LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 48


__ADS_3

Happy reading ...


▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪


“There are only two things as my priority in life. Taking a very good care of Anth, and paying revenge for Rery and Madelaine, also our brothers death than chasing a woman (Ada dua hal yang menjadi prioritas dalam hidupku. Menjaga Anthony dengan baik, dan membalaskan dendam atas kematian Rery, Madelaine dan saudara – saudara kita daripada mengejar seorang wanita)”


Wajah Putra nampak serius saat berbicara barusan. Dan ketiga saudara lelaki yang bersamanya, memilih untuk tak membahas lagi soal wanita dengan Putra saat ini.


Karena ketiganya sangat tahu, kalau soal Anthony, Rery ataupun Madelaine adalah benar merupakan prioritas dalam hidup Putra yang tidak akan tergeser sebelum dia berhasil menghabisi Jaeden.


**


Hari menjelang sore dan Danny menyempatkan mampir ke Villa tempat para Tuan yang merupakan terhitung sebagai keluarga barunya berada. Kebetulan malam ini Dannypun akan menginap di Villa, karena ia akan membahas soal rencana pembelian tanah perkebunan milik beberapa di sekitar Villa dengan para Tuannya itu.


Danny langsung menyambangi para Tuan yang sedang bercengkrama santai di ruang tengah bersama Bruna dan juga Anthony yang sedang di temani bermain puzzle oleh para ayah angkatnya.


“Good evening everyone (Selamat sore semuanya)”


“Hi Dan!”


Semua orang yang ditemui Danny menyapa kembali padanya.


“How was Restaurant? (Bagaimana Restoran?)” Tanya Putra.


“Getting clatter (Semakin ramai)”


“Glad to hear it (Senang mendengarnya)”


“I wonder why don’t all of you make that Resto become this family asset?”


“(Aku berpikir mengapa kalian tidak membuat Resto ini menjadi aset keluarga?)”


“You mean to acquire the ownership? (Maksudmu mengakuisisi kepemilikan?)”


“Yes Sir” Sahut Danny. “It will one of good move to make your family presence become stronger except famous maybe (Itu akan menjadi salah satu langkah bagus keberadaan keluarga kalian untuk menjadi lebih kuat selain


terkenal nanti)”


Putra dan empat orang lainnya manggut – manggut. “Respectable (Boleh juga)” Sahut Putra yang diiyakan oleh empat lainnya. "To become stronger also bigger, Yes. But famous, No! (Untuk menjadi lebih kuat bahkan besar, Ya. Tapi terkenal, Tidak!)"


"....."


"Let people just know name would be okay, not person. Not untill everything already in our hand (Biarkan orang - orang hanya mengetahui nama boleh saja, bukan sosoknya. Tidak sampai semua sudah berada di tangan kita)" Tegas Putra.


Mereka yang bersama Putra pun mengangguk paham.


“But do you think Budi want to sell his part or that Resto if he knows that the place is getting clatter like you said Dan? (Tapi apa kau pikir Budi mau menjual bagian kepemilikannya di Restoran tersebut jika dia tahu kalau


tempat itu semakin ramai seperti yang kau bilang, Dan?”


“No (Tidak)”


“Then? (Lalu?)”


“Tell me first, are all of you really want to have that Resto as a whole? (Katakan dulu kepadaku, apa kalian benar – benar ingin memiliki Restoran itu secara keseluruhan?)”


“If that could become our start beside the tea garden business that that also become our path  as springboard to


build our kingdom in this country, then why not? (Jika itu bisa menjadi awal selain daripada bisnis perkebunan teh yang juga sedang kita rintis sebagai batu loncatan untuk membangun kerajaan kita di negeri ini, lalu mengapa tidak?)”


Danny manggut – manggut setelah mendengarkan penjabaran Addison.


“Do you have any idea to make it happen, Dan? (Apa kau punya ide untuk mewujudkannya, Dan?)”


“The honest or cozen way? (Cara yang jujur atau licik?)”


“The fast one! (Cara yang paling cepat!)” Ucap Putra tegas.


“As your wish Bos! (Sesuai keinginanmu Bos!)”


**

__ADS_1


“Iya Tuan?” Pak Abdul datang menghampiri para pria yang kini sudah berpindah kedalam ruang kerja saat malam menjelang setelah Putra membunyikan sebuah lonceng kecil untuk memanggilnya.


Baik Pak Abdul, istri atau Putra mereka tidak akan kembali ke tempat mereka yang merupakan sebuah paviliun yang terpisah dengan Villa, sebelum Tuan mereka mempersilahkan mereka untuk kembali ke paviliun mereka.


Bruna sudah membawa Anthony untuk pergi ke kamarnya sementara para ayah angkatnya membicarakan hal serius tentang bisnis di ruang kerja. “Kemarilah Pak Abdul” Ucap Putra yang sekaligus mempersilahkan Pak Abdul untuk duduk bergabung bersamanya dan para saudaranya termasuk Danny.


“Saya berdiri saja, Tuan”


“Duduklah Pak Abdul. Tolong jangan sungkan. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan padamu” Ucap Putra pada pelayan yang sudah ia percaya itu.


“Benar Pak Abdul, duduklah disini. Nanti terlalu lama berdiri kau akan pegal – pegal”


“Tidak apa – apa Tuan Danny. Terima kasih sebelumnya. Biar saya berdiri saja, silahkan Tuan – Tuan bertanya apa saja, akan saya jawab dengan sejujur – jujurnya”


“Duduklah Pak Abdul. Saya tidak suka dibantah” Titah Putra dengan ekspresi yang biasa, namun pandangannya cukup menuntut. Dan Pak Abdul pun patuh dan menuruti apa yang Putra ucapkan. Ia pun mengambil tempat di sebuah kursi yang ia ambil sendiri dari pojok ruangan. Meskipun Putra berkali – kali mengatakannya agar jangan sungkan, tetap saja Pak Abdul selalu menyadari posisinya.


**


“Pak Abdul. Tentang dua perkebunan yang akan kami beli itu, ada sedikit yang mengganjal untukku dan saudara – saudaraku”


Putra membuka pembahasan.


“Apa itu Tuan?”


Pak Abdul bertanya dengan sopan.


“Mengapa mereka dengan cepat menyetujui penawaran kami untuk menjual perkebunan mereka?” Tanya Putra.


“.....”


“Pak Abdul tahu alasannya? Mereka bahkan tidak menawar sama sekali bukan, seperti yang Pak Abdul katakan padaku?”


“Iya benar Tuan Putra”


“Apa tanah perkebunan ini bermasalah, sehingga mereka cepat – cepat ingin melepasnya pada kami? Atau tanah disini merugi?”


Pak Abdul pun menggeleng.


“Tidak dua – duanya Tuan”


“Tanah disini sangat subur Tuan. Perkebunan teh kita saja hasilnya cukup bagus selama ini kan Tuan?. Bahkan jika mau dijual dalam skala kecil pun masih bisa mendapat keuntungan”


“Jadi karena apa?” Tanya Putra lagi. Sementara empat lainnya masih diam tak berkomentar, karena tidak paham Bahasa Indonesia, kecuali Danny yang sudah paham, namun dia tidak menginterupsi jika Putra tidak bertanya padanya.


“Mereka dengan cepat menyetujuinya, meskipun sebenarnya mereka enggan melepaskan perkebunan mereka. Tapi berhubung harga yang anda tawarkan pada mereka itu cukup tinggi dari harga pasaran disini, ya mereka mau – mau saja Tuan” Jawab Pak Abdul secara gamblang pada Putra.


“Hanya itu?”


“Ada alasan lain juga Tuan”


“Apa?”


“Ada seorang makelar tanah disini yang cukup dikenal licik dan berusaha keras untuk membeli tanah perkebunan yang hendak Tuan – Tuan miliki dengan harga yang jauh dibawah harga anda Tuan....”


“Tunggu, Pak Abdul bilang apa tadi,  ma-..make - apa?”


“Makelar Tuan?”


“Ya itu!” Sahut Putra. “Apa maksudnya itu?”


“Perantara jual beli Tuan”


“Oh Okay!” Putra manggut – manggut. “Lanjutkan”


“Dan orang itu menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya itu. Jadi para pemilik perkebunan di daerah sini sudah sangat enggan berurusan dengannya, yang sering mengancam dengan berbagai cara agar melepas tanah mereka dengan harga yang sesuai keinginannya, padahal dia menjual dengan harga yang sangat tinggi nantinya”


“Seperti itu ...”


“Iya Tuan. Dia mafia tanah kalau orang sini bilang”


Putra terkekeh mendengar kata mafia yang disebut Pak Abdul.

__ADS_1


“Kenapa Tuan?”


“Bukan apa – apa”


Putra menyahut setelah meredakan kekehannya.


‘Mafia at Italy are holding guns. Here, holding land? (Mafia di Italia memegang senjata. Disini, mengurusi lahan?’


Putra mendengus geli.


“Dia licik Tuan, anak buahnya juga lumayan banyak. Jadi orang yang kadang dipaksa untuk menjual tanahnya itu memilih untuk kabur – kaburan dari sini dan tinggal di tempat lain demi menghindari laki – laki licik ini Tuan”


Putra pun manggut – manggut, karena rasanya ia sudah cukup menerima jawaban atas kejanggalan yang ia rasa. Dan penjelasan Pak Abdul barusan dirasa cukup jelas untuk Putra. “Pak Abdul kenal orangnya?” Tanya Putra.


“Kenal sih tidak Tuan. Tapi saya tau”


Putra manggut – manggut dan nampak berpikir. Empat orang lainnya masih diam, dimana yang tiga orang menunggu Putra menjelaskan kembali dengan bahasa Inggris tentang apa yang Putra bahas dengan Pak Abdul barusan.


“Baiklah Pak Abdul. Saya rasa saya sudah cukup merasa jelas, dan kejanggalan saya sudah terjawab. Pak Abdul dan Ibu serta Suheil pergilah beristirahat” Ucap Putra. “Mungkin besok atau lusa, aku akan meminta Pak Abdul untuk membuat janji temu dengan para pemilik perkebunan yang akan kami beli lahannya”


“Baik Tuan”


Pak Abdul segera berdiri dari duduknya dan pamit undur diri dari hadapan Putra, sembari membawa kursi bekas ia duduki untuk dikembalikan ke tempatnya.


Putra kemudian menjelaskan apa yang ia bicarakan dengan Pak Abdul pada ke tiga saudaranya yang belum paham bahasa Indonesia itu dan langsung mendiskusikannya.


“Then, better we accelerate the process of these tea garden sell – buy agreement  (Kalau begitu, baiknya kita percepat proses transaksi jual – beli perkebunan teh ini)”


“You and Garret accompany me to meet the garden owners tomorrow or the day after (Kau dan Garret temani aku bertemu dengan pemilik perkebunan besok atau lusa)”


“Yes Sir” Sahut Danny dan Garret pun mengiyakan. “If it’s possible, I can bring the owners papers of the gardens to check the originality of the land certificate on the same day (Jika memang memungkinkan, aku dapat membawa berkas – berkas si pemilik perkebunan untuk mengecek keaslian sertifikat dari tanah tersebut di hari yang sama)”


“We will see then (Kita lihat nanti kalau begitu)”


**


Dua hari kemudian....


“Maaf, permisi Tuan – Tuan” Pak Abdul datang menghampiri dan menyapa Putra, Garret, Addison dan Damian yang sedang duduk – duduk di halaman belakang Villa.


“Ya Pak Abdul?” Sahut Putra. “Ada apa?” Tanya Putra.


“Ada tamu, Tuan” Jawab Pak Abdul dengan sopan dan Putra spontan mengernyitkan dahinya, sembari sedikit memiringkan kepalanya.


“Tamu?” Putra kembali bertanya.


“Iya Tuan”


Putra sedikit merasa heran dengan tamu yang dibilang Pak Abdul karena ia rasanya belum berinteraksi dengan banyak orang sejak datang ke Indonesia, kecuali dengan Ilse dan Gadis serta beberapa perawat di Rumah Sakit tempat mereka bekerja.


Tidak mungkin yang datang itu salah satu dari mereka bukan?.


“Siapa?” Tanya Putra lagi.


“Baskoro, Tuan”


“Baskoro?”


“Itu loh Tuan, makelar tanah yang saya bilang waktu itu. Makelar tanah yang licik itu”


***


To be continue..


Sampai sini Othor ucapin makasih buat yang sudah meng-klik tombol Love dan memfavoritkan novel ini, serta kesediaan waktu kalean yang berharga itu untuk membaca satu dari tiga karya otor yang laen. Hehehe.


Ma acih banyak – banyak sekali lagi,


Dan


Selamat Tahun Baru 2022

__ADS_1


Semoga segala yang terbaik menyambangi kita semua di tahun ini.


Aamiin.


__ADS_2