LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 75


__ADS_3

Happy reading ...


“Maybe you have to sleep with Anth tonight, Bruna (Mungkin kau harus tidur dengan Anth malam ini, Bruna)”


Putra berbicara pada Bruna.


“Just in case, we coming back a little bit late (Jika kemungkinan, kami pulang sedikit larut)” Sambung Putra.


Bruna mengangguk paham.


“Where are you all going? .... (Kalian semua mau kemana? ...)” Tanya Anthony pada Putra yang menyambanginya ke ruang makan bersama tiga Daddy-nya yang lain. Dan tadi berbicara pada Bruna.


Anthony menangkap ucapan Putra yang sepertinya mengatakan kalau Papanya itu akan pergi dengan tiga ayahnya yang lain.


“We have a small work to do (Kami ada pekerjaan kecil yang harus dilakukan)”


“Don’t worry, we won’t be long (Jangan khawatir, kami tidak akan lama)”


“Okay Papa, Dads, Padre!”


 “You guys don’t want to eat first before leave? (Kalian tidak ingin makan terlebih dahulu sebelum pergi?)


“Maybe later Bruna .... (Mungkin nanti saja Bruna) ....” Jawab Damian.


“Ya, we’re not really hungry yet .... (Kami juga belum terlalu lapar) ....”


Damian dan Putra menjawab pertanyaan Bruna. Garret dan Addison mendukung dengan anggukan.


“Beside, this won’t take all night (Lagipula, ini tidak akan menghabiskan waktu semalaman)” Tambah Putra.


Garret, Damian dan Addison pun manggut – manggut. “Okay” Jawab Bruna singkat. Dan Bruna tidak bertanya lagi. Sedikit banyak Bruna yang sudah mengenal ke empat pria yang kini menjadi keluarganya itu, sudah sangat memahami tabiat ke empatnya.


“Ah by the way! .... (Ngomong-ngomong) ....”


Garret menyela. Ia kemudian memberikan sebuah amplop pada Bruna.


“Here (Ini) .... This is everything for our new identity .... (Ini semua yang berkaitan dengan identitas baru kita)....”


Bruna menerima amplop tersebut dari tangan Garret.


“Put the original at our main vault and you keep the copy.... (Simpan berkas yang asli di brankas utama kita dan kau simpan salinannya ....)” Ucap Putra.


“Okay”


“Finish your meal, Anth. And try to not leave any (Habiskan makananmu, Anth. Dan cobalah agar jangan menyisakannya)”


Anthony mengangguk pada Putra yang kemudian berjalan ke arah tangga menuju ke kamar pribadinya. Begitupun tiga lainnya yang juga melangkahkan kaki mereka ke arah tangga, mengekori Putra, namun menuju kamar pribadi mereka masing-masing.


♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦


Putra, Garret, Damian dan Addison sudah nampak maskulin dengan penampilan mereka. Pakaian serba hitam dipadankan dengan jaket kulit, sekilas menampakkan diri mereka bak mafia Italia meski apa yang mereka kenakan tidak formal.


Namun begitu, membuat Arthur dan lima orang yang tadi datang bersamanya cukup terkesima melihat empat pria yang baru saja turun dari lantai dua kediaman mereka itu.


Karena memang, saat ini ada aura lain yang kian nampak dari ke empat pria pemilik Villa tersebut. ‘I kinda see The Peaky Blinders now (Aku seperti melihat para Peaky Blinders saat ini)’.


Arthur membatin didetik saat ia melihat ke empat pria pemilik kediaman turun dari lantai dua dengan penampilan mereka itu.


Arthur seketika teringat tentang sebuah organisasi Gangster yang terlibat dalam politik, berbagai macam bisnis dan sarat dengan dunia mafia yang ada di Birmingham, Inggris sekitar tahun 1919.


“Mereka persis kayak mafia Italia ya Bos Artur?” Bisik salah satu pria yang datang bersama Artur pada Bosnya itu.


“Maka dari itu kalian bekerjalah yang benar” Sahut Arthur yang menjawab juga dengan berbisik pada pria yang berdiri didekatnya itu.


“Pasti Bos” Sahut si pria yang sedang kasak-kusuk dengan Arthur itu. “Tapi bisa jadi kan ya Bos, mereka itu mafia beneran?. Tadi senjatanya aja bagus begitu, terus kalo ga salah, Bos Putra bilang, ‘Di Italia kami menyelesaikan


masalah dengan senjata’ ....”


“Keluarganya Al Pacino jangan-jangan mereka itu ya Bos?” Salah satu pria yang dibawa Arthur dan memang juga berdiri didekatnya itu ikut nyeletuk sembari berbisik memperhatikan Putra yang sedang berbicara dengan ketiga saudaranya.


Arthur merasa geli sendiri dengan celetukan salah seorang dari orangnya itu yang menyebut nama tokoh pemeran sebuah film mafia yang cukup terkenal. “Al Pacino mah aktor, itu Don si De Gut Fader kalo di filemnya yang bener!” Satu temannya menimpali.

__ADS_1


“Oh iya, Bos Putra itu yang jadi Don nya....” Dua orang itu malah cengengesan. Membuat Arthur memutar bola matanya malas.


“Sudah diam....”


Arthur menyuruh dua orangnya yang kasak-kusuk itu untuk tutup mulut.


“Jika kalian tidak ingin salah satu peluru dari senjata mereka bersarang di kepala kalian lebih baik kalian jangan banyak bicara”


Arthur memperingatkan kedua orangnya yang tadi kasak-kusuk, sekaligus pada tiga rekan mereka yang lain yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Lima orang yang berperawakan seperti tukang pukul itu langsung manggut-manggut seraya menutup mulut mereka. Saat Arthur dan kelima orang itu melihat Putra dan tiga saudaranya sedang nampak mengecek senjata mereka sebelum mereka menyelipkannya di belakang jaket kulit yang mereka kenakan itu.


‘Magnum 29 ....’ Batin Arthur yang sempat mengenali model senjata yang dipegang Putra dan tiga saudaranya.


Jenis pistol revolver yang sudah diproduksi sejak tahun 1955 oleh sebuah perusahaan pembuat senjata api yang terkenal di Amerika dan Eropa serta mahal-mahal harganya. Terlebih pistol yang dimiliki Putra dan saudaranya itu


seperti memilik desain khusus.


Karena saat Putra menunjukkan salah satu pistol yang di oper Damian sebelumnya, ada sebuah logo di pistol tersebut yang menurut Arthur adalah sebuah label atas suatu perkumpulan atau label dari sebuah keluarga.


‘Who are they really? .... (Siapa mereka sebenarnya?....)’


*****


Kini Putra, Addison, Garret dan Damian sudah berada di teras depan Villa. “Jika ada yang datang kesini sebelum kami kembali dan nampak mencurigakan bagi kalian, lumpuhkan saja! ....”


Putra berkata pada dua orang pria yang dibawa Arthur dan ditugaskan untuk menjaga Villa selama mereka pergi.


“Siap Bos!”


Dua orang itu menyahut dengan lantang dan sigap.


“Meski aku yakin tidak akan ada yang datang kesini saat kami pergi, namun kalian tetap harus berjaga dengan baik”


“Siap Bos!”


“Jangan macam-macam, karena adik perempuanku itu bisa membuat peluru bersarang di kepala kalian dengan mudah” Tunjuk Putra pada Bruna yang sudah muncul dibelakang mereka.


“Si-siap Bos!. Kami tidak akan berani Bos!” Sahut keduanya.


“Bagus jika kalian paham dan sayang nyawa kalian”


Putra pun manggut-manggut. “Bruna, we’re leaving (Bruna, kami pergi dulu)”


“Get back soon (Pulanglah secepatnya)”


“We will! (Pasti!)”


♦♦♦♦♦♦♦♦


Putra, sejak remaja, menempa dirinya dengan berbagai kemampuan bela diri baik dengan tangan kosong ataupun dengan berbagai senjata. Senjata api terutama.


Tak lain dan tak bukan karena Putra ingin menjadi pelindung bagi Rery yang sedari kecil sudah akrab dengannya, dan sebagai balas budi pada keluarga Rery terlebih sang ayah yang sudah sangat baik pada Putra dan keluarganya, yang bahkan sudah mengangkat Putra sebagai anak angkat resmi di keluarga Kingsley Smith.


Hanya saja tidak banyak orang yang tahu soal itu.


Selain Putra memiliki otak yang sama cerdasnya dengan almarhum Rery.


Putra adalah pribadi yang dingin dan cukup keras. Pria itu tidak suka jika ada yang mengusiknya, dan tidak bisa diam saja jika ada orang yang berani mengganggunya.


Dulu, Putra akan memberi pelajaran pada setiap anak yang mengganggu Rery sejak mereka bersekolah bersama.


Saat beranjak dewasa, Putra pun membantu ayah Rery dalam berbagai macam bisnis yang dimiliki oleh keluarga Kingsley bersama dengan almarhum Rery dan almarhum ayah kandung Putra yang saat itu merupakan orang kepercayaan Tuan Kingsley Smith.


Itu, sebelum seorang pengacau yang berhasil mengelabui Tuan Kingsley bernama Jaeden Zepeto datang.


Putra yang sedari awal sudah menangkap gelagat yang tidak baik dari Jaeden itu sudah berkali-kali memperingatkan Tuan Kingsley jika ada yang salah dengan laki-laki bernama Jaeden Zepeto itu. Hanya Putra belum mendapatkan bukti-bukti terkait tentang firasatnya.


Sementara Tuan Kingsley sendiri kalau menurut almarhum ayah Putra, adalah orang yang tidak mau mengambil keputusan jika tanpa bukti-bukti yang kuat dan terpercaya. Dan semua yang dikhawatirkan Putra terjadi.


Sedikit keretakan terjadi di dalam keluarga Kingsley Smith, bahkan sampai ada perseteruan dan perang dingin antara Rery dan ayahnya hingga membuat Rery mengambil keputusan untuk hengkang dari Mansion dan keluarga Kingsley Smith lalu pindah ke Italia.

__ADS_1


Disaat dimana Putra dihadapkan sebuah dilema untuk memilih.


Antara tinggal di Mansion keluarga Kingsley Smith seperti mandat sang ayah sebelum meninggal, atau ikut pergi menemani Rery dan wanita yang dicintai Rery, yakni Madelaine ke Italia, wanita yang tidak disetujui oleh Tuan Kingsley untuk menjadi pendamping hidup Rery. Dan Putra memilih yang kedua.


Putra memilih untuk ikut Rery ke Italia, membangun hidup mereka yang baru disana.


Beberapa orang yang pro pada Rery pun juga ikut hengkang dari Inggris untuk ikut menetap di Italia.


Namun baik Tuan Kingsley dan keluarganya tidak pernah tahu jika Rery menetap di Italia, karena dia melakukannya dengan diam-diam, tak ingin sang ayah mengganggu ketentraman nya dan Madelaine yang langsung ia nikahi setelah sampai di Italia.


Sayangnya, setelah beberapa tahun menetap di Italia hingga Rery punya kehidupan yang harmonis bersama istri dan anak laki-laki semata wayangnya, memiliki bisnis dan nama besar di sebuah kota kecil bernama Ravenna dan


sekitarnya di Italia sana, hidup Rery dan Madelaine tidak berakhir bahagia.


Rery dan Madelaine harus meregang nyawa di tangan Jaeden, yang kala itu juga hampir membuat Anthony kehilangan nyawanya. Namun beruntung banyak orang yang memang menghormati Rery yang dikenal sangat baik di Ravenna sempat menolong Anthony dan Putra langsung mengamankan bocah semata wayangnya almarhum


Rery dan Madelaine.


Sebelum itu, Putra selalunya mendampingi Rery dalam hal apapun yang berkaitan dengan pembangunan hidup dan bisnis Rery di Ravenna dan sekitarnya. Bahkan Putralah yang merekrut beberapa bodyguard untuk menjaga kediaman Rery dan keluarga kecilnya meski Rery tidak menyuruhnya.


Putra selalu berada disisi Rery, memfokuskan matanya untuk segala hal disekeliling ayah kandung Anthony itu. Selain Rery kadang menugaskannya untuk melakukan banyak hal penting.


Putra, selain dikenal dingin, pria itu juga cukup tak kenal ampun pada setiap ancaman yang kiranya akan membahayakan Rery dan keluarganya.


Meski tidak temperamental, namun Putra cukup menyeramkan juga. Ia punya nama lain di Ravenna. I Nero Fuoco, mereka di Ravenna dan sekitarnya menyematkan sebutan itu untuk Putra. Api hitam.


Yang tak segan menghabisi seseorang bila sudah mengganggu kenyamanan Rery dan keluarga kecilnya. Memang tak selalu dihabisi dalam arti dibunuh oleh Putra, hanya saja Putra akan membuat orang-orang yang mencoba mengusik kenyamanan Rery itu setidaknya cacat seumur hidup.


Seperti itu Putra Adjieran yang sebenarnya. Ia hanya akan nampak penuh kasih sayang di hadapan Rery, Madelaine, terlebih lagi Anthony.


Putra bukan pribadi yang arogan. Bukan juga orang yang sok jago. Pembawaannya bahkan nampak tenang dari  luar. Hangat juga sebenarnya, jika berada disekeliling Rery, Madelaine, Anthony dan beberapa orang terdekatnya yang ikut ke Italia dan menetap disana.


Bahkan Putra juga cukup dikenal ramah oleh penduduk Ravenna, diluar sisi kejamnya.


Karena seyogyanya orang-orang itu tahu, kalau Putra hanya akan menjadi kejam jika ada yang mengusik tiga orang yang begitu dilindunginya, para saudara yang sudah menjadi keluarganya, atau mengusik diri Putra.


Namun sayang saat laki-laki bernama Jaeden berhasil menemukan keberadaan Rery di Ravenna, Putra tidak berada disana. Rery menugasinya dan Damian untuk pergi ke sebuah negeri baru, tanah air almarhum ibunya Putra, untuk mengurus tempat tinggal yang baru untuk mereka.


Dan Rery yang kala itu jauh dari pengawasan Putra, tidak dapat diselamatkan, begitu juga sang istri. Hal yang membuat hati Putra sakit tiada tara dan memendam dendam yang membara pada Jaeden karena sempat mencelakai Anthony juga, serta menghabisi beberapa saudaranya yang saat itu sedang bersama Rery, berikut orang-orang mereka.


Betapa Putra ingin pergi dan membunuh Jaeden saat itu juga.


Namun kondisi Anthony membuat Putra mengurungkan niatnya menghabisi Jaeden untuk sementara.


Selain fokus pada Anthony, Putra sadar jika ia kalah jumlah dengan Jaeden dan sekutunya. Jadi Putra mengatur rencana, seraya membangun kembali kekuatan yang nantinya bisa sepadan dengan Jaeden dan menjalankan rencananya untuk membalas dendam atas kematian Rery dan Madelaine.


Pembalasan yang ingin Putra buat dengan sangat menyakitkan bagi pria yang bernama Jaeden itu sudah tersusun rapih di otak Putra. Hanya tinggal menjalankan rencana tiap rencana yang juga sudah ia susun rapih bersama empat saudaranya yang hidup bersama Putra dan Anthony saat ini.


Dan jika tiba saatnya nanti, Putra akan mendatangi Jaeden untuk membalas semua hal yang pria itu telah lakukan pada Rery, Madelaine dan keluarga Kingsley Smith, serta mengambil kembali hak Anthony atas harta keluarga dan


nama besar Kingsley Smith yang kini bisa dikatakan sedang Jaeden kuasai.


Putra pendendam. Mungkin.


Namun yah katakan saja, Putra tidak suka diusik.


Dan Jaeden sudah dianggap terlalu mengusik baginya.


Putra ingin hidup damai dan tentram sebenarnya, tapi nanti setelah ia selesai dengan Jaeden.


Meski Putra saat ini sudah mencoba hidup dengan tenang untuk sementara waktu. Membangun bisnis dengan harta yang sudah dipisahkan sebelumnya, cukup banyak untuk takaran hidup di negeri tempat tinggalnya sekarang.


Namun sayang, ada sedikit gangguan pada hal yang mencakup salah satu bisnis yang akan dirintis oleh Putra dan keluarganya. Yang dirasa Putra juga cukup mengganggu kenyamanan hidupnya dan keluarga.


Hal tersebut enggan untuk Putra tolerir.


Dan yang terjadi sekarang, saat ada seseorang yang mengganggu ketentraman hidup Putra yang baru bersama keluarganya yang tersisa, Putra Adjieran Histon, I Nero Fuoco dari Ravenna merasa tidak senang.


♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2