LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 296


__ADS_3

Happy reading...


♦♦♦


Bandung, Jawa Barat, Indonesia ....


Villa Putra dan keluarga...


Dimana tiga orang sedang duduk bersama dan berbicara serius di dalam ruang kerja Villa.


Yang mana ketiga orang itu adalah Addison, Bruna dan Ramone-yang sedang membahas Putra dan lainnya yang sedang berada di Inggris.


Suara dering telepon yang ada di dalam ruangan lain yang letaknya rahasia, namun saat ini sedang dibuka lebar-lebar agar jika ada panggilan masuk seperti saat ini, tiga orang tersebut dapat dengan jelas mendengarnya.


“Let me answer ( Biar aku yang jawab )---“


Addison mengajukan diri, sambil ia bangkit dari duduknya.


Bruna dan Ramone pun mengangguk.


♦♦♦


Beberapa menit berlalu...


“Who was it ( Siapa yang menghubungi )?”


Bruna segera bertanya pada Addison setelah suaminya itu keluar dari ruang rahasia mereka di ruang kerja dalam Villa.


“Hizkia...”


Addison menjawab lirih.


“Something bad happened?”


( Ada sesuatu yang buruk telah terjadi? )


Gantian Ramone yang bertanya, kala ia menyadari gurat kekhawatiran yang kini nampak di wajah Addison.


“Hiz said Putra and others got trouble ( Hiz bilang Putra dan lainnya mendapat masalah )”


Kembali Addison menjawab dengan lirih. “What trouble ( Masalah apa )?...” tanya Bruna.


Addison menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya itu.


“They were surrounded by Police and those Police is somehow part of our opposite.”


(Mereka dikepung oleh Polisi dan entah bagaimana para Polisi itu adalah bagian dari lawan)


Ramone dan Bruna pun memasang telinga mereka baik-baik untuk mendengarkan cerita dari Addison.


“Then shootout happened, and Hiz said there are some victims from ours. But unable to get confirmation, because the voice in the protofon was dotted ( Lalu terjadi baku tembak, dan Hiz bilang kalau ada korban dari pihak kita. Tapi belum terkonfirmasi dengan jelas, karena suara di protofon terdengar putus – putus )...”


♦♦♦


Setelah mendengar cerita Addison, Ramone meminta Addison untuk membantunya menghubungi nomor kontak saluran aman mereka yang berada di Inggris, dimana nomor kontak itu adalah basecamp milik Accursio.

__ADS_1


Dan dengan cepat Addison langsung melakukan apa yang Ramone minta, lalu berdiri tepat di belakang Ramone bersama Bruna saat sambungan terhubung.


“Alright then, let me know as soon as possible if you get the latest information of my son and everyone with him ( Baiklah kalau begitu, beritahu aku secepat mungkin jika kau mendapat informasi tentang anak lelakiku dan semua yang bersamanya )...”


Ramone terdengar memberikan perintah tergesa, meski suara ayah baptis Putra itu terdengar tenang.


Pria paruh baya itu kemudian meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya setelah ia selesai berbicara dengan Thomas yang memang standby di basecamp milik Accursio yang berada di Inggris.


Yang setelahnya, Addison langsung bertanya pada Ramone.


“Until now, they haven’t get the correct information of how Putra and the others. But my daughter and some of men from Netherlands already arrived at London, and they’re catching Putra ( Sampai dengan saat ini, mereka belum mendapatkan informasi yang pasti tentang bagaimana keadaan Putra dan lainnya. Tapi putriku dan beberapa orang dari Belanda sudah tiba di London, dan mereka sudah menyusul Putra )”


♦♦♦


“Ada apa Vader?---“ Gadis sontak bertanya, kala ia menangkap gelagat kekhawatiran di wajah Ramone yang sedang bersama Addison dan Bruna kala ia masuk ke dalam ruang kerja dalam Villa mereka.


Ramone tidak langsung menjawab Gadis, melainkan ia saling lempar tatap dengan Addison dan Bruna yang juga menampakkan gurat kekhawatiran yang sama dengan Ramone.


“Don’t hide anything from me, please ( Jangan sembunyikan apapun dariku, tolonglah )---“ lirih Gadis, sambil menatap pada Addison dan Bruna-selain Ramone, kala ayah baptis Putra itu nampak sangat ragu untuk menjawab pertanyaannya.


Dengan wajah Gadis nampak memelas.


Butuh waktu beberapa detik untuk ketiga orang itu berpikir bagaimana untuk menjawab pertanyaan Gadis-yang menatap mereka dengan tatapan mengiba.


Lalu Ramone yang akhirnya bersuara untuk menjawab Gadis.


“Ada masalah---“ Ramone menggantungkan ucapannya.


“Masalah apa? ...” Gadis dengan cepat menyambar untuk bertanya lagi sambil lebih mendekatkan dirinya pada Ramone.


“Aku belum mendapat kabar yang pasti dari orang-orangku yang sudah berada di Inggris, namun begitu---“


Wajah sendu Gadis menjadi khawatir dan was-was kini. Lalu didetik berikutnya sorot mata Gadis menjadi nanar, setelah mendengar jawaban Ramone.


“Terjadi baku tembak, dan menurut informasi dari orang-orangku yang tidak terlibat langsung dalam baku tembak tersebut, ada pengepungan atas kubu Putra dari para musuh yang dibantu oleh kepolisian di sana, hingga ada beberapa korban dari pihak Putra, namun belum jelas siapa dan bagaimana kondisinya.. aku, Ad dan Bruna, sedang menunggu kabar berikutnya.”


Namun kemudian Ramone, Addison dan Bruna memekik bersamaan kala Gadis melorot dari posisinya yang berdiri di dekat Ramone. Lalu Bruna membantu mendudukkan Gadis di sofa, dan mencoba menenangkan Gadis yang matanya sudah memproduksi air mata.


Gadis yang nampak lunglai itu sudah terisak saja, membayangkan hal buruk terjadi pada Putra.


Tiga orang yang sedang bersama Gadis itupun berusaha menenangkan Gadis.


Sementara Gadis hanya tetap terus menangis, karena hatinya yang bukan main begitu mengkhawatirkan Putra.


Bruna tetap terus mencoba menenangkan Gadis sembari merengkuh tubuh Gadis yang bergetar karena menangis.


♦♦♦


Gadis sudah diajak Bruna untuk mengistirahatkan diri di kamarnya dan Putra, sementara Bruna akan menemani di kamar bocah tampan tersebut, yang bolak-balik menanyakan tentang Putra dan dua daddynya yang lain, serta menanyakan tentang kapan ketiganya akan pulang.


“Vader –“


Namun Gadis yang tidak merasa tenang hatinya itu, kembali keluar dari kamarnya setelah beberapa saat dia berada dalam kamar yang justru membuatnya semakin kepikiran soal Putra.


Tapi sebelumnya, Gadis mengintip dari balik connecting door yang menghubungkan kamarnya bersama Putra dengan kamar Anthony, dimana bocah tampan yang sedari tadi bolak-balik bertanya tentang Putra itu sudah terlelap dengan Bruna di sampingnya.

__ADS_1


Tak menemukan Ramone di ruang kerja, Gadis pergi ke lantai bawah untuk mencari ayah baptis suaminya itu, karena Ramone juga tidak sedang berada di dalam kamar pribadinya.


“Iya Gadis?”


Ramone langsung menyahut pada Gadis yang menyambanginya di salah satu ruangan yang ada di lantai bawah Villa.


“Kemarilah.” Ucap Ramone pada wanita yang bisa disebut sebagai menantunya itu. Dimana wajah cantik menantunya itu kini berselimutkan kekhawatiran yang teramat sangat, selain sedikit sembab.“Mengapa kamu belum tidur?”


Ramone bertanya pada Gadis kemudian.


“Anth sudah tidur?” Ramone keburu bertanya lagi, sebelum Gadis sempat menjawab pertanyaan yang sebelumnya dari ayah baptis Putra itu.


Gadis mengangguk lemah. “Iya..” seraya menyahut lirih.


“Sebaiknya kamu juga beristirahat Gadis.”


“Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang, Vader?...”


Gadis berucap pelan, sedikit serak.


“Jika aku tidak tahu bagaimana kabar Putra setelah aku mendengar kalian bicara tentang adanya baku tembak yang hebat dimana dia, juga yang lainnya terlibat di dalamnya?”


“Tenanglah Gadis.”


“Bagaimana aku bisa tenang Vader, jika aku tidak tahu bagaimana keadaan suamiku sebenarnya, setelah adanya  baku tembak, lalu adanya korban dari pihak kalian? ..  jangankan untuk beristirahaat .. untuk bernafas pun, dadaku sudah se-saakk .. membayangkan jika satu dari mereka yang tewas itu adalah Pu-traa ..”


“GADIS!”


Ramone dan Addison langsung memekik keras, dan bergerak cepat untuk memegangi Gadis. Karena sesaat setelah Gadis melirih terisak dengan tersedu-sedu, Gadis langsung nampak lunglai di tempatnya sebelum tak sadarkan diri.


♦♦♦


Gadis langsung digendong Addison dan segera dibawa ke kamar pribadinya dan Putra.


“What happened ( Apa yang terjadi )?” Bruna yang sudah keluar dari kamar Anthony dan hendak menyusul Addison ke lantai bawah, sontak bertanya saat melihat suaminya membawa tubuh gadis yang sedang pingsan itu.


“She was a little bit hysteric then got faint after ( Dia sedikit histeris lalu pingsan setelahnya )”


“I’ll check her ( Aku akan memeriksanya )”


“Yes please, my dear ----“


“Would you please get my medical bag, Ad ( Bisa tolong ambilkan tas medisku, Ad )? .....” pinta Bruna pada Addison. Dan Addison langsung mengangguk seraya bergegas pergi ke kamar pribadinya dan Bruna setelah ia membaringkan tubuh Gadis di atas ranjang dalam kamar pribadi  Gadis dan Putra tersebut.


♦♦♦


“How is she ( Bagaimana keadaaannya )? –“


Ramone yang nampak khawatir itu segera bertanya pada Bruna, saat Bruna sedang mengecek nadi Gadis, dan Ibu Marsih-salah satu ART sedang mengoleskan minyak hangat di sisi kanan dan kiri kepala Gadis.


“I’m not sure, but hopefully I’m right ( Aku tidak yakin, tapi aku berharap jika aku benar )”


“.....”


“Putra Junior is coming soon ( Putra Junior akan segera datang ) -----“

__ADS_1


♦♦♦


To be continue ....


__ADS_2