LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 107


__ADS_3

Happy reading ..


🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹🍹


“Dam ...”


“Hem?..”


“You go back to Villa with Danny and Suheil and few men will go to accompany three of you also. ( Kau kembali ke Villa dengan Danny dan Suheil dan beberapa orang akan menemani kalian juga )”


Damian yang sedang membuat kopi di mesin pembuat kopi itu langsung menoleh pada Putra yang berdiri disampingnya.


“What you’re going to do?. ( Apa yang hendak kau lakukan? )” Tanya Damian.


“Clear up ‘my thing’. ( Membereskan ‘masalahku’ )”


“Burning that Pub?. ( Membakar Pub itu? )” Guyon Damian.


Putra spontan terkekeh mendengar celetukan Damian yang bernada guyonan itu.


“Depends on my mood ( Tergantung suasana hatiku )”


Damian mendengus geli, lalu menelisik wajah Putra.


“Seriously I’m asking, what are you planning?. ( Aku serius bertanya, apa yang sedang kau rencanakan? )” Tanya Damian.


“Nothing. ( Tidak ada )” Jawab Putra.


“Nothing?”


“Heemm..”


“Sounds not you. ( Terdengar seperti bukan kau )”


Putra mendengus geli. “I just want to see. ( Aku hanya ingin melihat )” Ucapnya.


Damian manggut-manggut, lalu kembali menelisik wajah Putra yang nampak datar ekspresinya itu.


“And how about if other thing about her it’s also true, beside that she is a singer in that Pub? .. ( Dan bagaimana jika hal lain tentangnya itu juga benar, selain bahwa dia adalah seorang penyanyi di Pub itu? )”


“She can be ‘booked’? That’s what you mean?. ( Dia dapat ‘disewa’? Itu maksudmu? )” Putra balik bertanya.


“Heemm ..” Damian manggut-manggut.


“Why? You want to ‘booked’ her?. ( Kenapa? Kau ingin ‘menyewanya’? )” Tanya Putra lagi, kali ini terdengar sarkastik, meski ekspresi wajah Putra tetap datar saja.


Damian langsung mendengus geli mendengar cibiran Putra barusan.


“Dissapointed lover is so sensitive!. ( Pecinta yang sedang kecewa sensitif sekali! )”


Gantian Putra yang kini mendengus geli atas ledekan Damian.


“If that thing about her is true...... ( Jika hal tersebut tentangnya itu benar ) ...”


Damian menjeda ucapannya, karena ia menyesap dulu kopinya.


“Are you going to back out?. ( Apa kau akan mundur? )”


Putra hanya mengendikkan bahunya, lalu memandang nanar kesatu arah.


**


“Are you sure that me and Danny don’t need to accompany you tonight?.... ( Apa kau yakin jika aku dan Danny tidak perlu menemanimu malam ini? .. )” Tanya Damian pada Putra yang langsung menggeleng.


“It’s my personal thing. ( Ini urusan pribadiku )”


Damian pun manggut-manggut. “Alright then .. ( Baiklah jika begitu.. )”


“Let Suheil stay with you, I’ll drive to Villa .. ( Biar Suheil tinggal saja disini bersamamu, aku yang mengemudi ke Villa)..”


“No it’s okay. ( Tidak apa-apa )”


“I’m suddenly kind of worry to you, maybe better I’ll stay? Who knows you need a shoulder to cry on?”


“( Aku tiba-tiba mengkhawatirkanmu, mungkin sebaiknya aku tinggal? Siapa tahu kau butuh bahu untuk menangis? )”


Putra tergelak atas guyonan Damian.


“Just get lost you Bastardo. ( Enyahlah kau bajing*n )”


Gantian Damian yang tergelak saat Putra menepak kepalanya. Danny dan Arthur yang juga sudah muncul kembali ke kediaman Putra dan keluarga di Ibukota terkekeh saja melihat interaksi dua orang yang dapat dikatakan sebagai Bos mereka.


***


Hari sudah beranjak siang saat Damian dan Danny berikut Suheil yang menyupiri mobil yang ditumpangi keduanya pergi dari kediaman yang berada di Ibukota. Dua orang lain yang sudah bekerja sebagai pengawal pribadi mereka ikut mengawal mobil yang ditumpangi oleh Damian dan Danny dengan satu mobil lainnya di belakang mobil mereka.


Putra melirik arloji di pergelangan tangannya. “You may leave, Arthur. Take some rest. ( Kau boleh pergi, Arthur. Beristirahatlah )..” Ucap Putra. “Maybe I also want to take a nap. ( Mungkin aku juga ingin tidur siang )” Sambung Putra.


“Okay” Sahut Arthur seraya mengangguk.


“Wait, Ar!. ( Tunggu, Ar! )”


“I’ve got my money last night. ( Aku kan sudah mendapatkan uangku semalam )” Ucap Arthur yang sedikit terkejut karena Putra memberikannya satu batang logam mulia berukuran seribu gram padanya.

__ADS_1


“Oh, .that a payment for those stock of food you brought ( itu untuk pembayaran untuk stok bahan makanan yang kau bawa )”


Arthur terkekeh kecil.


“I’ll go buy the store maybe if you give me this. ( Aku akan membeli tokonya mungkin jika kau memberikanku ini )”


Gantian Putra yang terkekeh kecil. “Good idea .. ( Ide bagus )..” Sahut Putra.


“Seriously, this is unnecessary. I received more than enough. ( Sungguh, ini tidak perlu. Aku sudah menerima lebih dari cukup )”


Putra menarik sudut bibirnya.


“Take it. ( Ambil saja). Give those men some bonus. ( Berikan orang-orang itu sedikit bonus )” Ucap Putra.  “Beside, you know I don’t accept a refusement. ( Lagipula, kau tahu aku tidak menerima suatu penolakan )”


“Alright then. ( Baiklah kalau begitu )..”


“Thanks Ar!.” Ucap Putra lagi dan Arthur tersenyum.


“I’m the one who supposed to say that. ( Harusnya aku yang bilang begitu )”


“Your loyalty is what I needed. ( Kesetiaanmu lah yang ku butuhkan )”


“I’ll do my best. ( Aku akan melakukan yang terbaik )”


Putra manggut-manggut sembari tersenyum. Lalu pergi ke ruang kerja setelah Arthur berpamitan dan pergi dari kediaman.


Ingin pergi untuk sekedar merebahkan diri tadinya, tapi ada hal yang tiba-tiba terbersit di otak tampan Putra hingga kemudian dia melangkahkan kakinya ke ruang kerja.


***


Putra langsung menyapa setelah menekan sebuah nomor telepon dan suara sahutan dari sebrang telepon ia sangat kenali.


“How are you ( Apa kabarmu ), Gadis ..”


'Putra??...'


“Apa kabar? ...”


'Aku baik Putra, kamu sendiri?'


‘Tidak baik’ Batin Putra. “Akupun baik” Jawabnya pada Gadis.


'Anthony bilang saat aku meneleponnya kemarin, katanya kamu sedang ke luar kota?' Tanya Gadis lagi.


“Hemm...” Sahut Putra singkat.


'Wah benar sibuk ya ternyata? ..' Celetuk Gadis.


“Aku selalu mengatakan yang sebenarnya”


“Kamu sendiri?” Putra melontarkan pertanyaannya.


“Aku?..”


“Hemm...”


“Aku kenapa?...”


“Apa kamu orang yang jujur?” Pertanyaan sarat makna bagi Putra.


“Kok.... nanyanya gitu?..” Gadis balik bertanya.


“Sudahlah ...”


Putra kemudian menghela nafasnya pelan.


Dimana sejenak Gadispun terdiam di seberang telepon.


“Ngomong-ngomong Gadis....”


“Ya?...”


“Nanti malam, apa bisa menghubungiku sekitar.. jam delapan malam?”


“Hah? ...”


“Apa kamu bisa menghubungiku sekitar jam delapan malam nanti?” Jelas Putra.


“Eumm...”


“.....”


“Aku ... rasanya tidak bisa, Putra ...”


“Hemm...”


“Aku sedikit merasa lelah... kemarin aku lembur soalnya... jadi mungkin aku mau tidur cepat ..”


“Ya sudah kalau begitu”


“Apa kamu marah karena aku tidak bisa menghubungi kamu malam ini? ..”


“Tidak” Sahut Putra cepat. ‘Kebohonganmu yang membuatku marah’ Batin Putra.

__ADS_1


“Benar tidak marah?”


“Benar” Jawab Putra. “Kenapa memang?” Putra kemudian bertanya.


“Tidak apa-apa sih, hanya aku perhatikan suara kamu sedikit berbeda”


“.....”


“Seperti ada sesuatu...”


“Tidak ada apa-apa” Sahut Putra.


“Atau kamu sedang kurang sehat? ...”


“Aku baik-baik saja” Jawab Putra.


“Syukurlah kalau kamu tidak sedang kurang sehat..”


“Ya sudah, aku tutup dulu .. sudah waktunya jam istirahat kerjamu bukan?”


“Iya .... aku juga akan menghubungi Anthony setelah ini” Sahut Gadis dan Putra manggut-manggut seolah Gadis melihatnya.


“Ya sudah ..”


Tapi Putra tidak langsung menutup teleponnya.


“Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?” Satu pertanyaan lagi Putra lontarkan.


“Eumm, aku merindukanmu?..”


Bibir Putra tipis tertarik. “Baiklah aku tutup sekarang.. bye ..”


“Dahh ..”


**


“Memang siapa sih tamunya?. Maksa banget mau ketemu aku?. Ga bilang kalau aku sedang mengisi acara khusus malam ini?”


Ekspresi dingin sudah mendominasi raut wajah Putra sejak ia datang ke sebuah tempat yang menjadi langganan Putra dan para saudara lelakinya untuk bersantai.


“Tapi ini tamu penting banget mba..”


Hanya saja, kali ini Putra menyewa satu tempat tertutup, bukan di tempat eksklusif biasanya dia selalu duduk.


“Iya siapaaaa? .. Ga mungkin presiden kan?. Lagian kok tumben sih kalian ga kekeh padahal aku juga lagi ngisi acaranya Tuan Eric?...”


Sama eksklusifnya dengan ruangan yang biasa Putra sewa bersama para saudara lelakinya, hanya ruangan yang Putra sewa kali ini bedanya tertutup saja dan tidak sembarang orang juga bisa menyewanya.


“Memang bukan Presiden, Mba .. temennya Bos Besar!... Tuan Eric kalo udah Bos Besar yang ngomong ga bakal berani protes juga”


Putra menunggu pintu terbuka, dimana ada suara seperti dua orang yang sedang berbicara dan berhenti di depan pintu ruangan yang masih tertutup itu.


“Temennya Bos Frans?..”


“Iya..”


“Aku udah pernah ketemu?”


“Belum kayaknya”


“Berarti dia juga baru datang kesini? Tapi kok dia tahu aku? Bos Frans apa yang bilang ke dia ya? Tapi Bos Frans kok ga ngomong sama aku kalo ada temennya yang mau datang?”


“Kalo soal si Bos yang ga ngomong ke Emba aku ga tau, Bos Cuma pesen, temennya ini mau ketemu Emba, dan Bos Frans amat sangat mewanti-wanti jangan sampe Emba ga mau nemuin dia, karena bisa gawat urusan!"


“Oh ya?”


“Iya si Bos pesennya sama aku gitu”


“Orang Indo?”


“Bukan”


“Siapa sih?”


“Tamu super eksklusif, guanteng, royal pula! Dia udah beberapa kali juga kok dateng kesini”


“Siapa?. Aku pasti hafal lah sama tamu regular disini”


“Putra!”


Putra bersuara dalam duduknya diatas sebuah sofa, saat ia meminta seorang pelayan yang memang disediakan khusus untuk melayani para tamu itu membukakan pintu ruangan yang selurusan dengan pandangannya.


“Putra Adjieran!”


Kembali Putra bersuara, sembari memandang fokus dan tajam pada pintu yang terbuka lebar, dimana ada dua orang wanita yang sedang berdiri disana.


Yang satu berpakaian formal, yang merupakan seragam Pub, yang satu lagi berparas sangat cantik dan menggunakan sebuah gaun lurus berwarna hijau tua tanpa lengan yang membalut tubuh ramping si wanita, hingga tubuh rampingnya dari balik gaun yang ia pakai itu tercetak sempurna.


Wanita yang memakai seragam Pub, merundukkan kepalanya untuk memberi hormat. Sementara si wanita bergaun lurus berwarna hijau nampak membeku ditempatnya.


Pandangan Putra tertuju ke wanita bergaun hijau yang wajahnya nampak syok itu.


“Selamat malam... Gadis... Oh bukan, Delima, maksudku ...”

__ADS_1


**


To be continue ...


__ADS_2