
Happy reading...
*********************
Amsterdam, Netherlands, Europe ....
“It’s been quite long that we haven’t feel this kind of weather, right? ... ( Sudah cukup lama kita tidak merasakan cuaca seperti ini, ya? )....” ucap Garret pada Putra, sambil membetulkan mantelnya.
“Ya,” sahut Putra pada Garret, saat mereka menuruni tangga pesawat komersial yang mereka gunakan untuk pergi ke Belanda.
Putra juga membetulkan mantel panjang yang ia kenakan sejak dari dalam pesawat. Ramone sudah memberitahukan melalui Frans, bahwa sedang musim dingin di Belanda saat ini.
Jadi Putra dan Garret sudah menyiapkan mantel panjang sejak dari Indo sebelum mereka bertolak ke Belanda.
“Quite long .... ( Cukup lama ) ....”
“Ma mi manca di più l'inverno in Italia .... ( Tapi aku lebih merindukan musim dingin di Italia ) ....”
Ucapan Garret yang menggunakan bahasa Italia itu pun segera di iyakan oleh Putra. “Also the beach at Ravenna ( Juga pantai di Ravenna )”
Putra menimpali dan gantian Garret yang kemudian mengiyakan ucapan Putra.
“I couldn’t agree more ( Aku setuju dengan itu )”
***
Sebuah hotel di Amsterdam ....
*“**Are your godfather will meet us here?**.. ( Apa ayah baptismu akan menemui kita disini? )....”*
*“**No**( Tidak )”*
Putra menjawab dengan menggelengkan pelan kepalanya pada Garret, saat mereka telah sampai di dalam kamar hotel.
*“**Then?**( Lalu? ) ....”*
Garret spontan bertanya pada Putra yang sudah membuka mantel panjang yang tadi ia kenakan dan sudah juga mendudukkan dirinya di sebuah sofa single dalam kamar hotel tersebut, serta sedang membaca sebuah kertas kecil yang ada di tangannya.
*Lalu Putra memberikan kertas kecil dengan tanda lipatan itu pada Garret. “**So the taxi driver is his?**.... ( Jadi supir taksi itu adalah orangnya? )....” tukas Garret dengan tersenyum tipis sambil melihat pada kertas yang diberikan oleh Putra padanya itu. Putra pun ikut menyunggingkan senyum tipis.*
*“**You think?**( Menurutmu? )”*
***
Waktu sebelumnya ....
“We directly go to hotel? ....”
“( Kita langsung ke hotel? ) ....”
( Putra menjawab dengan anggukan kepala pada Garret ).
( Garret pun diam setelahnya ).
( Sementara itu Putra mengedarkan pandangannya ).
“Come, our taxi is here ( Ayo, taksi kita sudah disini )”
( Putra menunjuk pada satu taksi yang tahu-tahu sudah muncul di hadapan mereka, selepas Putra mengedarkan pandangannya dan berhenti disatu arah ).
“Okay.”
( Garret pun langsung memasuki taksi yang tahu-tahu datang bahkan sebelum ia dan Putra mencari tahu bagaimana untuk memanggil taksi yang bisa mereka sewa jasanya dalam bandara tersebut ).
( Garret juga tidak melihat Putra melambai ke arah dimana banyak supir taksi berdiri, tapi taksi itu sudah tahu-tahu muncul ).
( Garret tidak berpikir banyak, dan langsung memasuki taksi yang ditunjuk Putra, setelah saudara angkatnya itu menyuruh Garret untuk masuk duluan ke dalam taksi tersebut, dan koper mereka sudah dimasukkan ke dalam
bagasi taksi ).
“Here ( Ini )”
( Putra mencondongkan tubuhnya lalu memberikan beberapa lembar uang dari mata uang negara yang sedang ia dan Garret sambangi saat ini ).
( Putra tidak perlu repot menukarkan lagi uang miliknya, karena sehari sebelum ia da Garret berangkat, Frans datang ke Villa dan memberikan sejumlah uang yang sudah berupa mata uang dari negara kincir angin tempat asal Ramone ).
( Garret turun terlebih dahulu untuk mengambil koper di bagasi taksi yang sudah berhenti di depan sebuah hotel yang berada di Amsterdam. Sementara Putra masih berada di dalam taksi saat Garret sedang mengeluarkan kopernya dan Putra dari dalam bagasi taksi ).
“Enjoy your time at Netherlands, Sir ( Selamat menikmati waktu anda di Belanda, Tuan ) ....”
( Supir taksi tersebut berucap sembari menerima beberapa lembar uang yang Putra sodorkan padanya, dan sebuah kertas terlipat kecil ia berikan pada Putra di bagian paling bawah lembaran uang tersebut ).
( Putra pun mengangguk tipis ).
( Baru kemudian ia turun dari taksi setelah memasukkan kertas yang diberikan si supir taksi padanya secara rahasia ).
***
“Are your godfather will meet us here? .. ( Apa ayah baptismu akan menemui kita disini? )....”
“No ( Tidak )”
“Then? ( Lalu? ) ....”
“......”
“So the taxi driver is his?.... ( Jadi supir taksi itu adalah orangnya? )....”
__ADS_1
“You think? ( Menurutmu? )” cetus Putra.
Garret menyunggingkan senyumnya, lalu ia terkekeh pendek.
“I supposed to realize it when you talk with English to that taxi’s driver, whereas his face his very Netherlands ( Aku seharusnya menyadari hal itu saat kau berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris pada supir taksi itu,
padahal wajahnya sangat menunjukkan jika ia adalah orang Belanda )”
Putra mendengus geli.
“Maybe if the taxi’s driver is a sexy lady, you might pay attention for it”
“( Mungkin kalau supir taksi itu adalah wanita seksi, kau baru akan memperhatikannya )”
“Yeah, I believe so ( Yah, kurasa begitu )”
Putra pun mendengus geli mendengar timpalan Garret atas kelakarnya barusan.
‘May you like the welcome gifts ( Semoga kau menyukai hadiah selamat datangnya )’
“So where’s the welcome gift? ( Jadi mana hadiah selamat datangnya? )”
Garret kemudian bertanya pada Putra terkait salah satu tulisan yang ada di dalam kertas yang tadi Putra berikan padanya, dan masih Garret pegang.
“If you expecting a sexy lady as the welcome gift, I’m afraid you will get a dissapointment.... ( Jika kau mengharapkan seorang wanita seksi sebagai hadiah selamat datangnya, aku khawatir kau harus menelan kekecewaan )....”
Sekali lagi Putra berkelakar.
“Well, too bad .... ( Yah, sayang sekali ) ....”
Garret menimpali dengan dengusan kecewa yang ia buat-buat, dan Putra pun terkekeh kecil, begitu pun Garret yang juga ikut terkekeh kecil kemudian.
“So, are we waiting someone to deliver that welcome gifts here? .... ( Jadi, apa kita menunggu seseorang mengantarkan hadiah selamat datang itu kesini? ) ....”
“No.... ( Tidak )....” sahut Putra.
“Then? ....”
“Under the bed ....”
“( Di bawah tempat tidur ) ....”
Putra pun beranjak dari duduknya.
“Haha!!”
Garret yang sudah mendahului Putra untuk menemukan hadiah yang tertulis dalam pesan di kertas rahasia, kemudian tergelak dan nampak sumringah setelah ia membuka kotak persegi yang ada di bawah tempat tidur di dalam kamar hotel mereka itu.
Putra yang juga sudah berada di dekat Garret, kemudian tersenyum tipis setelah melihat isi kotak persegi yang telah dibuka oleh Garret itu.
“It’s way better than a sexy lady!.... ( Ini jauh lebih baik daripada wanita seksi! )....” Garret pun berucap antusias setelah mengangkat satu pistol jenis revolver berkaliber 44.
Sementara Putra tetap tersenyum tipis dan juga telah mengambil satu pistol yang sama dengan yang sedang Garret pegang, hanya berbeda kaliber. “That old man always know what I needed as usual ( Pria tua itu tahu apa yang aku butuhkan seperti selalunya )”
Putra berucap pelan.
Lalu ia mengambil juga sebuah pisau yang kurang lebih sama dengan miliknya yang ia tinggalkan di Villa.
“Are we going to kill someone tonight? .... ( Apa kita akan menghabisi seseorang malam ini? ) ....” celoteh Garret sembari tersenyum tipis saat ia mengecek kelayakan pistol yang sedang ia pegang, dengan selongsong peluru yang masih kosong, yang kemudian Garret isi selongsong itu dengan proyektil peluru yang telah tersedia juga di dalam kotak hadiah selamat datang tersebut.
Yang sudah dipastikan jika Ramone adalah orang yang mempersiapkan hadiah tersebut untuk Putra dan Garret. Mengingat, kedua pria muda itu tidak membawa senjata pegangan mereka karena menggunakan pesawat komersial untuk sampai ke Belanda. Yang tentunya tidak bisa membawa sembarang barang, terlebih senjata api.
“We’ll see about it later .... ( Kita lihat saja nanti ) ....” jawab Putra.
Putra berucap sambil juga mengecek kelayakan pistol yang sudah ia ambil, sembari mengarahkannya ke dinding kamar hotel, seolah sedang membidik.
“Ya hoping that we can have some fun tonight with this ( Ya berharap kita bisa dapat kesenangan malam ini dengan ini )” Garret menggoyangkan pistol revolver kaliber 44 yang sedang ia pegang di tangannya itu.
Putra pun manggut-manggut. “Heem....” sembari ia meletakkan pistol yang tadi ia pegang, lalu beralih ke pisau tajam yang sudah ia pilih, dan kini ia buka sarungnya.
“Ah I can’t wait to see what we’re going to do with this toy tonight....”
“( Ah aku jadi tidak sabar untuk melihat apa yang akan kita lakukan dengan mainan ini nanti malam )...”
“Yeah me too .... ( Ya akupun begitu ) ....” timpal Putra sambil memisahkan dua senjata yang ia pilih dan meletakkannya di atas ranjang.
***
Beberapa jam berlalu....
“I thought that we’re going to have a dinner in a fancy Restaurant .... ( Aku kira kita akan makan malam di sebuah Restoran mahal ) ....”
Garret berbisik di telinga Putra saat mereka sampai di depan sebuah Restoran dan merangkap sebagai sebuah bar juga, yang letaknya di dalam jalanan kecil.
Putra pun spontan berdecih geli.
“Be grateful Mister Federico, it’s a bless if we still can eat tonight ( Bersyukurlah Tuan Garret, masih bagus kita masih bisa makan malam ini )...”
“Oh, I’ve been touched by your words, Mister Vinson ( Oh, aku sungguh tersentuh oleh kata-katamu, Tuan Vinson )...” kekeh Garret.
Dua pria itu saling melempar kelakar dengan menyebut nama belakang mereka masing-masing.
Lalu Putra dan Garret mengayunkan langkah mereka untuk masuk ke dalam restoran sembari membetulkan posisi topi newsboy yang mereka kenakan.
***
Setelah masuk ke dalam restoran, Putra dan Garret di antarkan oleh seorang waitress pada sebuah meja dan keduanya pun langsung duduk disana.
__ADS_1
Putra dan Garret memesan makanan mereka lalu duduk dan nampak mengobrol santai satu sama lain, hingga pesanan mereka datang.
Namun disaat yang sama, Putra sudah langsung meminta bill untuk pesanannya pada si waitress hingga waitress tersebut nampak sedikit heran.
Putra tersenyum tipis pada si waitress, lalu mengatakan jika ia sedang terburu-buru dan sengaja meminta bill diawal dengan alibi takut ia terlupa dan pergi begitu saja hingga tidak sampai membayar makanannya, dengan sikap yang ramah pada si waitress.
Seperti para tamu restoran yang merangkap bar tersebut, Putra dan Garret kemudian nampak menikmati makanan dan minuman pesanan mereka dan sesekali nampak juga mengobrol santai dengan topik asal yang secara spontan mereka bahas.
Hingga saat Putra meletakkan sendok dan garpunya di atas piring yang berisikan seporsi waterzooi yang belum nampak habis Putra makan.
Garret tak perlu bertanya mengapa Putra tidak menghabiskan makanannya, karena ia paham situasi.
Setelah Putra meletakkan sendok dan garpunya lalu merapihkan topi newsboy yang Putra kenakan dan memang Putra serta Garret yang juga memakai topi dengan model yang sama itu tidak keduanya lepas.
Gerakan Putra yang membereskan topinya sebelum menghabiskan makanan pesanannya seyogyanya adalah sebuah kode yang Garret pahami maksudnya.
Putra pun beranjak dari tempatnya, lalu menghampiri seorang waitress dan bertanya di mana kamar kecil restoran yang merangkap bar tersebut.
“I’ll be waiting you outside! ( Aku akan menunggumu di luar! )” ucap Garret pada Putra dengan suara yang sedikit bervolume, saat Putra telah berjalan menjauhi meja mereka.
Putra mengangkat jempolnya tanpa berbalik setelah diberitahukan letak kamar kecil restoran tersebut dari seorang
waitress yang tadi ia tanya.
‘I still wonder how he can have that very sharp instinct ( Aku masih penasaran bagaimana instingnya bisa begitu tajam ) ....’
Garret membatin sambil tetap menikmati makanannya dengan santai saat Putra pergi ke toilet restoran. Apa yang Putra katakan sebelum mereka bertolak ke Belanda, termasuk saat Ramone belum bertolak lebih dulu, secara garis besar sesuai dengan apa yang Putra curigai dan prediksikan.
Insting yang Garret telah ketahui ceritanya, saat Putra mendapatkan firasat sebelum kedatangan Jaeden ke Ravenna.
Insting yang sama, yang mencegah Rery untuk jangan dulu menghadapi Jaeden.
Insting yang menurut Damian, membuat Putra merasa gelisah di beberapa hari sebelum ia pergi ke Indo, dimana Putra telah beberapa kali menolak untuk pergi, namun karena Rery mendesaknya Putra dengan berat hati meninggalkan Ravenna dan bertolak ke Indo untuk mengurus segala hal mengenai kepindahan mereka dengan cepat.
Insting yang berupa ketakutan Putra atas keselamatan Rery dan keluarganya hingga membuat Putra tak fokus dan gelisah berkepanjangan saat berada di Indo.
Insting buruk yang akhirnya menjadi nyata, saat Rery dan istrinya tewas sesaat di mana Putra kembali ke Ravenna.
Membuat Putra kini tidak akan berpikir dua kali jika ada yang ia memiliki perasaan atas sesuatu tidak beres akan terjadi, terutama pada orang-orang yang ia sayangi dan perdulikan.
Dan insting itu, rasanya kini kian tajam Putra miliki.
“You wait father here, I want to buy a snack ( Kau tunggu ayah disini, aku ingin membeli kudapan ) ....”
Putra berucap pada Garret yang sudah berada di luar restoran dan sedang menyalakan rokoknya, saat ia telah juga keluar dari dalam restoran yang tadi ia dan Garret sambangi.
“Yes brother! ( Iya saudaraku! )”
Garret menyahut santai pada Putra yang hendak pergi dari hadapannya.
“But catch me if I quite long to get back here .... ( Tapi susul aku jika aku sedikit lama kembali kesini ) ....”
“..............”
“Just in case the snacks seller is quite busy .... ( Siapa tahu penjual kudapannya cukup ramai ) ....”
Garret mengangguk dan tersenyum pada Putra. Ia paham maksud kalimat-kalimat Putra yang sebenarnya mengandung makna yang berbeda dari maksud kalimat-kalimat tersebut secara harfiah.
Karena kudapan yang Putra maksud, adalah seorang pria yang tadi sempat memasuki restoran lalu langsung pergi ke toilet restoran, dan seseorang di dalam restoran nampak juga pergi ke toilet tak lama setelah kedatangan pria
tersebut.
Dimana Putra juga berlagak pergi ke toilet setelahnya, karena pria yang tak lama berdiri setelah kedatangan pria yang sedang Putra ikuti saat ini, adalah seseorang dari orang yang Putra ketahui.
“Ehem!”
Putra berdehem saat ia sudah benar-benar berada tepat di belakang pria yang ia ikuti itu.
Pria yang nampak sekali terkejut dengan keberadaan Putra yang sudah tahu-tahu muncul di hadapannya, setelah ia mencapai mobil yang terparkir di sebuah jalanan kecil yang gelap gulita.
“Wie ben jij?! ( Siapa kau?! )” ucap si pria dengan bahasa Belanda pada Putra dan hendak merogoh ke balik jaket tebalnya.
“Wil je een boodschap overbrengen aan je baas ( Ingin menyampaikan pesan pada bosmu )”
Namun gerakan si pria kalah cepat dari tangan Putra yang sudah menahan tangannya untuk sampai ke dalam balik jaketnya, lalu mengambil senjata api dari selipan pinggang celana pria tersebut.
“Argh!”
Bersamaan dengan sebuah tusukan di perut pria yang tadi Putra ikuti itu, yang membuat si pria langsung merosot di tempatnya sembari memegangi perutnya.
“From ( Dari ) Ramone Zeeman”
Sreet! ...
Sebuah sayatan di leher dan tepat di nadi sang pria yang sudah merosot di tempatnya itu, diberikan Putra dengan sangat cepat.
Hingga pria itu langsung tergolek bersimbah darah dan tak bernyawa beberapa lama. Yang kemudian dengan cepat Putra tinggalkan begitu saja, setelah memastikan bahwa pria tersebut telah tak bernyawa.
“Amateur ( Amatir )” gumam Putra.
Lalu Putra meninggalkan pria tersebut begitu saja, dan menyelusupkan dirinya dengan santai dan tenang dalam kegelapan.
***
To be continue ..
Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1