
Happy reading....
**********************
Apa yang Putra inginkan dan rencanakan pada seorang wanita bernama Gadis telah berjalan seperti apa yang Putra mau.
“Setelah ini jangan pernah dekat-dekat dengan Dokter yang selalu cari-cari kesempatan untuk dekat denganmu itu!”
“Dokter Bajra maksudmu?”
Cup!
“Putra!”
“Itu hukuman ...”
“Hukuman apa maksud kamu????”
“Setiap kali kamu menyebut nama pria lain di depanku terlebih Dokter pria itu, aku akan langsung menciummu kapanpun dan dimanapun! ...”
“Tsk! Jangan suka seenaknya! Kalau aku menyebut para pria yang ada di keluargamu bagaimana?”
“Tergantung moodku! ...” Sahut Putra. “Jika aku ingin menciummu saat ada mereka pun ya akan aku lakukan itu tanpa ragu!”
“Ah memang dasar saja kamu yang mesum, Putra!... pakai alasan... hmphhhhppp” Gadis mendelikkan matanya kala Putra kembali menciumnya dengan tiba-tiba.
“Mesum, hem? ...” Bisik Putra setelah melepaskan ciuman tiba-tibanya itu pada Gadis. “Aku bisa lebih mesum dari itu...”
“Putraa”
Gadis yang kembali merona wajahnya itu memukul gemas dada bidang Putra yang kemudian terkekeh.
“Siapa suruh mengataiku?”
“Tsk! Sudahlah! Kamu itu selalu memojokkan ku dengan kata-kata dan tingkahmu, juga tatapanmu ... selalu mendominasi ku!... Menyebalkan!”
“Salahmu!”
“Huh! Lagi-lagi menyalahkanku!”
Gadis berkata dengan kesal.
“Memang seperti itu!” Tukas Putra. “Salahmu yang mengganggu hatiku, membuatku tak bisa berhenti memikirkanmu, membuatku jatuh pada pesonamu! ...”
Tak ayal membuat Gadis merasakan pipinya memanas mendengar cerocosan Putra barusan.
“Kamu sudah mendominasi hatiku, hati seorang pria... jadi jika aku mendominasimu sekarang, ya salahkan saja dirimu yang begitu menggemaskan dimataku, selain cantiknya parasmu itu”
‘Oh Putra, apa kamu tahu kamu bisa membuatku seperti es krim kesukaan Anthony yang terkena sinar matahari?! ...’
Gadis membatin.
‘Meleleh tak tersisa’
“Tapi kecantikan itu relative... ada sesuatu dalam dirimu yang terasa seperti magnet untukku, untuk hatiku ...”
Putra melemparkan senyumnya pada Gadis yang tersenyum simpul menatapnya.
“Yaa, jika kamu tidak cantik mana mungkin juga aku tertarik padamu? ...” Celoteh Putra yang membuat Gadis terkekeh kemudian.
Hingga Putra kembali membawa Gadis dalam dekapan. Dan sesaat keduanya terdiam, meresapi indahnya senja dan angin yang menerpa tubuh mereka.
Sedikit dingin, tapi diabaikan oleh keduanya, karena rasa hangat yang menjalar dalam hati Gadis dan Putra.
*****
“Putra ....”
“Hem?”
“Apa kamu tidak mau berpikir ulang tentang ini? ....”
“Tentang apa?”
“Aku dan kamu .... kita, hubungan kita maksudku ....”
“Memang hubungan kita apa sekarang, hem? ....”
“Putraaa ....” Gadis seperti sedang merajuk pada Putra yang kembali menggodanya. Membuat Putra terkekeh geli karenanya.
“Aku tidak pernah merubah keputusan dan langkah yang sudah kuambil....”
“...............”
“Terkhusus tentangmu....”
“...............”
“Wanita yang begitu sempurna di mataku .... yang bisa membuatku jatuh dalam pesonamu itu, aku tidak akan berpikir ulang, Gadis...”
“Tapi kamu kan belum terlalu mengenalku Putra ....”
“...............”
“Latar belakangku, keluargaku .... bagaimana jika aku tak sebaik dari apa yang kamu pikirkan tentangku? ....”
“Kamu sendiri, apa sudah begitu mengenalku?”
“Ya tidak memang ....”
“Belum!” Sambar Putra. “Kita sama-sama belum terlalu mengenal satu sama lain .... tapi meskipun kamu belum terlalu mengenalku, tapi saat ada sesuatu yang datang pada hatimu, perasaanmu padaku, yang menyukaiku atau lebih dari itu .... apa kamu bisa mengontrolnya? ... apa bisa segera hilang meskipun kamu berusaha menyangkalnya? ....”
Gadis menggeleng.
“Begitupun aku ...” Timpal Putra. “Jadi aku tidak perduli dengan latar belakangmu, atau siapa keluargamu ... yang jelas aku menginginkanmu.... karena kamu, wanita pertama yang mampu membuatku merasa seperti ini, Gadis ....
sesuatu yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya.... bahkan tak pernah aku kira kalau aku bisa merasakannya”
“...............”
“Jika aku tidak salah mengatakannya ....”
“...............”
__ADS_1
“Kamu wanita pertama, yang dapat membuat aku jatuh cinta”
Tak ayal lagi Gadis merasa melayang mendengar setiap ucapan Putra.
Tapi kemudian ada yang terbersit dalam pikirannya soal ucapan Putra.
Kini Gadis menatap lamat-lamat wajah Putra yang sedang berlaku manis dengan membelai kepala Gadis dengan satu tangannya, karena satu tangan Putra sedang merengkuh pinggang Gadis.
“Aku?, cinta pertamamu? ....”
“Heem ....”
“Benarkah? ....”
Gadis menatap Putra dengan tatapan yang menyiratkan keraguan di dalamnya.
“Kenapa? Tidak percaya?”
“Lalu ibunya Anthony?....”
“Kenapa dengan ibunya Anthony?”
“Kamu tidak mungkin menikah dengannya tanpa cinta, bukan?”
Putra menarik satu alisnya.
“Atau.... apa Anthony .... hadir karena kesalahan satu malam antara kamu dan ibunya Anthony....? .... apa seperti itu?”
“Hahaha ....”
Putra kemudian tergelak geli sampai mukanya memerah karena perkataan Gadis itu.
Membuat gurat keheranan nampak jelas di wajah Gadis melihat Putra tergelak seperti itu.
“Kenapa kamu malah tertawa???!!!” Tanya Gadis dengan polosnya.
“Pertama,....” Putra sedang berusaha menghentikan tawanya. “Aku belum pernah menikah....”
“Apa?!”
Gadis memekik.
Putra manggut-manggut.
“Kamu, sudah menghamili seorang perempuan tapi tidak menikahinya?! .... Ternyata kamu laki-laki yang tidak bertanggung jawab, Putra?!”
Gadis melepaskan dirinya dari rengkuhan Putra. Mendengus sinis pada Putra setelah melemparkan tudingan nya sembari menggelengkan kepalanya tak percaya jika Putra seburuk itu ternyata.
“Aku tidak sangka kamu sekejam itu!. Lalu apa? Kamu suruh ibunya Anthony mengandung sampai melahirkan Anthony lalu kamu mengambilnya dan memisahkan Anthony dari ibunya, begitu????!! Laki-laki macam apa kamu, hah???!!!”
Sarkasme dan kesinisan yang teramat sangat nampak jelas di ucapan dan wajah Gadis saat ini. Menatap Putra tajam.
Tapi Putra?
Putra malah tergelak lagi. Membuat Gadis memicingkan matanya, semakin kesal melihat Putra yang sepertinya menganggap enteng omongannya.
“Antar aku pulang sekarang!!!” Tuntut Gadis yang sudah terlihat gusar dan geram itu.
Gadis yang raut wajahnya nampak begitu tak senang itu kemudian berbalik badan untuk menjauh dari Putra, hingga kemudian tubuhnya tertarik ke belakang.
“Aku tidak akan melepaskanmu, meski sekuat tenaga kamu ingin melepaskan diri dan pergi dariku, Gadis .....”
“LEPAS AKU BILANG!!! AKU SALAH MENILAIMU! AKU TIDAK MAU BERSAMA PRIA YANG KEJAM DAN TIDAK BERTANGGUNG JAWAB SEPERTIMU!!!! .... LEPAS!!!........... LEPASKAN .... HMPPPPHHH ........”
Bibir Gadis yang berteriak menuding Putra itu terbungkam oleh bibir Putra yang sudah m*lum*t bibir Gadis sedikit kasar. Membuat Gadis spontan memukulinya sembari ia tetap meronta\, tetapi tentunya tenaga Putra jauh lebih
besar hingga membuat Gadis sangat kesulitan melepaskan diri.
“Kamu.... cerewet .... sekali .... Nona Gadis .... telingaku.... sampai .... sakit.... mendengarnya ....” Putra berbicara dengan napasnya yang sedikit terengah, dengan tangannya yang masih memegangi wajah dan pinggang Gadis.
“Berhenti melecehkanku! ....”
Gadis memekik sembari kembali memukuli dada Putra.
“Anth bukan anak kandungku ....”
Gadis menghentikan aksinya yang memukuli Putra sembari mengerjap-ngerjapkan matanya, pada Putra yang juga sedang menatapnya dengan serius.
“Apa? ....”
“Aku tidak pernah menikah, tidak pernah menghamili wanita. Dan yah, Anth bukan anak kandungku”
“Lalu ....”
“Dia anak dari Bosku, saudaraku-pria yang sudah kuanggap sebagai kakakku dan istrinya .... Rery dan Madelaine, orang tua kandung Anth”
Putra berkata dengan penuh penekanan sembari menatap Gadis lekat. Dan Gadis masih sedang menelaah semua perkataan Putra barusan.
“Dan satu lagi.... aku masih perjaka. Bahkan ciuman pertamaku diambil olehmu”
Putra yang tangannya sudah memegangi tangan Gadis yang tadi memukulinya kini menelisik netra Gadis dengan tatapannya yang cukup mendominasi Gadis.
“Kamu sudah menuduhku yang bukan-bukan dan untuk itu, aku minta pertanggung jawabanmu padaku!....”
“A-apa maksudmu....”
“Ganti rugi untuk setiap tudingan burukmu padaku tadi ....”
“Ma-mana ada???!!!.... A-aku kan tidak tahu kalau Anthony bukan anak kandungmu!”
“Mengelak, hem?”
“Me-memang aku tidak tahu!. Ka-kamu kan tidak pernah cerita padaku!”
Gadis memalingkan wajahnya yang langsung dibuat Putra kembali menghadapnya.
“Apa kamu pernah bertanya, hem?”
“Ya-aku ....”
Gadis tergugu.
“Katakan, bagaimana aku harus menghukummu atas tudingan burukmu itu padaku, hem? ....”
__ADS_1
“A-aku tidak terima!.... a-aku ....”
Cuupp....
“Mau katakan kamu tidak percaya kalau Anth bukan anak kandungku, hem?”
Putra berkata dengan enteng setelah menyerang bibir Gadis seenaknya lagi. Gadis langsung menatap Putra tajam.
Namun Putra tersenyum kemudian. “Aku baru pertama kali jatuh cinta, dan itu denganmu. Wanita yang baru pertama kali kucium adalah kamu, Gadis.... Dan Anth bukan anak kandungku. Aku berani bersumpah dengan nyawaku”
“...............”
“Tapi bagiku, selamanya Anth adalah anakku.... meskipun dia bukan darah dagingku”
“...............”
“Dan terkhusus untukmu ....”
Putra menjeda kalimatnya sembari menangkup wajah Gadis.
“Aku ingin kamu menjadi wanita yang menjadi cinta pertama dan terakhirku ....”
Gadis bergeming. Kata-kata Putra yang diucapkan dengan keseriusan yang nampak jelas di wajah pria itu membuat Gadis terpana karenanya.
“Aku bukan pria romantis, Gadis.... aku hanya pria yang tidak suka membuang waktuku.... Terlebih saat seorang wanita telah merajai hatiku .... untuk itu aku sangat tidak mau membuang waktu. Jadi....”
Seketika detak jantung Gadis memacu dengan cepat, saat Putra melepaskan tangannya dari wajah Gadis, lalu satu tangan Putra menelusup ke salah satu saku celananya mengeluarkan sebuah kotak kecil berbentuk heksagon berbahan beludru, membuka dan menunjukkannya pada Gadis sembari tersenyum dengan tampannya, dan bilang,
“Jadilah milikku Gadis, hari ini, esok dan seterusnya, hingga maut memisahkan kita .... maukah, kamu menikah dan menjadi istriku, Gadis?....”
“Putra ....”
“Aku tidak bisa menjanjikan dunia padamu, tapi duniaku ....”
Putra menjeda ucapannya sesaat.
“Selain Anth tentunya ....”
Terkekeh kecil kemudian
“Adalah kamu, Gadis”
Dimana kedua mata Gadis kini sudah basah.
Dengan kedua tangannya yang kini sudah menutupi mulutnya, memandang pada Putra dengan wajah keterkejutan tak percaya, namun ada binar bahagia di dalam matanya.
“Bisa tolong cepat kamu menjawab, Gadis? .... Karena senja sudah padam dan angin mulai terasa menusuk.... dan kita bisa sakit jika terlalu lama berada disini .... apa kamu tidak mau pulang?...”
“Cerewet sekali ....”
Gadis menggumam.
“Apa k-.... Hmmmppphhhh ....”
Tak bisa Putra melanjutkan kata – katanya, karena Gadis yang sudah menepiskan harga dirinya itu, memajukan dirinya dan tangannya menangkup wajah Putra yang Gadis kemudian cium bibirnya.
Putra menegang dan matanya memperhatikan dengan seksama pada Gadis yang sedikit agresif saat ini.
‘Oh, wow! ..’
Namun Putra membatin kesenangan kemudian.
Merengkuh Tubuh Gadis yang sedang menciumnya dengan cincin yang masih terkait rapih dalam kotak dan belum sempat Putra sematkan disalah satu jemari Gadis karena alih – alih menjawab ya atau tidak dengan kata – kata, Gadis malah membungkam nya dengan ciuman.
*****
“Kamu laki – laki paling cerewet, menyebalkan dan pemaksa yang pernah aku kenal! ...”
Putra mendelik mendengar ucapan Gadis barusan selepas keduanya melepaskan tautan bibir mereka.
“Tapi kenapa lah kamu yang seperti itu malah bisa membuat aku jatuh cinta, Putra! ...”
Sementara Gadis berbicara dengan sesekali memukul dada Putra, Putra sendiri seolah terpaku atas pernyataan Gadis barusan. Tapi kemudian Putra tersenyum lebar.
Gadis pada akhirnya mengakui juga kalau dia mencintai Putra. Senyum Putra mengembang dengan lebarnya. Kemudian menarik dagu Gadis agar wajah wanita itu berhadapan dengannya.
“Jadi itu berarti kamu menerima lamaranku, hem?...”
Gadis terdengar berdecak sembari kembali mendaratkan pukulan dengan kepalannya sedikit lebih kencang ke dada Putra. Namun begitu pukulan Gadis tidak terasa pukulan melainkan seperti pijatan.
“Kamu ini sengaja meledek ku atau apa?!...”
Putra terkekeh.
“Hanya memastikan....”
“Apalagi yang perlu dipastikan .....”
Gadis berkata pelan hampir terdengar seperti menggumam. Namun Putra tetap bisa mendengarnya.
“Kesediaanmu .... untuk menikah denganku... untuk menjadi istriku.... dan menjadi ibu untuk Anthony ....”
Putra mengatakan lagi maksud hatinya, keinginannya, pada Gadis yang kini ia tatap dengan dalam namun teduh kedua manik matanya.
Bagai mimpi bagi Gadis kalau pria yang benar-benar tampan tanpa cela di matanya ini baru saja melamarnya. Ada ragu dan takut sebenarnya jika harus bersanding dengan pria seperti Putra.
Tapi tidak mau juga membohongi perasaannya sendiri, kalau Gadis bahagia.
“Iya... aku mau..... menikah denganmu aku mau .. menjadi istrimu dan ibu untuk Anthony aku mau .... aku bersedia, Putra ....”
“Grazie, il mio miele .... Ti amo ( Terima kasih, sayangku. Aku mencintaimu.... )”
Putra dengan senyumannya, sembari menyematkan cincin yang sudah ia lepaskan dari dalam kotaknya.
“Apa artinya itu? ....” Tanya Gadis dengan polosnya.
“Selamat, karena kamu akan mendapatkan keperjakaanku”
Gadis terbelalak sekaligus melongo.
‘Ya Tuhan, otakku kotor seketika!’
*****
__ADS_1
To be continue...
Enjoy aja dulu