
Happy reading .....
***************
Wales, England,
“Why put him there? Not inside? ( Kenapa menempatkannya di sana? Bukan di dalam? )”
Adalah Putra yang bertanya pada seorang pria paruh baya yang masih nampak gagah di usianya.
Putra bersama Damian, Addison, Devoss dan Danny, kini sedang berada di sebuah lingkungan penjara yang di sebut sebagai penjara paling menakutkan di Inggris karena di penjara yang sedang Putra dan rombongannya datangi ini berisikan penjahat-penjahat kelas kakap serta berbahaya.
“Well, just in case you want to kill him before he get to the court --- it will easy for me to make excuse about his dead ( Yah, seandainya saja kau ingin membunuhnya sebelum persidangan --- akan mudah bagiku membuat alasan tentang kematiannya )“
Pria paruh baya yang sedang diajak bicara oleh Putra itu kemudian menjawab pertanyaan Putra yang langsung berdehem samar setelah mendengar jawaban pria paruh baya tersebut.
“So, are you going to finish him today? ( Jadi, apa kau akan menghabisinya hari ini? )”
Pria paruh baya yang adalah teman lama dan dekat almarhum ayah kandung Putra itu kemudian bertanya.
“Depends on my mood ( Tergantung moodku )”
Putra menjawab santai. Pria paruh baya yang berjalan bersisian bersama Putra itu kemudian tersenyum saja, sambil menepuk – nepuk pundak Putra.
******
“I’ll be on my office ( Aku akan berada di kantorku )”
“Yes Holmes—“
“Edzard will stay here just in case you need something ( Edzard akan tinggal seandainya kau membutuhkan sesuatu )”
“Okay.”
Putra sekali lagi menyahut santun pada pria paruh baya bernama Holmes itu.
“Thank you ...” tambah Putra.
Sekali lagi Holmes mengangguk.
Menepuk – nepuk kecil pundak Putra sebelum menjauh darinya.
“Ah, by the way, Putra.” Holmes menahan langkahnya. “He told me about the secret treasure trove of Kingsley, is that true? ( Dia mengatakan padaku tentang harta karun rahasianya Kingsley, apakah itu benar? )”
“Yes it is.”
Putra menjawab tanpa ragu.
“I’ll take you to see it later if you curious about it ( Aku akan membawamu melihatnya jika kau penasaran akan itu )”
Holmes pun terkekeh mendengar ucapan Putra.
“I’m not that curious. Beside, I already feel enough for what I have now. And my age is not fit anymore to be greedy. And you can trust my son here, that he won’t dare to try betrayal you because I’m sure he know that he will end up just like Jaeden Zepeto if he against ‘a black fire’ from Ravenna.”
( Aku tidak sepenasaran itu. Lagipula, aku sudah merasa cukup dengan apa yang kumiliki saat ini. Dan usiaku tidak cocok lagi untuk menjadi serakah. Dan juga kau dapat mempercayaiku anak lelakiku ini, bahwasanya dia tidak akan berani untuk mengkhianatimu karena aku yakin dia tahu bahwa dia akan berakhir seperti Jaeden Zepeto jika dia melawan ‘Api Hitam’ dari Ravenna )
******
Putra dan rombongan kecilnya sudah berada di depan sebuah pintu bangunan kecil yang masih menjadi bagian dari sebuah penjara yang ia datangi itu.
Hanya saja letak bangunan yang tak seberapa besar itu terpisah dari penjara utama. “This place is the isolation room? ( Tempat ini ruang isolasi? ) ...” tanya Putra pada anak lelaki dari pria yang bernama Holmes.
“More correct to say as interrogation room ( Lebih tepat dikatakan sebagai ruang interogasi ) ...” jawab anak lelaki Holmes yang bernama Edzard itu. “For a special interrogation. You know ( Untuk interogasi yang istimewa. Kau tahulah ) ...“
Putra tersenyum kecil menanggapi ucapan Edzard yang bicara penuh arti pada Putra sambil mengulum senyumnya. Lalu setelahnya Edzard membawa Putra masuk ke dalam bangunan yang dominan dengan batu bata di keseluruhan permukaan luarnya.
Edzard berjalan mendahului putra mendekati sebuah sel di mana hanya ada satu orang yang sedang berbaring di atas tempat tidur usang di dalamnya.
__ADS_1
“*Hey drifter! You have a guest*! ( Hey gembel! Kau kedatangan tamu! )” seru Edzard di depan satu sel yang besi jerujinya telah berkarat. Dan pria yang sedang berbaring itu sontak menunjukkan pergerakan setelah mendengar suara Edzard.
Nampak pria yang lusuh penampilannya itu bangun dengan semangat. Namun kemudian matanya melotot tajam ketika melihat seseorang yang berada di belakang Edzard.
“YOU ( KAU )!”
Orang yang berada dalam sebuah sel usang pada ruangan yang lembab dan temaram itu memekik tajam didetik berikutnya, pada orang yang tadinya berdiri di belakang Edzard.
Dan sekarang orang tersebut yang adalah Putra telah berdiri berjarak di hadapan sel tempat pria yang melotot dan baru saja memekik tajam sambil menatap penuh dendam pada Putra dengan memegang dua pilar jeruji besi berkarat tempatnya dikurung dengan kuat.
“Enjoy your time here\, m*therf*cker ( Menikmati waktumu di sini, k*parat )?”
Putra bersuara kemudian.
Sambil Putra menyeringai remeh pada pria yang ada di balik sel besi tersebut, yang adalah Jaeden Zepeto.
Putra berdiri dengan gagahnya di depan Jaeden yang terpisah dengan pilar – pilar jeruji usang yang mengurung pria pembunuh Rery dan istrinya itu.
Kedatangannya untuk melihat Jaeden yang Putra titipkan pada seorang kenalannya, dimana orang itu adalah kawan lama almarhum ayahnya yang Putra tahu jika orang tersebut dapat ia andalkan.
Selain kawan lama ayahnya itu memiliki posisi yang sangat penting di kepolisian Inggris, dan orang itu amat sangat disegani juga oleh publik Inggris. Hingga begitu disegani sampai orang yang ingin mengusiknya harus berpikir berkali-kali untuk melakukannya.
******
Putra masih menatap dengan remeh, Jaeden yang berada di balik jeruji besi yang mengurungnya itu. Tangannya sudah gatal sekali ingin menghabisi Jaeden saat ini juga, tapi Putra harus menahannya terlebih dahulu.
Karena Jaeden harus membayar dulu denda lainnya karena telah mengacaukan keluarga Rery, bahkan menciptakan rumor buruk bagi orang – orang setia keluarga Kingsley Smith dengan memfitnah orang – orang tersebut.
Dan yang terbaru, bahkan Jaeden juga menciptakan rumor buruk tentang Rery yang katanya ingin menguasai secara tunggal kekayaan turun – temurun keluarganya, lalu menyuruh orang untuk membunuh ayah kandungnya sendiri --- kemudian karena dirundung rasa bersalah, Rery bunuh diri setelah membunuh anak dan istrinya terlebih dahulu.
Jadi Putra harus menahan dirinya dulu untuk menghabisi Jaeden, walau dia telah membuat Jaeden merasakan yang Rery rasakan terkait terbunuhnya Madelaine --- istri Rery, dan apa yang Jaeden sempat lakukan pada Anthony. Hanya tinggal membuat Jaeden membayar kematian Rery dengan kematiannya, lalu Putra baru kiranya bisa merasa puas hati karena telah membalaskan dendamnya pada Jaeden atas nama Rery, Madelaine dan Anthony.
******
Putra menyeringai kemudian memandangi Jaeden yang nampak geram memandanginya dari balik jeruji besi itu.
Walaupun Putra tidak memiliki keraguan atas itu.
Holmes, yang meskipun dikenal licik oleh orang – orang yang kontra dengannya, namun orang yang amanat pada orang – orang yang berjasa padanya.
Dan almarhum ayah Putra adalah satu diantaranya.
Bahkan almarhum ayah Putra dapat dikatakan cukup memiliki banyak jasa pada Holmes di posisinya sekarang. Jadi Putra yakin memang Holmes dapat diandalkan, dan lagi Putra memang tidak pernah salah menilai orang.
Maka itulah yang terjadi.
Putra menitipkan Jaeden pada Holmes, dan pria itu melakukan apa yang Putra minta, tanpa adanya konspirasi meski Jaeden telah mencoba bernegosiasi dengannya dan bahkan mengatakan tentang harta tersembunyi milik keluarga Kingsley Smith untuk nantinya akan dibagi rata, jika Holmes mau berada di pihak Jaeden.
Yang mana usaha Jaeden itu diabaikan saja oleh Holmes dan anak lelakinya yang tidak tergoda pada harta tak terhingga milik keluarga Kingsley Smith yang tersembunyi itu, dimana sedikit banyak, Holmes mengetahui bagaimana seorang Putra Adjieran Vinson itu punya tabiat dan kemampuan.
Bagi Holmes, meskipun tinggi kekuasaannya --- namun ia dapat menilai, jika pria muda anak salah satu kawan lama yang ia hormati itu bukanlah seseorang yang dapat diusik.
Pria yang nampak setenang air kolam di permukaan itu, sungguhlah patut diwaspadai ketenangannya.
Karena ada pepatah yang mengatakan, air tenang menghanyutkan bukan? ...
Dan kiranya itu telah dibuktikan, jika Putra memang setenang air yang menghanyutkan.
Dia yang telah dianggap telah mati bersama Rery dan kawanannya yang lain di Italia, nyatanya kembali dengan segala hal yang telah dipersiapkan untuk membalas balik Jaeden bahkan jauh berlebih dari yang telah pria itu lakukan.
******
“FIGHT ME ONE BY ONE IF YOU DARE ( HADAPI AKU SATU LAWAN SATU JIKA KAU BERANI )!”
Setelah menunjuk dan menatap nyalang pada Putra yang berdiri tegak di hadapannya pada seberang jeruji yang mengurungnya, Jaeden bersuara dan menantang Putra.
Jaeden yang merasa memiliki kemampuan bertarung itu berani menantang Putra, karena sebelumnya ia memang seorang petarung jalanan yang mencari uang dengan mengadu diri dan selalu memenangkan pertarungan jalanan yang ia ikuti itu.
__ADS_1
Berpikir, jika sebenarnya Putra kuat karena memiliki banyak orang di sekelilingnya, bukan karena kemampuan fisiknya.
“Sure, why not ( Tentu, kenapa tidak )?”
Jaeden pikir dia akan melihat keraguan di wajah Putra, namun nyatanya Putra menanggapi dengan cepat sekali tantangannya.
Padahal Jaeden sudah punya rencana di otaknya untuk mengintimidasi Putra jika ia melihat pria yang dulu ia cap sebagai ‘bayangan’ nya Rery itu terlihat ragu menjawab tantangannya.
Putra yang terkesan sombong di mata Jaeden setelah perbuatannya ketika pria itu menampakkan batang hidungnya lalu menjatuhkan Jaeden dengan sedemikian rupa itu, Jaeden pikir mungkin memang cerdas saja otaknya, tapi tidak kuat fisiknya.
Tubuh Putra memang atletis, tapi Jaeden rasa itu hanya hiasan saja. Karena Jaeden sadar juga pada tubuhnya yang tinggi tegap macam Putra, bahkan Jaeden yakin dengan sangat jika tubuhnya lebih ‘keras’ dari Putra dengan tenaga petarung yang masih ia punya.
Jadi Jaeden ingin mengintimidasi Putra jika Putra terlihat ragu dengan tantangannya untuk bertarung fisik satu lawan satu dengan menurunkan harga diri Putra di depan kawanannya, dan pria itu pasti tidak terima.
Lalu Jaeden akan mencetuskan tawarannya, yang ia yakin --- bahwa Putra yang sombong menurutnya itu, tidak akan punya pilihan untuk mengiyakan tantangan disertai tawarannya nanti demi Putra yang menjaga harga dirinya di hadapan orang – orang pria yang Jaeden kenal sebagai Putra Patrick Vinson tersebut.
“Take him out ( Keluarkan dia )”
Putra yang sebelumnya menerima tantangan Jaeden dengan santai itu, berbicara lagi.
Edzard kemudian memandang pada beberapa orang yang ia tahu adalah orang terdekat Putra untuk meminta pendapat.
******
“I’m sure you have a reason by chalenging me to fight as a man with you, don’t you? ( Aku yakin kau memiliki alasan dengan menantangku bertarung sebagai lelaki denganku, bukan begitu? )”
Yang Putra katakan, dan Jaeden terkesiap sesaat, namun setelahnya ia menyeringai. “If I win, you have to let me go ( Jika aku menang, kau harus melepaskanku )”
Jaeden pongah berkata.
“And I want black on white for that.”
( Dan aku ingin ada hitam di atas putih untuk itu )
Putra kemudian mendengus geli mendengar permintaan Jaeden itu.
“That, if you’re not such a coward ( Itu, jika kau memang bukan seorang pengecut )”
“Heh!”
Putra berdecih sinis kemudian.
“Do what he ask ( Lakukan apa yang dia minta )”
Selanjutnya Putra bicara pada Edgard yang kemudian mengangguk lalu memanggil dan menyuruh satu anak buahnya untuk membuatkan surat perjanjian antara Putra dan Jaeden.
“Don’t forget your father stamp ( Jangan lupa cap dari ayahmu )”
Jaeden berbicara dengan wajah liciknya pada Edgard.
“Just give what he wants ( Berikan saja apa yang dia mau ), Edgard.”
Putra berkata.
Dan Jaeden tersenyum senang.
Selama satu anak buah sang ayah belum kembali dengan membawa surat perjanjian yang disepakati oleh Putra atas permintaan Jaeden, pria licik itu belum dikeluarkan dari jeruji besi yang mengurungnya.
Jaeden sedang mempersiapkan dirinya untuk menghajar Putra habis – habisan.
Lalu ketika orang suruhan Edzard telah kembali dengan membawa surat dari Holmes sesuai permintaan Jaeden yang diiyakan oleh Putra, Jaeden dengan pongah lagi berkata,
“How about fight ‘till death? ( Bagaimana kalau bertarung sampai mati? )”
******
To be continue ...
__ADS_1
Terima kasih masih setia dan terima kasih juga untuk setiap dukungan pada karya ini.