
Happy reading....
*************
Newcastle, Inggris
“I feel that we will really find something interesting here ( Aku merasa jika kita benar-benar akan menemukan sesuatu yang menarik disini )”
Putra menyungging miring, karena mobil yang sedang mereka ikuti itu ternyata mengarah ke daerah dimana sebuah tempat yang menjadi target mereka semalam berada.
“I’ll go to see ( Aku akan pergi untuk melihat ) ..”
Damian berucap dengan telah mengeluarkan senjatanya, saat mobil yang sedang mereka ikuti itu mulai melambat, seperti akan menepi.
Dimana Damian terlihat sudah nampak tak sabar untuk meletuskan satu peluru dari senjata miliknya.
“Pull over ( Menepi )....” ucap Damian pada sang supir yang mengemudikan mobil yang ia tumpangi bersama Putra tersebut.
“Hold yourself ( Tahan dirimu ), Dami”
Putra menahan Damian dengan memegang lengan salah satu saudara angkatnya itu.
“Don’t be that rush ( Tidak perlu terburu-buru )” sambung Putra.
“I really curious, you know?. To a person who really presumptuous using my father’s car, which I’m sure that he died already ( Aku sangat penasaran, kau tahu?. Pada seseorang yang benar-benar lancang menggunakan mobil ayahku, yang aku yakini bahwa dia telah meninggal dunia )---” geram Damian.
“Look ( Begini )---“
Putra menyela.
“Will be better if we see who’s the person without getting out from this car ( Akan Lebih baik jika kita melihat siapa orang itu tanpa keluar dari mobil ini )” sambung Putra.
“I beg your pardon Sir ( Maafkan saya Tuan ) ---“ supir yang membawa Putra dan Damian bersuara untuk menginterupsi dua Tuan-nya yang sedang berbicara itu. “Are we pulling over? ( Apa kita jadi menepi? )”
“No. Just move ( Tidak. Tetaplah berjalan )....”
Putra langsung menjawab pertanyaan supirnya itu.
“But slowly ( Tapi pelan-pelan )”
Putra menyambung ucapannya.
Supir tersebut pun langsung mengiyakan dengan cepat permintaan Putra itu.
Damian tidak berkomentar setelah Putra tidak memperbolehkan supir mereka untuk menepi seperti yang Damian inginkan.
Pun Damian tidak menepis tangan Putra yang masih berada di lengannya, atau juga keras kepala dan memaksa untuk turun dari mobil. Namun mata Damian tetap menatap tajam pada mobil milik almarhumah ayahnya.
“More slowly ( Sedikit lebih lambat lagi ), Jules.” Ucap Putra.
Supir yang merupakan anak buah kiriman Accursio itupun langsung mengiyakan dan melakukan perintah Putra dengan sigap.
Supir tersebut memang salah satu anak buah pilihan Accursio dengan kriteria yang sesuai dengan apa yang diminta oleh Putra padanya.
Sigap dan tak banyak bicara, namun cekatan.
“He’s out. Now we can see who is he or she? ( Dia keluar. Sekarang kita bisa melihat siapa dia? )”
Putra yang telah menjauhkan tangannya dari lengan Damian itu berucap, dengan tubuhnya yang sudah sedikit ia miringkan.
Lalu Putra menggerakkan dagunya, mengkode agar Damian menoleh ke sisi kirinya, saat mobil mereka berjalan dengan lambat, hampir mendekati mobil milik ayah Damian yang digunakan oleh seseorang yang ingin Damian dan Putra ketahui siapa.
***
Mata Damian dan Putra tajam menatap ke arah mobil milik almarhum ayah Damian yang digunakan oleh seseorang itu.
Mobil tersebut berhenti di pinggir jalan, dimana banyak bangunan pada tepi jalanan tempat mobil milik almarhum ayah Damian itu berhenti saat ini. Yang mana bangunan-bangunan tersebut tampak seperti kios-kios dengan beragam nama yang tertulis di papan nama bangunan pada bagian atasnya.
“What a surprise ( Sungguh sebuah kejutan )....” gumam Putra.
Putra pun menyungging miring dalam gumamannya itu, saat seseorang telah turun dari mobil milik almarhum ayah Damian tersebut.
“Bastrd ( Bajngan )....”
Damian menggeram pelan dan tertahan, namun tangannya nampak mengepal kuat di atas kedua pahanya, dengan matanya yang menatap tajam pada seseorang yang baru keluar dari dalam mobil milik almarhum sang ayah.
“Well, seems not only Kingsley who’s been surrounded by traitors, but also your father ( Sepertinya bukan hanya Kingsley yang dikelilingi oleh para pengkhianat, tapi juga ayahmu )....” ucap Putra setelah orang yang baru turun dari mobil milik almarhum ayah Damian saat seorang supir membukakan pintunya sudah ia kenali.
Dimana orang tersebut melangkah menuju sebuah bar yang pernah menjadi target mereka, berikut sebuah gudang pada bangunan tua di belakang bar tersebut.
“Heh!”
Damian pun berdecih sinis.
***
“Find a safe place to stop ( Cari tempat aman untuk berhenti ), Jules.” Titah Putra pada anak buahnya yang menjadi supir itu kala telah melewati mobil milik almarhum ayah Damian yang digunakan oleh seseorang yang Putra dan Damian ketahui serta kenal dengan orang tersebut.
__ADS_1
“Yes Mister Putra.”
Anak buah Putra yang bernama Jules itu pun lagi-lagi menyahut saja dengan sigap, berikut kesigapan nya untuk mencari tempat berhenti sesuai yang diinginkan oleh Putra.
“Call Richard here ( Panggil Richard kesini )”
Putra berkata, sekaligus memberikan perintah pada Jules, sang supir.
Dan tentunya dengan sigap Jules mengiyakan lalu langsung melakukan apa yang Putra perintahkan padanya.
Jules langsung keluar dari mobil dan melangkah menuju mobil yang di tumpangi oleh Richard, yang juga berada di mobil yang sama dengan Garret dan Devoss.
“I won’t feel hesitate to kill him ( Aku tidak akan ragu untuk membunuhnya )” ucap Damian setelah Jules keluar dari mobil. Datar namun menyiratkan kegeraman.
“I won’t hold you for that, Dam. But not now. For at least we have to get some information before you kill him. Don’t you want to know who else those people who ‘stab’ you father from behind?”
( Aku tidak akan menahanmu untuk itu, Dam. Tapi tidak sekarang. Setidaknya kita harus mendapat informasi darinya sebelum kau membunuhnya. Tidakkah kau penasaran siapa lagi orang-orang yang telah ‘menikam’ ayahmu dari belakang? ).
Putra menanggapi ucapan Damian barusan.
Dimana Damian tak lama mengangguk, menandakan iya setuju dengan ucapan Putra.
Tak lama Richard pun datang menghampiri Putra dan Damian yang berada dalam mobil yang ditumpangi keduanya.
Kemudian Putra memerintahkan pada Richard untuk tahu mencari informasi tentang apa yang sedang dilakukan oleh orang yang telah menggunakan mobil milik ayah Damian pada bar yang pernah menjadi target mereka, dan terpasang garis polisi tersebut.
“Told Garret and Devoss to follow me and Dami ( Katakan pada Garret dan Devoss untuk mengikutiku dan Dami )”
“Yes Sir.”
Richard menyahut sigap setelah Putra selesai bicara.
“Jules, park this car near that Coffee Shop ( parkirkan mobil ini di dekat Kedai Kopi itu )”
Putra menunjuk sebuah Kedai Kopi tak jauh dari tempatnya berada sekarang. Dimana ada sebuah lorong yang memang biasa digunakan untuk memarkirkan mobil.
****
“Follow that car again ( Ikuti lagi mobil itu ), Jules.” Ucap Putra, saat mobil milik ayah Damian nampak sudah bergerak lagi dari tempatnya.
“Yes Sir.”
“Don’t want to hear something from Richard first?....”
( Tidak ingin mendengar sesuatu dari Richard terlebih dahulu?.... )
Putra menyahut.
“Maybe we can be so lucky to find another traitors by following him. Then we can save our time and energy by vanishing bugs in one spray ( Mungkin kita akan menjadi sangat beruntung menemukan para pengkhianat lain dengan membuntutinya. Lalu kita dapat menghemat waktu dan tenaga dengan membasmi beberapa hama dalam sekali semprot ) -----“ ucap Putra.
Berkata dengan santai, namun menyeringai.
“Am I right? ( Apa aku benar? )” sambung Putra.
“Ya, you’re right ( Kau benar )” sahut Damian.
****
Wajah Damian yang tadi sudah sedikit mengendur, kini mengetat lagi.
Saat mobil milik sang ayah yang ia dan Putra ikuti itu, memasuki sebuah Kediaman yang sangat Damian tahu dengan baik.
“Even he took my home ( Dia juga bahkan merampas rumahku )”
Putra menoleh pada Damian saat salah satu saudara angkatnya itu berucap.
Namun Putra tak berkomentar. Sedikit banyak, ia paham perasaan Damian saat ini.
“Keep going ( Terus jalan ), Jules....”
Putra berbicara pada anak buahnya yang sedang mengemudikan mobil itu.
“And turn left ahead then stop there ( Dan belok kiri didepan lalu berhenti disana )”
Jules pun seperti sedari tadi, selalu mengiyakan dengan sigap setiap perintah Putra padanya.
****
Mobil yang ditumpangi Putra berhenti di sebuah persimpangan jalan yang agak sepi.
Mobil yang ditumpangi Garret dan Devoss mengikuti, serta dua mobil yang berisikan masing-masing dua orang anak buah pun juga mengikuti mobil Putra.
Hanya, ketiga mobil tersebut berhenti di titik-titik berbeda dengan Putra. Masing-masing orang telah memposisikan dirinya untuk tidak mencolok dengan berhenti bergerombol.
“Jules, call Richard and one other man here ( panggil Richard dan satu orang lainnya kesini )”
Putra menurunkan satu perintah yang sama seperti saat di tempat mereka sebelumnya kala mereka berhenti.
__ADS_1
Dan tentunya lagi, Jules dengan sigap mematuhi perintah Putra padanya. Ia keluar dari mobil dan menghampiri mobil, dimana satu rekannya yang bernama Richard itu berada, setelahnya ia menghampiri satu rekannya lagi yang berada di mobil yang berbeda.
Dimana setelah dua orang yang Putra perintahkan untuk datang padanya melalui Jules, telah dengan sigap dan berhati-hati mendatangi Putra di dalam mobil yang ditumpanginya bersama Damian. Richard dan satu rekannya langsung masuk ke dalam mobil tersebut, dan Jules menunggu di luar, sembari menghisap sebatang rokok, sambil matanya memperhatikan keadaan sekeliling.
“You pay attention to the Mansion where the car we’ve been followed get in to it? ( Apa kau memperhatikan Kediaman dimana mobil yang kita buntuti masuk ke dalamnya? )” ucap Putra seraya bertanya pada Richard.
“Yes Sir.” Jawab Richard sigap.
“Then go and look around it. See if that Mansion have guards. Also if it’s possible, find out how many guards.”
( Maka pergilah dan perhatikan sekelilingnya. Cari tahu jika Kediaman itu memiliki penjagaan. Juga jika memungkinkan, cari tahu ada berapa penjaga ).
Putra memberikan perintahnya pada Richard yang langsung mengiyakan dengan sigap.
“Anything else, Sir? ( Adalagi yang lain, Tuan? )”
Lalu Richard bertanya pada Putra.
Putra menggeleng pelan.
“No.”
“Then I’ll go now Sir ( Kalau begitu aku pergi sekarang Tuan )” ucap Richard yang kemudian keluar dari dalam mobil yang ditumpangi oleh Putra dan Damian.
****
Putra lalu menurunkan satu perintah pada satu anak buahnya yang lain yang tadi masuk bersama Richard ke dalam mobil yang ditumpanginya dan Damian, selepas Richard keluar dari mobil tersebut.
“Yes Sir.” Tanggap satu anak buah tersebut, setelah Putra selesai mengatakan padanya tentang apa yang Putra ingin satu anak buahnya itu lakukan.
“Good. I’m sure you remember to every word I say for you tell to Thomas ( Bagus. Aku yakin kau mengingat setiap kata yang aku katakan untuk kau sampaikan pada Thomas )”
“Sure I will remember everything you said Sir, and tell that to Thomas not more or less ( Tentu aku akan mengingat setiap kata yang tadi anda ucapkan Tuan, dan akan mengatakannya pada Thomas tak lebih dan tak kurang )”
“Good.”
Putra menyahut puas.
“Do you want me to repeat what you have been ordered to me? Repeating those words you said Sir?”
( Apakah Tuan ingin aku mengulangi perintah anda tadi? Mengulangi setiap kata dari ucapan anda? ).
Anak buah tersebut serius bertanya pada Putra.
“No need. I’m sure you capable ( Tidak perlu. Aku yakin kau mampu )”
“Thank you Sir.”
“You may leave now ( Kau bisa pergi sekarang )”
“Alright Sir ( Baik Tuan )”
Anak buah tersebut hendak keluar dari dalam mobil, namun sesaat kemudian dia urungkan karena ada yang ingin ia katakan sekaligus tanyakan pada Putra.
“I beg your pardon Sir ( Mohon maaf sebelumnya Tuan ) ---”
Anak buah tersebut berbicara pada Putra, namun juga melirik pada Damian.
“If I go with Daniel, then you will have less person ( Jika saya pergi bersama Daniel, maka anda akan kekurangan orang ) ---“
“That would be okay ( Itu tidak masalah )” potong Putra.
****
“What have you got ( Apa yang kau dapat ), Richard?” tanya Putra pada Richard yang telah kembali dari tugas yang Putra berikan padanya setelah sekitar sepuluh menit pria itu keluar dari mobil yang ditumpanginya dan Damian tadi.
“Three person at gate. Seems that ordinary security ( Tiga orang di gerbang. Tapi sepertinya hanya keamanan biasa )....”
Richard memulai laporannya.
Putra dan Damian pun mendengarkan dengan seksama.
“I don’t see anyone else except that three. But I can’t get inside to make sure, since that I have no reason to get in more further than just talk with them. But seems that Mansion is not well guarded”
( Aku tidak melihat orang lain selain tiga keamanan tersebut. Tapi aku tidak dapat masuk untuk memastikan karena aku tidak memiliki cukup alasan untuk masuk lebih dalam selain hanya bicara di pintu gerbang dengan tiga keamanan itu. Namun dari apa yang aku lihat, keamanan disana biasa saja ).
Putra dan Damian pun manggut-manggut.
“Alright, let’s do a visit there now ( Baiklah, ayo kita berkunjung kesana )”
Putra menoleh pada Damian yang mengangguk dengan ekspresi datar. “Can’t hold myself for it ( Aku tidak sabar )....”
Damian menggumam sinis sambil meraih pistol dari selipan pinggangnya, yang kemudian ia buka dan melihat selongsong peluru pistol tersebut.
“Can’t hold to make a hole in that bast*rd head ( Tidak sabar ingin membuat lubang di kepala baj*ngan itu )....” ucap Damian lagi sambil menyungging miring penuh kesinisan\, selain ia nampak geram.
****
__ADS_1
To be continue...