
Happy reading ....
“Anth ..” Putra memanggil Anthony saat ia masuk ke kamar dan tak melihat Anthony berada di atas ranjangnya lagi.
Tempat pertama yang Putra lihat adalah balkon kamarnya, karena terkadang Anthony suka duduk atau berdiri diam disana.
Namun Anthony tak ada di balkon.
Putra refleks melangkahkan menuju kamar mandi setelah dia tak menemukan Anthony di balkon. Karena rasanya tidak mungkin Anthony keluar dari kamar.
Putra merasa tidak mendengar suara pintu terbuka ataupun suara derap langkah dari lantai atas.
“Anth?” Putra memanggil lagi Anthony sembari ia membuka pintu kamar mandi.
Dan memang benar dugaan Putra kalau Anthony memang berada di dalam kamar mandinya.
Namun Putra nampak sedikit terkejut, karena Anthony ia lihat sedang duduk meringkuk diatas lantai pada salah satu sudut kamar mandi yang kering, dengan menekuk kedua kakinya yang ia peluk dengan kedua tangan mungilnya.
“Hey Anth ...” Putra langsung menghampiri Anthony. “What are you doing here Anth?. ( Apa yang kamu lakukan disini Anth? )”
Putra memang sedikit agak terkejut saat melihat Anthony yang nampak meringkuk sedikit gelisah itu.
“Did you have a nightmare?. ( Apa kamu mimpi buruk? )”
“Mom-my said... ( Mom-my bilang ) .. I-have.. ( Aku-harus )... to-stay-here .... ( untuk-tetap-disini ).. and-don’t-open-the-door .. ( dan-jangan-membuka-pintu ... )... if-I-don’t .. ( jika-aku-tidak ) ... hear-my-uncles-voices... ( mendengar-suara-para-pamanku .. ) ... or-Mom-my .. ( atau-Mom-my... )...”
Anthony bicara dengan terbata namun pandangannya nampak kosong dan tubuhnya juga nampak gemetar. Bocah itu sudah bicara, namun nampak seperti sedang berhalusinasi. “Hey Anth ..” Putra menyentuh lengan Anthony.
“LET ME GOO!! ...”
Namun Anthony menjadi histeris seketika.
Bocah itu nampak juga ketakutan sembari menepis kasar tangan Putra lalu mencoba bangkit dan berlari dari hadapan Putra yang kemudian langsung di tangkap oleh Putra.
Anthony pun meronta sembari menangis. “Hey, Anth! It’s me!. ( Ini aku! )”
Putra berseru namun Anthony menghiraukan. Bocah itu masih terus meronta dengan kuat minta dilepaskan.
“ Look at me Anth! Look at me!. ( Lihat aku Anth! Lihat aku! ) ”
Putra membalikkan tubuh Anthony dengan cepat untuk menghadapnya sembari tetap mengunci tubuh Anthony.
Disaat yang sama Damian sudah juga datang ke kamar Putra karena kebetulan kamarnya berada disebelah kamar Putra.
“What happen Putra?!. ( Apa yang terjadi Putra?! )” Tanya Damian dengan wajah panik, karena memang ia mendengar sayup – sayup suara ricuh dari kamar Putra.
“I also don’t know, he become like this when I touched him.. ( Aku pun tidak tahu, dia menjadi seperti ini saat aku menyentuhnya .. )”
“Maybe Anth had a nightmare. ( Mungkin Anth mengalami mimpi buruk )” Ucap Damian yang lebih mendekatkan dirinya pada Putra yang sedang memegangi Anthony.
“Maybe.. ( Mungkin .. )”
Putra menyahut sambil kembali lagi menatap Anthony yang masih mencoba meronta dalam pegangannya, dan kini Damian pun membantu memegangi dan Putra kemudian menangkup wajah Anthony dengan perlahan.
Bocah itu sudah menangis.
“Anth look at me.. it’s me.. Uncle Putra.. ( Anth lihat aku.. ini aku .. Paman Putra ) ..”
Suara Putra melembut sembari menatap lekat – lekat mata Anthony yang kemudian memperhatikannya.
__ADS_1
Disaat yang sama Bruna, Addison berikut Garret pun datang ke kamar Putra. “What happen?! ( Apa yang terjadi?! )” Tanya ketiganya.
“He become hysteric again Bruna. ( Dia menjadi histeris lagi Bruna )” Jawab Damian.
“It’s me Anth, Uncle Putra. ( Ini aku Anth, Paman Putra )”
Putra masih mencoba menenangkan Anthony yang nampak mulai sedikit tenang itu dan kini bocah itu sedang menatap Putra.
“You see? It’s me, and that is Uncle Dami, Uncle Ad. ( Kau lihat? Ini aku, dan itu Paman Dami, Paman Ad )”
Putra berbicara lembut sambil menangkup kedua pipi Anthony yang tidak lagi gembul seperti dulu sambil menunjuk pada Damian dan Addison juga.
Dua orang itu langsung menunjukkan senyum mereka pada Anthony, saat Anthony menggerakkan pelan kepalanya dan matanya mungil Anthony melirik pada dua orang yang disebutkan Putra barusan.
Lalu Anthony kembali menatap Putra.
“And see ... ( Dan lihat ... )”
Putra menunjuk pada Bruna dan Garret.
“Do you remember them too? .... that’s beautiful Aunt Bruna.. the one who always bring candies for you when she visited you .. and that’s .... ( Apa kau mengingat mereka juga? ... itu Bibi Bruna yang cantik .. yang selalu
membawakan banyak permen untukmu saat ia mengunjungimu .. and itu )...”
“I am the aeroplane driver, Anth... ( Aku supir pesawat terbang, Anth ) ...”
Garret menyambar ucapan Putra sembari tersenyum juga pada Anthony.
“Uncle Garret! The one who ever bring you travelled over the sky?. You like it right?. ( Paman Garret! Yang pernah membawamu berkeliling di atas langit?. Kamu menyukainya bukan? )”
Garret membelai lembut kepala Anthony. Putra dan yang lain masih menunjukkan senyumnya agar Anthony bisa merasa tenang.
“Can you remember all of us now, Anth?. All of your Uncles are here, also your Aunt. So don’t be afraid, hem?”
“Dad – dyy.. Mom – myy ... they.... they die .. he .. he kil - led ... Daddy and Mommy, Uncle.. (Dad – dyy.. Mom – myy ... mereka .... mereka meninggal ... dia.. dia mem – bunuh.... Daddy dan Mommy, Paman )....”
Anthony terbata dalam lirihan dan isakannya, dimana Putra langsung merengkuhnya. Tubuh Anthony terasa gemetar dalam pelukan Putra yang kemudian langsung diangkat dan digendongnya.
Putra langsung membawa Anthony kembali ke atas ranjang setelah menggendongnya keluar dari kamar mandi dan Damian berinisiatif mengambilkan air minum yang ada disalah satu nakas pada satu sisi ranjang dan membantu Anthony untuk meminumnya.
*
“Calm down, Anth... don’t be afraid again, hem?. We are all here for you ...* ( Tenang, Anth... jangan merasa takut lagi, hem?. Kami semua ada disini untukmu ... )” Putra kembali menenangkan Anthony.
“Uncle Putra was right, Anth .. you don’t have to be afraid anymore.. ( Paman Putra benar, Anth... kamu jangan merasa takut lagi )....” Damian menimpali.
Kemudian Addison mendekat dan berjongkok disisi ranjang dekat Anthony. “Anth..”
Addison meraih tangan mungil Anthony.
“Can you recognize all of us? ( Kamu bisa mengenali kami? )”
Addison berkat dengan lembut dan tersenyum saat Anthony menoleh dan menatapnya.
“Look at us once again ( Perhatikan kami sekali lagi )” Ucap Ad lagi. "Look at us, carefully. ( Perhatikan kami baik - baik )"
Kemudian Anthony menatap satu – satu para orang dewasa yang berada didekatnya.
“Now you remember? ( Sekarang ingat? )”
__ADS_1
Putra kembali bertanya dan tak lama kedua sudut bibirnya nampak melengkung sempurna, begitupun para saudaranya disaat kemudian Anthony mengangguk pelan.
“Oh Anth ..”
Putra spontan langsung merangkul Anthony dengan perasaan bahagianya yang membuncah, karena mungkin setelah ini, Anthony akan bisa kembali berinteraksi dengan normal.
**
Bruna mengajak Anthony ke ruang makan untuk mengajak bocah itu mengisi perutnya, karena Anthony memang tidak ikut makan malam bersama mereka tadi. Sementara para pria berkumpul di ruang baca. Rasa kantuk mereka
seolah hilang sejenak saat ini.
“Seem that Anth saw everything.... ( Sepertinya Anth melihat segalanya ... )”
Addison angkat bicara.
“He saw when Jaeden killed Rery and Madelaine before he took away from Mansion. ( Dia melihat saat Jaeden membunuh Rery dan Madelaine sebelum ia dibawa pergi )”
Putra, Damian dan Garret manggut – manggut. “Ya I believe so .. ( Ya aku rasa begitu ) .....” Sahut Putra. “Anth has a big trauma that make him like this now.( Anth memiliki trauma besar yang membuatnya menjadi seperti sekarang
ini )”
Putra menghela nafasnya dengan berat, terdengar frustasi. Ia memiliki perasaan bersalahnya sendiri atas apa yang menimpa Rery dan Madelaine hingga Anthony menjadi seperti sekarang.
“It is really not good for his growth. We need to do something according this. ( Ini sangat tidak bagus untuk pertumbuhannya. Kita perlu melakukan sesuatu terkait ini )”
Kembali Putra, Damian dan Garret manggut – manggut.
“Bruna said we need to take Anth to a Psychiatrist.. on the day we came to the Restaurant, we just visited Hospital to find one, beside we were taking Anth to do some of check up of his body.”
“( Bruna mengatakan kita harus membawa Anth pada seorang Psikiater .. dihari saat kami datang ke Restoran, kami baru saja mengunjungi Rumah Sakit untuk mencari seorang Psikiater, selain kami melakukan pemeriksaan pada tubuh Anthony secara keseluruhan )”
“.........”
“But nothing. Not even one Psychiatrist at there. ( Tapi nihil. Tidak ada satupun Psikiater disana )”
“I know where we can find one. ( Aku tahu dimana bisa menemukannya )” Ucap Addison.
“Where?. ( Dimana? )” Tanya Putra, Damian dan Garret serempak.
“Jakarta”
“The Capital? ( Ibu kota? )”
“Uhum”
“When? ( Kapan? )” Tanya Putra.
“Anytime. ( Kapanpun )”
“You decide it Putra. From now on every decision according Anth and our next move are on you. ( Kau yang memutuskan Putra. Mulai dari sekarang setiap keputusan terkait Anthony dan langkah kita berikutnya berdasarkan keputusanmu)”
“Why on me?. ( Kenapa harus menunggu keputusanku? )” Tanya Putra.
“Because me, Dami, Bruna and Garret were decided something. ( Karena aku, Dami, Bruna dan Garret telah memutuskan sesuatu )”
“Decided what?. ( Memutuskan apa? )” Putra kurang paham.
“That you, who become our leader now. ( Kau, yang akan menjadi pemimpin kami sekarang )”
__ADS_1
*
To be continue ..*