
Note : Baca dulu episode jika ingin memberikan LIKE / COMMENT nya ya.
Thank you.
Happy reading..
London, England
“Lose or win? (Menang atau kalah?) ...” tanya Damian seraya berbisik pada Putra setelah ia selesai menukarkan uang dengan kepingan chip untuk bermain dalam sebuah kasino yang sedang Damian dan Putra sambangi saat ini, bersama beberapa kawanannya.
“Lose first (Kalah saja dulu) ----“ jawab Putra, sambil mereka berjalan menuju sebuah meja dengan permainan Roulette dalam kasino yang sedang mereka masuki itu-yakni judi angka pada sebuah roda berwarna dengan angka-angka di dalamnya. Yang mana kasino tempat Putra dan beberapa kawanannya ini, adalah milik salah satu sekutu Jaeden.
“Ah ya, return the money to the owner first (kembalikan uang pada pemiliknya terlebih dahulu) ----“
“Then take more (Lalu ambil lebih banyak) ---“ sambar Putra menanggapi ucapan Damian yang bermakna selorohan barusan.
Lalu Putra dan Damian terkekeh bersama sambil mereka berjalan menuju ke meja permainan Roulette yang pertama ingin mereka mainkan.
“I’ll go there (Aku akan kesana)—“ ucap Damian pada Putra saat mereka telah berada di dekat sebuah meja permainan Roulette dimana telah ada beberapa orang pemain dan seorang bandar yang berdiri di ujung meja, dengan satu orang berbadan besar yang ada di setiap meja permainan untuk mengawasi mereka yang sedang bermain dalam kasino.
Putra hanya menjawab dengan anggukkan ucapan Damian yang hendak memisahkan diri darinya. Keduanya sengaja memisahkan diri untuk mencegah kecurigaan dari staf keamanan kasino agar rencana mereka tidak kacau.
Revel juga sudah memisahkan diri dari Putra dan Damian selepas dari konter penukaran chip, Putra menyuruhnya untuk pergi ke permainan mesin slot dengan modal kepingan dari uang yang diberikan oleh Putra padanya pada saat masih di dalam mobil.
Dan Revel pun telah berada di bagian mesin slot sekarang. Bermain disana macam para tamu yang lainnya, hingga sampai Damian menghampirinya. Namun apa rencana Putra dan Damian lebih lanjut, Revel tidak tahu. Terserah seperti apa, yang Revel tahu dia hanya menuruti perintah saja.
Damian telah berada di sebuah meja permainan judi kartu, sementara Putra sudah menyelip diantara orang-orang yang berada di permainan Roulette tempatnya berada sekarang.
Putra bersikap normal seperti para tamu pada umumnya yang datang ke kasino.
“Do you want to come in, Sir (Apa anda ingin bermain, Tuan)?” tanya sang bandar permainan saat melihat Putra berada di jejeran para pemain.
“Ya, sure.“ jawab Putra.
“You can bet now (Anda dapat memasang taruhan anda sekarang) ...”
Bandar permainan itu berbicara, dan Putra menempatkan beberapa keping chip pada sebuah papan angka dengan permukaan licin yang berada di dekat roda putra.
“Ah damned!” seru Putra karena bola kecil berwarna putih itu berhenti di angka dan warna yang berbeda dari yang Putra pasang.
Yang memang Putra dengan asal –asalan saja bermain sambil matanya yang nampak biasa itu, sebenarnya tengah memperhatikan Roulette permainan.
‘Cih! Foxy! (Cih! Dasar licik!)’ cibir Putra dalam hatinya, karena ia tahu bahwa papan permainan roda berputar yang sedang ia mainkan itu sudah di atur sedemikan rupa oleh pihak kasino, agar bandar yang menang.
****
“Still want to play Sir (Apa masih ingin bermain Tuan)?” tanya bandar Roulette pada Putra yang telah tiga kali main dan setiap main selalu menaikkan jumlah kepingan chipnya dan selalu kalah itu. Yang mana kekalahan itu memang sengaja Putra lakukan, karena iseng saja.
__ADS_1
Putra tidak langsung menjawab bandar tersebut, dan berlagak jika dirinya sedang menimbang-nimbang untuk terus bermain atau tidak dengan ekspresi wajah penasaran yang Putra ciptakan.
“Okay, last time (Oke, kali terakhir)” jawab Putra dengan meletakkan kepingan chip lebih banyak lagi dari sebelumnya, dan bandar permainan tersenyum miring sambil curi – curi lirik dengan pria yang bertugas sebagai keamanan di tiap meja permainan.
Putra memang menunjukkan chip yang ia punya pada semua orang yang jumlahnya lebih banyak dari para pemain yang lain. Jadi itu membuat bandar berpikir untuk membujuk Putra terus bermain agar keuntungan dapat terus mereka dapatkan, mengingat Putra selalu menaikkan taruhannya.
“If I lose again, I’ll stop (Jika aku kalah lagi, maka aku akan berhenti)”
Putra berucap sambil roda permainan telah diputar oleh bandar.
“But I’m sure I win this time (Tapi aku yakin aku menang kali ini)” kata Putra lagi dengan menampakkan wajah seorang yang naif.
“26 Black.”
Bandar permainan berkata dimana roda telah berhenti berputar, dan bola putih di dalamnya berhenti di tempat yang bandar itu katakan barusan.
“I’m sorry you lose again, Sir (Maaf karena anda kalah lagi, Tuan)”
Bandar permainan itu berucap lagi, sambil menatap pada Putra dengan tatapan sok iba.
“And quite a lot this time (Dan cukup banyak kali ini)----“ kata bandar itu lagi. “Want to make another try (Apa ingin mencoba lagi)? ..”
“Heemmm .. I think four times lost is enought for me here .. I’ll try my luck in another table (Aku pikir empat kali kalah disini sudah cukup bagiku .. aku akan mencoba keberuntunganku di meja yang lain) –“
“Feel free to do that, Sir (Silahkan saja, Tuan)”
Putra tersenyum dan mengangguk pada bandar tersebut, sebelum dia hengkang dari meja permainan Roulette.
Kemudian Putra berlagak seperti sedang memilih permainan judi dalam kasino yang ia inginkan, padahal matanya sedang menyisir keadaan sekitar, sekaligus memperhatikan secara kasat ke tempat dimana Damian berada.
Dimana setelah Putra melihat ke arah Damian yang sedang duduk di suatu meja judi kartu, Putra menangkap kode dari Damian, yang sedang melipat bibirnya.
Kode yang hanya mereka yang pernah hidup bersama Putra di Ravenna saja yang tahu, yakni kode bahasa isyarat yang menggunakan gerakan tubuh yang terlihat normal.
Seperti yang sedang Damian lakukan saat ini, dimana ia langsung melipat bibirnya setelah melihat Putra menjauh dari meja Roulette. Bibir yang dilipat ke dalam itu, bermakna permainan sedang memanas – yang mana artinya, di meja Damian itu, taruhan sedang ada pada nominal besar.
Putra pun melangkahkan kakinya dengan santai ke meja tempat Damian berada. “Brother!”
Lalu Putra memang sengaja menegur Damian, karena sejak masuk ke dalam kasino tersebut, mereka datang bersama.
Pasti ada keamanan yang memperhatikan tamu-tamunya, jadi Putra dan Damian menampakkan interaksi yang normal.
“I’m out (Aku keluar!)” ucap Damian saat menutup kartunya.
“Dammit, you lose?! (Sialan, kau kalah?!)”
Putra menodong Damian dengan pertanyaan yang terdengar gusar, berikut ekspresi wajahnya.
“Wasn’t my lucky night (Bukan malam keberuntunganku)—“
Damian menjawab sambil menampakkan wajah kecewanya pada Putra.
__ADS_1
“How about you?. Because I’m losing a lot here (Bagaimana denganmu?. Karena aku kalah banyak disini)”
“Well. This isn’t my lucky night too (Yah, ini juga bukan malam keberuntunganku)---“ jawab Putra pada Damian.
“Do you still have money (Kau masih memiliki uang)?—“
“Not much ..... but I think It’s still more enough to play here. Right?”
(Tidak banyak ..... tapi aku rasa masih cukup untuk bermain disini. Benar kan?)
Putra menjawab Damian yang berbicara padanya di dekat meja tempat Damian bermain, lalu Putra berbicara pada sang bandar sambil menunjukkan kepingan chipnya.
“Your chips still enough to play here, Sir (Chip anda masih cukup untuk bermain disini, Tuan)”
Bandar permainan pada meja sebuah jenis permainan kartu yang disebut Black Jack itu menyahut pada Putra setelah melihat chip di tangan Putra, yang jika diuangkan itu cukup lumayan jumlahnya.
Putra tersenyum pada si bandar.
“Well, let me try my luck here, then (Kalau begitu, aku akan mencoba peruntunganku disini) –“
Putra mengambil tempat duduk pada kursi yang tadi Damian duduki.
“Go get some drinks, brother (Pergi ambil minuman, saudaraku) –“ ucap Putra pada Damian. “I’ll replace your place here (Aku yang menggantikanmu disini)..”
“Okay!”
Damian pun mengiyakan, lalu ia hengkang dari tempatnya dan berjalan menuju bar minuman yang ada dalam kasino tempatnya dan beberapa orang kawanannya dan Putra berada saat ini.
Termasuk Devoss yang berada di meja yang sama dengan Damian, namun keduanya berlagak tidak kenal.
Putra kalah pada taruhannya yang pertama-berikut para pemain yang lain jadi bandar yang menang. Namun dipermainan berikutnya, Putra sudah memberi kode pada Devoss, untuk menaikkan taruhan.
Devoss sebelumnya sudah diberitahukan beberapa kode bahasa isyarat dengan gerakan tubuh yang biasa ia gunakan dengan para saudaranya yang berada di Ravenna dan dengan cepat Devoss mempelajarinya.
Jadi setelah Devoss menaikkan taruhan yang mana jumlahnya ia sesuaikan dengan kepingan jumlah total kepingan chip yang Putra miliki sekarang, Putra ikut masuk dalam permainan dan mempertaruhkan semua kepingan chipnya.
Bandar sudah tersenyum penuh arti, dan mulai membagikan kartu.
Namun setelah kartu di bagi, senyuman si bandar menghilang, karena Putra memenangkan permainan dengan telak.
Tak berhenti, Putra menyatakan bermain lagi, hingga tiga kali permainan, Putra terus-terusan menang, dan wajah bandar telah nampak gugup sekarang.
“I think I’m off now (Aku rasa aku berhenti sekarang)”
Putra berucap sambil mengumpulkan kepingan chipnya yang sangat banyak itu, kemudian memasukkannya pada kantung chip yang telah disediakan.
Namun saat Putra sudah bangkit dan hendak hengkang dari meja permainan bersama Damian yang telah datang setelah memesan dua gelas minuman, ada yang menahan Putra untuk pergi.
“Sir (Tuan) –“
**
__ADS_1
To be continue ...