LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 92


__ADS_3

Happy reading...


“Putra...”


“.....”


“Semua ini...”


“Sudah kubilang, aku tidak bisa menerima penolakan”


Putra menatap penuh arti pada Gadis.


Namun setelah itu Putra berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya. Dan Gadis rasanya ambigu saat ini. *‘Aku bingung ingin bicara apa padanya sekarang..’ Batin Gadis. ‘Sebenarnya Putra ini siapa?... Yang aku dengar donasi yang dia berikan bahkan cukup untuk memba*ngun fasilitas Rumah Sakit tanpa digabungkan dengan donasi yang lain’


“Ayo” Suara Putra membuyarkan lamunan Gadis.


“Kemana?”


“Sarapan”


Putra mengulurkan tangannya.


Gadis melirik tangan Putra yang diulurkan ke arahnya itu.


“Tidak mau menautkan tanganmu dengan tanganku?”


Gadis tidak menyahut. Ia menyunggingkan senyumnya dan langsung meraih tangan Putra yang orangnya langsung mengulum senyuman saat Gadis menyambut uluran tangannya, hingga kini mereka berjalan bergandengan.


Gadis melihatnya. Melihat dan menyadari ekspresi Putra yang meski matanya menatap lurus ke depan, namun bibirnya nampak bergerak – gerak pelan. Pada akhirnya Gadis mendengus geli seraya menggeleng pelan menatap Putra.


Ow, seperti ini ternyata seorang Putra.


Pria yang misterius, namun dengan mudahnya Gadis jatuh pada pesonanya, tanpa Gadis tahu latar belakang Putra.


Yang sudah bisa Gadis nilai jika Putra berasal dari golongan sangat berada, jika dilihat dari pakaian yang dikenakannya, cara bicara dengan tata bahasa yang baku serta sikap elegan nya saat makan atau hanya sekedar duduk.


Dari sejak Gadis melihat dan bertemu Anthony juga dirinya sudah bisa menebak hal yang sama. Pakaian yang dikenakan Anthony kala itu terlihat sekali kelasnya.


Namun begitu, tidak pernah Gadis memiliki niatan yang lain pada Anthony selain memang Gadis sudah menyukai bocah tampan itu sejak awal bertemu. Dan pada papanya si bocah tampan, Gadis sudah merasakan gelenyar aneh dalam hatinya, sejak pertama bertemu dengan pria itu.


Gelenyar yang semakin kian terasa dalam hati Gadis, setelah akhirnya intens bertemu dengan Putra yang menemani Anthony untuk bertemu dengannya. Namun begitu, Gadis tidak sengaja mengejar Putra karena tebakannya bahwa Putra adalah pria kalangan atas. Tidak sama sekali. Bahkan berpikir pun tidak.


Meski semakin hari, gelenyar aneh itu semakin menguat ia rasakan dalam hatinya, yang pada akhirnya Gadis sadari jika itu adalah suatu ketertarikan seorang wanita pada lawan jenisnya.


Gadis yang memang sudah jatuh pada pesona seorang ayah muda, hanya memendam rasa yang lebih dari sekedar suka pada Putra dalam hatinya saja. Gadis seolah tahu diri.


Terlebih saat Gadis tahu, jika seorang Dokter wanita yang cantik jelita yang bisa dibilang sepadan kastanya dengan Putra nampak menyukai ayah muda itu, Gadis semakin membentengi dirinya.


Gadis sadar diri.


Jika dibandingkan seorang Dokter wanita cantik, hebat dan berasal dari keluarga terpandang, Gadis tidak ada artinya.


Jadi, pada Putra, perasaannya, Gadis simpan dalam hati saja. Namun semua berubah, saat Putra dengan seenaknya mencium bibir Gadis begitu saja.


Mencuri ciuman pertama Gadis tanpa permisi. Namun anehnya, tak ada kemarahan dalam hati Gadis atas itu. Bukan karena Gadis mengharapkannya, dia sendiri bahkan syok kala itu.


Tadinya, Gadis berpikir Putra hanya iseng saja.


Pria kaya, kebanyakan senang sekali mempermainkan wanita.


Begitu yang seringnya Gadis lihat di sekitarnya. Jadi Gadis memiliki kekhawatiran yang sama, jika dirinya hanya akan menjadi bahan senang – senang saja untuk Putra.


Tapi seiring waktu, ternyata tidak seperti itu.


Jika bisa diomong, proses hubungan Gadis dengan Putra berjalan dengan cepat.


Namun selama itu, Putra menunjukkan keseriusannya pada Gadis. Masih Gadis tidak percaya, jika seorang pria kaya nan mempesona seperti Putra jatuh cinta padanya.


Hingga sampai Putra melamarnya dengan cara yang romantis, yang biasanya hanya Gadis lihat dalam film dan ia baca dalam sebuah Novel. Sampai detik ini pun, rasanya juga Gadis masih tidak percaya.


Ia belum tahu benar tentang Putra, tapi Gadis tak kuasa untuk mengatakan tidak saat Putra melamarnya.


Karena sama seperti Putra, Gadis juga telah merasakan apa yang namanya jatuh cinta, bahkan mungkin pada pandangan pertama pada papanya seorang bocah tampan warga negara asing itu.


Tulus mencintai Putra, setulus Gadis menyayangi Anthony.


Terlepas, entah siapa Putra sebenarnya.


Yang sudah dapat Gadis pahami saat ini, pria bernama Putra itu, mencintai Gadis dan menunjukkan cinta itu pada Gadis dengan cara Putra sendiri.


Yah seperti pagi ini. Perihal sarapan saja seolah Putra besar – besarkan. Bahkan Putra membuat Wakil Kepala Yayasan Rumah Sakit yang tidak bisa sembarangan ditemui orang, seperti halnya Kepala Yayasan, ikut turun tangan hanya untuk masalah sepele tersebut.


Hanya karena Putra berpikir Gadis belum sarapan dengan layak, lalu Gadis menolak. Dan Putra, orang yang tidak menerima penolakan. Menyebalkan. Namun menggelikan dan menggemaskan.

__ADS_1


**


“Kekanakan sekali” Ucap Gadis pelan, namun sepertinya Putra dengar.


“Ingin protes?” Sahut Putra. Gadis mendengus geli seraya berjalan bersama Putra.


“Memang boleh?” Tanya Gadis spontan.


“Tidak” Jawab Putra.


Gadis pun terkekeh dan Putra tersenyum lepas pada akhirnya.


***


Jika boleh jujur, Gadis merasa risih saat ini sebenarnya. Ia merasa tidak enak dengan seluruh rekan kerjanya karena diwaktu dimana seharusnya Gadis melakukan pekerjaannya, dirinya malah enak – enakan makan bersama pria yang dapat dikatakan adalah kekasihnya.


Yang orangnya sedang duduk disampingnya membuka menu, lalu bertanya soal makanan dan minuman apa yang Gadis inginkan.


“Itu saja?” Tanya Putra.


Gadis menjawab pertanyaan Putra dengan anggukan.


“Kalau begitu bawakan dua porsi makanan yang sama dan tambahan satu kopi yang biasanya saya pesan”


Putra berkata pada seorang pelayan restoran yang sudah berdiri dengan siap didekat meja tempat dirinya dan Gadis berada.


Restoran yang selalunya didatangi jika keduanya makan siang bersama Anthony, yang memang sudah buka sejak pagi dan tutup setelah waktu makan malam berakhir.


🎵🎵🎵Walau kini aku akan pergi jauh..🎵🎵🎵


Sebuah lagu terdengar di dalam Restoran tempat Putra dan Gadis berada.


‘Lagu ini bukankah lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita yang berada di Jay Pub? Lagu yang sama setiap kali aku mendengar penyanyi wanita itu bernyanyi?’


Putra membatin.


‘Lain kali aku akan menemuinya’ Putra masih membatin. ‘Aku akan menyuruhnya bernyanyi di Pesta Pernikahanku dengan Gadis nanti’ Batinnya lagi. ‘Ah iya! Pernikahanku dan Gadis!.... Mungkin sebaiknya aku bahas saja sekalian saat ini, ya? ...’


Putra melirik pada Gadis yang nampak sedang iseng melihat buku menu.


“Ga..”


“🎵Aku berpisah di teras Saint Carolus...🎵”


“🎵Air mataku jatuh berlinang...🎵”


Putra tak jadi memanggil Gadis karena Gadis terdengar menyenandungkan lagu yang sama seperti yang diputar dalam Restoran tersebut.


Hati Putra juga spontan membatin.


“Ada apa?”


“Hem?..” Putra sedikit terkesiap.


“Sepertinya tadi kamu ingin bicara padaku?”


“Apa?” Putra balik bertanya. Gadis terkekeh kecil.


“Kamu menyuruhku jangan balik bertanya jika kamu sedang bertanya”


Gadis berkata.


“Tapi kamu sendiri?”


“Aku kenapa?”


“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?”


“Memikirkan apa?”


“Ya mana aku tahu? Justru aku bertanya ... Tadi sepertinya kamu hendak bicara padaku?” Gadis berkata sembari menatap Putra yang kemudian manggut – manggut.


“Tidak jadi” Sahut Putra.


Gadis memilin bibirnya sembari manggut-manggut seperti halnya Putra tadi.


“Kamu tahu lagu ini?”


“Maksud kamu lagu yang sedang diputar ini?”


“Ya. Sepertinya kamu bernyanyi kecil tadi”


Gadis tersenyum pada Putra. “Rasanya sebagian besar orang di Ibukota ini tahu lagu ini..”

__ADS_1


“Salah satu lagu dari penyanyi populer di negeri ini?” Tanya Putra.


“Hmm kurang lebih begitu” Jawab Gadis. “Lagu ini cukup populer sih, lagu favoritku juga”


“Oh ya?”


“Hu’um..” Jawab Gadis sembari manggut - manggut. “Karena ini lagu favoritku, jadi aku menjadikannya lagu pembuka saat aku tampil ..” Gadis menggantung kalimatnya. ‘Oh Tuhan!’ Seperti tersadar akan sesuatu, Gadis spontan menggigit bibir bawahnya.


“Maksudnya menjadikannya lagu pembuka saat kamu tampil?”


Putra bertanya akan maksud ucapan Gadis yang sepertinya dipotong oleh Gadis.


“Itu ..” Gadis sedikit tergugu karena Putra menatapnya dengan serius meski raut wajah Putra datar saja.


“Permisi”


Suara pelayan berikut kedatangannya yang membawa pesanan Gadis dan Putra, membuat Gadis sedikit lega.


Sementara itu Gadis sedang memikirkan sesuatu, kala pelayan Restoran menyajikan makanan dan minuman pesanannya juga Putra dihadapan keduanya.


“Jadi?” Tanya Putra.


“Apanya?”


“Hal yang tadi aku tanyakan padamu. Menjadikan lagu yang diputar tadi sebagai pembuka saat kamu tampil, itu maksudnya apa?”


Putra yang memang sedikit bingung dengan maksud ucapan Gadis tersebut kembali menanyakan hal yang sebelumnya ia tanyakan pada Gadis.


“Oh itu..” Sahut Gadis. “Lagu itu kan tentang kisah seorang pria yang jatuh cinta pada suster yang merawatnya. Jadi aku, juga teman-teman sejawat aku, menjadikannya lagu wajib kami .. kadang kami pergi berkaraoke dan aku selalu yang diminta pertama bernyanyi dan menyanyikan lagu tadi..”


“Hemm..”


“Ya sudah ayo kita makan!” Seru Gadis. “Jangan membuat waktuku sia – sia pagi ini karena paksaanmu untuk sarapan bersama ini”


Putra mendengus geli mendengar celotehan Gadis yang orangnya tersenyum dengan sangat manis sekali. Membuat Putra rasanya ingin menangkup wajah Gadis lalu mencium bibir merah muda milik Gadis nan menggoda itu


Membuat tangan Putra terulur yang tadinya ingin mengacak rambut Gadis namun tidak jadi karena  ada topi suster yang bertengger disana.


Akhirnya tangan Putra mendarat di pipi Gadis dan mencubitnya gemas. “Kan sudah kubilang jangan menolakku ..” Ucap Putra yang sedang gemas pada Gadis itu.


“Ya, ya, ya ...”


“Aku sangat merindukanmu, apa kamu tahu?”


‘Oh Putra..’


Hati Gadis menghangat mendengar ucapan Putra yang orangnya menatap lembut pada Gadis sembari tersenyum dengan tampannya.


“Apa kamu merindukanku?” Tanya Putra. Dan senyum Putra semakin mengembang setelah Gadis mengangguk tanpa terlihat ragu dengan juga menampakkan senyum cantiknya.


Lalu Putra dan Gadis memulai makan mereka dengan khidmat setelah beberapa saat saling melempar tatapan mata teduh yang menyiratkan kerinduan dalam hati masing-masing.


Sembari keduanya kadang saling mencuri pandang, hingga kedatangan seseorang mengalihkan perhatian Putra dan Gadis pada orang yang muncul di hadapan mereka itu.


***


“Control your eyes, if you don’t want me to take those out from the place .... ( Jaga matamu, jika kau tidak ingin aku menarik keduanya keluar dari tempatnya.. )” Ucap Putra pada seseorang yang kini sudah mengambil tempat duduk dihadapan Putra, selepas Gadis pamit untuk pergi ke toilet.


Dan orang yang mendengar ucapan Putra yang terdengar bak gumaman itu , namun masih cukup jelas didengar oleh orang yang baru bergabung tersebut, langsung menyengir karenanya.


“Hehe, I’m sorry, Sir ... ( Maafkan aku, Tuan ) ..” Sahut orang tersebut yang adalah seorang pria. “I just too amazed with your lady ( Aku hanya terlalu takjub pada kekasihmu itu )”


Putra menarik sudut bibirnya.


“I’m great, Am I ( Aku hebat bukan ), Arthur?”


Putra membanggakan dirinya.


Arthur yang baru datang itu sontak terkekeh.


“Makes me getting more impressed to you.. ( Membuatku menjadi semakin kagum padamu... )”


“It should be ( Sudah sepatutnya )” Timpal Putra.


“Hmm.. young, rich, handsome.. and now, you have a goddess as yours.. makes me think God become unfair.. ( muda, kaya, tampan... dan sekarang, kau punya seorang dewi sebagai milikmu .. membuatku berpikir rasanya Tuhan tidak adil.... )”


Putra spontan terkekeh geli atas ucapan bernada keluhan dari Arthur, yang didukung oleh wajah memelas Arthur yang kemudian ikut terkekeh.


“But talking about your lady.. ( Tetapi bicara soal kekasihmu itu.. )” Ucap Arthur. “I think, I ever saw her somewhere ..... ( Aku pikir, aku rasanya pernah melihatnya disuatu tempat )...”


***


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2