
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
“Bener kayaknya yang dibilang Suheil. Kalo itu saudarinya Nyonya Gadis perempuan nakal, apalagi saya teh ngerasa gelagat dia sama ibunya mencurigakan, mending kita laporan sama Tuan Putra. Takutnya mereka ada niat jahat sama Nyonya Gadis—“
“Aku sama Mas Tri ga berani ah, Bu. Takut kita dibilang tukang fitnah terus malah diusir dari sini. Soalnya Nyonya Gadis kayaknya perhatian sama itu ibu dan saudari tirinya ...”
“Iya, nanti kalo saudari tirinya Nyonya Gadis itu nyangkal omongan saya sama Minah ditambah kami ga punya bukti bener kata Minah yang ada kami diusir. Takut ah, Bu. Saya sama Minah betah banget kerja di sini. Untung tuh si Baskoro yang kejem itu dipateni sama Tuan Putra dan sodara – sodaranya jadi saya sama Minah bisa bebas dari kerja rodi sama dia. Terus boleh kerja disini, dapet majikan baik banget, ya sayang toh ... engga mau ah ngomong soal itu saudarinya Nyonya Gadis yang kami ceritain tadi.”
“Diomongin sama bapak aja kalo gitu ... terus tanya pendapatnya bapak. Terus nanti Bu Minah sama Pak Tri lakuin apa yang bapak suruh—“
“Iya, Suheil bener. Bapak kan lebih deket sama Tuan Putra, kalo bapak suruh kalian ngomong tentang apa yang kalian ceritain tadi, diikutin. Karena bapak pasti jamin kalian ...”
“Sstt, ada Madam.”
--
“Kalian tadi saya liat lagi pada ngegosip waktu saya dateng sama madam. Waktunya kerja ya kerja.”
“Iya, Maaf Pak Abdul.”
“Iya, Pak. Maap ...”
“He’eh Pak. Bukannya maksud kami ngegosip juga. Tapi kami tuh lagi ngomongin itu saudari sama ibu tirinya nyonya Gadis ...”
“Sama dengerin ini nih, ceritanya Bu Minah sama Pak Tri tentang mereka.”
“Oh ya?—“
“Iya, Pak Abdul.”
“Kalian kenal mereka?”
“Kenal sih engga, Pak. Ngenalin iya.”
“Si Madya itu ternyata gundiknya si juragan Baskoro, Pak. Iya kan Min? Tri?—“
“Betul begitu?—“
“Kalo menurut kami sih begitu Pak, soalnya saudarinya nyonya Gadis itu suka dateng ke rumah juragan Baskoro terus dieremin seharian di kamar. Kalo ibunya pernah juga dateng beberapa kali, cuma sebentar-sebentar aja. Kayak gadein surat tanah gitu, Pak.”
“Iya tapi terus pernah dateng lagi bawa surat daru juragan Baskoro, abis pertama kali anaknya dieremin sama itu juragan bejat—“
“Begitu ya?”
***
“Mau apa kau?!“
“Jangan galak-galak atuh, Tuaan ... aku cuma mau anter kopi buat Tuan ...“
“Aku tidak meminum minuman dari sembarang orang dan aku menyuruh Ibu Marsih yang membuatkan sekaligus membawakannya ke sini. Bukan kau!“
“Ya ampun, Tuan ... saya kan keluarganya Gadis. Dan saya jamin, Tuan pasti suka sama kopi buatan saya .... ketagihan malah nanti ...”
“Tsk. Letakkan saja di meja itu dan pergilah.”
“Tuan Putra coba dulu, nanti kalo engga enak saya bawa lagi kopinya. Tapi saya yakin Tuan pasti suka ...”
“Diam di tempatmu!”
Seruan Putra pada seorang wanita yang adalah Madya di dalam ruang kerja utama itu, adalah karena dia tidak ingin wanita itu mendekat padanya.
Karena di mata Putra, Madya begitu menjijikkan.
__ADS_1
‘Akan kusentak tubuhnya keluar dari sini dengan kasar jika dia tidak menghiraukan peringatanku!’
Ucapan Putra dalam hatinya, dengan dirinya yang sudah hendak berdiri dari tempatnya. Yang kemudian urung, karena tangannya menyentuh sebuah cangkir yang ada di dekatnya.
‘Tapi tunggu.’
Dan Putra berkata pada dirinya sendiri dalam hati.
Sambil pandangannya tertuju pada cangkir di atas baki yang dipegang Madya, dimana wanita itu berdiri dengan pose yang dibuat semenggoda mungkin.
Mengganggap tatapan Putra yang memang mata pria itu sedang memandang ke arahnya, adalah sedang memperhatikan Madya yang dengan begitu percaya dirinya beranggapan jika Putra mulai tergiur dengan tubuhnya atas penampilan Madya dengan baju yang cukup terbuka bagian atasnya.
Padahal Putra tidak memperhatikan betul Madya dan tubuhnya.
Hanya sempat melihat penampilan wanita itu saat masuk.
‘Aku rasa wanita murahan ini sedang berusaha menggodaku dengan penampilannya sekarang. Jika begitu, rasanya aku menemukan motif mengapa dia dan ibunya membujuk Gadis agar mengajak mereka tinggal di sini.’
Putra berkata dalam hatinya lagi.
‘Kalau begitu ...’
Kembali Putra bermonolog dalam hatinya, sambil ia melirik laci di sebelah kanannya.
“Bawa kesini kalau begitu,” Putra buka suara.
Berbicara pada Madya, sambil ia membuka laci yang tadi diliriknya, lalu mengeluarkan sebuah benda berbahan perak dan bentuknya seperti sumpit – namun hanya satu saja, dan memang bukan sumpit juga.
‘Jika benar dugaanku tentang wanita murahan ini yang ingin menggodaku, pasti ada sesuatu yang dia campurkan dalam kopi yang ia bawa ini dan aku yakin bukan Ibu Marsih yang membuatnya. Jika aku tidak bisa mendeteksi dengan mata dan hidungku, alat ini akan membantu.’
Putra membatin lagi, sambil melirik benda yang berbahan perak yang ia keluarkan dari laci meja kerja barusan dan sudah ia letakkan di samping cangkir yang ada di atas meja itu juga.
Disaat dimana Madya sedang berjalan untuk mendekat kepada Putra, dengan membuat jalannya nampak berlenggok sok menggoda Putra yang ia anggap tertarik padanya karena sudah memperhatikan tubuh—terutama dadanya saat tadi ia berdiri ketika Putra menyuruhnya menghentikan langkah.
Lalu cangkir bekas Gadis berikut benda macam sumpit berbahan perak yang Putra keluarkan dari laci meja kerja, Putra agak geser ke sisi kiri.
Lalu niat Putra untuk memeriksa apakah kecurigaannya atas minuman yang Gadis bilang teh rempah itu, akan gagal.
Karena sisa minuman dalam cangkir tersebut pun hanya tersisa amat sedikit. Yang entah kenapa hati Putra merasa ada yang salah dengan minuman yang Gadis bilang teh herbal tersebut, setelah Putra tidak bisa menemukan teh itu di lemari penyimpanan makanan dan minuman dalam villa.
Jadi kesempatannya untuk membuktikan kecurigaannya soal ada yang salah dengan teh rempah yang Gadis bilang dan sudah ia minum sampai hanya tersisa sangat sedikit saja, hanya Putra punya sisa minuman tersebut yang amat sedikit sisanya itu dalam cangkir bekas Gadis yang ia bawa.
Dan Putra tidak mau kesempatannya itu hilang untuk mencari tahu jawaban atas kejanggalan mencakup kecurigaan dalam hatinya tentang menemukan niatan terselubung apa yang dimiliki oleh saudari dan ibu tiri Gadis pada istrinya itu. Yang Putra rasa banyak kebetulannya apa yang terjadi diantara Gadis dan dua wanita itu dalam beberapa hari belakangan.
***
“Silahkan, Tuan ... Dicoba dulu, kalau ada yang kurang ... susu misalnya ...”
Madya sudah meletakkan cangkir yang ia lepaskan dari baki, dan meletakkan baki alas cangkir sembarang di bagian kosong sebuah buffet di belakang Putra sambil berkata dengan setengah berbisik dan dengan nada sensual yang dibuat – buat.
‘Hmm,’ Putra berdehem dalam hatinya.
Saat Madya bergerak dengan tangannya yang katakanlah menggerayangi bahu Putra.
“Aku juga pintar memijat, Tuan ...”
***
‘Terlalu lancang!’
Putra membatin geram dengan tangan yang mengepal.
Dimana lancang yang Putra maksud adalah karena sikap Madya sekarang.
“Heh.” Putra pun menggumam samar, sembari ia menyungging miring dengan cangkir kopi dari Madya yang kini sudah Putra pegang.
__ADS_1
Namun Madya tidak menyadari gumaman samar berikut sunggingan miring Putra. Dan wanita itu kembali bersuara untuk mencari perhatian Putra yang tak menanggapi ucapanmya barusan tadi.
“Bagaimana, Tuan? ... Aku bantu Tuan meminumnya, Ya? ...” ucap Madya demikian dengan menambah kesan sensual dirinya baik dengan ucapan dan tingkahnya agar Putra yang terdiam dengan cangkir kopi yang sudah dekat dengan bibir dan hidungnya itu dapat dengan cepat tergoda padanya.
‘Dan terlalu berani!’ seru Putra dalam hati. Bersamaan dengan Madya yang bersuara lagi, dengan sikap yang kian intens pada Putra dalam menggoda pria itu. Dimana Madya telah lebih menyorong menempelkan dadanya ke arah dimana menurut Madya pandangan Putra bisa sampai langsung terarah kesana.
Dan tangan Madya yang sempat mengelus – elus punggung tangan Putra dengan genitnya dengan maksud memberikan rangsangan awal pada Putra, kini mencoba meraih cangkir berisikan kopi yang sudah Putra pegang.
“Tuan ...”
Madya bersuara dengan menambah ******* di ucapannya, seraya ia tersenyum saat Putra meraih pergelangan tangannya dengan cepat.
Hingga tangan Madya tak sampai memegang tangan Putra yang memegang cangkir kopi.
Namun senyuman dan rasa percaya diri Madya langsung saja hilang.
“AKHH!”
Berganti dengan pekikan kesakitan dan ekspresi wajah Madya yang mulai ketakutan, kala pergelangan tangannya dicengkeram lalu dipuntir oleh Putra.
“WANITA MURAHAN!”
Putra berseru kencang didetik berikutnya.
SPLASH!
Sambil Putra menyiramkan kopi yang masih cukup panas dalam cangkir yang ia pegang ke wajah Madya dengan cepatnya, dimana Putra masih memegangi pergelangan tangan wanita itu dan masih pada posisi dipuntir oleh Putra.
“AAAAKKHH!! ...”
Dimana bukan pekikan lagi yang keluar dari mulut Madya, melainkan teriakan.
***
Teriakan Madya membahana di dalam ruang kerja utama villa.
Sebenarnya tembus keluar ruang kerja tersebut, dan jika ada yang sedang berada di luarnya, teriakan Madya itu akan dapat langsung didengar oleh orang tersebut.
Namun karena keadaan di luar ruang kerja utama cukup sepi, dan pintunya juga dalam keadaan tertutup rapat, maka suara Madya hanya akan terdengar sayup – sayup saja menembus luar ruang kerja utama villa, tempat dimana wanita itu dan Putra berada.
***
“WANITA MURAHAN! BERANI KAU COBA MENGGODA DAN MEMASUKKAN SESUATU KE DALAM MINUMANKU??!!! ...”
Baru saat Putra membuka pintu ruang kerja dan dirinya bersuara amat keras dengan gurat kegeraman yang begitu kentara di wajahnya, mereka yang kamarnya berada di lantai yang sama dengan ruang kerja utama, segera berhamburan keluar dari dalam kamar mereka masing – masing.
Termasuk juga Gadis dan Anthony, yang sedang tidur bersama di dalam kamar pribadi Putra dan Gadis. “PUTRA!” jerit Gadis.
“Papa ...” lirih Anthony yang berjalan keluar dari dalam kamar Putra dan Gadis dengan mengekori mama Gadisnya yang tadi bangun sampai loncat dari tempat tidurnya ketika merasa mendengar suara Putra yang marah menembus ke dalam kamar mereka.
“Oh man ...”
Lalu gumaman miris yang kurang lebih sama, terdengar dari mulut Damian, Garret, berikut Bruna dan Ramone.
Ketika ke tiga saudara angkat dan ayah baptis Putra itu mendapati pemandangan yang sama seperti dilihat Gadis dan Anthony saat ini.
Pemandangan yang cukup mencengangkan bagi mereka, dimana Putra terlihat sedang menyeret Madya. Namun bukan dengan Putra yang memegang tangan wanita itu.
Melainkan Putra menyeret Madya, dengan mencengkeram rambut wanita itu yang bagian bawah tubuhnya menyentuh lantai. ‘What did that woman do until Putra treat her like that ( Apa yang wanita itu lakukan sampai Putra memperlakukannya seperti itu )?’
Damian, Garret, Bruna dan Ramone yang paham betul sifat Putra, sama membatin dengan ucapan yang kurang lebih sama. Dengan ke empatnya yang sempat sama tergugu terpaku di tempat mereka, melihat Putra yang menyeret tega Madya sampai menuruni tangga, dengan posisi Madya yang tetap Putra cengkeram rambutnya hingga tentunya membuat tubuh Madya terbentur anak tangga berbahan kayu setiap kaki Putra menuruni anak tangga tersebut.
Meskipun anak – anak tangga yang dilalui Putra dengan menyeret Madya itu tertutupi karpet, namun dengan posisi Madya yang diseret Putra seperti sekarang, pastilah benturan anak tangga di tubuh Madya cukup dapat menimbulkan rasa sakit di tubuh wanita itu. Karena Putra tidak pelan menyeretnya.
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
__ADS_1
To be continue ...