
Happy reading ...
**************
“Dia bilang apa Pak Abdul?”
“Dia mengancam Tuan” Jawab Pak Abdul pada Putra yang ia temui didalam ruang kerja dan Garret, Damian dan Addison juga masih bersama Putra saat ini.
“Apa yang dia katakan?” Tanya Putra lagi pada pelayan terpercayanya itu.
“Dia bilang akan membuat perhitungan kalau dalam masa dua hari, Tuan tidak mengabulkan keinginannya”
“Huummmm....”
“Sebaiknya Tuan Putra beserta semuanya hati – hati Tuan”
“Memang dia bisa apa?” Tanya Putra kembali. “Apa yang sekiranya dia akan lakukan pada kami?”
“Apapun Tuan Putra. Dia itu orang licik, terkenal jahat dan menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Dan dia juga punya cukup banyak beking sepertinya, makanya dia sok begitu”
Putra pun manggut – manggut.
“Dua hari ya?” Tanya Putra. “Dua hari katanya dia mau membuat perhitungan dengan kami jika kami tidak mau bekerjasama?”
“Iya Tuan” Jawab Pak Abdul seraya mengangguk. “Kira – kira begitu” Sambung Pak Abdul.
“Baiklah” Ucap Putra dengan santai.
Pak Abdul memandangi Putra yang sedikit ia tak pahami ucapan ‘Baiklah’ yang Putra katakan barusan dengan wajah yang tenang.
“Maksud Tuan?”
“Aku mau lihat apa yang akan dia lakukan padaku dalam dua hari ke depan karena aku tidak akan memberikan apa yang dia inginkan”
“Tapi saya khawatir , Tuan”
Pak Abdul masih memandangi salah satu Tuannya itu.
“Tidak perlu khawatir pada kami Pak Abdul”
Putra berkata dengan tenangnya.
“Pak Abdul boleh pergi”
Putra kemudian berbicara pada tiga saudaranya yang duduk di sofa dengan menghisap batangan nikotin di tangan mereka masing – masing.
**
“Cih! Village hooligan! ( Dasar berandalan kampung! )”
Garret berdecih dan berkata sinis setelah Putra bercerita padanya, Damian dan juga Addison perihal kedatangan laki – laki bernama Baskoro tadi.
Damian dan Addison juga sama berdecih sinis. Lalu mentertawakan pria bernama Baskoro itu bersama – sama. “Now we just wait what he can do after two days ( Sekarang kita tunggu saja apa yang bisa dia lakukan setelah dua hari )”
“Ya, I wonder what what that hooligans could do ( Aku penasaran apa yang dapat berandal itu lakukan )”
“Heemm....” Sahut Putra, Damian dan Addison.
__ADS_1
****
Dua hari kemudian ..
Sesuai janji Putra pada Anthony, akhir pekan ini dia akan membawa Anthony untuk menemui Gadis di Ibukota. Putra tak putus menyunggingkan senyumnya melihat Anthony yang nampak gembira saat ini. Dia sudah tak ambil
pusing soal ancaman dari laki – laki bernama Baskoro itu padanya dua hari yang lalu.
“Ingat Pak Abdul, jika ada sesuatu yang mencurigakan atau Pak Abdul, Ibu Marsih dan Suheil merasa terancam, Pak Abdul segeralah menghubungiku di nomor yang sudah Danny berikan padamu”
“Baik Tuan”
“Pak Abdul akan langsung terhubung dengan Danny atau denganku nanti”
“Iya Tuan” Jawab Pak Abdul dengan sopan kembali.
“Kami akan kembali lusa atau tiga hari lagi kesini. Tapi jika laki – laki bernama Baskoro itu membuat ulah disini, Pak Abdul segeralah membuat panggilan telepon ke nomor yang aku bilang tadi”
“Baik Tuan, saya mengerti"
"Jika bukan saya atau Danny yang menerima, melainkan Dami, Ad, Garret ataupun Bruna, minta Suheil yang bicara. Kemampuan bahasa Inggrisnya sudah lumayan meningkat sekarang”
“Iya Tuan”
“Baiklah Pak Abdul, kami pergi dulu” Ucap Putra seraya berpamitan.
“Hati – hati di jalan Tuan – Tuan, Madam Bruna, Tuan Muda” Jawab Pak Abdul seraya mengucapkan selamat jalan pada para Tuannya yang akan pergi ke Ibukota selama beberapa hari”
Putra dan para saudaranya itu mengangguk pada Pak Abdul dengan menunjukkan senyumnya, termasuk juga Anthony.
Lalu Putra dan yang lainnya bergegas pergi dengan dua buah mobil mereka keluar dari halaman Villa pribadi mereka.
**
Anthony nampak begitu bersemangat. Bahkan saking bersemangatnya, bocah itu bahkan tidak sampai tertidur selama perjalanan.
“Are you not sleepy, Anth? ( Apa kamu tidak mengantuk, Anth? )”
“N-o Papa ..... ( Ti-dak Papa.. )”
“Anth is too excited right now to meet Gadis, right Anth?”
“( Anth begitu bersemangat saat ini untuk bertemu dengan Gadis, benar kan Anth? )”
Anthony mengangguk antusias pada Bruna yang duduk disampingnya.
“Your Papa also look excited Anth ( Papamu juga nampak bersemangat Anth )”
“Tsk!”
Putra berdecak malas mendengar ledekan Addison yang kemudian terkekeh kecil, termasuk juga Bruna dan Danny yang menyetir mobil. Sementara Anthony tersenyum lebar.
“I am right, am I, Anth? ( Aku benar kan, Anth? )”
Anthony mengangguk lagi sembari menatap Addison dengan tetap tersenyum.
“Of-course Papa excited. Be-cause Papa like Gadis very much .... ( Ten-tu saja Papa bersemangat. Ka-rena Papa sangat menyukai Gadis .... )”
__ADS_1
“Haish....” Putra mendengus pasrah atas ucapan Anthony.
“Yo-u like Gadis right, Papa? ( Kamu menyukai Gadis kan, Papa? )”
Putra terdengar mendengus lagi.
“This is how it’s going to be, if a kid commingle with a bunch of chatterer ... ( Inilah yang terjadi, jika anak kecil bergaul dengan sekelompok penggosip.. )” Gerutu Putra dalam gumamannya, sambil ia geleng – geleng.
*****
Putra dan Anthony sudah mencapai Ibukota. Tadinya, Putra pikir akan mengajak Anthony untuk kembali ke rumah yang sama yang sebelumnya di sewa Addison untuk tempat tinggal sementara mereka di Ibukota.
Namun berhubung Anthony menolak untuk kembali ke rumah dulu dan meminta untuk langsung menyambangi Gadis yang entah sudah ada atau belum di Rumah Sakit tempatnya bekerja, Putra pun meminta Danny untuk langsung saja menurunkannya dan Anthony terlebih dahulu di Rumah Sakit tersebut.
Tetapi setelah berkordinasi dengan Damian dan Garret yang berada di mobil yang berbeda saat mereka sejenak berhenti untuk mengisi bahan bakar mobil, Putra dan Anthony akhirnya pindah ke mobil yang ditumpangi oleh Garret dan Damian. Dimana Damian yang mengemudikan nya.
“Then maybe me, Bruna and Danny will going to meet the rent house owner ( Kalau begitu mungkin aku, Bruna dan Danny langsung menemui si pemilik rumah sewaan saja )”
“Ya, I think that’s a good idea ( Aku pikir itu ide bagus )”
Putra mendukung rencana Addison barusan. Sisanya memberikan juga dukungan dengan anggukan kecuali Anthony yang duduk didalam mobil, sementara para orang tua angkatnya sedang berbicara sebentar.
“If it’s also possible, finish everything about the purchase of that house while we are all at the Capital ( Jika memang memungkinkan, selesaikan segala hal tentang pembelian rumah itu selama kita masih di Ibukota )”
“Alright! ( Baiklah! )”
***
Damian dan Garret memilih untuk menunggu saja di mobil saat mereka berdua bersama Anthony dan Putra sampai di Rumah Sakit tempat Anthony melakukan terapinya dengan Dokter Ilse sebelumnya, dan di Rumah Sakit yang sama tempat seorang perawat yang kini dianggap oleh para orang tuanya itu adalah salah seorang yang menjadi kesayangan Anthony selain mereka semua, sekarang.
“Don’t run Anth.. ( Jangan berlari Anth ) ...”
Putra dengan sigap meraih tangan Anthony saat bocah yang nampak sangat bersemangat itu hampir saja melesat setelah Putra membukakan pintu mobil untuknya.
Putra pun geleng – geleng saja melihat tingkah Anthony yang begitu bersemangat untuk menemui Gadis.
***
“Pa-pa”
“Yes, Anth?”
“Is-that, Gadis? ( Apakah itu, Gadis? )”
Mata Putra mengikuti telunjuk Anthony mengarah.
Putra seketika menaikkan satu alisnya, saat matanya menatap pemandangan yang entah mengapa sedikit membuatnya merasa tak suka.
“That-is Gadis right, Papa? ( Benarkan itu Gadis, Papa? )” Tanya Anthony.
“Hemm ...” Putra menyahut singkat tanpa berkata.
Karena Putra sedang serius menatap pemandangan yang sedikit dirasa mengganggunya , kala melihat seorang perawat yang memang adalah Gadis, nampak sedang berinteraksi dengan cukup akrab bersama seorang Dokter yang usianya mungkin tak jauh beda dengan dirinya.
‘Cih! I even more handsome than that Doctor! Even richer! ( Aku bahkan lebih tampan daripada Dokter itu! Lebih kaya malah! )’
***
__ADS_1
To be continue ...