
Happy reading....
England,
“Check all of the communication tools once again, Thom. And also make sure again that all of ekstra guns are prepare in each cars ( Periksa lagi semua alat komunikasi, Thom. Dan pastikan juga jika semua senjata api tambahan sudah siap di masing-masing mobil )”
Dua perintah keluar dari mulut Putra, saat ia sudah siap untuk pergi ke tujuan utamanya. Dimana Thomas dengan sigap menanggapi dua perintah Putra barusan.
“Yes, Boss.”
“And destroy all of vehicles that we all used yesterday ( Dan hancurkan semua kendaraan yang kami gunakan kemarin )”
Lalu satu lagi perintah keluar dari mulut Putra pada Thomas, yang kembali pria itu iyakan dengan sigap perintah Putra tersebut sebelum ia melangkah untuk undur diri dari hadapan Putra.
Dimana Putra kemudian melangkahkan kakinya, untuk pergi ke area luar markas dan menunggu semua orang yang menyertainya benar-benar siap dan pergi ke tujuan mereka kemudian.
Namun langkah Putra kemudian terhenti, kala telinganya mendengar derap langkah yang tak biasa, dimana di detik berikutnya sebuah pisau pemburu melesat ke arah Putra. Dan didetik berikutnya satu kata makian lolos dari mulut Putra.
Dimana kata makian itu keluar setelah dirinya dengan cepat menghindari lesatan pisau pemburu yang dilempar dengan sengaja oleh seseorang kearahnya.
♦
Jika saja Putra tidak menghindar selain menangkis pisau pemburu yang tadi melesat ke arahnya dengan cepat itu, bisa dipastikan pisau tersebut akan tertancap di kepalanya.
“Bastardo!”
Putra mengumpat sambil menatap ke arah dimana pisau pemburu yang kini sudah tergeletak di bawah kaki Putra itu, datang.
“I’m just testing if the ‘black fire’ of Ravenna still have his skill ( Aku hanya mengetes jika ‘api hitam’ dari Ravenna masih memiliki kemampuannya )”
Dimana di arah dari pisau pemburu yang melesat ke arah Putra tadi datang, terlihat satu sosok pria yang memiliki aura kurang lebih sama seperti Putra.
Berkata dengan santai, sambil ia menyalakan rokok yang sudah terselip di bibir satu sosok itu dengan santainya.
Dimana Putra tersenyum miring setelah mendengar ucapan sosok pria yang memiliki aura yang sama dengannya itu.
“Seems that you, who already losing your skill, huh? ( Sepertinya kau, yang mulai kehilangan kemampuanmu, huh? )....”
Gantian Putra yang mengeluarkan cibiran yang ditujukan untuk pria yang tahu-tahu datang dan melempar pisau pemburu nan sangat tajam padanya.
“Hahaha....”
♦
Tawa yang terdengar setelah Putra mengeluarkan cibirannya itu, menggema di seantero ruangan tempat dimana Putra dan sosok pria itu berdiri.
__ADS_1
“Want to try me ( Ingin mencobaku )?....”
Pria itu menantang Putra.
“I still can crushing your bones a little bit ( Aku masih bisa meremukkan sedikit tulangmu )-“
“Haha!....”
Gantian Putra yang tergelak, namun singkat dan sinis.
“You will get burn first, before you move ( Kau akan terbakar lebih dahulu, sebelum kau bergerak )”
Lalu....
Bang!.
Satu tembakan dengan cepat melesat, dan satu peluru mendarat tepat di depan ujung salah satu sepatu sosok pria yang tadi melempar pisau pada Putra.
Dimana sosok pria itu sedikit berjengkit, karena ia terkejut dengan tembakan tiba-tiba dari pistol yang ia lihat sudah Putra genggam-tanpa pria itu menyadari kapan Putra mengeluarkan pistolnya.
“Cazzo!” umpat sosok pria yang datang dengan tiba-tiba itu, tepat setelah satu tembakan keluar dari pistol Putra itu sampai di dekat ujung sepatunya.
“Hahaha!....”
“What happened ( Apa yang terjadi )?....”
Garret yang datang dengan panik, setelah mendengar suara letusan senjata itu datang dengan cepat ke tempat Putra-seraya ia bertanya pada salah satu saudara angkatnya itu.
Hizkia juga sama bertanya seperti Garret-setelah ia datang bersamaan dengan Yona dan beberapa lainnya yang melesat dengan cepat ketika mendengar suara senjata api meletus.
Sambil Garret dan Hizkia menelisik sosok pria yang tidak mereka kenal ini, dimana perawakan pria tersebut sedikit mencengangkan Garret dan Hizkia.
Pasalnya, jika dilihat dengan sekilas, sosok pria misterius itu begitu mirip dengan Putra. Bahkan saking miripnya, jika keduanya berdiri berdampingan-bagi mereka yang tidak kenal dan tahu persis Putra yang merupakan anak tunggal, sosok pria misterius itu seperti saudara kembar Putra.
Hanya berbeda warna rambut dan garis rahang saja. Meski sama, ekspresi wajah keduanya yang sama-sama datar. Putra dengan garis rahang dingin tanpa senyum keramahan serta sorot mata yang setajam elang.
Sementara pria yang misterius bagi Garret dan Hizkia, memang semisterius itu-dengan garis rahang dingin tanpa keramahan, nampak bengis.
“Nothing....” jawab Putra dengan santai. “Gar, Hiz.... Meet Sio ( Perkenalkan ini Sio )”
Putra lalu memperkenalkan sosok pria yang tadi langsung melemparkannya dengan pisau pemburu saat datang.
Pria yang merupakan salah satu saudara angkat Putra, dibawah asuhan Ramone-seperti halnya Yona, yang kemudian berhambur ke pelukan Sio.
Accursio.
__ADS_1
Seorang mafia sisilia terkuat saat ini.
♦
Hanya saling menyapa sebentar saja dengan Sio, Putra yang tadi telah bersiap untuk pergi tak ada niatan untuk menjamu saudara angkatnya yang terkenal kejam di Sisilia itu.
“You don’t need really to go( Kau tidak perlu ikut sebenarnya ), Sio –“ ucap Putra pada Sio yang kini sudah duduk disampingnya dalam sebuah mobil yang telah melaju dari markas mereka.
“And missed all of the fun? ( Dan melewatkan semua kesenangan? )....” tukas Sio. “Hell No!....”
Putra mendengus geli mendengar ucapan Sio.
“Are there no more people that you can kill at Sisilia? ( Apa sudah tidak ada lagi orang yang bisa kau bunuh di Sisilia? )”
Lalu Putra berkelakar. Dimana gantian Sio yang kini mendengus geli.
“For now ( Untuk sekarang )....” sahut Sio. “I have cleaned up all of them who tried to ‘play’ with me at there ( Aku sudah membersihkan semua orang yang mencoba ‘bermain-main’ denganku disana )” lanjutnya sambil menyeringai kecil.
♦
Mobil yang ditumpangi oleh Putra dan rombongan, telah memasuki sebuah area gedung yang sedang dalam tahap pembangunan.
Namun gedung tersebut telah dikosongkan sebelumnya oleh orang-orang Putra, dengan memberikan sejumlah uang pada pihak penanggung jawab gedung, agar ia meliburkan para pekerjanya untuk beberapa hari.
Dimana gedung tersebut dipergunakan Putra dan kawanannya untuk mengintai sebuah hotel yang berada bersebrangan dengan area gedung tersebut, namun tak tepat bersebrangan juga dari hotel yang sedang Putra intai tersebut.
Hanya saja, dari gedung yang agak menyerong sedikit jauh dari sebuah hotel yang mereka intai itu, Putra dan rombongannya dapat lebih leluasa dan jelas melihat aktifitas di luar hotel - termasuk orang-orang yang berada di hotel incaran mereka-terutama bagian depan hotel yang mereka sedang intai itu.
“Was he ever out from hotel since he came? ( Apa dia sempat keluar dari hotel sejak ia datang? )”
“No, Sir.”
Salah seorang dari beberapa anak buah yang berada dalam satu ruangan dengan jendela yang hanya tertutupi plastik bening tebal itu segera menjawab dengan sigap selepas Putra mencetuskan pertanyaan.
“But more guards is coming and seems that man guesses were starting to come ( Tapi pengawal tambahan berdatangan dan sepertinya tamu-tamu dari pria itu juga sudah mulai berdatangan )” tutur anak buah yang menjawab pertanyaan Putra tersebut. “I have told that to Thomas ( Saya sudah memberitahukan itu pada Thomas )”
Putra kemudian menanggapi penurutan satu anak buah tersebut dengan deheman, sambil Putra fokus melihat ke hotel yang berisikan target utamanya di dalam hotel tersebut-melalui sebuah teropong.
“Tell everyone to do ‘the five jobs’ now, and don’t forget to get the access from that five targets ( Katakan pada semua untuk melakukan ‘kode lima’ sekarang, dan jangan lupa untuk mendapatkan akses dari kelimanya )”
Putra menurunkan perintah dari tempatnya berdiri.
♦♦
To be continue....
__ADS_1