LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 222


__ADS_3

Happy reading ....


****************


“Kamu tahu aku hampir gila mengkhawatirkanmu, Gadis??? ....”


Putra membawa Gadis dalam dekapannya.


“Kamu sudah tidak marah lagi padaku? ....” tanya Gadis saat Putra mendekapnya.


“Seharusnya pertanyaan itu keluar dari mulutku, Gadis ....” ucap Putra.


Gadis menarik sudut bibirnya, lalu ia menggeleng.


“Kamu tidak berniat untuk pergi dariku bukan? ....”


“Ada niatan sebenarnya, tadi ....” ucap Gadis.


“Apa katamu???!!”


Putra memekik, dan sorot mata Putra yang tadinya lembut itu, kini berubah tajam.


Tapi Gadis malah mengulum senyumnya.


“Kamu ini ....” tangan Gadis menangkup wajah Putra. “Serius sekali jadi orang ....” ucap Gadis.


Gadis masih tersenyum dan menatap teduh netra Putra.


“Aku hanya bercanda....”


“Aku tidak suka candaanmu yang seperti itu.”


Gadis menarik sudut bibirnya lagi.


“Iya, maaf ....” ucap Gadis kemudian.


*****


Putra menghela dan menghembuskan nafasnya yang terdengar sedikit berat, setelah melihat wajah Gadis yang terlihat memelas di mata Putra. “Lebih baik kita kembali ke Villa sekarang ....” ujar Putra.


“Iya,” sahut Gadis dengan cepat.


Setelahnya, Putra membawa Gadis untuk kembali ke Villa dengan menunggangi kuda yang tadi Putra naiki saat mencari Gadis.


Damian yang sudah menyusul Putra ke tempat salah satu saudaranya berada juga tetap memilih akan kembali ke Villa bersama Putra. Meski pesan dari Putra yang Ray katakan menggunakan bahasa Inggris seadanya sudah ia sampaikan pada Damian.


Dan meski bahasa Inggris Ray berantakan, tapi Damian bisa memahami maksud dari pesan dari Putra yang Ray sampaikan padanya.


Namun Damian memilih untuk pulang bersama-sama saja dengan Putra demi keamanan, karena hari mulai gelap. Dan siapa tahu ada bahaya yang mengintai di sekitar perkebunan teh yang agak sedikit jauh dari Villa mereka itu.


Sementara Ray ikut kembali ke Villa dengan menunggangi kuda yang dinaiki oleh Suheil.


***


“Oh, thanks God (terima kasih Tuhan)” ucap Addison saat Putra telah kembali dengan Gadis bersamanya.


“Is Anth wake up? (Apa Anthony terbangun?) ....” tanya Putra pada Addison yang berdiri bersama Garret serta para pekerja Villa yang tadi begitu cemas karena ketiadaan satu Nyonya dalam Villa.


Putra menanyakan Anthony, karena ia ingat tadi sempat berteriak saat memberikan perintah pada pekerja.


“Seems not, because Bru still in Anth’s room and haven’t come down here (Sepertinya tidak, karena Bru masih di kamar Anth dan belum turun kesini) ....”


Garret yang menjawab, dan Putra mengangguk lega.


Kelegaan yang sama juga nampak di wajah Addison dan Garret, serta di wajah para pekerja yang melihat Gadis telah ditemukan.


***


“I’m sorry for making everyone worry (Maafkan aku sudah membuat semua orang khawatir)....” ucap Gadis dihadapan Addison dan Garret, setelah Putra membantunya turun dari kuda.


Gadis juga sudah meminta maaf pada Damian tadi, dan pria itu hanya menanggapi dengan santai dengan juga menampakkan senyumnya, dengan sedikit berseloroh.


Addison dan Garret sama-sama tersenyum pada Gadis. “No need to be sorry, Gadis (Tidak perlu meminta maaf Gadis) ....” ucap Garret.


“We precisely feel relieve that you can be find. Cause if not, I’m sure that all workers here are in danger for become careless (Justru kami merasa lega kamu dapat ditemukan. Karena jika tidak, aku yakin semua pekerja disini akan berada dalam bahaya karena lengah)” timpal Addison.


Gadis kemudian menunjukkan senyum penuh penyesalan pada Addison dan Garret.


“I’m sorry once again (Sekali lagi aku minta maaf) ....” ucap Gadis pada Addison dan Garret yang kemudian mengangguk.

__ADS_1


“Pergilah ke kamar dan bersihkan dirimu.”


Putra kemudian bersuara dan berbicara pada Gadis.


Gadis pun mengangguk patuh pada Putra.


“Tolong siapkan air mandi yang hangat untuknya di dalam bathtub, Ibu Marsih.”


“Baik, Tuan Putra,” jawab Ibu Marsih.


Ibu Marsih juga mengangguk patuh pada Putra.


Gadis yang sebenarnya merasa tidak perlu jika air untuk mandinya disiapkan Ibu Marsih itu diam saja.


Istri Putra itu tidak mau menginterupsi perintah suaminya dihadapan para pekerja mereka, selain Gadis juga khawatir jika Putra masih memiliki sedikit kekesalan padanya yang sempat menghilang.


Padahal Gadis hanya ingin mencari ketenangan saja sebentar, untuk menyegarkan otak dan hatinya.


“Saya mohon maaf ya, jika sudah membuat kalian semua repot.”


Gadis tidak langsung melangkah menuju kamarnya, melainkan ia berbicara pada para pekerja yang masih berkumpul, setelah ia dan Putra datang bersama Damian, Suheil dan Ray.


Para pekerja yang berkumpul itu memang belum membubarkan diri, karena menunggu perintah dari Tuannya, yang tadi sempat nampak begitu geram. Dan walaupun wajah Putra sudah normal kembali, tapi para pekerja tersebut tetap berantisipasi dengan tetap berada di tempat mereka sekarang sebelum ada titah dari Putra untuk menyuruh mereka bubar.


Putra menarik sudut bibirnya melihat sikap Gadis pada para pekerja Villa. Istrinya itu memang seseorang yang tetap rendah hati meskipun sudah menjadi seorang Nyonya, selain Gadis adalah wanita yang cukup sabar. Tapi Putra juga bukan seseorang yang terlalu arrogant untuk kapasitas sebagai Tuan Besar. Ia tidak pernah membeda-bedakan status sosial seseorang.


Sikap arrogant Putra hanya akan muncul disaat dia sedang tidak senang hati, atau sedang merasa terusik oleh orang lain. Jadi Putra tidak menginterupsi saat Gadis meminta maaf pada para pekerja yang malah berwajah sedikit horor kala Gadis meminta maaf pada mereka dengan menganggukkan kepalanya. Para pekerja itu tidak ada yang berbicara, namun serempak menoleh pada Putra yang kemudian mengangguk pelan.


Lalu Pak Abdul mengambil alih untuk menanggapi permintaan Gadis pada para pekerja itu, sebagai perwakilan. Baru setelahnya Gadis melangkah untuk pergi ke kamarnya dan Putra, dengan Ibu Marsih yang mengekori Gadis untuk menyiapkan air mandi untuk Gadis yang diminta Putra untuk menyegarkan dirinya untuk berendam.


**


Setelah membubarkan para pekerja dan memberikan beberapa tugas baru pada para bodyguard yang sedang berada di Villa saat ini, Putra kemudian masuk ke dalam Villa bersama Damian, Addison dan Garret.


Karena masih agak lelah setelah dari Ibukota dan belum juga sempat membersihkan diri mereka, ke empat orang tersebut segera berpencar untuk pergi ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat sejenak selain membersihkan diri, sambil menunggu makan malam yang Putra minta Pak Abdul dan satu asisten rumah tangga wanita paruh baya selain dari istri Pak Abdul untuk membuat dan menyiapkan makan malam mereka, termasuk juga untuk para pekerja Villa.


“Bru ....”


Dengan sangat perlahan Putra membuka pintu kamar Anthony dan memanggil Bruna dengan suara yang pelan.


“Gadis was came here, and I said to her for taking a rest (Gadis tadi kesini, dan aku katakan padanya untuk beristirahat)....”


“Was Anth heard me screaming? (Apa Anth mendengar aku berteriak tadi?)....”


Putra bertanya pada Bruna, dengan suara yang masih ia rendahkan nadanya.


“He was wake up, but then I said maybe he was just dreaming and he back to sleep again ....”


“(Dia sempat bangun, tapi kemudian aku katakan jika dia mungkin bermimpi dan dia kembali tidur) ....”


Putra pun mengangguk setelah mendengar jawaban Bruna.


“So I haven’t change Anth’s clothes (Jadi aku belum sempat menggantikan pakaian Anth) ....”


Bruna menyambung ucapannya.


Putra tersenyum kecil. “It would be fine (Itu tidak masalah), Bru ....” kata Putra. “Let Anth change when we wake him up for dinner (Biar nanti Anth sekalian mengganti pakaiannya saat kita membangunkannya untuk makan malam) ....”


“Alright then (Baiklah jika begitu) ....” sahut Bruna. “I’ll go prepare dinner (Aku akan menyiapkan makan malam) ....”


“No need, Bru. I already asked Pak Abdul dan Ibu Minah to prepare it (Tidak perlu, Bru. Aku sudah meminta Pak Abdul dan Ibu Minah untuk mempersiapkannya) .... Ibu Marsih will help too after she prepare water for Gadis to take a bath (Ibu Marsih juga pasti akan ikut membantu setelah dia menyiapkan air mandi untuk Gadis)....”


Bruna pun mengangguk mendengar perkataan Putra barusan.


“Better you go back to your room .... maybe Ad need you (Sebaiknya kau kembali ke kamarmu .... mungkin Ad membutuhkanmu) ....”


Bruna mengangguk dan tersenyum.


“See you at dinner then (Sampai berjumpa saat makan malam)....”


Lalu Bruna keluar dari kamar Anthony setelah Putra mengangguk dan tersenyum tipis padanya.


Setelahnya Putra mendekati ranjang Anthony dan memeriksa apakah bocah itu masih terlelap dalam tidurnya atau tidak.


Putra kemudian menarik sudut bibirnya saat ia sedikit merunduk dan memperhatikan Anthony yang nampak sangat pulas tertidur saat ini.


Selain Anthony juga nampak lelah, karena tadi sempat diajak Putra mengunjungi rumah baru mereka di Ibukota, selain turut serta turun mendampingi Putra di setiap tempat yang Papa Putra datangi, yang bersangkutan dengan urusan-urusan yang Putra dan tiga saudaranya lakukan hari ini, makanya sore hari bahkan hampir senja mereka baru tiba di Villa.


Anthony masih mengenakan pakaiannya saat pergi tadi, saya sudah dilepaskan oleh Garret hanya sepatu dan kaos kaki bocah tampan itu saja. Karena baik Garret dan Damian berikut juga Bruna tidak ingin mengganggu tidur Anthony yang nampak pulas itu.

__ADS_1


Sama dengan Putra yang juga tidak ingin mengganggu tidur Anthony yang orangnya nampak sedikit lelah itu. Jadi Putra membiarkan saja Anthony tidur dengan mengenakan pakaiannya yang ia kenakan saat pergi tadi. Nanti setelah waktu makan malam hampir tiba baru Putra akan membangunkan Anthony untuk makan malam sekalian membersihkan dirinya.


Kemudian Putra pergi ke kamarnya dan Gadis melalui pintu penghubung dengan kamar Anthony.


**


Putra tidak menemukan Gadis kala ia masuk ke dalam kamar pribadi mereka, saat Putra memasuki kamar tersebut. Namun Putra segera menduga, jika Gadis berada di dalam kamar mandi mereka, karena memang tadi Putra menyuruh Gadis untuk membersihkan diri, dimana ia menyuruh salah seorang asisten rumah tangga di Villa menyiapkan air mandi untuk Gadis di dalam bathtub.


Putra kemudian melangkah untuk masuk ke dalam kamar mandi pribadinya dan Gadis.


“Putra!”


Gadis nampak terkejut.


“Mengagetkan saja ....”


Dan Putra pun mendengus geli karenanya.


“Kenapa harus terkejut?” sahut Putra datar.


Kemudian Putra berjalan ke arah walk in closet sembari membuka satu per satu kancing kemejanya, dengan mata Gadis yang memperhatikan gerak-gerik suaminya itu.


Gadis melengoskan matanya, saat Putra telah melepas seluruh pakaiannya. Meski sudah sering melihat suaminya itu tanpa busana, namun seringkali, dan masih hingga saat ini, Gadis rasanya malu untuk menatap tubuh polos Putra yang seolah sengaja dipahat dengan indahnya itu.


Namun setelah beberapa saat Gadis melengos, untuk memalingkan wajahnya yang bersemu saat melihat Putra sehelai kain yang melekat di tubuh suaminya itu, Gadis kemudian melengos lagi, ketika mendengar suara air ber-gemericik di bilik shower.


Gadis yang mengira Putra akan menghampiri dan bergabung bersamanya di dalam bathtub itu, ternyata memilih mandi di bagian yang berbeda dengan dirinya, masih menghindari Gadis. Membuat hati Gadis rasa mencelos seketika. Gadis berpikir jika Putra mungkin masih sedikit kesal padanya.


Karena Putra yang biasanya, tidak akan dengan mudah melepaskan dirinya apabila ada kesempatan berduaan seperti sekarang ini, apalagi dengan keadaan tubuh Gadis yang sedang polos, meski tidak terlalu tampak karena dari dada hingga kaki Gadis dalam posisi terendam air di dalam bathtub.


Tapi tetap saja, Putra yang biasanya tidak akan acuh begini pada Gadis. Apalagi posisi Gadis, katakanlah cukup terbuka untuk Putra menyerangnya. Tapi nyatanya sekarang, Putra nampak tak ‘berselera’ padanya.


‘Apa dia benar-benar tersinggung dengan ucapanku semalam? Atau Putra sudah bosan padaku?’


Gadis berspekulasi dalam otak dan hatinya, sembari memandangi Putra yang tubuhnya berada di bawah kucuran air shower.


“Sudah puas memandangi tubuhku? ....” Suara Putra membuat Gadis terhenyak dari lamunannya. “Jika belum kamu rasa puas, kamu bisa bergabung denganku.”


Dimana Gadis kemudian mengulum senyumnya. Ternyata Putra masihlah suaminya yang mesum. Tapi Gadis senang sekarang, karena Putra ternyata sudah nampak normal kembali.


“Gadis ....”


Suara Putra terdengar lagi.


“Bangun dari tempatmu, dan gosokkan punggungku. Ku hitung sampai tiga, jika tidak akan kubuat kamu tidak bisa bangun sampai besok pagi”


Gadis mulai mengerjap, menelaah ucapan Putra barusan, karena ia sempat melamun.


“Satu ....” Putra terdengar mulai menghitung.


Gadis sudah mulai menangkap maksud sang suami.


“Dua ....”


“Aku datang, Papa Putra!”


Gadis bangkit dari dalam bathtub dengan mengulum senyumnya.


‘Ah aku merasa seperti wanita murahan!’


Gadis merasa geli sendiri dalam hatinya.


‘Tak apalah, bersikap murahan pada suami sendiri kan aku? ....’


Gadis berjalan untuk menghampiri sang suami yang kini posisinya sudah tidak lagi menghadap dinding bilik shower melainkan sudah memandangi Gadis yang sedang mendekatinya dengan tubuh yang polos.


“Apa kamu sengaja menggodaku, hem? ....” ucap Putra yang mengulum senyumnya. “Sengaja datang ke hadapanku tanpa penutup apapun?”


“Kalau iya? ....” tantang Gadis. “Ayo, tunjukkan keperkasaan mu!”


‘OH WOW!’


Papa Putra terperangah.


**


To be continue....


Terima kasih masih setia.

__ADS_1


__ADS_2