
Happy reading....
***************
“Papa ...”
Suara yang terdengar membuat Putra dan Gadis sontak membeku di posisi mereka.
“Is Gadis sick? Seem that I heard her moaned ( Apa Gadis sakit? Sepertinya aku mendengarnya mengaduh )”
Putra dan Gadis pun sama- sama menggigit bibir bawah mereka masing-masing, dengan tubuh yang rasanya menegang kikuk.
“And why Gadis is on your lap? ... ( Dan mengapa Gadis ada diatas pangkuanmu? ) ..”
“Eum ... that’s.. ( itu )....” Putra menggumam kikuk.
“Papa? ...”
Suara Anthony yang sedikit parau itu terdengar lagi memanggil Putra, setelah ucapan yang merupakan pertanyaan dari bocah tampan tersebut membuat Putra dan Gadis membeku diposisi mereka.
“Eeuummm, yes, Anth?..” Putra menyahut. Kemudian menoleh pada Gadis dan membuat wanita itu beringsut perlahan dengan wajah yang merona.
Putra mengulum senyum geli sendiri pada akhirnya, melihat Gadis yang mendelik padanya dengan wajah meronanya yang terlihat, meski lampu dalam kamar temaram.
Putra pun berdiri dari tempatnya, lalu menghampiri Anthony. “Hey Boy”
Putra yang sudah menghampiri Anthony itu kemudian mendudukkan dirinya di hadapan Anthony.
“Are you thirsty?.... ( Apa kamu haus?... )” Tanya Putra pada Anthony. Apalagi kalau bukan ingin mengalihkan perhatian Anthony tentang adegan pangku-pangkuannya dengan Gadis.
Anthony menggeleng. “Is Gadis sick?.. ( Apakah Gadis sakit? ... )” Anthony bertanya seperti pertanyaan bocah tampan itu sebelumnya. Sembari ia memiringkan tubuhnya yang terduduk itu, karena terhalang tubuh Putra untuk
melihat ke arah sofa dimana Gadis nampak seolah membeku disana.
Putra sedikit memiringkan dirinya, menatap ke arah Gadis berada. “Eeuummm ....” Putra sedang mencari alasan.
“Why you lapped Gadis? ... ( Mengapa Papa memangku Gadis? ... )”
“I didn’t lap her actually... ( Aku tidak memangkunya, sebenarnya .. )”
“....”
“I just lapped her feet because Gadis feel a little bit crick ( Aku hanya memangku kakinya karena Gadis merasa sedikit pegal )....” Alasan yang terbersit dalam otak Putra.
Anthony manggut-manggut pelan.
“We’re about to sleep however ( Kami juga hendak tidur )..”
“Hemm ...”
“Is your feet already okay ( Apa kakimu sudah merasa enakan ), Gadis?...”
Putra menoleh pada Gadis. Sengaja berbicara dengan bahasa Inggris agar Anthony mengerti jika alasan yang Putra lontarkan benar adanya, dengan Gadis yang Putra harap mengerti kodenya dan mengiyakan juga alasannya.
“Gadis?...”
Putra memanggil Gadis karena Gadis tak merespon.
“Gadis, kakimu sudah baik-baik saja bukan? Tidak pegal lagi? ...”
Gadis yang terhenyak itu pun langsung menyahut. “Ah, iya!” Dan Gadis pun berdiri dari tempatnya.
“Aku mengatakan pada Anth, jika aku hanya memangku kakimu karena kamu merasa sedikit pegal ...”
Putra langsung memberikan penjelasan pada Gadis menggunakan bahasa Indonesia untuk menutupi kebohongan si Papa yang menjadi alasannya untuk Anthony, saat Gadis juga sudah mendekat padanya dan Anthony.
Gadis pun mengangguk sambil melihat pada Putra yang mengulum senyumnya itu. Dan Gadis mendelik tajam sebentar pada Putra.
Baru kemudian Gadis menoleh pada Anthony seraya tersenyum.
“Are you okay ( Apa kamu baik-baik saja ), Gadis? ....”
“Yes, I’m okay ( Iya, aku baik-baik saja ), Anthony...”
“I’m glad to hear it ( Aku senang mendengarnya )” Ucap Anthony.
Tangan Gadis terulur untuk membelai kepala Anthony.
“Why are you wake up? ( Kenapa kamu bangun? )”
“Are you hungry? ( Apa kamu lapar? )”
Putra ikutan bertanya.
“No, Papa, I am not hungry. I wake up because I didn’t feel Gadis beside me ( Tidak, Papa, aku tidak lapar. Aku terbangun karena tidak merasakan Gadis disampingku )...”
Putra dan Gadis sama-sama tersenyum mendengar penuturan Anthony dengan suaranya yang masih terdengar sedikit parau itu.
“Well since you don’t feel thirsty and hungry, better you go back to sleep. We all going to sleep ( Kalau begitu karena kamu tidak merasa haus dan lapar, sebaiknya kamu kembali tidur. Kita semua sebaiknya tidur )”
“Yes, Papa....” Anthony menyahut patuh seraya mengangguk. Lalu merebahkan dirinya lagi.
Lalu Putra bangkit dari duduknya.
“Naiklah”
Putra berbicara pada Gadis kemudian, yang orangnya langsung mengangguk.
Kemudian Gadis beringsut dengan tangan Putra yang memegangi selimut.
Lalu Putra menyelimuti keduanya, sebelum ia bergegas ke satu sisi ranjang yang satunya.
Kemudian membaringkan dirinya disisi Anthony yang Putra apit bersama Gadis. Dengan Anthony yang tersenyum lalu memberikan kecupan selamat tidur pada Putra dan Gadis, sebelum ia melanjutkan tidurnya yang sempat terusik tadi.
****
Esok hari
Putra dan seluruh keluarganya sudah berkumpul bersama di ruang makan Kediaman mereka yang berada di Ibukota itu.
Saat terbangun dari tidur mereka tadi, Putra dan Gadis sedikit was-was, jika Anthony kembali membahas adegan pangku-pangkuan mereka semalam yang tertangkap basah oleh Anthony.
Namun Putra dan Gadis merasa lega, karena Anthony tak sedikitpun membahasnya. Mungkin saja Anthony berpikir itu hanya mimpi. Bocah tampan itu pun nampak juga tidak penasaran.
Jadi Putra dan Gadis bisa merasa tenang.
“So what plan for today? ( Jadi apa rencana hari ini? )” Garret membuka omongan.
“Do you want to go somewhere ( Apa kamu ingin pergi ke suatu tempat ), Anth? ...”
__ADS_1
Putra kemudian bertanya pada Anthony.
“I have no idea yet ( Aku belum ada ide )” Sahut Anthony sembari menggigit roti panggang kesukaannya yang dibuatkan oleh Gadis dan Bruna, juga untuk mereka semua.
“Maybe you have idea ( Mungkin kamu ada ide ), Gadis?”
“Eeemm, ada... eh, I mean there is a Zoo ( Maksudku ada kebun binatang )... here ( disini )”
Gadis menjawab pertanyaan Addison. Dan Anthony langsung nampak sumringah.
“I want to go the the Zoo! ( Aku mau pergi ke kebun binatang! )”
Anthony antusias.
“Can we?! ( Bisakan kita pergi kesana?! )”
Anthony bertanya masih dengan keantusiasannya.
“Sure! Why not? ( Tentu saja! Mengapa tidak? )” Bruna yang menyahut.
“Ya that’s sounds good ( Ya itu terdengar bagus )”
Damian menimpali. Yang lain pun manggut-manggut.
“Is there any other place that we could visit while we’re here? ( Apa ada tempat lain yang bisa kita kunjungi, selagi kita disini? )”
Garret kembali bertanya.
Dan semua orang memandang pada Gadis yang duduk disisi Anthony.
“Eemmm .. a lot of places to visit here ( ada banyak tempat yang bisa dikunjungi disini ) ...”
Gadis pun menjawab pertanyaan Garret tersebut.
“Putra..”
Panggil Gadis pada Putra.
“Ya? ...”
“Aku jelaskan pada kamu dalam bahasa Indonesia ya?... nanti kamu yang menterjemahkan pada keluargamu ini ..”
“Mereka sudah menjadi keluargamu juga Gadis...”
Putra langsung menyela.
“Iya”
Gadis mengangguk.
“Maksudku keluarga kita ini ...”
Gadis meralat ucapannya. Dan Putra yang nampak puas dengan hal tersebut, karena Gadis menyebut ‘keluarga kita’ itu langsung menyunggingkan senyuman.
“Katakanlah, nanti aku terjemahkan pada mereka ..”
Gadis pun mengangguk.
“Aku beritahukan satu-satu padamu, atau sekaligus? .....”
“Sekaligus saja .. aku pengingat yang baik” Tukas Putra dan Gadis pun manggut-manggut.
“Disini ada daerah yang disebut Kota Tua .... disana banyak objek wisata bersejarah. Di dekat sini, ada Monas yang menjadi ikon Ibukota, tapi katanya baru dibuka untuk umum itu sekitar satu atau dua tahun lagi. Ada Taman Pesona
“Beritahukan saja yang memang dapat dikunjungi Gadis...”
Putra kembali menyela ucapan Gadis lagi.
“Untuk apa kamu memberitahukan tempat-tempat yang belum dapat dikunjungi
...”
“Oh iya ya..”
Gadis kemudian menunjukkan barisan giginya pada Putra.
Putra mengulum senyumnya seraya geleng-geleng karena tingkah Gadis yang memang kadang menggemaskan itu.
Sementara lima orang lainnya yang belum paham percakapan panjang bahasa Negeri yang mereka tinggali hanya mendengar dan memperhatikan saja Putra dan Gadis sembari menikmati sarapan mereka.
“Ya kalau di Ibukota ini paling-paling tempat wisata yang biasa dikunjungi ya itu tadi, Kota Tua. Lalu Kebun Binatang. Lalu Taman Ria yang semalam kita datangi. Eeemm ... apalagi ya?...”
Gadis mengerucutkan bibirnya sembari mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuknya sendiri.
Membuat Putra meredam geli dengan tingkah calon istrinya yang kadang nampak polos itu.
“Kalau tempat-tempat untuk anak-anak rasanya masih terbatas disini, Putra ... Ah! Pantai tempat kamu melamarku itu juga bisa didatangi jika Anthony mau. Rasanya itu saja sih, selain taman-taman kecil untuk tempat berjalan-jalan
pagi dan sore, sisanya ya tempat-tempat peninggalan Belanda saja ..”
“Okay ...”
Putra manggut-manggut.
“Akan aku katakan pada mereka ...”
“Memang kamu mengingat semua yang aku katakan tadi? ....”
“Sudah aku katakan aku ini pengingat yang baik ...”
“Oh ya?”
“Tidak percaya?”
“Tidak. Banyak sekali ucapanku tadi. Aku ragu kamu benar-benar bisa mengingat apa yang aku katakan tadi ...”
“Jika memang bisa, kamu harus memberikanku hadiah”
Putra menyeringai tipis.
“Coba saja dulu ... aku kan belum melihat ucapanmu soal ‘pengingat yang baik’ itu benar atau tidak ..”
Gadis memandang remeh pada Putra.
“Iya kan dulu permintaanku. Jika aku bisa mengulang semua ucapanmu, kamu harus memberikanku hadiah”
“Iya oke”
Gadis mengiyakan permintaan Putra dengan cepat.
__ADS_1
Gadis mengerti bahasa Inggris dengan baik jika ada yang berbicara dengan bahasa tersebut padanya.
Hanya terkadang, untuk kosakata yang rasanya sulit dan jarang Gadis dengar saja ia merasa kesulitan.
Termasuk jika Gadis harus berbicara panjang lebar dalam bahasa Inggris. Kemampuan Gadis belum sampai ke tahap itu.
Namun apa yang Putra sampaikan pada Anthony, Addison, Bruna, Damian dan Garret dapat Gadis mengerti.
Hingga pada akhirnya Gadis melongo tak percaya, karena Putra benar-benar menyampaikan kepada lima orang anggota keluarganya tersebut persis seperti apa yang Gadis katakan padanya dalam bahasa Indonesia.
Diselingi oleh mata Putra yang sesekali melirik Gadis dengan meredam gelinya sendiri seraya menatap Gadis untuk meledeknya.
Tidak hanya tempat-tempat wisata yang Gadis sebutkan, namun celoteh-celotehan Gadis juga Putra sampaikan bersamaan dengan kekehan kecilnya saat berbicara pada kelima anggota keluarganya itu lalu melirik pada Gadis yang masih termangu dengan ekspresi yang menggelikan.
Membuat Anthony, Addison, Bruna, Damian serta Garret juga terkekeh kecil seperti Putra. Semua yang Gadis ucapkan pada Putra dengan bahasa Indonesia, Putra ulang dengan bahasa Inggris tanpa ada satupun yang terlewat, tanpa lagi bertanya pada Gadis untuk membenarkan atau tidak, karena Putra yakin tidak ada yang ia lewati.
“Apa aku perlu juga mempraktekkan ekspresi konyol nan menggelikan mu seperti yang kamu buat tadi, hem, Gadis? ..” Goda Putra pada Gadis. “Heeemmm.. like this?.. ( seperti ini? .. )”
Putra membuat ekspresi, seperti halnya ekspresi Gadis tadi yang menggelikan menurutnya itu.
Putra membuat gestur wajahnya seperti wajah Gadis. Bibir yang dikerucutkan, lalu mengernyitkan dahinya sembari mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk.
“She doesn’t believe that I’m a good reminder .. ( Dia tidak percaya jika aku seorang pengingat yang baik.. )”
Putra berucap pada para anggota keluarganya itu.
Gadis mencebik, sementara lima anggota keluarga Putra yang lain terkekeh geli.
Bahkan Anthony terkekeh paling geli. “You’re so funny when your face like that Papa.. ( Papa lucu jika wajah Papa seperti itu .. )”
Anthony berceloteh.
“This is the first time I saw Papa made your face like that. So goofi ( Ini pertama kalinya aku melihat Papa membuat wajah Papa seperti itu. Sungguh konyol ) ..”
“Hahaha!”
Sontak saja semua orang dewasa yang sedang bersamanya itu langsung tergelak.
Hanya Gadis saja yang tidak.
Namun sudut bibir Gadis melengkung keatas.
Putra beralih sebentar ke Anthony kemudian dan berguyon lagi, terlihat juga mengajak Gadis berguyon bersama.
Addison, Bruna, Damian dan Garret memperhatikan Putra dengan seksama barang sejenak.
Mengingat ucapan Anthony tentang Putra yang menunjukkan bahwa ia bisa membentuk wajah konyol sedemikian rupa, membuat empat orang tersebut merasakan jika seorang Putra yang dingin dan kaku itu telah berubah.
Memang sebenarnya Putra bukan pria yang dingin-dingin amat. Hanya pada orang luar Putra nampak berdarah dingin.
Karena bila bersama Anthony saat Rery dan Madelaine masih hidup, Putra tak segan untuk menampakkan senyum dan tawanya pada Anthony, termasuk pada Rery dan Madelaine.
Atau pada saat mereka, saat masih lengkap, berkumpul bersama menikmati waktu untuk para pria. Putra tak jarang tertawa.
Namun tawa Putra seolah pudar dan menghilang saat Rery terbunuh berikut juga Madelaine, dan Anthony mengalami waktu yang berat.
Ekspresi wajah dingin Putra kian lekat, hingga saat ia bertemu dengan Gadis dan hubungannya dengan wanita itu sampai ke tahap sekarang.
***
“Well, your future husband, he is a very good reminder.. ( Ya, memang calon suamimu ini, dia itu seorang pengingat yang sangat baik )..” Addison bersuara.
“Even he can recognize someone from he or she footstep..( Bahkan ia dapat mengenali seseorang dari langkah kakinya ) ..”
Damian menimpali.
“You understand what we have just said ( Kamu mengerti dengan apa yang baru saja kami katakan ), Gadis?” Tanya Damian.
“Oh yes, I understand ( Oh iya, aku mengerti )..” Jawab Gadis.
Lalu Gadis menoleh pada Putra.
“Kata mereka itu kamu adalah seorang pengingat yang baik dan bisa mengenali seseorang hanya dari suara langkah kaki, kan, begitu yang Tu-, maksudku Damian dan Bruna bilang barusan?”
“He’em” Putra manggut-manggut. “Sekarang percaya jika aku benar-benar seorang pengingat yang baik?”
“Iya, iya, aku percaya sekarang..” Gadis menyahut malas.
“Bagus” Timpal Putra.
“....”
“Jangan lupakan tentang hadiahmu..”
Putra menoleh dan menatap pada Gadis.
Ada ekspresi jahil Putra disana.
“Iya, iya, aku ingat ..”
“Bagus” Timpal Putra lagi.
“Ya sudah katakan, kamu mau hadiah apa?.. mungkin saat kita berjalan-jalan nanti aku bisa menemukan hadiah seperti yang kamu inginkan”
Gadis bertanya tanpa sadar dengan ekspresi jahil Putra.
“Tidak perlu mencari.. hanya tinggal dikemas dengan apik saja ..”
Gadis mengernyitkan dahinya. Putra menyesap kopi dalam cangkirnya.
“Apa sih?” Tanya Gadis yang nampak sedikit bingung.
“Kamu..” Ucap Putra selepas menyesap kopinya.
“Heuh?..”
“Tapi nanti saat kita sudah kembali ke Villa .. saat hanya ada kamu dan aku di kamar tidur dan Anthony tidur di kamarnya ..”
Gluk!
“Awas, jangan ingkar..”
Putra melirik Gadis yang menatapnya was-was.
“Aku tidak suka orang yang mengingkari janjinya ..”
Gadis meneguk lagi salivanya.
“Ah iya, tidak perlu dibungkus sepertinya.. aku lebih suka polos, berhubung kamu adalah hadiahku”
__ADS_1
***
To be continue....