LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 372


__ADS_3

Happy reading .....


******************


London, England,


Apa yang sudah Putra putuskan, tidak bisa tidak dilaksanakan.


Terlebih semua yang menyangkut soal dendam Putra pada Jaeden Zepeto.


“How does it feel? ( Bagaimana rasanya? ) ...“


Yang sedang ditanya oleh Putra, kala Putra telah melakukan apa yang Jaeden pernah lakukan bersama sekutunya pada Anthony.


Dimana pertanyaan Putra itu langsung disambut dengan umpatan oleh Jaeden yang nampak kacau sekarang. Sudahlah perjuangannya sia – sia untuk mendapatkan status tinggi dalam masyarakat London berikut harta dan kekuasaan, bahkan sudah dipermalukan di depan publik.


Lalu sekarang? ...


“I did what I have to did due to what you did to Rery, Madelaine and their son ( Aku telah melakukan apa yang harus aku lakukan sehubungan dengan perbuatanmu pada Rery, Madelaine dan anak laki – laki mereka )”


“KILL ME NOW THEN ( KALAU BEGITU BUNUH AKU SEKARANG )!” teriak Jaeden. “YOU ALREADY FEEL SATISFIED DON’T YOU ( KAU SUDAH MERASA PUAS BUKAN )?!” teriak Jaeden lagi dengan menatap tajam pada Putra.


BUGH!


“Noisy ( Berisik )”


Satu tendangan mendarat di punggung Jaeden.


Namun bukan Putra yang melakukannya, melainkan Damian yang menyalurkan kejengkelannya.


⚓⚓


Jaeden tersungkur seketika ketika alas sepatu Damian dihantamkan dengan cukup keras ke punggungnya.


Namun alih – alih kesakitan, Jaeden malah terkekeh.


Membuat Damian menggumam, “I think he’s getting nuts ( Aku pikir dia sudah mulai gila ) –“


“I think so ( Aku rasa juga begitu )”


Garret pun menimpali ucapan Damian itu.


“You think that you all already win ( Kalian pikir kalian semua sudah menang )????”


Jaeden bersuara.


“We are ( Kami memang sudah menang )”


Jaeden terkekeh lagi setelah mendengar sahutan Putra.


⚓⚓


Putra hanya tersenyum miring melihat Jaeden yang terkekeh misterius itu.


Membiarkan saja dulu Jaeden terkekeh sepuasnya, dengan pikirannya sekarang yang kiranya bisa Putra tebak isinya.


“Let me remind you again, Jaeden Zepeto ... You’re done ( Biar aku mengingatkanmu sekali lagi, Jaeden Zepeto ... Kau sudah tamat )”


Lalu tak lama Putra berucap. Berikut senyuman miring yang kembali tersungging di bibirnya sambil memandang remeh pada Jaeden.


Karena kiranya Putra tahu, apa yang membuat Jaeden terkekeh --- selain karena pria itu terguncang dengan kematian istri dan anaknya yang Jaeden rasa juga sudah tewas karena Putra menenggelamkannya di perairan dalam.


“One thing that you might haven’t know yet ( Satu hal yang mungkin belum kau ketahui ) ...”


Putra kembali berbicara.


“That your second wife is dead actually when you saw her sleeping in the hotel room ( Jika istri keduanya sebenarnya telah mati saat kau melihatnya sedang tertidur di kamar hotel ) ...”

__ADS_1


⚓⚓


Jaeden yang tadi nampak terkekeh remeh itu langsung berubah air mukanya selepas ia mendengar ucapan Putra.


“What did you say ( Kau bilang apa barusan )? ...” Jaeden bertanya dengan nada suara yang terdengar ragu – ragu.


Putra kembali menyungging miring.


“I said, your second wife is dead ( Aku bilang, istri keduamu itu sudah mati )”


“I’m the one who killed her ( Aku yang telah membunuhnya ) ...”


Garret langsung menimpali ucapan Putra.


Dan Jaeden langsung terlihat terkejut bukan main.


“And you didn’t realize it, didn’t you ( Dan kau tidak menyadarinya, bukan begitu )?”


“No ... it couldn’t be right ( Tidak ... itu tidak mungkin benar ) –“


⚓⚓


“SHE’S PREGNANT! HOW COULD YOU?! ( DIA SEDANG HAMIL! TEGANYA KAU?! )”


“Moron ( Tolol ) ...” gumam Damian setelah Jaeden berteriak seraya memandang emosi pada Garret.


Sementara Putra dan Garret berikut Accursio tersenyum geli selepas mendengar gumaman Damian yang mengatai Jaeden itu.


“Well, honestly, I really don’t care if your second wife is pregnant or not when I push a pillow on her face that tight ( Yah, sejujurnya, aku sungguh tidak peduli apakah istri keduamu itu sedang hamil atau tidak saat aku membekap wajahnya dengan bantal sangat rapat )”


“Bastrd –“*


“Heh!”


Damian mendengus sinis.


Kemudian pria itu bicara lagi.


BUGH!


Satu tendangan kembali di daratkan Damian pada Jaeden. Kali ini ke dada ke pria itu.


⚓⚓


Selain Putra, memang Damian juga begitu geram pada Jaeden.


Selain sakit hati atas apa yang Jaeden lakukan pada Rery dan keluarga kecilnya, Damian juga punya dendam pribadinya pada Jaeden.


Karena pria yang menjadi pusat dendamnya Damian serta para saudara angkatnya yang pro pada Rery itu, juga merupakan dalang atas kematian ayah dan kakak lelakinya.


⚓⚓


Yang kemudian setelah Jaeden ditendang oleh Damian dadanya, Damian mengayunkan langkah untuk mendekati Jaeden yang sudah terjungkal ke belakang selepas Damian menendangnya itu. Lalu Damian menahan Jaeden --- yang tangan dan tubuhnya masih terikat itu, agar tidak segera bangkit dari posisinya --- dengan Damian yang meletakkan satu kakinya di atas dada Jaeden yang juga diberikan penekanan oleh Damian.


Hal yang sedang Damian lakukan pada Jaeden ia biarkan. Saat Damian kemudian kembali menendang perut Jaeden beberapa kali setelah Damian mengatai pria itu pun, Putra biarkan. Namun Putra berpesan pada Damian,


“Keep him alive. He’s still must to show his face to public at here, and get known as a criminal ( Jaga dia tetap hidup. Dia masih harus menunjukkan wajahnya pada publik di sini, dan dikenal sebagai penjahat )”


⚓⚓


“For all things you have done to everyone we know them so well, that you have been vanished and destroyed ( Untuk semua hal yang telah kau lakukan pada semua orang yang kami kenal baik, dimana kau telah membinasakan dan menghancurkan mereka ) ...”


Putra kembali berbicara.


"We have to kill your second wife, because she's a danger woman beside a freudster. And as we said you're done, means you done. The designate baby that you put it as your heir is not exist, your second wife make a fool of you."


( Kami harus membunuh istri keduamu, karena dia wanita yang berbahaya selain seorang penipu. Dan seperti yang sudah kami katakan jika kau sudah berakhir memang kau sudahlah tamat. Calon bayi yang kau tunjuk sebagai pewarismu tidak pernah ada, istri keduamu itu telah membodohimu ) ..."

__ADS_1


"We already took everything --- take it back, I mean. So now, you don't even have a penny ( Kamu sudah mengambil semuanya --- mengambil kembali, maksudku. Jadi sekarang, kau bahkan tidak memiliki sepeser pun ) ..."


“An humiliation before we end your life, is proper for you ( Sebuah penghinaan sebelum kami mengakhiri hidupmu, pantas kau dapatkan ), Jaeden Zepeto.”


Sambil Putra dan tiga saudaranya itu, memandang Jaeden dengan seringai miring di bibirnya. Lalu memberikan perintah kepada anak buahnya, untuk kembali menginformasikan pada sang pengemudi kapal, agar kembali membawa kapal tersebut ke tepian.


Lalu Jaeden kembali berteriak, saat anak buah Putra dan kawanannya --- setelah mendapat kode perintah dari Accursio, hendak mengangkat jasad istri Jaeden yang ditembak mati oleh Putra. “WHAT ARE YOU GOING TO DO WITH HER ( APA YANG INGIN KALIAN LAKUKAN PADANYA )?!”


⚓⚓


Putra menyeringai ketika mendengar Jaeden berteriak.


“How about I put her in the same place with your son ( Bagaimana jika aku meletakkannya di tempat yang sama dengan anak laki – lakimu )?”


“YOU BSTARD ( KAU BAJINGN )!” teriak Jaeden. “For at least give her a proper cemmerate ( Setidaknya berikan dia pemakaman yang pantas )! –“


“And you think all of us have time for that ( Dan menurutmu kami semua memiliki waktu untuk itu )?? ...” tukas Damian yang kemudian menjambak kasar rambut Jaeden.


Yang hanya Damian lakukan sesaat saja, lalu melepaskan jambakannya pada rambut Jaeden itu dengan kasar juga. Sambil Damian berdecih sinis.


“Even Madelaine got a proper cemmerate, but wasn’t you who did that ... and now you ask us to bother ourselves for take care of your wife cemmerate ( Meskipun Madelaine mendapatkan pemakaman yang pantas, tapi itu bukan kau yang melakukannya ... dan sekarang kau meminta kami untuk merepotkan diri kami mengurusi pemakaman istrimu )?”


⚓⚓


“Please,” Jaeden melirih.


“......”


“You all may do anything to me, but please ... let me entomb my wife first.”


( Kalian silahkan melakukan apapun padaku, tapi tolong ... biarkan aku memakamkan istriku dulu )


⚓⚓


“Would you granted that, if that time Rery asked you the same thing after you shot Madelaine ( Apa kau akan mengabulkannya, jika saat itu Rery memintamu melakukan hal yang sama )?”


Jaeden bungkam saat pertanyaan itu Putra ucapkan padanya. Sementara Putra mendengus sinis dengan samar. Bungkamnya Jaeden adalah sebuah jawaban untuknya.


“You won’t ( Kau tidak akan memberikannya ) ...” ucap Putra kemudian. “Right?” tambah Putra dingin.


⚓⚓


Putra langsung mengkode anak buahnya untuk segera mengangkat jasad istri Jaeden yang tadi tergeletak di atas lantai buritan kapal, setelah Putra menembak kepalanya.


Sementara Jaeden hanya bisa pasrah memperhatikan jasad istrinya di bawa oleh anak buah Putra dan para saudaranya, tanpa ia bisa berbuat apa – apa. Pertanyaan Putra yang tidak ia jawab menyadarkannya jika pria yang telah menembak mati istrinya serta telah juga menenggelamkan anaknya itu, memiliki dendam kesumat padanya.


Yang mana, memang apa yang Putra tebak sebagai jawaban yang ia punya --- adalah jawaban Jaeden yang tidak ia cetuskan dari mulutnya.


Karena membunuh Rery sebagai satu – satunya ahli waris Kingsley Smith, memang sudah Jaeden rencanakan sejak lama.


“I’ll make you pay for what you have done to them ( Aku akan membuatmu membayar apa yang sudah kau lakukan pada mereka )”


Lalu satu kalimat Putra itu terngiang di kepala Jaeden, dimana hal itu semakin membuatnya menjadi kian pasrah.


Sudah tak ada jalan keluar untuknya, dan sebagaimana Rery beserta keluarga kecilnya berakhir --- begitu juga dirinya akan berakhir.


Jaeden hanya tinggal menerka, bagaimana setelah ini laki – laki yang ia ketahui bernama Putra Patrick Vinson Junior itu akan memperlakukannya.


Lebih tepatnya, bagaimana pria yang dikenal sebagai ‘bayangannya’ Rery itu akan menyiksanya sebelum ia dihabisi entah dengan cara yang bagaimana.


“I did right exactly just what you did to Rery and his litlle happy family ... but I won’t let you die that easy ( Aku sudah melakukan tepat seperti yang telah kau lakukan pada Rery dan keluarga kecilnya yang bahagia ... tapi aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah )”


Putra berucap datar, saat kapal kargo yang ditumpanginya telah hampir merapat kembali ke pelabuhan tempat kapal itu sebelumnya bersandar. Namun suasana di pelabuhan sedikit berbeda dari sebelum kapal yang Putra tumpangi bergerak menjauhi pelabuhan. Jika sebelumnya hanya ada orang – orangnya Putra dan para saudaranya saja, kini sudah ada cukup banyak polisi yang berkumpul di pelabuhan.


⚓⚓⚓⚓


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2