LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 126


__ADS_3

Happy reading..


Mobil yang membawa Putra dan Gadis berikut Arthur dengan salah seorang anak buah mereka yang mengemudi, telah sampai ke sebuah Restoran Kenamaan di sebuah Pusat salah satu Kota yang berada di bagian barat pulau Jawa. Restoran yang sudah diakuisisi sepenuhnya oleh Putra melalui Addison.


Namun Gadis tidak tahu jika Restoran kenamaan bernuansa Vintage namun elegan itu adalah milik Putra dan keluarganya.


Gadis hanya spontan tersenyum teduh, kala Putra langsung menggenggam tangannya sesaat setelah mereka berdua keluar dari mobil, tepat di lobi depan Restoran tersebut dimana ada satu orang bersetelan rapih yang berdiri disana.


Sejak mengenal Putra, dan mulai sangat dekat dengan pria yang berstatus tunangannya itu. Katakanlah begitu. Sudah dua kali Gadis diajak makan ke tempat yang terbilang mewah. Pertama, adalah Putra membawanya menaiki sebuah kapal layar di sebuah Hotel Berbintang di bagian barat Ibukota.


Tempat dimana Putra melamarnya.


Kemudian setelahnya, Putra membawa Gadis makan malam di restoran dalam kawasan Hotel yang sama, bahkan di tempat yang tidak sembarang orang bisa menyewanya, karena tempat makan yang berada dalam Restoran di Hotel tersebut terpisah dalam sebuah ruangan khusus dengan interior mewah, berikut pelayan khusus yang memang disediakan hanya untuk para tamu dalam ruang makan eksklusif tersebut.


Dan sekarang, Putra kembali membawa Gadis ke sebuah Restoran bergaya Vintage yang cukup ternama di Kota yang sedang mereka sambangi itu.


Restoran yang dapat dikatakan sebagai sebuah Restoran mewah yang terletak di Pusat Kota. Karena menu-menu yang disajikan adalah menu Eropa.


Sebuah Restoran yang Gadis ketahui sejak dulu, adalah Restoran favoritnya orang-orang kalangan atas.


Hidup Gadis seolah mulai berubah sejak mengenal Anthony kemudian menjadi sangat dekat dengan Putra. Bahkan Putra juga sudah dua kali membelanjakan nya barang-barang di tempat-tempat ternama.


Baru dua kali saja memang Gadis diajak Putra untuk berbelanja, namun semua barang yang Putra belikan, jika dihitung bisa setara dengan gajinya sebagai seorang perawat selama setahun bahkan lebih.


Bahkan cincin yang melingkar di salah satu jari tangan Gadis, cincin yang Putra berikan saat melamarnya waktu itu, juga menurut Gadis kalau cincin itu bukanlah cincin sembarangan.


Terlihat dari bentuk kotak cincin tersebut yang terlihat klasik namun mewah, selain cincinnya sendiri yang bertahtakan berlian. Demi apapun di dunia, Gadis tidak pernah membayangkan jika ia bisa memiliki sebuah cincin bertahtakan berlian dalam hidupnya.


“Ray, kau langsung menyusul kami ke dalam setelah kau memarkirkan mobil!”


“Baik, Tuan ..”


“Tidak apa, bukan?”


Putra kembali beralih ke Gadis yang sudah ia genggam tangannya selepas ia berbicara pada anak buahnya yang sudah melajukan mobil untuk diparkirkan.


“Apanya yang tidak apa?..”


Gadis balik bertanya pada Putra.


“Jika aku mengajak Ray bergabung untuk makan bersama kita di meja yang sama”


Dimana Gadis kembali menarik sudut bibirnya. Tersenyum pada Putra.


Satu lagi kelebihan Putra di mata Gadis yang Gadis kagumi.


Dimana kebanyakan orang kaya di Negeri ini, yang beberapa diantaranya dapat membayar jasa pengawal pribadi, pastilah mereka tidak ada yang mengajak para pekerjanya itu duduk bersama untuk makan di satu meja.


Ada, mungkin.


Tapi pasti itu satu dibanding sejuta.


Dan Putra adalah satu dari sejuta itu.


“Tentu saja tidak apa-apa”


Dan jawaban Gadis membuat Putra juga menarik sudut bibirnya.


“Kalau begitu, mari kita masuk, Nyonya Putra? ..”


***


Seorang staff Restoran lain membawa Putra dan mereka yang bersamanya ke sebuah bagian Restoran yang nampak eksklusif dan tertutup. Kurang lebih sama dengan saat Putra membawa Gadis makan malam di Restoran dalam Hotel Kasino kala itu. Hanya berbeda interior.


“Suatu kehormatan sekali melihat Tuan Putra berada disini hari ini!” Sebuah suara sapaan dari seorang pria yang terdengar familiar terdengar, berikut sosoknya yang sudah masuk ke dalam ruangan tempat Putra dan Gadis serta Arthur berada, membuat ketiganya spontan menoleh.


Putra spontan mendengus geli.


“Kehormatan yang sama mendapat sambutan dari Manager Restoran ini secara langsung”


Putra, Arthur berikut pria yang disebut Putra sebagai Manager Restoran itu pun kemudian terkekeh bersama.


“Tuan Danny?”


“Apa kabar, Nona Gadis?”


Danny yang tersenyum dan menyapa Gadis dengan ramah itu mengulurkan tangannya pada Gadis dengan sopan.


“Kabarku baik, Tuan ...” Jawab Gadis pada Danny seraya menyambut uluran tangan Danny. “Tuan Danny baru kelihatan lagi? ...”


“Aku memang baru kembali dari tugas ...”


“Sudah, tidak perlu berlama-lama berjabat tangan!”


Putra memotong dengan menarik tangan Gadis yang sedang berjabat tangan dengan Danny itu, hingga membuat Danny spontan terkekeh.


“What a jealous Boss ( Sungguh Bos yang pencemburu )..”


Putra pun mendengus geli sekali lagi karena celotehan Danny, sementara Gadis mengulum senyum dan Arthur terkekeh kecil.


“How are you Mister Arthur? ( Apa kabarmu Tuan Arthur? )”


Danny menyapa Arthur seraya berjabat tangan.


“As good as you can see ( Sebaik seperti yang bisa kau lihat )” Sahut Arthur.


“How does it feel? Accompany our Big Boss? .. ( Bagaimana rasanya? Mendampingi Bos Besar kita? )..”


“.....”


“Jadi Tuan Danny dan Tuan Arthur saling kenal? ..”


Gadis bertanya pada Putra kala Danny dan Arthur sedang berinteraksi.


“Iya”


Gadis pun manggut-manggut.


“Memang aku belum pernah mengatakannya padamu? ...”


“Sepertinya belum, atau kamu pernah bilang tapi aku lupa? ...”


Putra menarik sudut bibirnya, lalu menarik sebuah kursi. “Ya sudah, duduklah”


***


“Oh iya Putra ....” Tanya Gadis saat Putra sudah duduk disisinya, lalu Danny dan Arthur keluar dari ruangan tempat Gadis dan Putra berada.


“Ah aku lupa, kamu ingin pergi ke toilet ya? ..”

__ADS_1


“Bukan itu ...”


“Lalu?”


“Tadi jika aku tidak salah dengar, kamu menyebut Tuan Danny adalah Manajer disini.. Benar begitu?”


Namun belum sempat Putra menjawab pertanyaan Gadis barusan, Danny dan Arthur sudah kembali memasuki ruangan tempat Putra dan Gadis berada.


Ray, anak buah Putra yang disuruh menyusul Putra saat selesai memarkirkan mobil pun nampak juga ada di belakang Danny dan Arthur yang sudah kembali lagi ke ruangan tersebut.


“Kamu masih ingin pergi ke toilet? ...”


“Iya boleh....” Sahut Gadis.


**


“Dan!”


Putra memanggil Danny yang sedang berbicara dengan pelayan restoran.


Mendengar Putra memanggilnya, Danny yang sedang menyuruh pelayan membawakan beberapa jenis makanan untuk dihidangkan pada Putra dan semua yang bersamanya itu kemudian langsung menyudahi pembicaraannya dengan pelayan restoran yang merupakan bawahannya itu.


“Yes?” Sahut Danny yang sudah mendekat pada Putra yang sudah berdiri dari duduknya itu.


“There’s a personal restroom in your office right? ( Ada toilet pribadi di ruangan mu bukan? )”


“Ya” Sahut Danny. “However, there’s a restroom at the Main Office ( Lagipula, ada toilet di Kantor Utama )”


“Oh ya you’re right ( kau benar )”


“Addison also here ( Ada Addison juga disini )”


Putra pun mengangguk,  lalu berbicara pada Gadis yang sedang bercakap dengan Arthur dan nampak juga mempersilahkan Ray untuk mengambil tempat, hingga kemudian Gadis berdiri dari tempatnya.


**


“Kamu tidak perlu mengantarku, Putra” Ujar Gadis saat ingin keluar dari ruangan tersebut. Menahan Putra yang ingin menyertainya ke toilet.


“Tidak apa. Aku juga sekaligus ingin menemui Ad .....”


“Ad?.....” Potong Gadis.


“Addison” Ujar Putra.


Gadis sedikit mengernyit.


“Ayo” Putra meletakkan tangannya di pinggang Gadis untuk segera berjalan dan Gadis mengangguk.


**


“Dimana Tuan Addison?...” Tanya Gadis yang celingak-celinguk sesaat setelah keluar dari ruangan eksklusif dalam Restoran tersebut.


Dengan mata Gadis yang melihat-lihat ke arah meja-meja yang ada di tempat biasa, namun tertata dengan apik dan elegan.


“Mengapa tidak mengajaknya masuk saja ke ruangan kita itu?... Dia kan saudaramu? ...”


Gadis kembali melontarkan pertanyaan sebelum Putra sempat membalas pertanyaan Gadis sebelumnya.


“Eh Putra, itu toiletnya!” Belum lagi juga Putra sempat menjawab, Gadis sudah berbicara lagi seraya telunjuknya menunjuk pada ruangan yang ia sebut itu.


Putra mendengus geli sembari geleng-geleng. “Kamu cerewet sekali, Gadis” Ucap Putra.


‘Mungkin Putra mengajakku ke ruangan Tuan Danny, ya?. Dia kan Manajer Restoran ini. Pasti ia punya ruangan sendiri dan ada toilet khusus dirinya di dalam ruangannya itu....’


Gadis mengira-ngira saja sembari mengiringi langkah Putra yang kini sudah menggenggam tangannya.


***


Putra mempersilahkan Gadis untuk masuk setelahnya, ketika Putra sudah membuka sebuah pintu kayu sebuah ruangan yang masih kental desain jaman kolonial seperti halnya Restoran yang sudah menjadi milik Putra dan keluarganya itu.


“Masuklah”


“Iya....”


“Itu toiletnya”


Putra menunjuk ke satu pintu tak jauh darinya.


“Tunggu saja di sofa itu jika kamu sudah selesai dan aku tidak ada di sini”


Gadis langsung mengangguk lalu masuk ke dalam toilet yang tadi ditunjuk Putra.


***


“Ad” Putra melangkahkan kakinya ke sebuah ruangan kecil yang sedikit tersembunyi letaknya di dalam ruang kantor yang ia masuki itu.


Addison yang baru saja meletakkan gagang telepon di tempatnya itu langsung menoleh saat Putra memasuki ruangan kecil tersebut.


“I don’t know if you want to come buy here ( Aku tidak tahu jika kau akan mampir kesini )”


“I’m a little bit hungry ( Aku sedikit lapar )”


“Who you was called? ( Siapa yang kau hubungi? )” Tanya Putra sembari mengambil duduk di sebuah kursi yang bersebrangan dengan tempat Arthur duduk.


“Hiz”


Addison menjawab singkat.


“What did he said? ( Apa yang dia katakan? )”


“Well, Hiz now more sure that Jaeden is ‘targeting’ him now ( Saat ini, Hiz sudah sangat yakin jika Jaeden sedang ‘mengincarnya’ ) ....”


“Can Hiz handle it?.... ( Apa Hiz bisa mengatasinya? ) ....” Tanya Putra lagi.


“He’ll try ( Dia akan mencobanya )”


“Hiz still have no idea who is someone around him who is cooperate with that lowly creature? ( Apa Hiz tidak dapat menduga siapa orang yang berada disekitarnya yang sudah bekerja sama dengan makhluk rendahan itu? )...”


“No one seems suspicious in Hiz sight until now yet ( Belum ada seseorang yang terlihat mencurigakan sampai dengan saat ini )” Ujar Addison. “That what Hiz told me ( Itu yang Hiz katakan padaku )...”


Putra manggut-manggut.


“Even Hiz is need to be more careful right now, because he feel that he’s being ‘watched’... ( Bahkan Hiz lebih berhati-hati sekarang, karena dia merasa jika dia sedang ‘diawasi’ )...”


“Try to call Dante ( Cobalah untuk menghubungi Dante ) , Ad...” Ucap Putra dan Arthur langsung mengangguk paham. “Then ask about Ghai, right when you able to call Dante ( Lalu tanyakan tentang Ghai, tepat saat kau bisa menghubungi Dante ) ...”


“Okay”


“But not to make a call to Rery’s Mansion ( Tetapi jangan menghubungi ke Mansion milik Rery )”

__ADS_1


Addison kembali mengangguk paham.


“I will try re-check all contacts in my note book ( Aku akan mengecek ulang semua kontak dalam buku catatanku )...”


Putra pun manggut-manggut.


“If in this two days you can’t find way to call Dante in the secret way, then I’m afraid I should to fly over to Italy... ( Jika dalam dua hari ini kau tidak bisa mencari cara untuk menghubungi Dante secara rahasia, maka sepertinya aku harus pergi ke Italia ) ...”


“Let’s talk about it on the next two days then ( Kita bicarakan soal ini lagi dalam dua hari ke depan kalau begitu )...”


Putra mengiyakan ucapan Addison dengan anggukan kemudian.


***


“Come Ad, let’s eat ( Ayo Ad, kita makan )” Putra berdiri dari duduknya saat ia dan Addison mencukupkan pembicaraan mereka untuk saat ini.


Selain itu, Putra juga teringat akan Gadis yang kemungkinan sudah menyelesaikan urusannya di toilet. Addison langsung mengangguk dan ikut berdiri juga dari duduknya.


“By the way ( Ngomong-ngomong ), Putra...” Ucap Addison. “Are you taking Gadis with you just like your plan? ( Apa kau membawa Gadis seperti rencanamu? )...” Tanya Addison.


Putra mengangguk. “She’s here ( Dia disini )” Ucap Putra. “I borrow your personal restroom, Mister Addison. And sorry for not asking your permission before ( Aku pinjam kamar mandi pribadimu, Tuan Addison. Dan maaf aku tidak meminta ijin darimu sebelumnya )”


Addison pun terkekeh.


“Well, since that the woman who is with me is my fiance, I just can’t let her to use an usual restroom in your Restaurant ( Yah, berhubung wanita yang bersamaku itu adalah tunanganku, Aku tidak bisa membiarkannya menggunakan kamar mandi biasa yang tersedia di Restoranmu ini )”


“Hahaha!...”


Addison tergelak.


“You like to grovel yourself Boss”


( Anda suka merendah diri Boss )


Putra dan Addison pun terkekeh bersama kemudian.


***


Gadis sudah terlihat duduk di sebuah sofa seperti yang diminta Putra padanya sebelum ia masuk ke dalam ruang kantor vintage nan hangat bergaya kolonial Belanda tersebut.


“Maaf membuatmu lama menunggu...”


“Tidak apa-apa, Putra” Sahut Gadis pada Putra yang langsung merengkuh pinggang rampingnya itu, sekaligus juga mengecup kecil rahang atas wajah Gadis.


Gadis sedikit merasa canggung karena Putra menunjukkan kemesraan di depan Addison yang kemudian menyapanya dengan ramah seraya mengulurkan tangan untuk berjabat pada Gadis.


Sementara Addison tersenyum saja melihat sikap Putra pada Gadis, yang yah sedikit mengejutkan dirinya juga.


Pasalnya Addison tidak menyangka, jika Putra akhirnya bisa jatuh cinta pada seorang wanita.


‘Well look at this man now. Used to be he even won’t turn his head if there’s a woman approached him, no matter how beautiful, even sexy that the woman is...’


( Wah lihat pria ini sekarang. Dulu dia bahkan tidak mau menggerakkan kepalanya untuk menoleh jika ada seorang wanita yang mendekatinya, meski wanita itu cantik dan seksi ... )


Addison sembari membatin saat melihat sikap mesra Putra pada Gadis.


‘But now, this modest woman, could make that cold bitter mean man could show a fondness unhesitatingly... ( Tetapi sekarang, wanita sederhana ini, dapat membuat pria dingin berhati beku dan kejam menunjukkan sikap mesranya tanpa ragu )...’


Namun Addison rasanya berbahagia, dengan Putra yang sudah menemukan tambatan hatinya itu.


*****


Sebenarnya Gadis sedikit punya pertanyaan dalam hatinya, tentang mengapa Putra dan Addison nampak santai menggunakan ruang kantor mewah dalam Restoran yang ia dan Putra sambangi itu.


Gadis menduga ruangan itu adalah milik dari pemilik Restoran dan Putra serta Addison mengenal pemilik Restoran tersebut, hingga diperbolehkan menggunakan ruangan yang sepertinya pribadi dengan akses terbatas itu.


Tapi, selain Gadis sedikit heran dari mana Putra dan Addison tadi yang Gadis sekilas lihat saat ia menoleh sewaktu mendengar suara kekehan dua pria tersebut yang nampak keluar dari belakang sebuah rak buku tinggi. Tapi jika mereka berbicara dibalik rak buku tersebut, setidaknya Gadis seharusnya mendengar suara orang berbicara.


Namun sedari Gadis menyelesaikan urusannya di toilet lalu duduk di sebuah sofa di satu sudut ruangan seperti yang Putra katakan padanya, Gadis tidak mendengar suara apapun selain hembusan nafasnya sendiri. Bahkan Gadis berpikir jika Putra sedang tidak berada dalam ruangan tersebut.


Tapi tahu-tahu Putra dan Addison muncul dari balik rak buku.


Gadis yang berpikir jika Putra dan Addison mengenal pemilik Restoran, juga sedikit menelisik dengan matanya ke arah belakang Putra dan Addison saat mereka muncul. Mengira ada orang lain yang bersama dua pria itu. Namun nyatanya tidak ada orang lain lagi.


‘Mungkin karena Tuan Danny bekerja disini, jadi kami diperbolehkan menggunakan ruangan yang sepertinya punya pemilik Restoran’ Batin Gadis.


“Hello, Gadis, how are you? ( Halo, Gadis, apa kabarmu? ) ...” Sapa Addison.


“I’m fine, Mister Addison ... ( Aku baik, Tuan Addison ) ...” Jawab Gadis dengan sopan.


“Just Ad, please ( Tolong, panggil Ad saja )... You will become our family ( Kau akan menjadi keluarga kami )...”


“She already be ( Dia sudah menjadi bagian didalamnya )” Sambar Putra.


“Ah ya, forgive me ... ( maafkan aku ) ...” Tukas Addison. “Since my brother has choose you to be his Lady, then you are already be apart of our family ( Sejak saudaraku telah memilihmu sebagai wanitanya, maka kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami )...”


Addison pun mengkoreksi ucapannya seraya tersenyum ramah pada Gadis.


“Thank you, Mis-... Ad ( Terima kasih, Tu- ... Ad ), maksudku...” Ucap Gadis dengan juga tersenyum pada Addison. “Eh, I mean ( maksudku )...”


Gadis yang seketika sadar jika ucapannya ditambahkan bahasa Indonesia dibelakangnya, segera meralat katanya, hingga Putra terkekeh kecil.


“Well, better we go for eat now... ( Ayo, sebaiknya kita pergi makan sekarang )...” Ajak Putra pada Gadis dan Addison. Dan Gadis serta Addison pun langsung mengangguk.


****


‘Wow!’


Gadis seketika membelalak takjub, kala ia sudah kembali ke ruangan tempatnya berada sebelum ia diantarkan Putra untuk menyelesaikan urusan pribadinya di toilet dalam sebuah ruangan yang Gadis terka adalah ruangan pimpinan atau bahkan ruangan si pemilik restoran.


“Ada apa?...”


Putra yang melihat Gadis yang nampak termangu itu sontak bertanya.


“Tidak apa-apa...”


Gadis menjawab seraya tersenyum pada Putra yang kemudian menarik kursi tempat duduk Gadis tadi, lalu mempersilahkan Gadis untuk duduk.


‘Aku rasanya mulai semakin penasaran pada Putra... Bahkan untuk makan siang saja sampai sebanyak ini hidangannya?. Dan ini...’


Gadis melirik beberapa peralatan makan yang terjejer dihadapannya.


‘Restoran Eropa mewah seperti ini, apa serumit ini kah hanya untuk makan saja????...’


Gadis meringis dalam hatinya melihat beberapa sendok beragam ukuran, termasuk juga garpu dan pisaunya.


***


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2