LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 206


__ADS_3

Happy reading...


************


Indonesia....


“Still there’s no call from Papa? ( Masih tidak ada telepon dari Papa? )”


Itu Anthony yang bertanya pada salah seorang ayah angkatnya.


“No, Anth. Not yet  ( Tidak, Anth. Belum ) ...”


Dan sebuah jawaban keluar dari mulut salah satu ayah angkat Anthony itu.


Addison, yang sedang bersama Anthony saat ini. Berikut satu ayah angkat Anthony yang lain, yakni Damian.


“I hope Papa will be okay and comeback here soon ( Aku berharap Papa akan baik-baik saja dan kembali kesini secepatnya )”


Addison yang melihat Anthony nampak gundah dan lesu itu, langsung membawa bocah tersebut dalam dekapannya, seraya menampakkan senyuman dan mengatakan jika Putra pasti baik-baik saja dan akan segera kembali ke tengah-tengah mereka.


“Why Papa still not calling?.. Is he don’t miss me and Gadis? ( Mengapa Papa masih belum menghubungi?.. Apa dia tidak merindukanku dan Gadis? ) ...” Lirih Anthony, dimana Addison langsung membelai kepala bocah tampan tersebut.


“I’m sure that he miss you and Gadis that much ( Aku yakin kalau dia sangat merindukanmu dan Gadis )....” Ucap Addison.


Kemudian Anthony melingkarkan tangan kecilnya ke belakang leher Addison, yang sedang duduk memangkunya. “If something bad happened to Papa just like what happened to Daddy and Mommy, then I don’t want to stay in this world anymore, Padre ( Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Papa seperti yang terjadi pada Daddy dan Mommy, maka aku tidak ingin tinggal di dunia ini lagi, Padre ) ..”


‘Oh Anth....’


“Don’t talk like that Anth.... We don’t like to hear you said that ( Jangan berbicara seperti itu Anth.... Kami tidak suka mendengar kamu berbicara seperti itu ) ....”


Damian langsung bersuara. Dia mengusap pelan pucuk kepala Anthony yang sedang memeluk Addison dan nampak seperti bergelayut manja. Damian merasa tak tega juga melihat Anthony yang wajahnya nampak muram itu.


“Don’t think about bad things, would you? ( Jangan berpikir tentang hal-hal yang buruk, ya? ) .... That’s not good ( Itu tidak baik )....”


Addison menimpali ucapan Damian barusan.


“I’m sorry Padre, Daddy Dami. I’m just worry about Papa Putra ( Maafkan aku Padre, Daddy Dami. Aku hanya mengkhawatirkan Papa Putra ) ....” Lirih Anthony.


“Papa Putra will be okay ( Papa Putra akan baik-baik saja ).... Trust me ( Percayalah padaku )....” Ucap Damian.


“Daddy Dami was right.... Papa Putra will be okay. He’s a strong man, remember? .... He’ll be home soon ( Daddy Dami benar.... Papa Putra akan baik-baik saja. Dia itu pria yang kuat, ingat? .... Dia pasti akan pulang secepatnya )”


Addison mengurai pelukan Anthony padanya.


“Nothing bad will be happened to Papa Putra. I’m sure about it .... And you have to sure about it too ( Tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada Papa Putra. Aku yakin itu .... Dan kamu juga harus meyakininya ), hem?”


“Yes ( Iya ) , Padre”


Anthony menganggukkan kepalanya.


***


Malam sudah sampai pada langit di atas Villa.


Mereka yang berada di Villa melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun minus dua anggota keluarga dari sejak beberapa hari yang lalu.


Dan seperti kebiasaan yang selalunya dilakukan oleh mereka yang tinggal bersama Putra di Villa, ada waktu untuk bercengkrama sebelum sampai ke waktu tidur.


Suatu kegiatan yang dulunya diterapkan oleh almarhum Rery dan istrinya sejak di Ravenna, agar terjalin ikatan yang lebih erat layaknya keluarga.

__ADS_1


Berbeda saat di Inggris, karena saat Rery masih menjadi Tuan Muda di Kediaman megah milik keluarganya, perbedaan kasta cukup kentara, dan Rery tidak dibebaskan bergaul dengan siapa saja.


Barulah setelah mengenal Madelaine, Rery berani memberontak hingga perselisihan terjadi antara Rery dan ayahnya, yang membuat Rery memutuskan untuk pergi dari Inggris bersama Madelaine yang telah dinikahinya lalu pindah ke Ravenna.


Sejak itu, Rery memperlakukan semua yang memilih ikut dengannya sebagai keluarga dan saudara.


Meskipun mereka tetap memposisikan Rery sebagai seorang Tuan Muda mereka yang patut di patuhi dan dihormati, mengingat Rery adalah pribadi yang bersahaja.


Kegiatan bercengkrama selepas makan malam, adalah salah satu yang dibuat Rery menjadi sebuah ‘kebiasaan’ agar tali persaudaraan mereka kian kuat setiap detiknya. Dan hal itu dibawa Putra untuk dipertahankan agar terus dilakukan, terlebih setelah tragedi di Ravenna, hanya sedikit saja orang setia Rery yang tersisa.


Jadi Putra akan mempertahankan segala kebiasaan, yang dapat membuat dia dan mereka yang bersamanya mempunyai ikatan yang sangat kuat, meski tidak sedarah. Bahkan bisa mengalahkan kuatnya ikatan darah sekalipun.


Jadi saat ini, Anthony, Addison, Bruna, Damian termasuk Gadis, tetap melakukan kebiasaan duduk bersama untuk sekedar bercengkrama singkat meskipun Putra, berikut Garret sedang tidak ada di Villa.


Kalau Danny memang tidak setiap hari menginap di Villa, jika ia sedang pergi ke Restoran milik Putra dan keluarganya yang sudah dipercayakan pada Danny untuk mengurusnya.


Biasanya, jika restoran sedang ramai pengunjung, Danny tidak akan kembali ke Villa dan tidur di sebuah rumah yang ia sewa di kota, tak jauh dari Restoran.


Sementara Arthur yang juga sudah dianggap keluarga, punya tugasnya sendiri di Ibukota. Jadi Arthur jarang-jarang berada di Villa.


Jadilah hanya lima orang tersebut diatas saja yang sedang berada di Villa saat ini.


Hanya saja, suasana bercengkrama saat ini sedikit terasa kaku, selain agak sepi.


Berikut rasa khawatir yang ada di relung hati setiap orang yang sedang duduk bersama di ruang santai Villa.


Karena masing-masing orang sedang memikirkan Putra yang katanya akan bertolak ke Italia untuk menghadapi orang yang sangat ingin Putra habisi tanpa sisa.


Denting jam dinding yang menandakan waktu sedang berada tepat di sebuah angka pun terdengar menggema dalam Villa.


“Time to sleep ( Waktunya untuk tidur ), Anth....”


Salah satu ibu angkat Anthony itu mengingatkan si bocah tampan untuk segera beristirahat.


“Ayo Anthony.” Gadis ikut berucap pada Anthony. Selama Putra tidak ada, memang Anthony akan tidur bersamanya.


Baik di kamar pribadi Anthony, ataupun di kamar pribadi Gadis dan Putra.


“Later Madre, Mama Gadis. I still want to wait here, because maybe Papa will call ( Nanti Madre, Mama Gadis. Aku masih ingin menunggu disini, karena mungkin saja Papa akan menelpon ) ....”


Anthony menolak ajakan dua ibu angkatnya tersebut. “It’s even already passed your sleep time ( Ini bahkan sudah lewat waktu tidurmu ), Anth.”


Gadis berujar.


“But I haven’t feel sleepy yet ( Tetapi aku belum merasa mengantuk ) ....”


Anthony masih memberikan penolakan untuk segera pergi tidur. Karena ia benar-benar berharap akan ada telepon dari Putra malam ini.


“Be a good boy, Anth .... And listen to what Madre and Mama Gadis said ....”


“( Jadilah anak baik, Anth .... Dan dengarkan perkataan Madre serta Mama Gadis .... )”


Damian ikut bersuara.


“But how If Papa Putra call, then he wants to talk with me, but I already sleep? ....”


“( Tapi bagaimana jika Papa Putra menelepon, lalu ia ingin bicara denganku, tetapi aku sudah tidur? .... )”


Anthony nampak masih kukuh untuk tetap berada di tempatnya sekarang.

__ADS_1


“Then we will tell Papa Putra that you are waiting for his call and very eager to talk with him.”


“( Maka kami akan mengatakan pada Papa Putra bahwa kamu menunggu teleponnya dan sangat ingin berbicara dengannya )”


Addison yang menyahut.


Satu ayah angkat Anthony itu mencoba memberikan jawaban yang kiranya membuat Anthony mau untuk segera pergi tidur.


“And if Papa Putra called, we will asked him whether he allowed us to wake you up or not if he also want to talk with you. How about that, hem?”


“( Dan jika Papa Putra menelepon, kamu akan bertanya padanya apakah ia mengijinkan untuk membangunkanmu andai ia ingin berbicara padamu. Bagaimana kalau begitu, hem? )”


Bruna lalu menambahkan ucapan Addison. Lalu hembusan nafas yang terdengar berat terdengar dari Anthony. “Okay, I’ll go to sleep now. ( Baiklah, aku akan pergi tidur sekarang )” Jawab Anthony.


Bocah tampan itu akhirnya menurut untuk lekas tidur, karena memang sudah sampai jam tidurnya Anthony. Bahkan sudah terlewat, seperti yang dikatakan Gadis tadi. Dimana Addison, Bruna, Damian dan Gadis pun sama-sama menarik sudut bibir mereka saat Anthony mendengarkan ucapan dan saran mereka.


Anthony pun segera beranjak dari duduknya. Lalu memberikan kecupan dan ucapan selamat malam pada Addison dan Damian. Sementara pada Bruna yang selama Putra tidak ada juga kadang menemani Anthony sampai ia terlelap, akan dilakukan saat di kamar nanti. Termasuk pada Gadis yang selama beberapa hari ini selalu tidur bersamanya.


Anthony yang meminta Gadis agar tidur bersamanya selama Putra tidak ada.


Bukan karena Anthony ingin bersikap manja sekali pada Gadis saat Putra tidak ada. Melainkan Anthony tahu jika Gadis merasa kesepian saat Putra tidak ada.


Jadilah ia meminta Gadis agar tidur bersamanya selama Putra tidak ada, meskipun Anthony tidak masalah jika ia tidur sendiri di kamarnya. Anthony hanya tidak tega melihat Mama Gadis-nya bersedih, karena mengkhawatirkan Papa Putra. Selain karena Mama Gadis merindukan Papa Putra-nya juga.


Jadi Anthony berpikir, jika Mama Gadis-nya tidur bersamanya selama Papa Putra tidak ada, setidaknya Mama Gadis tidak akan terlalu larut dalam kekhawatiran pun kesedihannya, karena sebelum tidur mereka bisa saling bercerita dan bercanda, untuk sedikit menghilangkan gundah.


***


Anthony sudah pergi menyusuri anak tangga untuk pergi ke lantai atas Villa dimana kamarnya dan kamar orang tua angkat terdekatnya berada dengan ditemani oleh Bruna.


Sementara Gadis akan menyusul, karena ia akan membuatkan susu untuk Anthony yang memang selalu Anthony minum sebelum bocah tampan itu tidur malam.


“Putra really haven’t call again? ( Putra benar-benar belum menghubungi lagi? ) ....”


Selain memang hendak membuatkan susu untuk Anthony, namun ada alibi lain yang menjadi alasan Gadis meminta Bruna membawa Anthony ke kamar lebih dulu.


Gadis ingin leluasa bertanya pada Addison dan Damian tentang kabar dari Putra.


“Yes, he haven’t made another call here again ( Iya, dia belum menghubungi kesini lagi ), Gadis.” Addison yang menjawab. Gadis kemudian manggut-manggut sembari melipat bibirnya, lalu menghela pendek nafasnya.


Namun helaan nafas Gadis terdengar sedikit berat. “Can’t we just call him to Vader’s place? ( Apakah tidak bisa kita menghubunginya ke tempat Vader? )” Tanya Gadis lagi.


“We can, but I think that we supposed to wait, because Putra also have to do some important things at there ( Bisa saja, tetapi aku pikir kita harus menunggu, karena Putra juga memiliki hal penting untuk dilakukan disana )”


Kini Damian yang menjawab pertanyaan Gadis.


"I'm afraid that our call will disturb him there. ( Aku khawatir panggilan telepon kita akan mengganggunya disana )"


“I see....” Gadis manggut-manggut lagi.


Wajah Gadis nampak lesu. Hingga membuat Addison dan Damian merasa tak tega melihat Gadis yang nampak tersiksa dengan kekhawatirannya pada Putra.


“What did Putra said when the last time he talked to you ( Apa yang Putra katakan saat terakhir kali dia berbicara denganmu ), Ad?”


Gadis mengajukan pertanyaan lagi.


“He said, if there’s no call for him anymore along this day or several times, means that he already off to Ravenna ( Dia mengatakan, jika tidak telepon lagi darinya dalam hari ini atau beberapa waktu, itu artinya dia sudah bertolak ke Ravenna ) ....”


***

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2