LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 105


__ADS_3

Happy reading..


************


“Why you lie to Anth? (Mengapa kau berbohong pada Anth?)” Tanya Garret setelah Anthony dibawa Bruna untuk pergi tidur.


“He will keep puling if I tell that I’m going to the Capital even it is true that I go there for some kind of important things and don’t have time to accompany Anth spending time with Gadis”


“(Dia akan terus merengek jika aku katakan aku pergi ke Ibukota meskipun memang aku pergi kesana untuk beberapa urusan penting dan tidak punya waktu untuk menemaninya menghabiskan waktu dengan Gadis)”


“Heemm ..” Garret manggut-manggut.


“Beside, I really have something to make sure (Lagipula, ada sesuatu hal yang ingin kupastikan) ..”


**


Seperti rencana Putra dihari kemarin, dirinya dan Damianlah yang berangkat pergi ke Ibukota dengan disupiri oleh Suheil.


Setelah kemarin juga Putra mengatakan alasannya mengapa Putra bilang pada Anthony kalau dia tidak pergi ke Ibukota, tetapi pergi ke kota yang lain.


“Are you going to meet Gadis first after we arrive? (Apa kau akan menemui Gadis terlebih dahulu saat nanti kita sampai?)”


“Maybe not... (Mungkin tidak..)”


“I think that we still have spare time before we go to the airport (Aku rasa kita masih memiliki waktu senggang sebelum pergi kita pergi ke bandara)”


Damian berucap sembari melirik arloji di pergelangan tangannya.


“We arrive before night at the Capital. You still have much time if you want to meet her (Kita sampai sebelum malam ke Ibukota. Kau masih punya banyak waktu jika kau ingin menemuinya)”


Putra menggeleng pelan.


“Later.. (Nanti saja)..” Sahut Putra.


***


Hari beranjak sore kala Putra dan Damian mencapai Ibukota.


“I’m a little bit hungry, want to go for eat or want to directly to Residence? (Aku sedikit lapar, mau pergi untuk makan terlebih dahulu, atau mau langsung kembali ke Kediaman?) ..”


Damian berucap.


“Yes sure, better we go for eat first. Beside, I think that we lack stock of food at Residence (Ya tentu, sebaiknya kita pergi makan terlebih dahulu. Lagipula, aku pikir stok makanan kita sudah tinggal sedikit di Kediaman)..”


Putra menyahut.


Damian manggut – manggut.


“But better we go to meet Arthur first at his office, I made an appointment to meet him there once we arrive here..”


“(Tetapi sebaiknya kita pergi menemui Arthur di kantornya terlebih dahulu. Aku sudah membuat janji untuk menemuinya disana saat kita sudah sampai disini ..)”


“Okay!”


Damian mengiyakan ucapan Putra, lalu Putra mengarahkan jalan pada Suheil menuju kantor Arthur.


**


Putra dan Damian telah berada di ruangan pribadi Arthur dalam kantor pria itu.


Di tangan Putra sudah ada beberapa lembar foto yang sedang ia lihat satu per satu.


Putra melihat foto-foto tersebut dalam diam, lalu meletakkannya di atas meja setelah ia selesai melihatnya.


Damian meraih foto-foto tersebut lalu melihatnya. Dan seperti Putra, Damian tak berkomentar saat melihat gambar-gambar dalam beberapa lembar foto tersebut.


“And here ..... (Dan ini ..)”


Arthur menyerahkan satu lembar kertas putih dimana ada tulisan di atasnya.


“Schedule ... (Jadwal...)”


Putra menerima kertas tersebut lalu membacanya dan kemudian manggut-manggut.


Dan meletakkannya juga di atas meja. “Let’s go for eat now (Ayo kita pergi makan sekarang)” Ajak Putra.


Putra berdiri dari duduknya.


Damian dan Arthur pun melakukan apa yang Putra lakukan.


***


Putra, Damian dan Arthur sudah berada di satu Restoran yang berada dalam sebuah Hotel ternama di pusat kota.


“By the way, I already got information that you guys money from England was in (Ngomong-ngomong, aku sudah mendapatkan informasi jika uang kalian dari Inggris sudah masuk)”

__ADS_1


Putra dan Damian serempak mengangguk.


“But the amount is less than what you guys have told me (Tetapi jumlahnya kurang dari apa yang pernah kalian beritahukan padaku)”


“It is... (Memang....)”


Putra menyahut.


“There is problem ( Ada masalah)”


“Serious problem? (Masalah serius?)”


“Safety things (Masalah keamanan)” Sahut Putra lagi.


“Beside, we don’t want lackeying question of government here about the source of the money from England, so we sent big part of it to our account at the Switzerland (Lagipula, kami tidak mau melayani pertanyaan dari pemerintah


disini nantinya tentang sumber uang yang masuk dari Inggris, jadi sebagian besar kami masukkan ke rekening kami di Switzerland)”


Arthur manggut-manggut. “So guys have account there? (Jadi kalian memiliki rekening disana?)”


Putra dan Damian kembali manggut-manggut.


“Ya, we just remember (Ya, kami juga baru ingat)”


Arthur manggut-manggut lagi.


“Just make sure that no such things of questions through our money from England, Arthur (Pastikan saja tidak ada hal-hal berupa pertanyaan sehubungan sumber uang kami dari Inggris itu, Arthur)”


“....”


“Not to much for us, but I believe it’s a big amount if it’s convert into this country currency. And I'm pretty sure, that people who works in that Bank, will open their eyes very big when they saw the amount"


"(Tidak terlalu banyak bagi kami, tapi aku yakin itu adalah jumlah yang sangat besar jikan diubah ke mata uang negeri ini. Dan aku sangat yakin, orang-orang yang bekerja di Bank tersebut, akan membelalakkan mata mereka saat melihat jumlahnya)”


"I bet they will (Aku yakin begitu) ...."


Arthur terkekeh kecil kemudian.


“But No worry for it. My colleague in the Central Bank will take care about that (Tetapi tidak perlu khawatir soal itu. Kolegaku di Bank Pusat akan mengurusnya)” Ucap Arthur.


“Ad said that you have not really good relation with that man before (Ad mengatakan kau memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang itu sebelumnya)” Timpal Putra.


“Ya that’s right (Ya itu benar)” Sahut Arthur. “He saw me that I’m just kind of ordinary accountant, you know, he’s bigger than me (Dia memandangku sebagai akuntan biasa, kau tahulah, dia diatasku)”


“Still not respect you until now? (Masih tidak menghormatimu sampai sekarang?)”


sekarang ini, aku rasa dia akan melakukannya. Mengingat berapa besar jumlah uang yang Tuan Addison tawarkan padanya, dan dia melihatku sambil menunjukkan senyum lebarnya yang menjijikkan)”


Putra dan Damian spontan terkekeh mendengar cerocosan Arthur. Lalu menyantap makanan di piring mereka masing-masing sembari mengobrol santai, hingga sebuah suara sapaan dari seorang membuat ketiganya menoleh secara bersamaan ke sumber suara.


****


‘Tsk!’ Putra berdecak sebal dalam hatinya saat melihat wanita yang tengah datang ke mejanya, Damian dan Arthur.


“Doctor Ilse ...” Damian menyapa wanita yang menyambangi meja mereka itu.


“Mister Damian...” Ilse balik menyapa dengan menjabat tangan Damian yang sudah berdiri, begitu juga dengan Arthur. “Hello...” Sapa Ilse pada Arthur. “If I’m not wrong, you were with Mister Tri that day, right? (Jika aku tidak salah, anda bersama dengan Pak Tri hari itu, bukan?)”


“Yes, I am (Iya, betul)” Jawab Arthur. “Arthur...” Arthur memperkenalkan diri.


“Nice to know you Mister Arthur (Senang berkenalan dengan anda Tuan Arthur)”


“Nice to know you too, Doctor (Senang berkenalan dengan anda juga, Dokter)” Jawab Arthur dengan sopan seraya menjabat tangan Ilse.


Ilse juga melemparkan senyum keramahan pada Arthur, seperti halnya yang ia lakukan pada Damian, lalu ia beralih pada Putra yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan sikap pada Ilse, seperti halnya Damian dan Arthur.


Putra tidak berdiri dari duduknya, dan nampak tetap fokus menikmati makanannya.


“Hi, Putra”


“What is your necessity? (Kau ada keperluan apa?)”


Alih-alih menjawab sapaan Ilse dengan ramah seperti halnya Damian dan Arthur, Putra malah melontarkan pertanyaan dengan datar pada Ilse, bahkan tidak melirik pada Dokter wanita yang akhirnya terlihat canggung dan tersenyum getir dengan sikap Putra padanya.


“Nothing, I just saw you from my place where I sit (Tidak ada apa-apa, aku hanya melihatmu dari tempatku duduk). And I come here just to say a greeting (Dan aku kesini hanya untuk menyapa)”


“You already did... (Kau sudah melakukannya) ... You can leave now (Kau bisa pergi sekarang)” Ucap Putra dengan nada suara yang datar, namun terdengar sarkas pada Ilse.


“Eemm...”


“I’m done. Have you guys done too? (Aku sudah selesai. Apa kalian sudah selesai juga?)”


Putra meletakkan pisau dan garpunya dan mengatakan jika ia sudah selesai dengan makanannya, lalu bertanya pada Damian dan Arthur dengan mengabaikan keberadaan Ilse yang masih berdiri di dekat meja mereka itu.


“Ask for the bill then (Mintakan tagihan kalau begitu)” Ucap Putra setelah Damian dan Arthur mengangguk, dan Arthur mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan restoran dan mengkode jika ia meminta untuk dibawakan tagihan mereka.

__ADS_1


“Let me (Biar aku saja)” Ucap Damian saat pelayan yang dipanggil Arthur tadi datang dengan cepat ke meja mereka dengan membawa benda yang mirip sebuah dompet besar berbahan kulit sintetis dengan struk tagihan di dalamnya. Putra mengangguk lalu berdiri.


“I’ll be waiting outside (Aku akan menunggu di luar)”


“Putra, I’m sorry... (Maafkan aku)...”


Ilse menahan lengan Putra dimana Putra melemparkan tatapan tajam pada Ilse.


Ilse menyadari tatapan tajam Putra padanya itu, tapi ia tidak menjauhkan tangannya dari lengan Putra.


“I’m sorry for being rude that day... (Maaf karena aku berlaku kasar hari itu...)” Ucap Ilse dengan wajah memelas.


“Your hand, please. Get off it from me (Tanganmu, tolong. Jauhkan dariku)”


Putra mengkode dengan matanya yang memberikan pandangan sinis pada Ilse yang kemudian melakukan apa yang Putra minta.


“Look ... (Begini) ...”


“If you want to do apologize, do it to a person that you insulted (Jika ingin meminta maaf, lakukan itu pada orang yang telah kau hina)”


Kemudian Putra melanjutkan langkahnya untuk segera menjauh dari Ilse.


“Wait (Tunggu), Putra!”


Ilse memekik untuk menahan langkah Putra.


“She’s not good as you think! (Dia tidak sebaik yang kau kira!)”


“Means? (Maksud?)”


Putra memiringkan tubuhnya serta langsung bertanya pada Ilse yang menambah kata-katanya kala Putra mengabaikan seruannya untuk menahan langkah.


Merasa Putra menanggapinya, nampak Ilse menarik tipis sudut bibirnya dan melangkah mendekat pada Putra.


“That nurse, is not good like what you think (Perawat itu, tidak sebaik yang kau kira)...”


“That nurse, has a  name (Perawat itu, memiliki nama)”


“....”


“And I ask, what does your sentence means? (Dan aku bertanya, apa maksud dari kalimatmu itu?)”


Kembali Putra melayangkan tatapan tajamnya pada Ilse.


“Come to the Pub names JP, easy to find. It’s a big and famous Pub in this town... (Datang ke Pub bernama JP, mudah untuk menemukannya. Itu adalah Pub yang besar dan terkenal di kota ini ...)”


“Then? (Lalu?)”


“You will get the answer of what I mean (Kau akan menemukan jawaban dari maksud ucapanku)”


 “....”


“Come there tomorrow night at eight. Then you’ll know, why I talk like that to her (Datanglah kesana besok malam jam delapan. Maka nanti kau akan tahu, mengapa aku berbicara seperti itu padanya)”


“Are you done? (Apa kau sudah selesai?)”


Ilse tersenyum getir sekali lagi, karena Putra tetap saja berkata datar padanya.


Padahal Ilse berharap, Putra bisa terprovokasi dengan ucapannya, sehingga penasaran dan mengajaknya untuk duduk berbincang. Tapi nyatanya tidak sesuai dengan harapan Ilse. Putra tetap saja bergeming dengan sikap dinginnya pada Ilse.


“I ask, are you done talking? (Aku bertanya, apa kau sudah selesai bicara?)”


“Yes ... (Ya) ...” Sahut Ilse pelan. Lalu Putra melanjutkan langkahnya untuk pergi dari hadapan Ilse yang masih berdiri dengan memandang kecewa pada Putra.


Damian yang sudah menyelesaikan pembayaran tagihan makan mereka, mengikuti langkah Putra berikut juga Arthur dan menganggukkan kepala mereka pelan ke arah Ilse yang menatap mereka seraya tersenyum tipis.


“She’s just utilise you (Dia hanya memanfaatkanmu)”


Ucapan Ilse membuat Putra menahan kembali langkahnya, namun ia tidak menoleh ke belakang.


Ilse menarik sudut bibirnya dan hendak kembali berjalan mendekati Putra.


“It’s none of your business (Itu bukan urusanmu)”


Namun sayang, Ilse harus kembali menelan kekecewaan karena Putra melontarkan ucapan bernada sinis padanya lalu kembali melanjutkan langkahnya.


“Tomorrow, you will know that I much better than her! (Besok, kamu akan tahu kalau aku lebih baik darinya!)”


Ilse menggumam geram, seraya mengepalkan kedua tangannya dengan masih menatap Putra.


“I can’t wait to see when you glimpse abhorent on her (Aku tidak sabar melihat bagaimana kau memandang jijik padanya) ...”


Ilse menyeringai tipis.


“And after that, You won’t ever refuse me... (Dan setelah itu, kamu pasti tidak akan lagi menolakku ...)"

__ADS_1


****


To be continue....


__ADS_2