
Happy reading .....
⚓⚓⚓⚓⚓⚓⚓⚓⚓
Inggris .....
Di dalam sebuah kapal kargo berukuran cukup besar, di situlah kini Putra dan rombongannya berada. Kapal tersebut kini mulai bergerak menjauh dari tepian, setelah Jaeden bangun dari ketidaksadarannya sehabis dipukuli Putra pada saat mereka masih berada di mansion Kingsley Smith.
Lalu Putra pada akhirnya membawa Jaeden ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya sebagai titik akhir temunya dan sebagian besar orang – orangnya. Sebuah pelabuhan, namun tidak begitu ramai.
Semakin tidak terlihat ramai, karena Putra meminta orang – orangnya untuk memanipulasi pelabuhan tersebut agar tidak dulu ada yang menggunakannya selain dirinya dan orang – orangnya, sampai semua urusannya dengan Jaeden selesai.
Dan ya, Putra sudah bersama tujuan utamanya itu sekarang. Dengan segenap rencana yang ada di otak Putra untuk membalaskan dendamnya perihal kematian Rery, istrinya yang menyebabkan Anthony mengalami trauma. Lalu percobaan pembunuhan atas Anthony yang sempat menyebabkan bocah tampan itu koma selama beberapa waktu.
Termasuk juga Putra membalas dendam atas kematian para saudara – saudaranya yang tewas bersama Rery dan Madelaine di Ravenna, Italia. Juga para kerabat dekat Putra lainnya, seperti ayah dan kakak lelakinya Damian ---- serta beberapa orang yang Putra kenal baik, dimana kesemuanya telah dihabisi Jaeden bersama para sekutunya yang sebagian besar Putra dan kelompoknya sudah habisi dengan berbagai macam cara.
Lalu sebagian diserahkan pada orang yang merupakan kenalan baik almarhum ayah Putra yang bersedia menolongnya untuk mengurus beberapa sekutu Jaeden yang masih dibiarkan hidup, namun akan diberikan sebuah vonis dengan tuntutan yang berat.
Dan beberapa orang yang berada di sebuah desa pesisir, dimana orang – orang itu diketahui Putra adalah bagian keluarga Zepeto yang selama ini selalu berhubungan dengan Jaeden karena memang Jaeden sebelum masuk dalam kehidupan Kingsley Smith tinggal dan besar di sana ----- juga telah Putra habisi tanpa terkecuali melalui orang – orangnya.
“All Zepetos and everyone connect with them at Saint Bees are gone. Some of them burn alive, and some of them are hitted until death. Also all of your allies here at England ( Semua Zepeto dan setiap orang yang terhubung dengan mereka di Saint Bees telah tiada. Beberapa dari mereka terbakar hidup-hidup, dan beberapa dipukuli hingga mati. Termasuk juga para sekutumu di Inggris ini )....” ucapan Putra pada Jaeden.
“You ( Kau ) ....”
Jaeden menggeram tertahan.
“And your chicago’s friend too ( Dan teman Chicago mu juga )” celetuk Damian.
Putra menyungging miring.
Namun sorot matanya pada Jaeden tetap menyiratkan dengan jelas api dendamnya pada pria itu. “But I left two (Tapi aku menyisakan dua )....” ucap Putra kemudian. “For now ( Untuk sekarang ) ....”
Putra pun menyeringai. Dimana kemudian Jaeden mengetatkan rahangnya.
⚓⚓⚓
“Where are they?! ( Dimana mereka?! )” seru Jaeden sambil menatap nyalang pada Putra.
“They’re here, don’t you worry ( Mereka di sini, kau jangan khawatir )” sahut Putra. “I’ll meet you with them now ( Aku akan mempertemukanmu dengan mereka sekarang )”
Putra memandang pada anak buahnya, yang paham jika pandangan Putra itu bermaksud untuk membawa orang yang dimaksud ke hadapan Putra sekarang. “Two of them, Boss? ( Keduanya, Bos? )” tanya salah seorang anak buah.
__ADS_1
“Yes,” jawab Putra datar dan dingin.
“Got that, Boss ( Mengerti, Bos )”
‘He really have them? ( Dia benar – benar menawan mereka? )....’
Dalam sakit atas bekas pukulan dan tendangan Putra di wajah dan tubuhnya serta kesakitan lebih di empat jari tangan kirinya yang sedang ia rasakan, Jaeden membatin khawatir dan was – was.
Lalu tak berselang lama, rasa khawatir dan was – was Jaeden serta panik kian kentara, ketika anak buah Putra membawa dua orang berbeda usia dan gender ke tempatnya berada sekarang.
‘Jayvon.... Fiona....’
Jaeden membatin lirih.
‘I wish he’s wrong taking person ( Aku harap dia salah ambil orang )....’
Lalu Jaeden berharap dalam hatinya ketika melihat dua orang ----- dimana yang satu adalah wanita dewasa, sementara yang satunya adalah anak – anak seusia Anthony, kira – kira.
Yang kemudian, kedua orang yang baru dibawa oleh anak buah Putra itu dibuat bersimpuh dengan paksaan tepat di dekat dimana Putra berdiri.
Kepala kedua orang itu ditutup dengan kain pada masing – masingnya. “Open. So he can see if I’m not just saying a rubbish just like him ( Buka. Jadi dia dapat melihat jika aku tidak sekedar berbicara omong kosong seperti dirinya )....”
Putra berucap seraya kembali memberikan perintah. Lalu anak buah yang sigap pada dua orang tawanan mereka itupun lekas mengangguk dan langsung membuka kain yang menutupi kepala hingga leher seorang wanita dan seorang bocah yang dipaksa bersimpuh itu.
“JAY!”
“JAEDEN!”
“FIO!”
⚓⚓⚓
“LET THEM GO! ( LEPASKAN MEREKA! )”
Jaeden berteriak, setelah dirinya yang hendak bangkit menghampiri dua orang yang tadi ia serukan namanya itu, ditahan oleh anak buah Putra dan para saudaranya.
Begitu juga dua orang yang dihadapkan dengan Jaeden dalam jarak tertentu, yang tadinya sudah hendak bangkit untuk mendekat pada Jaeden.
Namun dua orang yang adalah anak dan istri Jaeden yang pria itu sembunyikan, tidak dapat mendekati Jaeden karena bahu keduanya langsung ditahan oleh anak buah Putra.
Dan anak serta istri Jaeden itu mau tidak mau tetap berada di tempatnya, kembali ke posisi mereka semula ----- dengan keduanya yang telah berderai air mata.
__ADS_1
Dimana Jaeden memandang tak tega pada istri dan anaknya itu.
Putra menyadari tatapan tak tega bercampur khawatir yang teramat sangat Jaeden pada istri dan anaknya tersebut, namun Putra hanya menarik tipis satu sudut bibirnya saja dengan sinis sebelum ia berbicara dengan menatap Jaeden dari tempatnya.
⚓⚓⚓
“I don’t know how’s Rery, Madelaine and Anthony condition that day ( Aku tidak tahu bagaimana kondisi Rery, Madelaine dan Anthony hari itu )....”
Putra berucap. Menjeda ucapannya, merasakan jalaran sakit dalam dadanya yang selama ini tersimpan di sana sejak tragedi yang menimpa ketiga orang yang ia sebut tadi terjadi di Ravenna.
Tersenyum getir sesaat, lalu mendengus sinis. Menatap fokus pada Jaeden.
“But I’m sure that I can make you feel some kind of Dejavu of that day ( Tetapi aku yakin jika aku dapat membuatmu merasakan Dejavu akan hari itu )”
Putra lanjut bicara.
Lalu Putra melirik kepada istri dan anak Jaeden yang tak henti menangis dan memohon padanya.
⚓⚓⚓
“Don’t cry, beautiful ( Jangan menangis, cantik )....” suara Accursio terdengar. “If you want to be with me ( Jika kamu berkenan untuk bersamaku )-“
“DON’T TOUCH HER! ( JANGAN SENTUH DIA! )” Jaeden berteriak.
Menyergah Accursio yang memposisikan dirinya berjongkok di samping istrinya yang wajahnya sudah banjir air mata.
“I never touched Madelaine.... Please ( Aku tidak pernah menyentuh Madelaine.... Tolonglah )....”
Jaeden melirih kemudian, lalu menatap Putra dengan memelas.
“Your hands not, but your bullet ‘through’ Madelaine ( Tanganmu memang tidak, tapi pelurumu ‘menyapa’ Madelaine )” tanggap Putra. “And now my bullet will ‘through’ inside her ( Dan sekarang peluruku akan menyapa tubuhnya )”
Putra mengarahkan pistolnya ke istri Jaeden.
“Or him? ( Atau dia? )”
Satu pistol lagi Putra arahkan ke anak laki – laki Jaeden.
“Or both ( Atau keduanya saja lah )-“
⚓⚓⚓⚓⚓⚓
__ADS_1
To be continue......