
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Indonesia ...
“Bu,”
Adalah Gadis yang bersuara, sambil tangan Gadis menyentuh lengan seorang wanita yang duduk di kursi penumpang depan, pada mobil yang juga Gadis tumpangi. Yang mana wanita itu adalah ibu tiri Gadis.
Dimana tak seberapa lama, ibu tirinya Gadis itu sedikit terkaget, setelah Gadis memanggil untuk yang kedua kalinya, sambil menepuk pelan lengannya.
Gadis tersenyum melihatnya. “Maaf Bu, kalau mengagetkan ibu, tapi tadi aku panggil sekali ibu tidak bangun – bangun –“
“Eh iya, iya, Dis –“
“Ayo Bu. Kita sudah sampai –“
“Oh udah sampe ya, Dis?” tukas ibu tiri Gadis yang agak gelagapan bangun tidur.
“Iya Bu –“
“Duh, saking enaknya duduk di mobil mahal yang tempat duduknya empuk, Ibu jadi ketiduran ...”
Dan Gadis tersenyum saja menanggapinya.
*****
“Gadis, I’ll go inside first. You please take time with your step mother ( Aku masuk duluan. Kamu silahkan bercengkrama dengan ibu tiri kamu ) ...”
Bruna dan Garret kurang lebih mengatakan hal yang sama pada Gadis, saat mereka semua telah turun dari mobil yang mereka tumpangi secara terpisah.
“We need to put Anth on her bed right away, and clean him up ( Kami harus segera membaringkan Anth di ranjangnya, dan membersihkan tubuhnya ) ...”
“Iya, Bru, Gar,” sahut Gadis pada dua orang itu. Yang kemudian melangkah duluan untuk masuk ke dalam villa mereka.
Lalu Gadis melangkah untuk mendekat kepada ibu tirinya yang sedang nampak termangu setelah keluar dari dalam mobil.
*****
‘Beneran ternyata ini si Gadis tinggal di ini istana –‘
“Ayo, Bu ...”
‘Gimana cara, aku sama Madya harus tinggal di sini juga, kalo bener itu laki – laki londo yang dateng sama dia dan Gadis ke desa adalah suaminya!’
“Bu? ...” tegur Gadis sekali lagi pada ibu tirinya yang setelah turun dari mobil itu kemudian nampak terdiam memandangi villa di hadapannya dalam pandangan Gadis.
“Eh iya, Dis –“
“Ayo masuk, Bu.”
Gadis mengucapkan kalimat ajakan sekali lagi pada ibu tirinya itu.
Yang langsung diiyakan oleh ibu tiri Gadis.
“Ibu ga sangka loh, ternyata majikan londo kamu itu yang punya ini istana ...”
Ibu tiri Gadis berucap kemudian, dan Gadis tersenyum saja sambil mengayunkan langkahnya untuk memasuki villa.
*****
“Eh Dis!”
Ibu tiri Gadis memanggil, seraya ia menyentuh salah satu lengan Gadis. Membuat Gadis yang sudah berada di dekat pintu masuk utama villa, jadi menghentikan langkahnya.
“Iya, Bu? ...”
“Ih masa kita lewat pintu depan? Ga sopan loh, Dis ...”
“Ga sopannya? –“
“Ya ga sopan kalo orang kerja di ini istana masuk lewat pintu yang sama kayak majikan. Nah kamu kan kerja sama mereka, pembantu mereka kan? Harusnya kita lewat pintu belakang.”
Gadis kemudian tersenyum setelah mendengar cerocosan ibu tirinya yang menyergah langkahnya itu.
“Aku pembantu di sini, Bu.”
“Oh, kamu yang jagain itu anaknya dua majikan kamu itu? –“
*****
“Sama aja, Dis. Pembantu juga itungannya–“
“Bukan, Bu. Aku tidak bekerja di sini.”
Gadis menukas ocehan ibu tirinya itu, seraya menampakkan senyum.
“Masuk dulu ya, Bu? ...”
Kemudian mengajak ibu tirinya itu untuk melanjutkan langkah dan segera masuk ke dalam villa.
“Nanti kita bicara di dalam ... ayo, Bu –“
__ADS_1
*****
‘Kalo si Gadis berani lewat pintu depan ini istana, berarti ada kemungkinan emang bener dia udah nikah sama itu laki – laki londo yang tadi –‘
“Ibu duduk di sini dulu ...”
‘Dan sandiwaraku ini harus terus berlanjut, biar si Gadis yang sok baik tapi bego ini ngomong ke suaminya biar aku sama Madya bisa tinggal di sini –“
“Bu? –“
“Eh, iya, Dis?”
Ibu tiri Gadis yang sibuk dengan pikirannya itu terkesiap.
“Ibu duduk di sini dulu, aku –“
“Boleh ibu duduk di bangku mahalnya majikan kamu ini, Dis? –“
“Iya, bo –“
“Eh, Dis? ...”
Ucapan Gadis terpotong, karena ibu tirinya yang tadi hendak duduk di sofa pada ruang tamu villa itu menyergah sambil meloyor melewati Gadis untuk menyambangi satu sudut pada ruang tamu tersebut.
“Ini bukannya kamu, Dis? –“
“Iya Bu, itu aku –“
‘Bener ini si Gadis!’
*****
‘Cakep banget dia di foto ini. Gara-gara bagus banget itu baju pengantennya si Gadis makanya dia jadi keliatan cakep!’ disaat dimana Gadis menjawab pertanyaannya, ibu tiri Gadis sibuk membatin. ‘Eh tapi suaminya yang di foto ini beda sama laki – laki londo yang tadi??? Yang ini lebih cakep! ... Cocoknya sama Madya! ... si Gadis mah engga ada apa – apanya sama Madya! Tuh di foto cakep begitu juga pasti karena yang dandaninnya tukang rias mahal!‘
Ibu tiri Gadis kemudian menoleh pada Gadis, setelah ia puas bermonolog dalam hatinya.
“Lah kalo ini kamu, berarti laki – laki disamping kamu dalem foto ini suami kamu? –“
“Iya Bu –“
“Kamu udah nikah, Dis?! ...”
Ibu tiri Gadis menampakkan ekspresi keterkejutan.
Berlagak, tentu saja.
Menanggapi pertanyaan ibu tirinya yang nampak terkejut di mata Gadis itu, Gadis pun mengangguk.
“Iya Bu, sudah ...”
“Bukan begitu, Bu ... aku menikah juga mendadak –“
“Karena hamil duluan? ... ga aneh sih kalo pasangannya orang londo.”
“Aku menikah bukan karena hamil duluan. Tapi memang suamiku ingin cepat menikah.”
“Tapi tadi kayaknya Ibu liat, perempuan londo itu ngomong bahasanya dia pas kita berangkat dari desa, kamu ngelusin perut?” ucap ibu tiri Gadis lagi.
Gadis lalu tersenyum menanggapi ucapan ibu tirinya itu.
“Aku memang sedang hamil sekarang, Bu. Tapi kehamilanku baru berjalan beberapa minggu.”
Setelahnya, Gadis berujar.
*****
“Nyonya Gadis, kamar tamu sudah siap. Tadi Nyonya Bruna bilang sama saya untuk menyiapkan satu kamar tamu, dan sekarang sudah siap untuk ditempati oleh tamu Nyonya –“
“Aku ini ibunya Gadis. Bukan tamu!“ sergah ibu tiri Gadis, pada Pak Abdul yang menyambanginya lalu bertutur memberitahukan jika dia telah selesai melakukan apa yang sebelumnya Bruna perintahkan padanya.
Gadis lalu menoleh dan tersenyum pada Pak Abdul sebelum ia berkata.
“Terima kasih, Pak Abdul. Biar saya yang antar ibu saya ke kamar tamu. Pak Abdul siapkan saja makan malam.”
“Baik, Nyonya Gadis ...”
*****
Gadis sudah mengajak ibu tirinya ke salah satu kamar tamu yang tersedia di villa yang ia tinggali bersama keluarga barunya itu, dimana ibu tiri Gadis tak henti – hentinya berkata takjub saat melewati setiap bagian villa menuju kamar tamu yang akan ditempatinya selama menginap di villa yang ditempati Gadis bersama keluarga barunya itu.
Dan Gadis hanya tersenyum saja menanggapi tingkah ibu tirinya yang agak udik itu.
“Wah, Dis. Ibu bener-bener kaget loh ternyata kamu udah jadi orang kaya sekarang,” ucap ibu tiri Gadis saat ia telah masuk ke dalam sebuah kamar tamu yang ada di villa.
“Suamiku dan keluarganya yang kaya, Bu.“
“Ya kamu keikutan juga jadi orang kaya dong Dis, kalo suami kamu kaya.”
Ibu tiri Gadis itu menjawab ucapan Gadis seenaknya saja. Dan sekali lagi, Gadis hanya menanggapinya dengan tersenyum. Hendak meninggalkan ibu tirinya sebelum nanti dipanggil untuk ikut serta makan malam dengannya bersama yang lain, ibu tiri Gadis itu terdengar berkata lagi. “Madya pasti kaget ini, kalo tau ternyata kamu tinggal di rumah gedong yang paling kesohor ini.”
Membuat Gadis sejenak menjeda keinginannya untuk undur diri sejenak dari hadapan ibu tirinya itu.
“Oh iya, Bu. Nanti kalau Madya pulang dan tidak menemukan ibu di rumah bagaimana?—“
__ADS_1
“Nanti juga dia nyusul ke sini ...“ tukas ibu tiri Gadis yang sibuk melihat – lihat isi kamar tamu yang nampak ‘wah’ di matanya itu.
“Menyusul.. ke sini? ...“ tanya Gadis dengan ia yang sedikit mengernyit. Dan ibu tirinya itu dengan cepat menjawab pertanyaan Gadis yang sebenarnya bernada heran itu seperti ekspresinya.
“Iya. Duuhh, si Madya pasti seneng banget bisa masuk ke ini rumah gedong—“
‘Jika aku tidak salah dengar saat di desa tadi, Madya sedang bekerja saat aku bawa ibu dari sana?’
Gadis membatin.
“Bukannya Madya tidak ada saat ibu pergi bersamaku dari desa tadi? Bagaimana Madya tahu ibu di sini? Aku juga tidak meninggalkan pesan apa-apa pada bapak dan ibu Firman. Ibu juga bukannya tidak tahu sebelumnya jika aku tinggal disini sekarang?”
Dan akhirnya, keheranan Gadis itu pun ia suarakan. Membuat ibu tiri Gadis langsung menggigit bibirnya sendiri dan meringis tanpa suara, dimana Gadis tidak melihat ekspresi kaget ibu tirinya yang sedang membelakanginya itu. ‘Mati aku keceplosan!’
*****
Ibu tiri Gadis lalu berbalik dan membuat dirinya setenang dan senatural mungkin dihadapan Gadis, setelah ia sempat terkejut tadi. “Tadi itu, Ibu iseng nanya sama tukang pukul yang nemenin Ibu pulang sama si Sari soal tempat tinggal dua orang londo yang sebelumnya ibu kira majikan kamu itu loh? ....”
Ibu tiri Gadis lalu berkata.
“Terus dia bilang, katanya mereka tinggal disini.”
Berdusta tentunya.
“Jadi Ibu titip pesen sama Sari buat Madya kalo pulang nanti, bilang Ibu dibawa kamu ke sini.”
“Ya sudah kalau begitu, Bu.”
*****
*****
“Gar, apa Putra sudah dapat dihubungi?”
“Not yet, Gadis. Mungkin, they haven’t finish.”
“Ya sudah kalau begitu.”
“If Putra called, and you’re not around, I’ll tell him about your mother and step sister who’ll stay for few days here ( Jika Putra menghubungi dan kamu sedang tidak ada di sekitar, aku akan memberitahukan padanya tentang ibu dan saudari tirimu yang akan menginap beberapa hari di sini ) ....”
“Terima kasih ya, Gar.”
“You welcome, Gadis.”
“Soalnya.... Saudari tiriku bilang katanya dokter spesialis di rumah sakit pusat kota, send her untuk check up di rumah sakit ibukota. Jadi... aku tidak tega saat mendengar mereka bilang, kalau mereka harus pulang ke desa lalu ke rumah sakit ibukota, dimana mereka harus berangkat pagi-pagi buta dengan menumpangi truk sayuran.”
“I can understand that ( Aku dapat memahaminya )—“
“Thank’s once again, Gar....”
*****
*****
“Bu, aku rasanya udah jatuh cinta sama suaminya Gadis walau cuma liat dari fotonya aja. Tapi gimana ya, cara aku ngerebutnya dari Gadis? Sementara itu perempuan sok cakep lagi hamil. Dan kalo anak itu lahir, pasti tambah sayang itu suaminya sama dia—“
“Tenang, itu soal gampang. Ibu udah nyiapin ramuan dari tumbuh-tumbuhan beracun yang ada di hutan belakang sawah. Anak si Gadis ga bakal lahir, termasuk si Gadisnya kalo perlu mati sekalian. Kalopun engga mati, nanti ibu cari ramuan di kenalan ibu biar si Gadis sakit – sakitan, dan suaminya jadi ga napsu sama dia.”
“Bisa Bu, begitu?!”
“Lupa soal bapaknya si Gadis?—“
“Oh iya!”
“Pokoknya, nanti pas kita denger kabar suaminya si Gadis itu mau pulang, kamu dandan yang cakep, yang seksi. Biar suaminya Gadis langsung kepincut sama kamu dan si Gadis langsung didepak dari sini....”
*****
*****
“Bengong aja dari tadi, Bu?”
“Eh kamu, Su.”
“Mikirin apa sih?”
“Engga mikirin apa-apa.”
“Nah bengong begitu dari tadi Su perhatiin.”
“Ibu cuma lagi mikirin itu dua ibu sama saudara tirinya Nyonya Gadis—“
“Kenapa? Lebih udik dari kita ya?”
“Hush!”
“Ya emang udik banget Bu sikap mereka dari dateng.”
“Bukan itu.”
“Terus apa?”
“Ibu ngerasa ada yang aneh sama mereka—“
__ADS_1
*****
To be continue ...