
Happy reading......
***************
Sesuai janjinya pada Anthony, Putra dan juga Gadis tidak pernah absen untuk bersama Anthony selama empat hari menjelang kepergian Putra, Anthony dan seluruh keluarganya termasuk Danny kembali ke tempat tinggal mereka yang sebenarnya selama mereka tinggal di negeri yang bernama Indonesia ini.
“Terima kasih untuk waktumu selama ini Gadis” Ucap Putra saat dia dan Anthony mengantar Gadis sampai ke depan lobi Rumah Sakit tempat Gadis bekerja selepas makan siang terakhir mereka sebelum Putra dan Anthony kembali ke Villa mereka yang berada di luar kota.
Gadis mengangguk seraya tersenyum pada Putra.
“Sama – sama Putra” Sahut Gadis “Malah aku yang berterima kasih” Tambahnya. “Sudah punya kesempatan untuk dekat dengan Anthony ini. Ditambah aku selalu ditraktir olehmu Putra”
“Di – trak..... apa?”
“Di – trak –tir itu dibayari. Selama ini kamu selalu membayar setiap makan siang kita, bukan?”
“Oh itu maksudnya”
“Iya ....”
“Aku tidak akan membiarkan seorang wanita membayar apapun saat bersamaku”
Gadis manggut – manggut. ‘Pasti kekasihnya banyak ya, papanya Anthony ini?’ Batin Gadis yang menduga – duga.
Gadis pun tersenyum dan menatap Putra.
“Sekali lagi terima kasih”
Gadis menjawabnya dengan anggukan dan dia kemudian berjongkok untuk berbicara pada Anthony yang wajahnya sedikit sendu.
“Hey, Anthony. Don’t be sad, okay? We will meet again next week, right? (Jangan bersedih, oke? Kita akan bertemu lagi minggu depan, bukan?)”
“I-will miss you, Gadis (Aku-akan merindukanmu, Gadis)”
“I will miss you too, Anthony (Aku akan merindukanmu juga, Anthony)”
“Pro-mise we will meet again next week? (Jan-ji kita akan bertemu lagi minggu depan)”
“Promise! (Janji!)”
Gadis membentuk huruf ‘V’ dengan kedua jarinya yang terangkat dihadapan Anthony yang kemudian tersenyum.
“Come, let me hug you (Sini, biarkan aku memelukmu)”
‘Hem, lucky Anth.. (Anth yang beruntung)’ Batin Putra melihat Anthony yang mendapatkan pelukan berikut kecupan dikedua pipinya.
Setelahnya Gadis berdiri. “Sampai berjumpa lagi Putra”
Gadis mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Putra.
Putra pun menyambut baik uluran tangan Gadis.
‘Apa dia akan memelukku seperti dia memeluk Anth?’ Batin Putra yang bertanya sendiri.
“Kalian hati – hati ya?”
‘Ck!’
Ada hati yang sedikit kesal karena tidak mendapat pelukan.
Namun Putra mengangguk kemudian dan ramah memandang Gadis yang tersenyum dengan manisnya.
“Kamu juga” Ucap Putra. "Jaga dirimu" Sambung Putra dan Gadis pun mengangguk seraya masih tersenyum.
“B – ye Gadis”
“Bye Anthony. See you (Sampai jumpa)”
“S – ee you”
Putra sekali lagi tersenyum tipis dan mengangguk pada Gadis sebelum ia memasuki mobil bersama Anthony.
Gadis pun membalas Putra dengan hal yang sama, seperti yang pria itu lakukan. Juga pada Danny yang
__ADS_1
berada di belakang kemudi.
Lalu Gadis lebih menarik sudut bibirnya saat menatap Anthony dan melambai pada bocah tersebut yang wajahnya sedikit mendung dan juga sedang melambai padanya. Hingga kemudian mobil yang dikendarai Danny melaju dan
berlalu dari hadapan Gadis.
***
Putra dan seluruh keluarganya berikut Anthony sudah meninggalkan rumah sewaan mereka pagi – pagi sekali agar tidak sampai sore atau bahkan malam sampai di Villa mereka, karena jalanan menuju Villa akan senantiasa berkabut mulai sore hari, dan harus dilalui dengan sangat hati - hati.
Putra hanya bisa tersenyum tipis setiap kali melihat Anthony yang wajahnya muram sejak terakhir bertemu dengan Gadis kemarin, dan saat ini duduk di kursi penumpang belakang bersama Addison dan Bruna. Meski sudah ada sebuah mobil – mobilan kesukaan Anthony di tangannya, namun wajah Anthony nampak sendu.
“Do you want to sit in front with me Anth? (Apa kamu mau duduk didepan bersamaku Anth?)”
“N-o Papa.. “ Jawab Anthony singkat sembari menggeleng. Putra hanya melipat bibirnya saja.
Selebihnya empat orang dewasa yang berada dalam satu mobil mengobrol santai soal bisnis yang akan mereka mulai saat sampai di Villa nanti.
**
Tiga hari berlalu semenjak kembalinya Putra, Anthony dan keluarga mereka ke Villa.
“Pa-pa..”
Anthony memanggil Putra yang disambanginya saat sang Paman angkat yang sudah menjadi Papa baginya itu sedang berada di perpustakaan yang merangkap ruang kerja juga.
Putra yang nampak sedang sibuk dengan beberapa dokumen yang ada di tangan dan di meja kerjanya meski hari sudah malam itu pun, sontak langsung menoleh dan kemudian beranjak dari duduknya saat mendengar suara Anthony berikut sosoknya.
Damian juga sedang ada bersama Putra. “Hey Anth” Damian dan Putra sama – sama berucap saat melihat Anthony.
“Did you have a nightmare? (Apa kamu mengalami mimpi buruk?)”
Putra menjongkok kan dirinya dihadapan Anthony seraya bertanya.
“N-o Papa.... (Ti-dak Papa) ...”
“Then, why are you wake up? Are you thirsty? No more water inside the pitcher?”
“I-miss Gadis, Papa .. (Aku- merindukan Gadis, Papa)..”
Damian pun menaikkan alisnya saat Putra sebentar menoleh padanya.
“Anth, remember what did I said to you? (ingat apa yang pernah kukatakan padamu?)”
“.....”
“That I will take you to meet Gadis in every week (Bahwa aku akan membawamu menemui Gadis setiap pekannya)”
“Y-es I remember, Papa.. (Y-a aku ingat, Papa) ..” Sahut Anthony.
“Then you need to be more patience for about three more days? (Maka bersabarlah untuk tiga hari lagi?)”
Putra yang sudah mendudukkan dirinya disamping Damian dan memangkunya itu berbicara sambil membelai kepala Anthony seraya membujuk bocah kecil itu.
Anthony pun mengangguk patuh. Putra menarik sudut bibirnya.
“Don’t be that sad Anth. You might can’t meet your favourite nurse but you still can talk to her, right? (Jangan sedih begitu Anth. Kamu mungkin belum bisa bertemu dengan perawat kesukaanmu itu tapi kamu masih bisa berbicara
dengannya, bukan?)”
Damian berbicara.
Anthony dan Putra sama – sama menatap Damian.
“Means? (Maksud?)” Putra langsung bertanya.
“Phone of course (Telepon tentu saja)” Jawab Damian.
‘Oh stupid me. How can I didn’t think about it (Oh bodohnya. Mengapa aku tidak sampai terpikirkan hal itu)’
Putra spontan merutuki dirinya dalam hati atas ucapan Damian barusan soal telepon. Karena dia tidak sampai kepikiran untuk menanyakan nomor telepon Gadis.
“Don’t say that you didn’t think about that? (Jangan katakan kau tidak sampai berpikir kesana?) Asked her phone number (Meminta nomor teleponnya)”
__ADS_1
Damian langsung menduga saat melihat reaksi Putra.
“D-o you have Gadis phone number Papa..? (Ap-a Papa memiliki nomor telepon Gadis?)”
“Enggg .. I’m sorry Anthony (Maafkan aku Anthony)” Ucap Putra seraya menggeleng. “I don’t think about that before (Aku tidak berpikir sampai kesana sebelumnya)”
“Oh mann..”
Damian spontan ikutan geleng – geleng. Ia nampak gemas pada Putra.
“You know what, Danny was right. You too slow Putra (Kau tahu, Danny benar. Kau ini lambat sekali Putra)”
***
Keesokan harinya..
“If you really like her Putra, I suggest that you move a little bit fast to get that beautiful nurse (Jika kau memang menyukainya Putra, aku sarankan agar kau bergerak sedikit lebih cepat untuk mendapatkan perawat cantik itu)”
“Tsk!”
“I couldn’t agree more (Aku setuju sekali)”
“Haish! Is there nothing else that we can discuss about?! (Memang tidak ada hal lain yang bisa kita bicarakan?!)”
Putra menyahut dengan malas ucapan dua orang dari tiga orang yang bersamanya di halaman belakang Villa mereka sambil menikmati kopi di pagi hari.
“It’s all because we are so furious to you (Habis kami rasanya gemas menuju sewot padamu)”
Damian menimpali.
“You like that beautiful and appealing nurse don’t you?”
“(Kau sebenarnya menyukai perawat yang cantik dan menarik itu bukan?)”
“Tsk. I don’t want to talk about it (Aku tidak ingin membicarakan hal itu)” Ucap Putra.
“You listen to me carefully, Putra (Kau dengarkan aku baik – baik ya, Putra)” Sambar Damian lagi. “If you really like that nurse, better you make a fast move (Jika kau benar – benar menyukai perawat itu, lebih baik kau bergerak
dengan cepat)”
“.......”
“She, even more way beautiful and attractive than Ilse you know? Which it means, which that I’m totally sure there are a lot of men who will try to win her heart out there”
“(Dia, bahkan jauh lebih cantik dan menarik daripada Ilse tahu? Yang mana artinya, yang aku yakin dengan sangat ada banyak laki – laki diluar sana yang mencoba memenangkan hatinya)”
“Then? (Lalu?)” Sahut Putra malas – malasan pada Garret.
“Then, if you are not trying more hard, you give a chance to other men to get close with that nurse, and take her away from you (Lalu, jika kau tidak berusaha lebih keras, itu artinya kau memberikan kesempatan pada pria lain
untuk dekat dengan perawat itu, dan kemudian dia akan dibawa jauh darimu)”
“What will be – will be (Yang akan terjadi – terjadilah)”
“But you like her don’t you? (Tapi kau memang menyukainya bukan?)”
“She’s beautiful and nice as a person (Dia seseorang cantik dan baik). Reasonable if I like her (Wajar saja jika aku menyukainya). She care to Anth, and appreciate it (Dia perduli pada Anth, dan aku menghargainya) That's it (Begitu saja)”
“Just like that? (Hanya sebatas itu?)”
“Just like that (Hanya sebatas itu)” Sahut Putra yang menjadikan pertanyaan Damian menjadi pernyataan.
“Are you sure? (Apa kau yakin?)” Giliran Addison yang bertanya.
“Yes (Ya)”
Putra menyeruput kopinya sebelum ia bicara.
“There are only two things as my priority in life. Taking a very good care of Anth, and paying revenge for Rery and Madelaine, also our brothers death than chasing a woman (Ada dua hal yang menjadi prioritas dalam hidupku. Menjaga Anthony dengan baik, dan membalaskan dendam atas kematian Rery, Madelaine dan saudara – saudara kita daripada mengejar seorang wanita)”
***
To be continue ..
__ADS_1