
Happy reading ..
“Ga-dis... can we go now? (Ga-dis... bisa kita pergi sekarang?)”
“Su... (Ten...)”
“I’m afraid she can’t (Aku rasa dia tidak bisa)” Ilse tersenyum sambil mensedekapkan kedua tangannya.
“Pa – pa....”
Anthony menoleh dengan wajah memelas pada Putra, namun tangannya masih bertautan dengan tangan Gadis.
“Why? (Kenapa?)”
Putra yang selalu tak tahan jika melihat wajah sedih Anthony itu langsung mendekat pada Anthony dan mengusap pelan kepala bocah itu sembari bertanya pada Ilse.
Ilse masih mempertahankan senyumnya dan kini sudah menurunkan kedua tangannya, lalu menyapa Danny dengan anggukan kepalanya sebelum ia menjawab pertanyaan Putra barusan.
Lalu Ilse menurunkan pandangannya pada Anthony, mengusap kepala Anthony dimana tangan Putra masih bertengger disana dan sepertinya dengan sengaja Ilse mengusap tangan Anthony untuk sekedar menyentuh tangan Putra.
“Why she can’t go with us? (Mengapa dia tidak bisa pergi bersama kami?)”
Putra bertanya lagi sembari menarik tangannya dengan cepat kala tangan Ilse sempat menyentuh jemarinya.
Ilse sekilas nampak tersenyum pahit, namun kemudian menarik lebih sudut bibirnya, melengkungkan senyum manisnya sebelum ia menjawab pertanyaan Putra.
“As I said, this nurse has a duty to accompany one of a Doctor here (Seperti yang kukatakan tadi, perawat ini memiliki tugas untuk mendampingi salah satu Dokter disini)” Jawab Ilse dengan yakin.
Melirik sebentar pada Gadis yang tetap tersenyum meski tipis.
“So, she can’t go with all of you right now (Jadi, dia tidak bisa pergi bersama kalian sekarang)”
Ilse menampakkan raut wajah seolah menyesal mengatakan hal yang baru saja ia katakan.
“Benar begitu, Gadis?” Tanya Putra pada Gadis sembari menoleh padanya.
“Benar, Putra” Jawab Gadis sembari mengangguk.
Ilse sedikit terhenyak mendengar Gadis hanya menyebut Putra dengan namanya saja, namun ia menjaga sikapnya di hadapan empat yang berada didekatnya itu. Meski dalam hati rasanya Ilse tak terima melihat Gadis yang sepertinya sudah akrab dengan Putra.
Ilse menyunggingkan senyumnya lalu menunduk lagi dan berbicara pada Anthony.
“Don’t you worry, Anthony. I can accompany you to have a lunch today. Beside I really miss to spend time with you”
“(Jangan khawatir, Anthony. Aku bisa menemanimu makan siang hari ini. Lagipula aku rindu untuk menghabiskan waktu denganmu)”
“Pa – pa I want with Gadis..... (Pa – pa aku ingin bersama Gadis).....”
Anthony kembali mendongak pada Putra sembari setengah merengek.
Membuat Ilse tersenyum hambar akibat penolakan Anthony padanya yang terang – terangan.
“Oh Anthony, you know me first before you know her ..... (Oh Anthony, kamu kan mengenalku lebih dulu sebelum mengenalnya) .....”
Ilse berwajah memelas.
“How you become like this to me now? (Mengapa kamu bersikap seperti ini padaku sekarang?)”
Kini Ilse menunjukkan wajah kecewanya di hadapan Anthony.
“Is she teach you to become impolite? (Apa dia mengajarimu untuk bersikap tidak sopan?)”
Ilse nampak bermaksud menjatuhkan Gadis.
Namun Gadis hanya menarik sudut bibirnya lagi.
“Mind your words, Doctor Ilse (Perhatikan kata – katamu, Dokter Ilse)”
Putra yang malahan nampak tak suka dengan sikap dan ucapan Ilse yang dituduhkan pada Gadis secara tidak langsung.
Ilse menegakkan tubuhnya kemudian, melemparkan senyumnya pada Putra. Lalu ia berkata lagi. “I’m just telling my opinion (Aku hanya mengatakan pendapatku)”
“.......”
“Anthony was so sweet and nice to me before he know her, from what I saw (Anthony sangat manis dan baik padaku sebelum ia mengenalnya, dari apa yang kulihat)”
Ilse melirik Gadis.
‘I smell jealously (Aku mencium kecemburuan)’
Danny membatin. Geli sendiri dalam hatinya. Namun dia menahan diri untuk tidak nyeletuk.
“Anth still whatever he is, before and after know you (Anth masih seperti halnya dia saat sebelum dan sesudah mengenal dirimu)”
Sekilas terdengar kalau Putra juga membela Gadis, selain Anthony dari ucapannya barusan.
Meskipun memang sebenarnya ucapan Ilse itu ditujukan untuk menjatuhkan Gadis dihadapan Putra, Anthony dan Danny.
“Well, Gadis. Apa kamu benar – benar memiliki tugas untuk mendampingi Dokter saat ini?” Tanya Putra pada Gadis karena rasanya ia sudah enggan menanggapi Ilse. Wajah Putra bahkan terlihat tidak enak saat bertanya pada Gadis saat ini.
“Iya...”
__ADS_1
“See, I am right? (Lihat kan, aku benar?)”
Putra sepertinya menjadi sedikit kesal atas jawaban Gadis. Karena Anthony pasti kecewa dan sedih.
“Jika begitu, seharusnya kamu bilang sedari tadi Gadis ... ja ....”
“Iya, aku memang dijadwalkan untuk mendampingi Dokter Retno hari ini ...”
Gadis menyambar omongan sebelum Putra meneruskan ucapannya. Putra pun diam, membiarkan Gadis berbicara.
“Namun berhubung Dokter Retno ada panggilan operasi mendadak, maka aku tidak jadi mendampinginya hari ini”
Putra menyunggingkan senyum.
“Seharusnya kamu tetap menemani Dokter Retno, Suster”
“Saya perawat Junior Dokter Ilse, yang menemani para Dokter di dalam kamar operasi adalah perawat Senior”
“Lalu, kamu pasti punya banyak tugas lain bukan?”
“Kebetulan tidak”
Gadis menyahut cepat namun sikapnya begitu tenang. Tetap bersikap sopan pada Dokter wanita di hadapannya itu.
“Jadi kamu tetap bisa pergi bersama kami?”
“Iya” Jawab Gadis sembari mengangguk pelan pada Putra yang jelas mengabaikan Ilse, dan Dokter itu merutuk dalam hatinya.
“Baiklah jika begitu, mari. Kita sudah cukup menunda waktu disini”
Putra melanjutkan lagi ucapannya, dengan hanya menatap Gadis dan seolah menghiraukan keberadaan Ilse sekarang.
“Iya....”
“Would you please excuse us, Doctor?”
“(Bisa tolong kau membiarkan kami pergi, Dokter?)”
Putra menatap Dokter Ilse dan mengkode agar Dokter itu menyingkir agar mereka bisa melanjutkan langkah. Terdengar dengusan kecil dari Ilse dengan wajah yang menunjukkan ketidak sukaan. Dan melirik sinis pada Gadis.
“Aku banyak pasien hari ini, dan kulihat kau begitu santai. Aku pun belum dapat pergi makan siang, jadi sebaiknya kamu membantuku” Ilse yang nampak tak rela melihat Gadis pergi dengan Putra dan Anthony berikut Danny itu kembali mencoba mengagalkannya.
‘Oh ya Tuhan, Dokter Ilse ini kenapa sepertinya terlihat tidak rela aku dekat – dekat dengan Anthony?’
Gadis membatin.
‘Eh, atau jangan – jangan Dokter Ilse cemburu sama aku karena aku pergi dengan Putra begitu?’
Selain Dokter itu rasanya seperti mencari gara – gara dengan Gadis, Putra mengkhawatirkan jika Anthony sudah kelaparan, sama seperti dirinya sekarang.
“Look .....”
“Dengan segala hormat Dokter Ilse ...”
Lagi – lagi Gadis keburu bicara sebelum Putra menyelesaikan ucapannya.
“Hari ini jadwal liburku sebenarnya, tapi aku diminta khusus datang oleh Dokter Retno karena ia merasa cocok denganku. Dan karena hari ini Dokter Retno ada operasi, jadi Dokter Retno memintaku untuk melanjutkan liburku. Dan seharusnya aku memang sudah pulang sejak pagi tadi, namun berhubung aku sudah berjanji pada Anthony hari ini, maka itu aku masih disini”
Cerocosan Gadis, namun tetap dengan sikapnya yang sopan itu membuat Dokter Ilse bungkam pada akhirnya.
Putra menyunggingkan senyumnya. “Now, please excuse us. You heard what she said, don’t you? She’s off today (Sekarang, kami permisi. Kau dengar yang dia katakan, bukan?. Hari ini dia libur)”
Putra berkata dengan Lugas pada Ilse.
“Shall we (Mari)”
‘Eh?’
Tanpa sadar Putra meraih pergelangan tangan kiri Gadis dan membawanya pergi untuk melangkah menjauhi Ilse, setelah lebih dulu mengangkat Anthony untuk ia gendong
***
Putra yang masih memegangi pergelangan Gadis untuk menjauh dan meninggalkan Ilse di tempatnya itu sudah mencapai lobi depan Rumah Sakit. “Are all of Doctors here loquacious like her? ... (Apa semua Dokter disini cerewet sepertinya? ...)” Putra terdengar seperti menggumam. Lebih seperti menggerutu tepatnya.
Danny yang mendengar gerutuan Putra terkekeh saja.
“Kenapa Putra?” Gadis yang berpikir Putra berbicara padanya itu, spontan bertanya.
“Hem?”
“Aku mendengarmu bicara tadi, tapi tidak jelas. Apa kamu bicara padaku?”
Putra mengerutkan kening sesaat, namun kemudian ia ingat kalau sempat menggerutu tadi.
“Oh, bukan apa – apa. Aku tidak sedang bicara padamu” Sahut Putra.
“Do-n’t mad Papa (Ja-ngan marah Papa)”
“No Anth. I am not mad (Tidak Anth. Aku tidak marah)”
“Maaf ya, aku jadi membuat Anthony telat makan siang”
__ADS_1
“Bukan salahmu” Sahut Putra.
“Tapi .....”
“Sudah kubilang bukan salahmu Gadis ....”
“Iya, itu....” Gadis seperti ragu - ragu untuk berbicara.
“Apa?”
“Kamu mungkin sudah bisa melepaskan tanganku sekarang”
“He-m?”
Putra sedikit terkesiap.
Dan matanya mengikut arah mata Gadis yang mengkode kebawah, tempat tangannya berada.
Spontan Putra langsung melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Gadis yang tersenyum simpul.
“Sorry ...”
“Chance in a cramped (Kesempatan dalam kesempitan)”
Danny meledek Putra dengan pelan, namun Putra dapat mendengarnya.
“I really going to cut your salary (Aku akan benar – benar memotong gajimu)”
Putra mendelikkan lagi matanya pada Danny sembari berkata pelan dengan ekspresi penuh arti yang malah membuat Danny terkekeh.
***
“Jadi kita mau makan dimana?” Tanya Gadis pada Putra juga pada Danny.
“Aku ikut saja Nona ....” Jawab Danny sopan.
“Putra?”
“Bukankah tadi aku katakan kalau kamu saja yang menentukan?”
“Aduh aku jadi bingung”
Gadis menggaruk pelan bawah kepalanya.
“Bagaimana kalau tanyakan pada Anthony, dia mau makan apa?”
Putra mengangguk lalu menanyakan jika ada makanan khusus yang bocah tersebut inginkan.
***
“Aduh, jadi makin bingung aku kalau begitu”
Putra tersenyum saja melihat wajah Gadis yang memang kebingungan menentukan pilihan setelah Anthony juga mengatakan terserah Gadis saja.
“Ya sudah begini saja, kita makan di tempat kemarin saja? Takutnya terlalu lama Anthony menunda makan, malah kurang baik untuk perutnya”
Putra pun langsung mengangguk.
“Mari”
Gadis mempersilahkan Putra yang menggendong Anthony untuk jalan duluan.
“What should a man say, Anth? (Apa yang harus pria katakan, Anth?)” Putra menoleh pada Anthony dengan tersenyum.
“La-dies first (Wa-nita lebih dulu)”
Sontak saja Gadis terkekeh dan merasa gemas pada Anthony lalu langsung mencubit gemas pipi Anthony.
“Wah, Gentleman sekali!” Ucap Gadis sumringah.
“Please.....” Putra mempersilahkan.
“Terima kasih......”
“....”
“Tapi sebaiknya kita jalan bersama saja?”
“Baiklah jika anda memaksa, Nona” Guyon Putra yang membuat Gadis sedikit tertawa.
Lalu ke empat orang yang berinteraksi akrab itu berjalan menjauhi lobi depan Rumah Sakit.
Tanpa ke empat orang di lobi depan Rumah Sakit ada sepasang mata yang memperhatikan gerak – gerik mereka dengan tak senang.
Terutama pada perawat yang nampak begitu akrab pada seorang bocah yang digendong oleh Papa super tampan. Dan perawat itupun juga nampak akrab tidak hanya dengan sang bocah dalam gendongan, namun juga dengan papanya.
“Flirtatious woman! (Dasar perempuan genit!)”
***
To be continue ....
__ADS_1