LIFE OF A MAN

LIFE OF A MAN
PART 229


__ADS_3

Happy reading ....


“Keparat, pengkhianat yang merugikan ku, atau keluargaku tidak akan aku ampuni walau sedikit saja,” tutur Putra. “Aku sudah pernah menceritakan kepadamu bukan?”


“I, ya ...” Gadis mengangguk. “Ta-pi kamu benar-benar sudah membunuh rentenir yang bernama Baskoro itu? ...”  tanya Gadis pada Putra saat mereka tengah berjalan di area bakal Pabrik Teh keluarga mereka yang masih dalam tahap pembangunan itu.


Putra menjawab pertanyaan Gadis dengan anggukkan.


“Termasuk semua anak buahnya.”


Kemudian Putra berucap dengan santainya.


“A-apa? ...”


Tentu saja Gadis terperangah.


“Dan aku membakar mereka semua, berikut tempat tinggal keparat itu ...”


Putra kembali berucap, lalu menyungging miring.


“Jika ingat para keparat, aku jadi tak sabar ingin segera pergi menghampiri keparat pembunuh orang tua Anth dan para saudaraku ...”


Putra melanjutkan ucapannya, dan memandang sedikit nanar ke arah selurusan matanya.


“Jika memang memungkinkan nanti, akan aku bawa kepala keparat bernama Jaeden itu untuk aku letakkan di kaki Anth ...” Lalu Putra kembali menyungging miring.


“Kalau perlu aku mutilasi juga setiap bagian tubuhnya ...”


Dan ucapan Putra barusan itu membuat Gadis rasanya kelu.


“Hah, semoga saja aku bisa melakukannya dengan mudah. Doakan aku ya, agar dapat memisahkan kepala keparat itu dari tubuhnya? ...”


Sungguh Gadis bukan lagi merasa kelu, namun juga sedikit ngeri pada Putra yang baru saja berbicara dengan entengnya.


Minta didoakan lagi.


Membuat Gadis jadi berpikir apa suaminya ini seorang Psikopat?.


Mendengar Putra telah menghabisi rentenir yang Gadis pernah khawatirkan berikut anak buahnya yang dibakar oleh suaminya itu saja sudah membuat Gadis merinding.


Lalu Putra dengan entengnya berbicara ingin memisahkan kepala seseorang dari tubuhnya, bahkan berencana untuk membawa kepala orang tersebut untuk diletakkan di kaki Anthony yang menurut Gadis adalah suatu hal yang sangat gila.


Meski Gadis tahu, jika Anthony, dalam jiwa kecilnya itu, memiliki dendam pada orang yang telah membunuh kedua orang tuanya, tepat di depan matanya.


Tapi kan apa harus segila itu, sampai memisahkan kepala dari badan seseorang?. – Pikir Gadis.


Selain sangat kejam dalam pandangan Gadis, ya itu, Gila!.


Tapi melihat sorot mata Putra jika sedang membahas orang yang sangat ia incar itu, rasanya bukan tidak mungkin untuk Putra merealisasikan ucapannya tentang memisahkan kepala orang yang sedang Putra incar itu.


Yang akan dengan segera Putra hampiri, untuk dihabisi.


Membuat Gadis sungguh sangat bergidik ngeri, selain ia mengkhawatirkan keselamatan Putra, dan mereka yang akan pergi bersama suaminya esok hari.


“Hey ....”


Gadis sedikit terkesiap kala sebuah sentuhan lembut ia rasakan di pipinya. “Eh, maaf. Putra,” ucap Gadis.


“Maaf untuk?.....”


“Tidak memperhatikanmu berbicara.”


“Aku tidak mengatakan apa-apa lagi...” ucap Putra.


Lalu ia merengkuh kembali pinggang Gadis untuk kembali berjalan bersisian dengannya.


“Jangan terlalu kamu pikirkan tentang apa yang aku katakan tadi, tentang apa yang sudah aku lakukan dan yang akan aku lakukan.... Aku punya alasan untuk setiap hal yang aku lakukan itu.”


“Iya....” Gadis mengangguk.


Putra pun tersenyum, lalu mengecup sekilas kepala Gadis.


“Ingatlah selalu bahwa aku mencintaimu.”


***


Author’s POV


Putra sudah membawa Gadis berjalan-jalan di area, dimana Pabrik Teh keluarga mereka akan dibangun.


Area yang Gadis ketahui, jika dulunya adalah lahan dengan sebuah rumah mewah yang dibangun diatasnya, dikelilingi oleh banyaknya perkebunan, juga persawahan, milik seorang rentenir yang dulu hampir menguasainya, karena ibu tiri Gadis yang pernah menjadikan Gadis sebagai jaminan hutang, apabila ibu tiri Gadis ingin mengambil kembali sertifikat tanah dan rumah orang tua Gadis yang digadaikan pada rentenir tersebut.


Dimana lahan tersebut, lahan milik rentenir yang berurusan dengan ibu tiri Gadis itu telah diambil paksa oleh Putra, untuk mengganti kerugian atas hal buruk yang telah dilakukan oleh rentenir tersebut pada Putra, termasuk nyawa dari rentenir itu dan para anak buahnya. Demikian yang dikatakan Putra pada Gadis.


Rentenir itu sudah mencari masalah dengan Putra, sekaligus mengancam dan menantang suaminya itu, kalau menurut penuturan Putra. Hal yang Putra benci. Dan Putra adalah orang yang tak bisa menerima begitu saja jika ada orang yang seperti itu padanya.


Tak mau percaya, tapi rasanya sulit untuk tidak mempercayai Putra sanggup menghilangkan nyawa orang lain. Selain Putra pernah bercerita jika tangannya itu sudah kotor dengan darah, Gadis juga pernah melihat kemarahan Putra. Wajah tampan nan tegas itu akan menjadi sangat mengerikan rautnya.


Jika sedang kesal pada Gadis, dimana Gadis pernah mengalaminya.


Sorot mata Putra akan menyorot tajam, berikut rahangnya yang mengetat dan tampangnya akan terlihat sangat dingin.

__ADS_1


Tapi tidak sampai menunjukkan ekspresi saat Putra marah pada Ilse karena menghina Gadis. Wajah Putra lebih mengerikan saat itu bagi Gadis, belum lagi suaranya yang menggelegar.


Atau saat ada perempuan lain yang menghina Gadis saat mereka berada di Bar tempat Gadis bekerja dulu.


Tidak menggelegar suara Putra, tapi sorot matanya lebih mengerikan, belum lagi tindakan yang tak kalah mengerikan di mata Gadis, dimana saat itu Garret yang akan melakukan eksekusi potong jari.


Dan Itu, hanya karena Gadis dihina. Padahal Gadis tidak mengambil hati pada hinaan yang sudah sering ia terima. Tapi tidak untuk suaminya yang sering posesif serta protektif dengan berlebihan itu.


Jadi, jika ada yang mencari masalah langsung dengan suaminya, rasanya bukan tidak mungkin apa yang Putra katakan mengenai hal yang sudah Putra lakukan pada si rentenir itu benar adanya.


Sisi lain seorang Putra, yang Gadis rasanya ngeri untuk tahu apalagi mengenal sisi itu.


Terkadang Gadis merasa jika suaminya itu adalah pria yang misterius.


Contohnya ya tentang rentenir yang Gadis ketahui orangnya.


Jika rentenir itu berikut para anak buahnya yang Gadis bayangkan cukup banyak jumlahnya telah dibunuh Putra dan para saudaranya, bukankah akan menciptakan kehebohan?.


Meskipun bukan sesuatu yang terjadi di Ibukota, tapi setidaknya, hitungannya – menurut Gadis – hal yang terjadi pada si rentenir ini adalah pembunuhan yang masuk dalam kasus yang akan dianggap tidak biasa oleh pihak yang berwajib.


Bahkan setidaknya ada beritanya di surat kabar. Tapi sejauh ini Gadis tidak pernah melihat berita pembunuhan si rentenir itu di Ibukota.


Meskipun tidak setiap hari Gadis membaca surat kabar.


Tapi setidaknya ada desas-desusnya kan? ...


Ini rasanya tidak ada sama sekali.


Sepengetahuan Gadis sejauh ini.


Dan lagi, Gadis lihat, Putra maupun para saudaranya, melenggang bebas saja.


Tidak pernah ada pembicaraan mereka pernah berurusan dengan pihak berwajib.


Dan baik Putra maupun para saudaranya itu, terlihat biasa-biasa saja.


Sehebat itukan mereka mampu menyembunyikan hal mengerikan yang mereka lakukan pada orang-orang yang mereka anggap musuh?.


Rasanya Gadis menjadi sedikit pening, jika harus memikirkan lebih jauh soal hal tersebut.


Jika harus mengatakan baik Putra dan saudaranya adalah orang-orang berdarah dingin dan tak berperasaan.


Tidak juga seperti itu.


Mereka hangat, bahkan baik pada para pekerjanya.


Yang terdekat dengan otak Gadis adalah, Putra dan para saudaranya berkepribadian ganda.


Gadis kembali lagi harus pasrah saja sepertinya.


Toh dia mencintai Putra dan sudah bertekad akan menerima Putra bagaimanapun suaminya itu.


Selain itu Putra juga mencintainya, yang sering Putra tunjukkan kesungguhannya pada Gadis, baik pada ucapan maupun perbuatan.


Jadi Gadis mensugesti saja dirinya, bahwa Putra adalah suami yang mencintainya.


Terlepas bagaimana sikap Putra diluaran, rasanya Gadis tidak ingin tahu, selain keselamatan Putra.


Keselamatan sang suami, yang akan dipertaruhkan mulai dari keberangkatannya esok hari untuk membalas dendam atas kematian seseorang yang begitu berarti untuk Putra.


Orang yang sudah Putra anggap sebagai kakak, yang merupakan ayah kandung Anthony berikut istri dan para saudara seperjuangan Putra, yang tewas di tangan orang yang akan Putra hampiri tidak lama lagi, dan tentu saja akan Putra habisi tanpa ampun.


Hal itu saja yang Gadis pikir baiknya ia pikirkan saat ini. Keselamatan Putra, agar suaminya itu dapat kembali padanya tanpa kekurangan suatu apapun setelah urusan pembalasan dendamnya selesai.


Tidak hanya Putra, tapi semua orang yang akan menyertai Putra esok hari, terutama mereka yang merupakan bagian dari keluarga yang selama ini hidup bersama Gadis.


Author’s POV


***


“Gadis..”


Suara Putra yang memanggil lembut membuat Gadis yang sedang menunggu suaminya itu mendekat pada mobil yang berada di dekat Gadis, membuat Gadis terkesiap.


Tadi Gadis yang terlebih dahulu kembali ke mobil setelah sesi berjalan-jalan melihat daerah sekitar bakal Pabrik Teh mereka telah selesai, karena Putra berbicara dengan seseorang yang bertanggung jawab pada pembangunan teh tersebut.


Dan Gadis memisahkan diri dengan Bruna duluan untuk pergi ke mobil yang tadi masing-masing mereka tumpangi secara berkelompok.


Bruna sendiri telah berada di dalam mobil yang ia tumpangi dengan Addison. Sementara Gadis memilih untuk menunggu Putra di luar mobil, baru nanti masuk setelah suaminya itu telah selesai berbicara dengan orang yang bertanggung jawab pada pembangunan pabrik mereka, bersama tiga orang saudara lelakinya, dengan juga Anthony yang masih merekat dengan empat orang ayah angkatnya itu.


“Sedang melihat apa? ...”


Putra bertanya, karena Gadis sedang nampak memperhatikan ke satu arah.


Gadis menoleh, seraya menampakkan senyumnya pada sang suami yang sudah berada di dekatnya itu.


“Bukan apa-apa,” jawab Gadis.


“Apa kamu ingin pergi melihat-lihat kesana?”


Putra menunjuk ke arah jalanan mereka masuk ke lahan tempat mereka berada sekarang.

__ADS_1


Gadis menggeleng.


“Tidak usah, kapan-kapan saja.”


“Ya sudah.”


Putra mengulurkan tangannya pada Gadis.


“Ayo.”


Putra pun mengajak Gadis untuk masuk ke dalam mobil, lalu kembali ke Villa mereka.


“Loh Anthony mana?...” tanya Gadis pada Putra sembari ia celingukan, karena tak melihat Anthony bersama Putra, yang seharusnya ikut di dalam mobil yang sama dengan keduanya.


“Anth ingin ikut bersama Dami dan Garret di mobil mereka.”


“Oh, ya sudah kalau begitu ....”


Gadis pun memasuki mobil yang telah dibukakan pintunya oleh supir mereka, dengan Putra yang masuk setelah Gadis.


***


Putra memperhatikan Gadis saat mereka berdua telah duduk di kursi penumpang belakang dalam mobil yang mereka tumpangi.


Sepertinya wajah Gadis yang nampak sedang memikirkan sesuatu sedari tadi ia bercerita perihal lahan bakal Pabrik Teh mereka itu, tidak hilang-hilang.


“Sepertinya banyak yang sedang kamu pikirkan, Gadis?”


Gadis segera menoleh, kala suara Putra ia dengar barusan.


Gadis menampakkan senyumnya, lalu bersandar manja di dada Putra yang langsung merengkuhnya.


“Aku hanya memikirkan waktu yang tinggal sebentar lagi bersama kamu, Putra.”


Putra menarik sudut bibirnya, lalu mengecup kening Gadis, kemudian mengetatkan rengkuhannya.


“Kalau begitu, nanti kamu bebas melakukan apapun padaku di kamar kita sampai puas ...”


Cup!.


Putra juga dengan cepat menyambar bibir Gadis.


Dimana Gadis dengan cepat melepaskan bibirnya dari sergapan bibir Putra dan langsung saja mencubit pinggang atletis suaminya itu, yang  orangnya langsung terkekeh.


Putra hanya coba membuat Gadis tidak bermuram durja, atau memikirkan sesuatu dengan berlebihan.


“Dasar tidak tahu malu... Ada Pak Ray, apa kamu sadar kita ini tidak sedang berduaan?!”


Gadis mencebik kemudian, dan Putra masih terkekeh. “Ray tidak melihat apapun kecuali jalanan di depannya. Seperti itu kan Ray?” Lalu Putra berbicara pada anak buahnya yang sering mendampingi Putra dan merangkap sebagai supirnya. Dimana Ray dengan cepat menyahut.


“Iya, Tuan Putra. Saya hanya melihat jalanan saja, kok!”


Tentu saja Ray membuat dirinya memang fokus pada jalanan di depannya.


“Bagus.”


Putra juga menyahut.


“Berarti kamu masih sayang pada kedua matamu.”


‘Memang benar suamiku ini rasanya seorang Psikopat.’ Gadis pun berkesah dalam hatinya.


“Kamu dengar kan, Ray tidak melihat apa-apa selain jalanan didepannya?”


“Masa bodoh!”


Gadis kembali mencebik pada sang suami yang sedang menyeringai jahil.


Cup!.


Putra kembali menyambar bibir Gadis dengan cepat.


“Kita belum pernah mencoba ‘itu’ di dalam mobil, bukan?..”


Dimana Gadis langsung membulatkan matanya, selepas Putra berbisik padanya barusan.


Pasalnya Gadis paham perihal ‘itu’ yang dimaksud oleh Putra. “Dasar mesum!” sergah Gadis.


“Nanti kamu pasti rindu pada kemesuman-ku.”


Dimana wajah Gadis langsung berubah sendu setelah satu kalimat Putra itu.


“Jangan bicara begitu, Putra.... Jangan membuatku merasa sangat berat untuk melepasmu pergi besok......”


Gadis melirih, sembari mengelus lesu wajah Putra.


“Jangan bicara seolah kamu tidak akan kembali padaku...”


***


To be continue ...

__ADS_1


Terima kasih masih setia, mohon dimaafkan jika masih ada typo bertebaran.


__ADS_2