
Happy reading..
🍰🍰🍰🍰🍰
Damian langsung saja melemparkan sebatang rokok yang tadinya sudah akan ia sulut kepada Putra yang seenaknya saja bicara soal ia yang ingin menikahi Gadis dalam tiga hari ke depan.
“Crazy! ( Gila! )”
Addison, Bruna, Damian dan Garret sama berucap satu kata tersebut.
“I am ( Memang iya)” Jawab Putra masa bodoh dengan tangannya yang kemudian menyelipkan sebatang rokok yang Damian lempar padanya barusan disela bibirnya.
Kemudian Putra menoleh pada Gadis yang nampak geleng-geleng saat Putra menyulut rokok yang tadi Damian lempar, lalu Putra tangkap. Putra pun terkekeh kecil.
“Bagus bukan ideku?”
“Bagus apanya?!”
Gadis mencebik.
“Mereka benar. Kamu gila!”
“Aku hanya ingin cepat-cepat menikahimu” Cetus Putra.
“Ya tapi tidak dalam waktu tiga hari juga!”
“Memang kenapa?”
“Ya menikah kan butuh persiapan Putraaa....”
Gadis geleng-geleng saja.
“I want to make a tea ... Is any of you want tea too?... Or coffee? ( Aku ingin membuat teh...... Apa ada diantara kalian yang mau teh juga? .... Atau kopi? )....”
“Coffee please .. ( Kopi ya ..... )”
“Okay.....” Gadis mengangguk pada Putra. “Black? ( Kopi hitam? )”
Gantian Putra yang mengangguk. “Buat saja kopi hitam tanpa gula untuk kami semua jika kamu tidak merasa repot, Gadis”
Gadis manggut-manggut kemudian.
“Let me help you ( Mari ku bantu )”
Bruna berdiri dari duduknya dan langsung mendekati Gadis.
Lalu dua wanita itu berjalan menuju dapur Kediaman Putra dan keluarganya yang berada di Ibukota itu.
***
“Seriously, I ask for three of you opinion about my plan to marry Gadis in three days a head ( Serius, aku meminta pendapat kalian bertiga tentang rencanaku untuk menikahi Gadis dalam tiga hari ke depan )...”
Putra melanjutkan pembicaraannya.
“As we said seriously also ... ( Seperti yang kami katakan dengan serius juga )...”
Garret bersuara.
“You are crazy! ( Kau itu gila! )”
Damian dan Addison langsung saja manggut-manggut mengiyakan ucapan Garret.
“Just have to find a priest, and I’m sure Danny or Arthur can find it in one day .... Then go to Bridal Boutique to find a wedding dress and suit for me... Which I’m sure that they must be have some ready-to-buy wedding clothes... ( Hanya mencari pendeta, dan aku yakin Danny atau Arthur dapat menemukannya dalam satu hari ... Lalu pergi ke Butik Bridal untuk mencari gaun pengantin dan jas untukku... Yang mana aku yakin jika mereka pasti memiliki yang pakaian pengantin yang siap-untuk-dibeli )...”
__ADS_1
“Heh! Sounds very easy for you saying it! ... ( Mudah sekali kau mengatakannya! ) ....”
“It is just a simple like that, right?.... ( Memang semudah itu, bukan? ) .....”
“Cih!” Garret, Damian dan Addison dan sama-sama berdecih menatap pada Putra.
“I even think that you and Bruna can do the marriage together in the same day with me and Gadis..... ( Aku bahkan berpikir jika kau dan Bruna bisa menikah bersama denganku dan Gadis dihari yang sama ) ......”
Putra menatap Addison.
“Hey, stupido! ( Bodoh! )”
Addison langsung bersuara.
“Even Rery prepared his marriage with Madelaine in one week ...”
“( Bahkan Rery menyiapkan pernikahannya dengan Madelaine dalam satu minggu )....”
“*Indeed*! ( Benar! )”
Garret dan Damian langsung sama-sama menyahut.
“Rery gave Madelaine his Mom wedding dress to wear ... Even Rery made the Mansion at Ravenna’s backyard become a beautiful flowers land for Madelaine .... You know what that means?. Because the day when you take a woman to the Altar and especially if the woman is someone that you really loved, it means that moment is so special .....”
“( Rery memberikan Madelaine gaun pengantin ibunya untuk Madelaine pakai ... Rery bahkan membuat halaman belakang Kediaman di Ravenna menjadi sebuah ladang bunga yang indah untuk Madelaine ... Kau tahu apa artinya?. Karena hari dimana kau membawa seorang wanita ke atas Altar dan terutama jika wanita itu adalah seseorang yang amat kau cintai, itu adalah sebuah momen yang spesial ).....”
Putra terdiam. Sedang menelaah ucapan Addison yang panjang lebar barusan.
“I agree if we marry in the same day... But still we need to do a good preparation to make Bruna and Gadis feel that they over the moon when we take them as our wife ..... ( Aku setuju jika kita menikah di hari yang sama... Tapi kita tetap harus melakukan persiapan yang baik untuk membuat Bruna dan Gadis merasa sangat bahagia saat kita menjadikan mereka istri kita ) ....”
“We know that you want to marry Gadis because you seriously loved her, and also want to make Anth becomes more happy. But like Add said, it needs some preparation which you can’t be able to do that less than three days .....”
“( Kami tahu kau ingin menikahi Gadis karena kau serius mencintainya, dan juga ingin membuat Anth jauh lebih bahagia. Tapi seperti yang Add katakan, itu membutuhkan persiapan yang tidak bisa kau lakukan kurang dari tiga hari ) ....”
“You know why me and Bruna haven’t marry untill now?... ( Kau tahu mengapa aku dan Bruna belum menikah sampai sekarang? ) ...”
Addison berbicara lagi.
“Because I wait everything set just like what Bruna wants. A wedding ceremony that becomes her dreams ( Karena aku menunggu semuanya siap seperti apa yang Bruna inginkan. Sebuah upacara pernikahan yang menjadi impiannya )...”
Putra masih terdiam.
“I also like you. Was. Want to marry Bruna as soon as possible... But then I feel than I’m selfish if I don’t ask her opinion also. And after she told me, I’m preparing it for her....”
“(Aku juga sama sepertimu. Tadinya. Ingin menikahi Bruna secepatnya... Tapi kemudian aku merasa egois jika aku tidak menanyakan pendapatnya juga. Dan setelah dia mengatakannya padaku, maka aku menyiapkan untuknya )....”
Addison menambahkan.
“A wedding, that becomes my beloved woman dreams ( Sebuah pernikahan, yang menjadi impian wanita yang aku cintai )”
“And I’m sure, Gadis has her wedding dreams also.... ( Dan aku yakin, Gadis juga memiliki pernikahan impiannya juga ) .....” Timpal Damian sembari menatap Putra yang mematikan puntung rokok dalam asbak.
“I see.... ( Aku mengerti ) ....”
Putra kemudian menyahut sembari manggut-manggut.
Pembicaraan ke empat pria tersebut pun terhenti saat Bruna dan Gadis sudah kembali dari dapur.
Dan topik tentang pernikahan tidak dibahas lagi oleh Putra.
****
Putra sudah berada di dalam kamar pribadinya di Kediaman yang berada di Ibukota.
__ADS_1
Putra menarik sudut bibirnya, kala ia menatap ke arah ranjangnya. Melihat pada dua orang yang sudah terlelap di atas sana.
Dua orang yang mampu menghangatkan hati Putra. Anthony dan Gadis.
Dimana Gadis nampak tidur sangat dekat disisi Anthony, dengan tangan Gadis yang berada di kepala, pada rambut bocah tampan itu.
Sepertinya Anthony melindur. Dan Gadis yang memang sudah sedari tadi Putra sudah minta untuk istirahat duluan, menenangkan Anthony dengan mengusapi rambut Anthony.
Dan kini, nampaknya Gadis pun sudah jatuh terlelap.
Sungguh Putra bahagia. Melihat betapa Gadis menyayangi Anthony dengan tulus.
Dan ketulusan kasih sayang itu dapat Putra baca dari sikap dan gelagat Gadis selama ini.
Gadis bukan wanita penggali harta.
Putra yakin betul akan hal itu.
‘You were so right about Anth, Rery.... (Kau sangat benar tentang Anth, Rery) ...”
Putra yang sudah mendekat pada ranjang itu membatin sembari memandangi Anthony yang nampak tidur dengan damai di dekapan Gadis.
‘He has a gift to read people.. (Dia punya bakat untuk membaca sifat orang)...’
Putra membatin lagi seraya tersenyum.
“And because of that, I can have her now (Dan karena itu, aku bisa memilikinya sekarang)”
Tangan Putra yang dirinya sedikit merunduk didekat Gadis itu, menyentuh pelan surai Gadis sembari Putra menggumam lalu tersenyum.
“Just like you gave Madelaine her dream wedding .... I will give Gadis, her dream wedding also ... (Sepertimu yang mewujudkan pernikahan impiannya Madelaine .... Aku juga akan memberikan Gadis pernikahan impiannya)...”
Putra kemudian menegakkan kembali tubuhnya, lalu mengambil pakaian tidur dari dalam lemari di kamar pribadinya itu.
****
“Rery gave Madelaine his Mom wedding dress to wear ... Even Rery made the Mansion at Ravenna’s backyard become a beautiful flowers land for Madelaine .... You know what that means?. Because the day when you take a woman to the Altar and especially if the woman is someone that you really loved, it means that moment is so special .....”
“( Rery memberikan Madelaine gaun pengantin ibunya untuk Madelaine pakai ... Rery bahkan membuat halaman belakang Kediaman di Ravenna menjadi sebuah ladang bunga yang indah untuk Madelaine ... Kau tahu apa artinya?. Karena hari dimana kau membawa seorang wanita ke atas Altar dan terutama jika wanita itu adalah seseorang yang amat kau cintai, itu adalah sebuah momen yang spesial ).....”
Putra teringat ucapan Addison kala ia sudah masuk ke kamar mandi pribadinya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian tidur.
“And I’m sure, Gadis has her wedding dreams also.... ( Dan aku yakin, Gadis juga memiliki pernikahan impiannya juga ) .....”
Lalu mengingat juga ucapan Damian, yang membuat Putra sadar betapa egoisnya dia jika hanya memutuskan pernikahannya dengan Gadis secara sepihak, tanpa menanyakan bagaimana keinginan Gadis soal pernikahan.
“But have you told Gadis about who we are? .... If haven’t, better you told her (Tapi apa kau sudah mengatakan pada Gadis tentang siapa kita? .... Jika belum, sebaiknya kau katakan padanya) .....”
Namun Putra teringat juga pada ucapan Garret, sesaat sebelum mereka membubarkan diri selepas Gadis dan Bruna pergi beristirahat duluan.
Putra kemudian membasuh wajahnya.
“Jika kamu tahu tentang alasanku berada disini, kebenaran tentangku, tentang siapa sebenarnya diriku ... Apa kamu akan memintaku melepaskanmu? .....”
Putra berbicara sendiri dengan kepalanya yang tertunduk di atas wastafel sembari ia memejamkan mata.
Kemudian Putra menghela nafas seraya mengangkat kepalanya.
Dimana Putra langsung tercenung melihat refleksi seseorang dari cermin yang berada di dinding wastafel.
“Jadi katakan ... apa alasan kamu berada disini? Termasuk, kebenaran tentangmu, tentang siapa sebenarnya dirimu, Putra ....”
****
__ADS_1
To be continue ....