
Happy reading...
*****
“Wait me at the turn behind The Clock Tower (Tunggu aku dibelokan belakang Menara Jam)...” ucap Devoss pada Putra yang telah duduk kembali di kursi penumpang belakang mobil mereka.
Devoss berada di luar mobil, karena ia menawarkan diri untuk mengurus jasad target – berikut mobilnya, yang telah dihabisi Putra dengan tangannya sendiri - sesuai dengan yang diinginkan oleh Putra.
“Okay.” Sahut Putra.
*****
“I beg your pardon Boss. But how about the woman in the trunk (Mohon maaf sebelumnya Bos. Tapi bagaimana dengan wanita yang ada di bagasi)?...” tanya Jules pada Putra saat mobil yang dikemudikan Rus telah sedikit menjauh dari Devoss.
“Throw her away (Buang saja)”
“Yes, Boss.”
*****
“Check her identity (Periksa identitasnya)”
Putra berucap saat mobil yang ia tumpangi bersama dua orang lainnya berhenti di sebuah lorong dekat sebuah bangunan sepi pada satu blok.
“If she dead, send her to her family (Jika dia mati, kirimkan dia pada keluarganya)...” tambah Putra.
Jules menyahut sigap mengiyakan perintah Putra.
“I don’t think that my hit will kill her (Saya rasa pukulan saya tidak akan menewaskannya)”
Lalu Jules berucap.
“Just check her (Periksa saja dulu)-“
“Yes, Boss.”
“If she’s still alive, just leave her just like that (Jika dia masih hidup, tinggalkan saja dia)...”
Putra berucap datar dan Jules mengangguk.
Lalu Jules segera bergegas keluar dari dalam mobil untuk melakukan apa yang Putra perintahkan barusan.
*****
Hanya butuh beberapa menit saja bagi Jules untuk menyelesaikan tugas yang Putra perintahkan tadi, lalu ia segera masuk kembali ke dalam mobil setelahnya.
“Why don’t we vanish that women Sir?... Don’t you worry that she will go to the police and report us (Mengapa tidak kita habisi wanita itu Tuan?... Tidakkah anda khawatir jika dia akan pergi ke kantor polisi dan melaporkan kita)?---“
Rus yang sudah melajukan mobil yang ia kemudikan itu angkat bicara.
“It will be useless for her to do (Itu hanya percuma saja untuk dia lakukan)...”
Putra menyahut santai.
“She doesn’t recognize us. Even she had seen our car plate, both of you know why it’s also useless.”
“(Dia tidak mengenali kita. Walaupun dia sempat melihat plat mobil kita ini, kalian berdua tahu jika itu percuma)”
“You’re right Boss/Sir...” Jules dan Rus menyahut bersamaan.
“Now let’s pick up Dev (Sekarang kita jemput Dev)”
Putra kembali berucap.
“Because we still have some works to do.”
“(Karena kita masih memiliki beberapa pekerjaan yang harus dilakukan)”
*****
Sementara itu di tempat lain, Damian bersama Garret, sudah berada di sebuah Komplek Pemukiman yang dapat dikatakan Elit.
Mobil yang di tumpangi kedua orang itu nampak melaju di jalanan dimana beberapa unit rumah yang tergolong elit-meski standar, ada di samping kanan dan kiri jalanan tersebut.
“Are you guys sure that he’s home (Apa kalian yakin dia ada di rumah)?” tanya Damian pada dua orang anak buahnya yang berada dalam satu mobil bersamanya dan Garret.
Dua orang anak buah yang berada pada kursi bagian depan mobil itu langsung mengangguk dan menyahut. “Confirmed, Boss!”
__ADS_1
Damian pun menanggapi dengan anggukan.
Kemudian Damian dan Garret menyiapkan senjata mereka dan mengeceknya kembali sebelum mereka masukan lagi ke dalam saku coat mereka.
Begitu juga satu anak buah keduanya yang duduk di kursi penumpang depan, selain yang sedang mengemudikan mobil.
“Wait us in that corner (Tunggu kami di ujung sana)!...”
Damian yang paham seluk beluk daerah yang sedang didatanginya saat ini, menyuruh anak buahnya untuk menunggu pada satu titik yang ia tunjuk.
Anak buah yang menjadi supir itupun mengangguk paham.
*****
“He just get inside his work room (Dia baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya), Boss.”
Seseorang langsung menghampiri Damian dan Garret yang keluar dari mobil, bersama satu anak buah mereka dari dalam mobil yang sama.
Seseorang yang langsung menghampiri Damian dan Garret yang turun di sebuah titik yang sepi itu adalah Stan-salah satu anak buah yang cukup berpotensi macam Richard dan Jules, yang sudah mengintai target mereka yang tinggal di dalam sebuah rumah yang menjadi incaran di daftar milik Putra dan para saudaranya itu.
“How many guard at front (Ada berapa penjaga di depan)?”
Garret bertanya dengan cepat.
“Just one (Hanya satu), Boss.”
“Inside (Didalam)?...” tanya Garret lagi.
“There’re only two guards, and they’re shifting (Hanya ada dua penjaga, dan mereka bergantian)”
“Knock that one then (Lumpuhkan yang satu itu kalau begitu)”
“Yes, Boss.”
“Silently (Sesunyi mungkin), Stan.”
Stan pun mengangguk dan langsung pergi untuk melaksanakan tugas dari Damian dan Garret.
“Let’s go in (Ayo kita masuk) ...” ajak Damian pada Garret dan satu anak buah mereka, setelah ia melihat kode dari Stan jika aman untuk mereka masuk ke dalam rumah target mereka tersebut.
*
“Knock down the maids too, and find out if there’s no other bodyguards inside. And I’m sure you guys know to do if there’s any. Then gather the main occupant. Bring them to us (Lumpuhkan juga para pelayan, dan cari tahu apa ada penjaga lain di dalam. Dan aku yakin kalian paham apa yang harus dilakukan jika ada. Lalu kumpulkan para penghuni utama. Bawa mereka pada kami)”
Garret memberi perintah pada Stan serta dua anak buah yang lain, yang langsung mengangguk sigap.
“You, stay here (Kau, tinggal disini)” Lalu Damian memerintahkan satu orang berjaga di gerbang.
*****
Knock, Knock....
Damian mengetuk santai sebuah daun pintu yang menutup satu ruangan.
“Come in (Masuk)”
Terdengar sahutan dari balik pintu.
“Good evening----“
“Who are you (Siapa kau)?....”
Seorang pria yang tengah duduk dibalik sebuah meja kerja langsung mendongak ketika mendengar suara sapaan dari orang yang tidak ia kenal.
“My brother (Saudaraku)” jawaban terdengar, tapi bukan dari mulut Garret.
“......”
“Rery’s brother (Saudara Rery) ---“
“Y-ou (K-au)....” pria itu kemudian nampak sangat terkejut, ketika Damian muncul di hadapannya.
“How are you (Bagaimana kabarmu), Stephen?....”
Damian telah berdiri tegak di hadapan pria yang Damian panggil Stephen itu, dengan kedua tangan Damian yang ia masukan ke dalam saku celananya.
“Da-da-mian????....”
__ADS_1
“What’s wrong (Ada apa)?-“
“I....”
Pria bernama Stephen itu terbata.
“Thought you-you (Aku pikir kau-kau)-“
“Dead (Mati)?” sambar Damian sembari ia tersenyum miring. “Just like Rery (Seperti Rery)?....”
Pria bernama Stephen itu meneguk sulit salivanya.
Dengan raut wajahnya yang nampak mulai pias.
“I-I feel condolence for Rery (Aku-aku turut berduka cita untuk Rery)”
“Hem....”
“I, I-“ Stephen hendak lagi bicara.
“Don’t try (Jangan coba-coba)” Namun Damian kembali berucap.
“No please (Tidak jangan)!-“
Dan Stephen langsung mengangkat tangannya ke arah Damian, kala Damian telah menarik seorang wanita dan mencengkramnya, kemudian menodongkan pistol ke kepala wanita yang telah terikat tangan, dan mulut yang tersumpal dengan ikatan kain, serta sudah bersimbah air mata.
Damian bergerak cepat setelah Stan membawa satu wanita dan satu remaja laki-laki dengan kondisi tangan mereka yang terikat serta mulut yang tersumpal dengan ikatan kain dan dalam kuasa Stan serta satu anak buah Damian dan Garret yang lain.
Damian menarik si wanita, karena Stephen secara diam – diam hendak meraih gagang telepon. Namun sayang gerakannya itu terbaca oleh mata Damian, yang langsung membuat Stephen mengurungkan niatnya setelah Damian menarik wanita yang adalah istri Stephen dimana wanita itu berada di bawah ancaman pistol Damian.
Dan kini Stephen pun telah di bawah ancaman pistol Garret yang tertodong ke kepalanya. Yang kemudian langsung ditarik paksa tubuh pria bernama Stephen itu dan dibuat berlutut di hadapan Damian yang sedang mengancam sang istri, serta anak lelakinya yang berada di bawah ancaman pistol Stan.
“Well, I don’t have much time. Which one that you want to choose for a mercy of life (Yah, aku tidak punya banyak waktu. Mana yang kau pilih untuk diberikan pengampunan hidup)? –“
“N-o....”
Stephen melirih dalam.
“I count to three (Aku hitung sampai tiga)-“
“Plea-se Damian, about Jaeden, I-have no choice (Aku-mohon Damian, tentang Jaeden, Aku-tidak memiliki pilihan)-“
“One....”
“Damian! Plea-se....”
“Two....”
“I promise I will help you to destroy Jaeden! I (Aku berjanji aku akan membantumu untuk menghancurkan Jaeden! Aku)-“
Bang.
Bang.
Dua suara tembakan berperedam terdengar, dan didetik berikutnya dua orang yang menjadi sandera Damian ambruk di bawah kakinya dan di hadapan Stephen yang langsung berteriak, karena istri dan anaknya ditembak mati oleh Damian yang wajahnya nampak sangat dingin tanpa ekspresi.
“NOO (TIDAAK)-“
“You take too long to decide.”
“(Kau terlalu lama membuat keputusan)”
Damian berucap datar, dengan raut wajah sangat datar, tak ada gurat rasa iba disana.
“As I said I don’t have much time (Seperti yang aku katakan aku tidak memiliki banyak waktu)-“
Damian kembali berucap.
“Go to hell (Pergilah ke neraka)!“
Bang.
Didetik berikutnya, peluru dari pistol Garret bersarang di otak Stephen yang langsung rubuh.
“Price that a traitor must pay (Harga yang seorang pengkhianat harus bayar)”
Damian memandang dingin pada pria bernama Stephen itu.
__ADS_1
******
To be continue .....