LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 95


__ADS_3

Happy reading...


*******************


“Kau sudah banyak bertingkah sejak dulu, tahu?! Menggoda banyak Dokter pria disini dan sekarang kau sudah merasa hebat karena Putra mendekatimu?! Aku yakin kau yang menggodanya! Dasar tidak tahu malu!”


“Maaf Dokter Ilse, tolong jaga ucapan anda..”


“Diam kau! Perempuan murahan! Jangan berani-berani ..”


“HEY!!”


“Tu-an Putra??...”


“Pu-Putra??!! ..”


“BERANI SEKALI KAU MENGHINANYA, HAH?!”


“Pu-Put-ra... I-I .. ( Aku-aku )..”


“Ada apa Tuan????..” Seru dua pria yang baru datang seraya kompak bertanya.


“KAU SEBUT TUNANGANKU MURAHAN?! KAU YANG MURAHAN!”


“Putra, sudaah ...”


Gadis menyentuh lengan Putra untuk menenangkannya.


“SEKALI LAGI AKU MENDENGAR KAU MENGHINA TUNANGANKU AKAN KUROBEK MULUTMU DENGAN TANGANKU SENDIRI!”


‘Oh Tuhan, Putraa..’ Gadis melirih takut.


Sementara Dokter Ilse benar-benar sudah bermandikan air mata, dan Arthur tidak lagi bertanya atau bersuara, melihat Putra yang nampak begitu geram saat ini itu.


Arthur juga sudah mengkode pada Pak Tri untuk diam saja dulu. Pasalnya Arthur sudah melihat sisi kejam Putra, meski kala itu ia tidak terlihat begitu geram seperti ini.


Memang sih, air tenang menghanyutkan. Putra yang kala itu ‘membereskan’ Baskoro bersama para saudara lelakinya memang begitu tenang hari itu. Bak air tak beriak, tapi perlu diwaspadai.


Putra nampak begitu tenang disaat dia menghabisi Baskoro. Itu tenangnya.


Nah kalau Putra menunjukkan kemarahannya terang-terangan begini, Arthur tidak tahu apa yang mungkin Putra lakukan, meski Putra sedang berhadapan dengan seorang wanita dan di tempat umum pula.


Rasanya Putra juga tidak pandang bulu untuk memberi peringatan keras pada mereka semua yang dirasa mengganggu kenyamanannya.


Air tenang menghanyutkan. Namun air deras juga mematikan, bukan?.


Jadi Arthur diam saja melihat Putra yang nampak sedang berapi-api itu. Arthur juga mengkode juga Pak Tri untuk  sama diam saja dulu.


Karena dimata Arthur, Putra adalah seseorang yang rasanya mampu melakukan apa saja.


Terlebih lagi Putra punya banyak uang yang tentunya bisa membeli kuasa.


****


“SEKALI LAGI AKU MENDENGAR KAU MENGHINA TUNANGANKU AKAN KUROBEK MULUTMU DENGAN TANGANKU SENDIRI!”


Putra masih berteriak pada Dokter Ilse yang sudah bercucuran air mata meski tak ada suara isakan.


Entah karena Dokter Ilse merasa syok mendapat perlakuan kasar dari Putra meski hanya hardikan kencang, namun cukup menyita perhatian orang-orang disekitar mereka.


Atau mungkin juga Dokter merasa malu karena saat ini bisa dikatakan jika Putra sedang merendahkannya. Karena merendahkan Ilse yang seorang wanita berkelas itu demi membela seorang perempuan yang bekerja sebagai perawat biasa, bahkan dari kalangan orang biasa.


Namun Putra, tak memperdulikannya.


Benar seperti yang Arthur kira.


Putra tak pandang bulu pada sesiapa yang Putra anggap sebagai gangguan.


Dan seperti itulah sikap Putra pada Dokter wanita bernama Ilse yang telah mengganggu dan menghina wanita yang Putra cintai.


“DO YOU UNDERSTAND?!! ( APA KAU MENGERTI?!! )” Hardik Putra lagi yang belum menurunkan intonasi suaranya.


Namun Dokter Ilse tidak menjawab.


Dokter wanita yang sebenarnya berparas cantik itu, hanya tertunduk dan sesenggukan.


“Pu-traa ......” Suara Gadis yang melirih terdengar lagi memanggil Putra.


Namun seperti tadi, Putra tetap bergeming dan tidak menoleh bahkan melirik pada Gadis.


Putra masih fokus menatap Dokter Ilse yang tertunduk dengan ekspresi yang menyeramkan.


“DO YOU?! ( MENGERTI TIDAK?! )” Putra menghardik lagi Dokter Ilse yang langsung mengendikkan bahunya lalu mengangguk lemah.


Beberapa Dokter yang sedang praktek juga sudah mendekat, hendak bertanya sepertinya atau mungkin melerai untuk meredam keributan.


Namun beberapa Dokter itu, tidak jadi maju karena Pak Tri sudah menatap mereka dan menggeleng pelan. Mereka paham dan patuh pada kode dari Pak Tri.


Jadi para Dokter yang mungkin tadinya ingin membantu Dokter Ilse yang adalah rekan sejawat mereka, hanya diam di tempat mereka berdiri saja untuk saat ini.


“NOW GET LOST! ( SEKARANG ENYAHLAH! )” Usir Putra. “GO!! ( PERGI! )” Putra tetap dengan intonasi suaranya yang menggelegar itu dan mengusir Dokter Ilse yang kemudian berbalik pergi dengan bahu yang nampak bergetar.


“Put-raa....... sudah, ya?..”


Namun Putra masih tak menyahut pada Gadis. Matanya masih mengikuti Dokter Ilse yang setengah berlari entah menuju kemana dan nampak seperti sedang menghapusi air matanya.


Rahang Putra masih nampak mengetat, belum memalingkan tatapannya hingga Dokter Ilse tak lagi dalam pandangannya. “Put-raa... sudah, ya?.. kita masuk?..” Lirih Gadis sembari menarik pelan tangan Putra, seraya membujuk Putra untuk masuk ke dalam ruangan dibelakang mereka.


Rahang Putra yang tadi mengetat sudah mulai mengendur, kemudian terdengar ia mendengus dengan kekesalan yang masih nampak dari suara dengusannya itu. Lalu, baru Putra menoleh ke arah Gadis yang nampak syok dengan mata yang berkaca-kaca. “Kau masuklah ke ruangan mu. Ada hal lain yang ingin kulakukan ..”


“Ta....”


“Kamu tidak paham kata-kataku, hem?. Gadis?”


Putra berbicara dengan nada yang biasa pada Gadis.


Namun tatapan Putra sudah cukup menjadi sebuah peringatan untuk Gadis agar tidak membantah Putra, terlebih saat ini.


Sungguh, Gadis takut sekali melihat Putra tadi.


“Masuklah”


Putra menatap Gadis.


Tak menghardik, bernada tinggi pun tidak, hanya saja suara Putra terlalu datar namun ada penekanan didalamnya.


Mata Putra memandang Gadis dengan tatapan yang biasa, namun ada sorot yang mendominasi lawan bicaranya disana.


“Aku akan menyusul nanti”


“Baik, lah ..”


Segera Gadis mengiyakan.


“Ini” Putra menyodorkan bungkusan di tangannya. “Kamu melupakannya tadi”


Gadis menerima bungkusan yang diberikan Putra lalu mengangguk pelan.


Lalu Gadis berbalik pergi dengan bahu yang kemudian di rangkul oleh Mba Neni, rekan sejawat Gadis yang tadi juga sempat kena semprot dari Dokter Ilse karena membela Gadis.

__ADS_1


“Put-raa ..” Panggil Gadis seraya kembali menyentuh lengan Putra yang tadinya hendak berjalan ke arah yang berlawanan dengan Gadis, dimana Arthur dan Pak Tri masih berdiri juga tak jauh dari Putra.


“Ada apa?”


“Jangan lama-lama ya?..”


Gadis nampak memohon dengan lembut.


Berharap setidaknya hati Putra sedikit melembut, dan geramnya menyusut hingga hilang.


Selain Gadis merasa was-was dan takut, karena berpikir bisa saja Putra belum merasa puas memarahi Dokter Ilse, yang meski Gadis seringkali dibuat sakit hati oleh Dokter wanita tersebut, namun jika ingat posisi Dokter Ilse yang dihardik Putra tanpa ampun, dimana bisa dianggap telah dipermalukan Putra dengan amat sangat, tetap saja Gadis merasa kasihan pada Ilse.


Putra mengangguk.


“Juga .... jangan marah-marah lagi, ya?....”


 Gadis menyentuh pelan pipi Putra dan berkata dengan lembut padanya.


Dan rasanya itu berhasil meredam amarah Putra yang tadinya bergejolak, karena tak lama Putra menyunggingkan senyuman.


Menarik dua sudut bibirnya, seraya Putra tersenyum pada Gadis lalu mengangguk.


“Aku tunggu di dalam ya?” Ucap Gadis.


Lalu Gadis melangkah masuk ke dalam ruangan tempatnya biasa bekerja dengan Mba Neni yang kembali merengkuhnya.


Putra memperhatikan Gadis yang sedang berjalan masuk dan sesekali menoleh pada Putra yang berdiri di belakangnya. Dan Putra juga masih menampakkan senyumnya meski tipis, hingga Gadis benar-benar sudah masuk dan kemudian Putra berbalik menatap pada Arthur dan Pak Tri yang juga masih berdiri di tempat mereka.


Dan orang-orang yang tadi memperhatikan serta menonton keributan yang Putra timbulkan, sudah membubarkan diri.


****


Wajah Putra yang tadi sudah nampak santai, nampak berubah lagi setelah Gadis tak lagi berada di dekatnya. Dan mata Putra sudah beralih pada Arthur dan Pak Tri.


“Aku perlu bicara denganmu, Pak Tri”


“Baik Tuan ..” Pak Tri mengangguk.


Lalu Pak Tri mengajak Putra untuk pergi ke ruangan pribadinya dalam Rumah Sakit.


Arthur pun turut serta karena Putra memintanya ikut dan Arthur mengangguk patuh.


****


“Mira,”


Pak Tri berbicara pada sekertaris yang merangkap sebagai asistennya juga Kepala Rumah Sakit.


“Ya, Pak?” Jawab wanita yang berusia dikisaran tiga puluh tahunan itu. Yang tetap menunjukkan keramahannya pada Putra meski tadi ia juga sudah mendengar serta melihat sendiri keributan di salah satu lorong Rumah Sakit.


Namun Ibu Mira hanya berdiri berjarak. Toh sudah ia lihat ada atasannya itu yang berdiri di sumber keributan, jadi rasanya jika tidak diminta Ibu Mira tidak merasa perlu untuk ikut campur.


“Tolong buatkan minuman untuk Tuan Putra dan Tuan Arthur ...”


“Tidak perlu”


Putra langsung menyambar.


“Saya tidak akan lama”


Pak Tri mengangguk paham, selain juga karena dinginnya wajah Putra.


Paham, jika si donatur terbesarnya saat ini tersebut mungkin masih dalam mode tidak senang.


Jadi Pak Tri cari aman. Meski belum pernah mendengar perihal siapa seorang Putra Adjieran dan keluarganya, namun dari nominal donasi yang diberikan Putra, rasanya sudah cukup menjelaskan sedikit banyak, dari kalangan


****


“Aku tidak mengerti standar macam apa para Dokter yang bekerja di Rumah Sakit yang katanya terbaik di Ibukota ini” Cerocos Putra setelah ia dan Arthur sudah berada dalam ruangan Pak Tri.


Putra tak lagi membahasakan dirinya dengan ‘saya’, yang dianggap lebih sopan jika bertutur kata dengan orang lain.


“Sebelumnya saya mohon maaf atas ketidak-nyamanan yang terjadi pada anda Tuan” Jawab Pak Tri. “Tapi.... jika boleh saya tahu, apa yang sebenarnya terjadi sehingga anda memarahi Dokter Ilse tadi?....”


“Dia menghina calon istriku!” Putra menyahut dengan wajah yang kembali nampak kesal.


“Benarkah, Tuan?....”


“Apa disini memang diperbolehkan seorang Dokter mencampuri urusan pribadi para perawat, hem?!”


“Tidak! Tentu saja tidak Tuan”


“Tapi itu yang terjadi!”


“.....”


“Dokter itu, menghina tunanganku habis-habisan, bahkan mengatakannya perempuan murahan!”


Pak Tri, juga Arthur terkejut juga mendengar penuturan Putra bernada kesal dan ketus itu.


“Dan dia melakukannya di tempat dimana banyak orang berlalu-lalang, membuat tunanganku direndahkan dan dipermalukan!”


“.....”


“Apa seperti itu moral para Dokter di Rumah Sakit ini?!”


“Tidak Tuan! Tentu saja tidak!”


Pak Tri membantah dengan cepat.


“Semua Dokter yang telah kami terima untuk praktik disini, adalah Dokter yang memang memiliki predikat sangat baik secara profesi dan personalitas....”


“Secara profesi aku tidak perduli! Masa bodoh jika mereka sudah menyembuhkan atau menyelamatkan nyawa banyak orang .... Tapi tetap aku menghargai itu! ....”


“.....”


“Tetapi secara personalitas, jika anda mengatakan mereka sangat baik. Pada kenyataannya, Dokter bernama Ilse itu tidak memilikinya! .... Dan kalian, memiliki satu Dokter kurang ajar seperti itu disini! .... Hish!”


Putra masih menunjukkan kekesalannya.


Arthur diam saja. Selain dia paham betul jika Putra sedang merasa tidak senang hati dan Arthur enggan sekali menyelanya.


Sudah mengetahui jika seorang Putra memiliki sisi kejam, membuat Arthur enggan menyinggung Putra. Lagipula, Arthur juga masih mempelajari sifat Putra yang belum ia ketahui bagaimana seterusnya dan apa yang akan pria ini lakukan jika sedang geram pada seseorang seperti ini secara meluap-luap.


“Aku bukan orang yang senang membesar-besarkan masalah Pak Tri, tapi jika ada orang yang menyinggung ku, aku tidak bisa tinggal diam. Terlebih, jika itu menyangkut ‘gangguan’ pada keluargaku, atau orang-orang terdekatku!.... Kau paham maksudku, bukan?!”


“Iya, Tuan Putra.... Saya paham....” Jawab Pak Tri. “Untuk itu, sekali lagi saya memohon maaf ....”


Pak Tri melipat bibirnya lalu membasahinya dan kemudian lanjut berbicara lagi.


“Sebenarnya untuk Dokter Ilse sendiri, aku tidak menyangka jika dia dapat berlaku dan bersikap dengan sangat tidak baik pada Gadis .... Karena selama ini, Dokter Ilse menunjukkan sikap yang baik dan profesional”


Pak Tri memberikan penjelasan.


“Maksudmu kau tidak percaya ucapanku yang mengatakan jika dia sudah dengan lancang menghina tunanganku?!”


“Oh Tidak Tuan!” Bantah Pak Tri dengan cepat. “Tidak mungkin anda mengada-ngada mengingat betapa marahnya anda pada Dokter Ilse tadi .... Hanya saja, maksud saya disini adalah, saya cukup kaget juga mengetahui Dokter Ilse sampai bersikap sangat tidak sopan pada Gadis, hingga mengatainya dengan sebutan yang seperti anda katakan tadi....”


Pak Tri berbicara panjang lebar. Terlepas siapa Putra Adjieran ini, bagaimanapun dia harus menjauhi masalah, dimana bisa saja, masalah yang sepertinya masuk kedalam ranah pribadi ini berakibat pada nama baik Rumah Sakit tempatnya bekerja dan mengabdi.

__ADS_1


Kembali lagi, mengingat jumlah donasi Putra yang sangat banyak  bahkan melebih donatur terbesar mereka


terdahulu, rasanya bisa saja pria bernama Putra Adjieran ini melakukan sesuatu pada Rumah Sakit tempatnya bernaung. Namun entah apa itu, yang jelas Pak Tri tidak mau mengambil resiko.


Putra memang baru saja dikenalnya. Tapi jika Putra bisa memberikan jumlah donasi sebanyak yang sudah pria itu berikan atas nama keluarganya, bukankah berarti harta kekayaan jauh diatas itu?.


Tidak terkenal, tapi sangat kaya. Dan kekayaan, tentu bisa membeli kuasa.


Kasarnya.


Jadi, sekali lagi, Pak Tri tidak mau mengambil resiko.


Untuk Rumah Sakit, juga untuk dirinya sendiri.


“Sungguh, saya tidak menyangka jika Dokter Ilse punya sifat seperti itu. Karena selama ini, seperti yang saya katakan tadi, Dokter Ilse begitu profesional, dan bahkan dia memiliki jumlah pasien tetap lebih banyak daripada


Dokter-Dokter yang lain dan tidak ada satu pun keluhan dari para pasiennya itu....”


“Apa anda pernah mencari tahu dari pihak para perawat, selain dari para pasien mengenai Dokter wanita itu?”


Arthur akhirnya bersuara, menyampaikan pendapatnya. Dimana Pak Tri nampak tersenyum canggung.


Dan Pak Tri kembali nampak membasahi bibirnya, lalu kembali tersenyum canggung.


“Mungkin disitu letak kelalaian kami Tuan .... Jujur, selama ini kami hanya fokus pada pelayanan kami kepada setiap orang yang datang ke Rumah Sakit ini. Kami, selain memang belum pernah mendengar keluhan dari para perawat mengenai Dokter-Dokter disini, juga memang belum membicarakan hal tersebut dalam suatu dialog bersama para perawat”


“.....”


“Tapi anda jangan khawatir Tuan, setelah ini saya akan segera mengumpulkan para perawat untuk kami tanyai mengenai kenyamanan mereka selama bekerja disini, sekaligus menindak lanjuti permasalahan Dokter Ilse dan Gadis ... Saya akan memberikan teguran pada Dokter Ilse untuk lebih menjaga sikapnya ....”


“Teguran saja?”


Putra menyela.


“Tanpa sanksi?”


Pak Tri tidak langsung menjawab.


Kemudian terdengar Pak Tri menghela nafasnya, baru ia berbicara.


“Begini Tuan Putra ....” Ucap Pak Tri. “Seperti yang saya bilang tadi, baru ini Dokter Ilse dirasa membuat ulah ....”


Wajah Pak Tri nampak seperti orang yang sedikit kebingungan.


“Dan dikarenakan Dokter Ilse tidak pernah dilaporkan memiliki masalahnya sebelumnya, jadi sesuai prosedur, kami baru bisa bertindak dengan memanggil dan memberikannya teguran baik secara lisan maupun tulisan nantinya....”


“.....”


“Selain itu....”


Pak Tri menggantungkan kata-katanya.


“Selain itu, apa?” Tukas Putra.


“Selain sebagai seorang Dokter yang cukup memiliki nama besar di Rumah Sakit ini, keluarga Dokter Ilse, ayahnya, adalah donatur terbesar di Rumah Sakit ini sebelum anda datang Tuan, dan keluarganya juga cukup disegani di kota ini ....”


“Lalu?” Tukas Putra lagi.


“Jadi .... bisa dikatakan, posisi kami sedikit sulit juga jika kami harus sampai memberikan Dokter Ilse sanksi atas sikapnya pada Gadis .... Sampai sini, rasanya anda paham maksud saya Tuan Putra?”


Pak Tri menatap Putra dengan wajah yang memang menggambarkan jika Pak Tri berada dalam sebuah dilema.


Karena memang seperti itu juga kenyataannya.


Pak Tri seperti mendapatkan buah simalakama.


Satu sisi adalah keluarga Dokter Ilse yang dapat dikatakan memang keluarga yang berada dan punya nama besar di Ibukota, dan jelas pengaruh mereka juga bisa berimbas pada Rumah Sakit tempat Pak Tri dan sejawatnya bernaung.


Dan disatu sisi, dia dihadapkan oleh seseorang yang baru muncul dalam komunitas. Namun rasanya juga tidak bisa dianggap sepele, jika dilihat dari kemampuan finansialnya.


Dalam hal ini, memberikan donasi dengan jumlah yang dapat dikatakan fantastis untuk Rumah Sakit.


Jadi sedikit banyak dalam pandangan Pak Tri, Putra Adjieran juga punya pengaruh untuk kelangsungan nama besar dan nama baik Rumah Sakit tempatnya dan para sejawatnya bernaung itu.


“Tapi, untuk teguran personalitas, tetap akan kami lakukan, Tuan. Kami akan memanggil Dokter Ilse dan memberikannya teguran mengenai masalah ini”


“.....”


“Jika memang anda juga ingin meminta Dokter Ilse untuk meminta maaf pada Gadis, saya akan membuat Dokter Ilse untuk melakukannya ....”


Putra mendengus.


“Satu saja kuminta padamu, Pak Tri” Ucap Putra kemudian.


“Silahkan Tuan.... jika memang saya sanggup, saya akan melakukannya”


“Jauhkan Ilse dari tunanganku! Aku tidak ingin ada keterikatan pekerjaan antara dia, dan tunanganku!”


“.....”


“Apa kau mengerti?”


“Iya, iya saya mengerti Tuan”


“Bisa anda lakukan itu?”


“Tentu! Tentu saja bisa!”


“Bagus!”


****


“Ar ....”


Putra dan Arthur sudah berpamitan dan keluar dari ruangan Pak Tri.


“Yes, Sir?” Sahut Arthur.


“Find out about the family of that Doctor, especially her Father”


“( Cari tahu tentang keluarga Dokter itu, terutama ayahnya )”


Arthur yang paham maksud Putra itu mengangguk.


“I want to know, how leaven her Father is ( Aku ingin tahu, seberapa berpengaruhnya ayahnya itu )”


Arthur manggut-manggut, menangkap sesuatu yang tersirat dari ucapan dan keinginan Putra itu.


‘Just like what I thought.... ( Seperti yang sudah kuduga )....’


Arthur membatin, sembari sedikit melirik Putra.


‘This man, will not just ‘accept’ if he didn’t feel pleased ( Pria ini, tidak hanya akan ‘menerima’ begitu saja jika dia merasa tidak senang ) ....’


****


To be continue ....


Terima kasih untuk support kalian sampai dengan episode ini.

__ADS_1


__ADS_2