
Happy reading ....
“What is it Gadis?.. ( Ada apa Gadis? )...” Tanya Bruna pada Gadis yang nampak melamun saat ia dan Gadis sedang menyiapkan makan malam.
“Ah, eum .. nothing ( Tidak apa-apa kok ), Bruna .......”
Gadis yang terkesiap itu segera menyahut.
Bruna tersenyum. “Was Putra told you something that we have just discussed?... ( Apakah Putra mengatakan sesuatu padamu tentang hal yang tadi kami bicarakan? ) ..” Tanya Bruna pada Gadis.
Gadis menggeleng. “No, not yet .. but Putra said he will tell me later.. ( Tidak, belum.. tapi Putra bilang nanti dia akan menceritakannya padaku ) ...”
“Was he already told you about him and us? ( Apakah dia sudah menceritakan padamu tentangnya dan tentang kami? )”
Bruna bertanya lagi pada Gadis. Dan Gadis mengangguk. “Yes he was ... ( Iya sudah )..” Jawab Gadis.
“And?... ( Dan? ) ..”
“And?....”
Gadis kurang paham maksud pertanyaan Bruna.
“And what is your opinion? ( Dan bagaimana pendapatmu? )”
“Complicated ( Rumit )....”
Bruna terkekeh kecil.
“But I think I can live with that ( Tapi aku pikir aku dapat menerimanya ) ...”
Bruna kembali tersenyum.
“After I know everything that happened to Anthony, I decided to stay ( Setelah aku tahu semua yang terjadi pada Anthony, aku memutuskan untuk tinggal )..”
Gadis lanjut berbicara.
“Thank you..... ( Terima kasih ) ...”
Bruna menyambar.
Gadis menggeleng pelan.
“No need to thank me, Bruna. Beside I love Anthony. And I do, I care very much to him”
“( Tidak perlu berterima kasih padaku, Bruna. Lagipula aku menyayangi Anthony. Dan aku, sangat perduli padanya )”
“I know... ( Aku tahu )....”
“And I love Putra ( Dan aku mencintai Putra )...”
“And he loves you more ( Dan dia lebih mencintaimu )”
“Ya I know about that... ( Iya aku tahu itu )....” Sahut Gadis.
“That’s why he seems very possesive to you ( Itulah mengapa dia sepertinya sangat posesif padamu )....” Ucap Bruna.
Gadis manggut-manggut.
“I think I already get usual with that too ( Aku pikir juga aku sudah mulai terbiasa dengan itu ) ...”
Bruna dan Gadis kemudian sama-sama terkekeh kecil. “Of course you have too ( Tentu kamu harus terbiasa dengan itu )”
“Hu’um....”
“If you feel that Putra is too tight you, just remember that’s because he’s afraid to lose you ( Jika kamu merasa Putra terlalu mengikatmu, ingat saja itu karena dia takut kehilanganmu ) ...”
“Yes, Bruna .. ( Iya, Bruna )..”
“But you also have to prepare yourself”
“( Tetapi kamu juga harus mempersiapkan diri kamu )”
“For? .. ( Untuk? )...” Gadis mengernyit.
Bruna terdengar menghela nafasnya pelan.
“You extent know about us if Putra already told you everything about us to you.. ( Sedikit banyak kamu sudah tahu tentang kami jika Putra sudah menceritakan segalanya tentang kami padamu ) ...”
“......”
“And like what you have said, we’re all have a complicated life ( Dan seperti katamu, kami semua memiliki hidup yang rumit ) ..”
“......”
“Hopefully will not get along with that ( Berharap tidak akan menjalaninya dengan lama )”
Bruna menghela lagi nafasnya.
“We want Anth to live a normal life ( Kami ingin Anth menjalani kehidupan yang normal ) ..”
“......”
“Having everything that supposed to be his right.. giving a justice for him, for what happened to his parents and Anth himself and then he can walk and run to everywhere, with no big dread that all of us have right now if Anth’s life is in danger”
“( Memiliki apa yang seharusnya menjadi haknya .. memberikan keadilan padanya, untuk apa yang sudah menimpa orang tuanya serta diri Anth sendiri lalu dia bisa berjalan dan berlari kemanapun, dengan tanpa ketakutan yang besar yang kami miliki saat ini jika nyawa Anth dalam bahaya )”
Bruna nampak tercenung sesaat.
“By the way, you understand what I was just saying right? ( Ngomong-ngomong, kamu mengerti apa yang baru saja aku katakan bukan? )”
“Euumm that a long sentence ( Euumm itu kalimat yang panjang )”
“Really? ( Benarkah? )”
__ADS_1
Bruna sedikit meringis. Namun Gadis terkekeh kecil.
“I think my accent make my English is a little bit hard to understand ( Aku rasa aksen ku membuat bahasa Inggrisku sedikit sulit untuk dimengerti )”
Gadis mengulum senyumnya, lalu menyentuh lengan Bruna.
“Don’t worry, I still can understand ( Jangan khawatir, aku masih dapat memahaminya ) ..”
Bruna pun nampak lega.
“Haahh thanks God... ( syukurlah )..”
Bruna berucap.
“I always believe that there will be a rainbow after the rain .. ( Aku selalu percaya akan ada pelangi setelah hujan )...”
Gadis menanggapi ucapan Bruna yang sebelumnya.
“So I’m sure that everything good that you want and all of people in this house want for Anthony, will be happened some day.. ( Jadi aku yakin bahwa semua hal baik yang kamu dan semua orang di rumah ini inginkan untuk Anthony, akan terjadi suatu hari nanti ) ..
Ucapan Gadis yang terdengar menenangkan, membuat Bruna manggut-manggut dengan tersenyum.
“You smart Gadis ( Kamu pintar Gadis )...”
Bruna berucap.
“Your English is so well .. ( Bahasa Inggrismu sangat baik )...”
“Not that well ( Tidak sebaik itu )” Sahut Gadis. “Still find some of difficulties of words sometimes ( Masih kadang menemukan kesulitan pada banyak kata-kata ) ....”
“Ya, but I guess not all of people in this Country having a good English nor understand it ( Ya, tapi aku rasa tidak semua orang di Negeri ini bisa berbahasa Inggris dengan baik dan bahkan tidak mengerti ) ....”
“Huum, my condition of life made me to learn about English ( Huum, kondisi hidupku yang membuatku belajar bahasa Inggris )”
Gadis kemudian menjauhkan tangannya dari lengan Bruna.
“Come, we supposed to bring these into a dining room ( Ayo, kita kan seharusnya membawa ini semua ke ruang makan )”
Gadis meraih peralatan makan yang tadinya ia dan Bruna hendak bawa dan menatanya di meja makan, sebelum mereka terlibat pembicaraan. Bruna mendengus geli. “Ya, you were right ( Iya, kamu benar )”
Sembari Bruna ikut mengambil beberapa peralatan makan yang sudah ia dan Gadis siapkan sebelumnya.
“Well I think that you have to teach me this Country language ( Aku pikir kamu harus mengajarkanku bahasa Negeri ini )”
Gadis mengangguk dan tersenyum.
“I’ll be glad to ( Aku akan senang sekali ) ...”
“Thank you Gadis “ Ucap Bruna.
“You are very welcome” Sahut Gadis.
“And thank you for love that you have for Anth and Putra ( Dan terima kasih untuk cintamu pada Anth dan Putra )”
***
“Are you really want to go with Gadis after dinner Papa? ( Apa Papa jadi akan pergi dengan Gadis setelah makan malam Papa? )” Tanya Anthony saat semua orang termasuk dirinya, kini sudah duduk bersama untuk menyantap makan malam di ruang makan, termasuk juga Danny.
Putra langsung menggangguk.
“Can I go to with you and Gadis? ...”
“( Bisakah aku juga ikut denganmu dan Gadis? ) ...”
“No, you can’t ( Tidak bisa )”
“But why? ( Tapi kenapa? ) ...”
“Because the place that me and Gadis are going is not fit for kids ( Karena tempat yang aku dan Gadis akan datangi tidak cocok untuk anak-anak ) ....”
“What kind of place Papa? ( Memang itu tempat apa Papa? )” Tanya Anthony lagi. Seperti biasa, Anthony akan terus bertanya jika ia belum merasa puas atas jawaban dari setiap pertanyaannya.
“Place for adults ( Tempat untuk orang dewasa )...”
“Ya but what kind of place that kids are not allowed ( Iya tetapi tempat seperti apa yang tidak memperbolehkan anak-anak untuk ikut? )”
“You won’t understand ( Kamu tidak akan mengerti )”
“I will understand Papa ( Aku akan mengerti Papa )”
Anthony tidak menyerah.
“I’m sure I can understand if you explain that to me. I’m a smart boy ( Aku yakin aku akan mengerti jika Papa menjelaskannya padaku. Aku kan anak lelaki yang pintar )...”
“Haish...”
Putra mendesis pelan.
Dimana sisanya mendengus geli saja, jika mode cerewet Anthony sedang menyala.
Karena bukan hanya Putra saja yang kadang kerepotan untuk menanggapi beragam pertanyaan Anthony.
Tapi, Bruna, Addison, Garret dan Damian juga.
Untuk ukuran anak yang baru menginjak usia tujuh tahun, Anthony memang memiliki pola pikir yang jauh di ukuran anak seusianya.
Bahkan dari sejak umur lima tahun pun sudah terlihat, bagaimana pola pikir Anthony yang tidak seperti bocah di seusianya. Almarhum kedua orang tua Anthony juga kadang harus memutar otak untuk memberikan jawaban dari pertanyaan Anthony yang kadang sulit untuk dijawab.
“How was I born? ( Bagaimana caranya aku lahir? ) ..”
“How the way a baby can be inside a mother’s tummy? ( Bagaimana caranya seorang bayi bisa berada di dalam perut seorang ibu? )”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut pernah Anthony tanyakan pada kedua orang tuanya saat ia masih berusia lima tahun.
__ADS_1
Dan pertanyaan yang paling membuat almarhum Rery dan Madelaine benar-benar tak habis pikir dan sangat kebingungan untuk menanggapinya adalah,
“Please show me the process how can I be in Mommy’s tummy ( Tolong tunjukkan padaku proses bagaimana aku bisa berada di perut Mommy ) ...”
Dan saat ini Anthony masih nampak menunggu jawaban Putra.
“So, what kind of place Papa? ( Jadi, tempat seperti apa Papa? )”
“Just finish your Meal Anth, don’t talk too much while we’re eating ( Habiskan dulu makananmu Anth, jangan terlalu banyak bicara saat makan )...”
“I have no food in my mouth, and I promise I won’t talk again until I finish my meal, and after you give me an explanation ( Tidak ada makanan di mulutku, dan aku berjanji aku tidak akan bicara lagi sampai aku menghabiskan makananku, dan sampai Papa memberikanku penjelasan )”
“Oh this kid.. ( Oh anak ini ) ...” Gumam Putra.
Kemudian ia menghela nafasnya sebelum ia menoleh pada Anthony.
“Anth...” Ucap Putra. “How old are you? ( Berapa umurmu? )” Kemudian bertanya.
“Seven ( Tujuh )”
“You know a boy could be a man in what age? ( Kamu tahu seorang bocah dapat dikatakan sudah dewasa pada usia berapa? )”
“Heemm... Seventeen?.. ( Heemm... tujuh belas? )...” Jawab Anthony.
Putra menarik sudut bibirnya ke atas kemudian dengan tetap menoleh pada Anthony.
“Then I will give you the explanation of what you just asked in ten years ahead ( Maka aku kan memberikan penjelasan atas pertanyaanmu sepuluh tahun lagi )”
Dan Anthony segera saja mengerucutkan bibirnya. Kemudian melanjutkan makannya tanpa bertanya lagi.
Putra pun mendengus geli seraya merasa puas, karena jawabannya sukses membuat Anthony tak lagi melanjutkan pertanyaannya atas keingin tahuan Anthony yang kadang berlebihan.
****
“Seharusnya kamu tidak perlu ikut mengantarku berpamitan ke JP, Putra ...” Ucap Gadis pada Putra yang duduk di kursi penumpang belakang mobil bersamanya. “Sepertinya kamu kan juga lelah”
Dimana Putra langsung menatap pada Gadis.
“Lalu membiarkan banyak pria brengsek disana memiliki kesempatan untuk menggodamu begitu?..”
“Aku kan hanya ingin bertemu dengan teman-temanku yang berada disana. Tidak akan juga bernyanyi di panggung apalagi duduk-duduk menemani tamu...”
Putra berdecak kecil.
“Itu kan katamu. Bisa saja kau berubah pikiran jika aku tidak mendampingimu untuk datang kesana ..”
Gadis pun mendengus geli.
“Masih saja tidak percaya padaku ...”
“Aku percaya padamu. Tapi tidak pada teman-temanmu yang berada di Pub itu, terlebih pada para k*parat hidung belang yang ada disana”
Ucapan Putra bernada sebal.
“Bisa saja mereka menyuruhmu untuk bernyanyi diatas panggung atau menemani mereka menikmati waktu...”
Putra menyambung ucapannya.
“Dan jika aku tidak ikut, para k*parat itu akan bebas memandangimu dengan pikiran liar mereka ... Cih!”
“Ya kan ada Damian dan Garret.. mereka kan pasti akan mendampingi dan menjagaku ..” Sahut Gadis.
“Heh! Jika ada wanita cantik dan seksi yang duduk diatas pangkuan dua b*jingan itu, mereka pasti akan melupakanmu” Ketus Putra.
Gadis sontak terkekeh.
“Mereka itu saudaramu sendiri loh, masa di sebut b*jingan?”
“Memang kenyataannya seperti itu!”
Putra menyahut sebal.
“Dua b*jingan itu tidak akan tahan untuk membuka kamar jika ada wanita-wanita cantik dan seksi di dekat mereka ....”
“Memangnya kamu tidak?...”
“Maksudmu? ..”
“Jika ada wanita-wanita cantik dan seksi yang menggodamu, apa kamu akan tahan? ...”
“Kamu masih meragukan ku?”
“Ya bukan begitu....” Sahut Gadis.
“Kamu tidak perlu takut aku akan tergoda pada wanita lain ... ‘gua’ mu saja sudah cukup untukku”
Dimana Gadis langsung mendelik tajam pada Putra dan tangannya ikut spontan mencubit pinggang Putra yang orang enteng saja bicara barusan, sementara ada orang lain yang duduk di kursi supir.
Anak buah Putra yang menjadi supir itu pun sekuat tenaga untuk tidak terkekeh mendengar selorohan sang Tuan yang wajahnya santai saja itu.
“Haish aku baru ingat ...”
“Apa? ...”
“Bukankah seharusnya tadi selepas makan malam, aku memakanmu dan bersemayam di dalam ‘gua’..”
“Putraa!..”
“Putar balik Ray!”
****
To be continue ..
__ADS_1
Salam enjoy reading....