berdua duduk tadi.


“Tunggu sebentar...” Putra tak ikut mendudukkan dirinya.


Melainkan Putra, berjalan sedikit cepat ke arah dapur kediamannya.


“Minum dulu...” Putra menyodorkan pada Gadis segelas air yang sudah ia bawa dari dapur.


Gadis menerimanya, lalu meneguk sedikit air dalam gelas yang di berikan oleh Putra itu.


“Habiskan ...”


Gadis meneguk lagi air tersebut.


“Sudah cukup...” Ucap Gadis pelan yang tidak menghabiskan air putih dalam gelas yang diberikan Putra padanya itu.


Putra mengangguk pelan, seraya mengambil gelas dari tangan Gadis dan meletakkannya di atas meja di dekat mereka.


“Kenapa kamu duduk disitu, Putra? ...”


Gadis bertanya dengan pelan, pada Putra yang mendudukkan dirinya di atas lantai dekat kaki Gadis dan bersandar pada sofa dan kaki jenjang Putra menggeser sedikit meja di depannya.


“Tak apa...” Sahut Putra pelan.


“Tapi ...”


Gadis hendak beringsut.


“Kamu duduk disitu saja, aku hanya ingin meluruskan kakiku...” Putra menahan kaki Gadis yang hendak juga mengikuti Putra untuk duduk di lantai.


“Aku tidak enak jika kamu duduk di lantai seperti ini, dan aku malah duduk di atas sofa...”


Putra menggeleng pelan. “Never mind... (Tidak perlu kamu pikirkan...)”


Putra menoleh dan tersenyum tipis pada Gadis, kemudian memalingkan wajahnya lagi.


“Apa kakimu tidak sakit?...”


“Hmmm? ...”


“Kakimu, apa tidak sakit masih menggunakan sepatu dengan hak tinggi seperti ini?...”


“Oh ...”


“Selain hatimu yang sakit atas sikap dan ucapanku ...”


“Putra...”


“Sekali lagi aku mohon maaf ...”


Putra berucap, namun tidak menolehkan wajahnya pada Gadis.


“Aku bukakan ya? ...” Tangan Putra menyentuh kaki Gadis dan hendak melepaskan kaitan sepatu model Chunk Heels berwarna hitam yang dikenakan Gadis saat ini, dan tentunya membuat Gadis terkesiap.


“Eh!”


Gadis spontan juga merundukkan tubuhnya dengan tangan yang juga terulur dengan spontan semata-mata untuk menghentikan Putra yang sudah menyentuh kakinya untuk melepaskan sepatu yang ia kenakan.


Gadis rasanya menjadi sangat tak enak jika Putra lah yang melepaskan sepatunya. “Biar aku sendiri saja!...”


“Aku rasanya cemburu...”


Putra menghiraukan Gadis yang hendak menahannya membukakan sepatu yang wanita itu pakai.


“Mengetahui kamu bekerja di JP membuat pikiranku kacau ...” Ucap Putra yang membukakan satu per satu sepasang sepatu Chunk Heels yang dikenakan Gadis.


Putra menghela berat nafasnya sembari meletakkan sepasang sepatu Gadis yang sudah ia lepaskan dari kaki wanita itu di sampingnya.


“Maafkan aku ... sudah merendahkan mu ... hingga begitu menyakiti hatimu ... aku hanya tidak sanggup membayangkan jika apa yang terlintas di pikiranku tentangmu itu benar, lalu membayangkan banyak pria yang ...”


Putra menggantungkan kata-katanya, ia berbicara tadi pun tanpa menoleh pada Gadis. Mata Putra menatap nanar di arah selurusannya.


“Putra ....”


“Sudahlah .... aku tidak ingin membahasnya lagi....”


Baru Putra menoleh pada Gadis.


“Aku percaya padamu ...” Ucap Putra seraya tersenyum pada Gadis.


“Terima kasih ....” Sahut Gadis dengan tersenyum juga.

__ADS_1


Kemudian Putra memalingkan lagi wajahnya, dan menundukkan kepalanya dengan lunglai dengan satu kakinya yang tertekuk dengan satu tangannya yang tertopang diatas lutut.


Untuk yang kesekian kali Putra terdengar menghela nafasnya lagi.


“Maafkan aku ....” Ucap Putra lagi. “Jika ingin memberikan beberapa tamparan lagi di pipiku silahkan saja..”


Sembari Putra menoleh lagi pada Gadis yang kini memandanginya, lalu Putra menundukkan kepalanya lagi.


“Kamu ini...”


Namun kepala Putra tertoleh lagi, saat usapan berikut jemari yang menelusup ke rambut Putra, ia rasakan di kepalanya.


“Apa wajah Anthony sama seperti wajahmu ini jika sedang merajuk? ...” Kata Gadis dengan menyunggingkan senyumnya.


Putra mendengus geli. “Mungkin.....”


Untuk sesaat Putra terdiam.


“Gadis ....”


“Hmm? ...”


“Bisa, kamu memaafkanku?.....” Tanya Putra. “Untuk sikap serta ucapanku dari sejak di JP tadi? ...”


Gadis tidak langsung menjawab.


“Semua kata – kata burukku padamu...... ku tarik kembali ..”


“.......”


“Jika memang itu kamu rasa tidak cukup ... seperti yang kukatakan tadi... silahkan saja jika ingin menamparku lagi ....”


Gadis menyunggingkan senyumnya. “Kamu ini sedang meminta maaf, atau sedang menyindir ku karena menampar mu? ...”


Putra kembali mendengus geli.


“Memohon maaf ...” Jawab Putra. “Tak berani menyindir mu lagi” Lanjut Putra. “Kamu menyeramkan juga saat marah ...” Ucap Putra lagi.


Dimana Gadis langsung terkekeh karenanya.


“Salahmu sendiri.....”


“Jadi, apa bisa kamu memaafkanku? ...”


“Hmm ....”


“Ya jika sulit, setidaknya apa kamu mau mencobanya? ...”


Gadis lagi – lagi tak langsung menjawab.


“Dengan satu syarat.....”


Jawaban Gadis membuat Putra menggeser arah duduknya.


“Apa?”


Putra bertanya dengan menatap Gadis.


“Apa kamu punya makanan disini? Karena aku merasa lapar! ..”


Putra sontak terkekeh.


***


“Tunggu sebentar ya? ...” Ucap Putra seraya beranjak dari duduknya.


“Kamu mau kemana?”


“Kamu bilang kamu lapar, bukan? ...”


Putra berucap sembari menelusupkan jemarinya di surai Gadis yang tergerai indah itu.


Gadis mengangguk.


“Ya sudah tunggulah disini sebentar ...”


“Apa kamu akan pergi untuk membeli makanan diluar? ...”


Seulas senyum kembali Putra tunjukkan.


“Tidak. Aku tidak akan kemana – mana. Aku akan mengecek makanan di dapur ...”


“Hmm ....”


“Jika tidak ada, aku akan meminta salah seorang anak buahku yang berjaga di depan untuk mencarikan makanan untukmu” Sambung Putra.


“Kalau memang tidak ada tidak apa Putra ....”


Gadis berkata seraya berdiri.


“Daripada merepotkan ...”


“Akan kucek dulu persediaan disini jika ada yang cocok denganmu... jika tidak aku akan menyuruh anak buahku untuk membeli makanan ...”


“Kalau begitu tidak usahlah, aku nanti bisa makan di rumah juga ...” Sambar Gadis.


“Di rumah?...” Tanya Putra pelan dan Gadis manggut-manggut.


“Aku masih ada stok makanan kok di rumah ...”


“Rumahmu? ...”


“Ya rumahku lah. Rumah tempat aku mengontrak. Masa rumah orang?” Sahut Gadis.


“Memang aku ada mengatakan padamu kalau aku akan mengantarmu kembali ke rumah sewaanmu?”


“Hm? ...”


“Aku sudah membawamu kesini ...”


“.......”


“Mulai sekarang inilah rumahmu”


“A-apa??...”


***


Gadis sedang berjalan mondar – mandir sepeninggal Putra setelah pria itu pergi ke dapur kediaman selepas mengucapkan kalimat yang membuat Gadis merasa ambigu.


“Mulai sekarang inilah rumahmu”


‘Maksud Putra kalau sekarang ini adalah rumahku... Maksudnya aku tinggal disini begitu???...’


Gadis membatin.

__ADS_1


‘Lalu pakaianku? ...’


Gadis masih membatin.


‘Tapi kami tidak akan tinggal bersama kan? ... Hmmm ... Oh iya Putra kan pernah menyuruhku tinggal disini jika dia dan keluarganya sedang berada di rumah mereka yang berada di Bandung ...’


Gadis mengetuk – ngetuk - kan telunjuk di dagunya.


"‘Tapi sepertinya aku harus mengklarifikasi nya lagi ...”


Gadis melemparkan pandangannya ke arah dimana Putra tadi melangkahkan kakinya ke dalam sebuah ruangan yang tersekat oleh sebuah lorong, dimana ada pembatas berbentuk kotak seukuran pintu disana.


Lalu Gadis melangkahkan kakinya kesana, untuk menyusul Putra yang menurut Gadis pergi ke dapur kediamannya itu.


“Putra?...” Panggil Gadis dan yang dipanggil itupun sontak menoleh.


“Hey...” Sahut Putra. “Apa kamu sudah terlalu lapar hingga menyusulku kesini, hem? ...”


“Kamu, memasak?...” Alih-alih menjawab pertanyaan Putra, Gadis malah balik bertanya seraya mendekat pada Putra yang nampak sedang berkutat didekat kompor.


“Hanya membuat roti panggang saja ... kupikir ini yang paling cepat ...” Sahut Putra.


“Aku tidak tahu kamu tahu cara menggunakan kompor?...”


Putra spontan terkekeh kecil mendengar ledekan Gadis.


“Nah silahkan. Makanlah...”


Putra sudah menyajikan beberapa potong roti panggang diatas piring dan segera menawarkannya pada Gadis.


“Apa roti panggang ini cukup? Atau kamu ingin makanan berat? ... Aku baru ingat tadi pagi Arthur membawakan banyak bahan makanan untuk persediaan disini, jadi jika kamu ingin memakan makanan berat, mungkin aku bisa membuatkan mu spaghetti ... selagi kamu menunggu, kamu bisa mengisi perut kamu dengan roti panggang itu ...”


Gadis menjawab cerocosan Putra dengan gelengan.


“Tidak perlu Putra ... ini sudah cukup kok”


“Benar kamu tidak ingin memakan makanan berat?. Aku bisa membuatkan mu spaghetti dengan cepat ...”


“Benar, ini sudah cukup kok”


“Aku tambahkan cream soup ya? Atau kubuat kan lagi roti panggangnya ...”


“Putra ...”


Gadis menyentuh lengan Putra.


“Ini sudah cukup”


“Benar sudah cukup?”


“Iya...”


“Kamu kan habis menangis dan memakiku? ... perutmu pasti sangat lapar ...”


Dan Gadispun memukul pelan lengan Putra yang baru saja di bersihkan dengan selembar tisu.


Putra terkekeh kecil.


“Makanlah”


“Kamu mau ngapain lagi? ...”


“Membuatkan teh hangat untukmu...”


“Eh, tidak usah!” Tahan Gadis.


“Roti panggang mu itu kan harus ada pasangannya ... lagipula teh itu cocok untuk kamu nikmati dengan roti panggang ... kamu hanya sesekali minum kopi bukan? ...”


“Sudah, biar aku saja yang membuat tehnya ...”


Gadis langsung mendekati Putra yang sudah menyiapkan dua cangkir diatas kabinet dapur dihadapannya.


“Kembali ke tempatmu dan nikmati saja roti panggang mu”


“Kamu kan sudah membuatkan roti panggang, jadi biar gantian aku saja yang buat teh ...”


Putra melirik pada Gadis.


“Aku sudah terbiasa Gadis... dan sudah berapa kali kukatakan, kamu tidak perlu merasa sungkan padaku ...”


“Iya, tapi ...”


“Lagipula gaunmu saja sudah membuatmu sulit untuk leluasa bergerak dan aku risih melihatnya”


“Siapa suruh menculikku ...”


Gadis menggumam. Dan Putra yang mendengar gumaman Gadis itu sontak terkekeh kecil, lalu mengacak pelan rambut Gadis.


“Ya, ya ... aku yang salah ...” Tukas Putra. “Maka itu biarkan aku menebus kesalahanku sedikit demi sedikit, dimulai dari membuatkan roti panggang dan teh untukmu, okay?...”


“Manis sekali...”


“Jadi? ...”


Gadis mengernyitkan dahinya.


“Apanya yang jadi? ...”


“Jika aku manis, apa kamu ingin merasakan ku? ...”


“Ehem!”


Gadis spontan berdehem.


“A – ku ... mau ambil air putih yang tadi ada disana...”


Gadis seketika menjadi kikuk dan ia pun berjalan cepat menuju ruangan Gadis dan Putra berada sebelumnya.


‘Tadi bersikap mengerikan padaku, sampai kepalaku sakit karena ketakutan bahkan aku sampai berkeringat dingin! ...’


Gadis menggerutu dalam hatinya sembari mengayunkan langkah.


‘Sekarang coba lihat dia????? ... sikap manis dan kata – kata, bahkan tatapannya itu membuat jantungku jadi tak karuan begini, Oh Tuhaannnnn! ...’


Gadis masih menggerutu.


‘Haish ... kenapa dia hobi sekali membuat kepalaku pusing dan jantungku berdebar – debar!! ...’


Gadis meneguk habis air dalam gelasnya setelah ia sampai ke ruangan tempatnya berada sebelum pergi ke dapur untuk menyusul Putra.


‘Kenapa aku sulit membencinya atau bahkan marah berlama – lama pada Putra???!!!!...’


Gadis menghembuskan kasar nafasnya setelah selesai meneguk air dalam gelas yang sedang ia pegang itu.


‘Aku rasa Putra itu keturunan penyihir!’

__ADS_1


***


To be continue.....


__ADS_2