
Happy reading .....
***************
Indonesia ...
“Well, seems that you can do your ‘favourite’ things without any distraction tonight, because Anth just fall asleep and looks tight.”
“( Sepertinya kau dapat melakukan hal ‘kesukaanmu’ tanpa ada gangguan, karena Anth baru saja jatuh tertidur dan terlihat nyenyak )”
Damian berbicara dengan setengah berbisik, ketika Putra dan Gadis telah berada di ambang pintu kamar Anthony.
“Heh!” Putra berdecih malas.
“What’s wrong ( Ada apa )?” heran Damian.
Sembari memperhatikan Putra yang meloyor masuk ke kamar Anthony, ketika Ramone sudah juga akan keluar, setelah melihat Anthony.
“Did you tell him ( Apa kamu sudah mengatakan padanya )?” Bruna yang baru saja mendekat ke kamar Anthony bersama Addison lantas bertanya karena sempat melihat sikap Putra yang sepertinya nampak sebal.
Gadis mengangguk sambil mengulum senyumnya. Lalu Bruna terkekeh bersama Gadis. Sementara para pria yang ada di dekat dua wanita cantik yang nampak menahan tawa itu, selain Putra --- saling pandang dan mengernyit heran.
***
“Tell him what ( Mengatakan padanya soal apa )? ..”
Damian yang penasaran.
“About psstt .. psstt ..” Bruna berbisik kemudian.
Dimana setelahnya, tiga pria yang berdiri bersama Bruna dan Gadis itu sama terkekeh.
“Sssttt ..”
Empat orang yang berada di dekat Gadis itu sontak melipat bibir mereka setelah mendengar kode dari Gadis itu.
“Claver ( Bergosip ), huh?”
Putra yang telah selesai melihat Anthony itu menggumam setengah sinis pada lima orang yang berdiri di ambang pintu kamar Anthony.
***
Gadis kemudian menghampiri Putra yang berdiri menatap ke arahnya dan lima orang yang sedang bersamanya itu sambil melemparkan cibiran.
Sambil Gadis menampakkan seutas senyuman dengan menghampiri suaminya yang sudah berdiri di dekat pintu yang menghubungkan secara langsung kamar Putra dan Gadis dengan kamar Anthony.
“Senang sekali nampaknya kamu dengan aku yang tidak boleh ‘mengganggu’ mu selama beberapa bulan, hem?”
Putra memberikan cibiran khusus untuk Gadis.
“Aku ini memberikan senyuman pada suamiku dengan tulus---“
“Heh ..”
***
“Tuan Putra sungguh menggemaskan bila sedang merajuk seperti ini. Bahkan Anthony pun kalah menggemaskannya---“
“Heh.”
Putra lagi-lagi menanggapi Gadis dengan berdecih malas.
Gadis mengulum senyumnya lagi.
Dan Putra memberikan lirikan setengah sinisnya di kala ia tengah membuka atasannya di dalam walk in closet dalam kamarnya dan Gadis.
***
“Kamu mau tidur di sini atau di kamar Anth?---“
“Ya Tuhan, aku di usir oleh suamiku!” tukas Gadis mendramatisir dengan sedikit berekspresi konyol.
Membuat Putra jadi mendengus geli karenanya.
“Pergilah beristirahat duluan. Aku ingin berendam.”
“Aku siapkan air hangatnya, ya?”
“Tidak usah, aku bisa menyiapkannya sendiri. Lagipula aku ingin sedikit bercukur.”
Putra tersenyum lembut sambil mengacak pelan rambut Gadis.
__ADS_1
“Aku yang cukurkan?---“
“Tidak perlu---“
“Kamu tersinggung olehku ya, Putra?---“
“Hey ..”
Putra meraih dagu Gadis yang kini wajahnya nampak sedikit sendu.
Cup.
Kemudian mengecup bibir Gadis singkat.
“Kamu ini, perasaan sekali.”
Putra berucap seraya tersenyum pada Gadis kemudian.
“Habis kamu terkesan dingin sekali padaku---“
“Dingin darimana?” tukas Putra sambil tersenyum geli.
“Ya kamu berapa kali menanggapi aku dengan sinis.”
“Kamu ini,” sahut Putra sambil memencet gemas hidung Gadis. “Masa tidak dapat membedakan mana yang serius atau tidak dari sikapku?”
“Memang kamu laki-laki yang misterius,” jawab Gadis. “Selain pemaksa.”
Putra terkekeh kecil.
Cup.
“Aku hanya tidak ingin istri tercintaku yang sedang mengandung anakku ini kelelahan ..”
Putra berkata lembut sambil juga mengusap wajah Gadis dengan sama lembutnya, dan Gadis tersenyum karenanya.
***
“Beristirahatlah, hem? .. besok kan kita mau mengajak Anth jalan – jalan?” ucap Putra seraya membujuk Gadis.
“Aku siapkan air hangat untuk kamu berendam ya?”
“Iya Papa Putra,” jawab Gadis.
Putra pun kembali melemparkan senyuman pada istrinya itu.
“Mau aku cukurkan juga?”
Gadis kembali menawarkan.
“Tidak usah ..” jawab Putra lembut.
“Ya sudah kalau begitu,” sahut Gadis.
“Beristirahatlah, hem? Tidak perlu menungguku selesai, karena aku ingin sedikit berendam lebih lama.”
***
“Bagaimana aku akan menghabisi si keparat itu? ..”
Putra menggumam dengan menggunakan bahasa Indonesia setelah ia masuk ke dalam bathtub, selepas ia selesai membersihkan rambut – rambut kecil di sekitar dagu dan garis rahangnya.
Bila sudah lebih banyak bicara dengan bahasa negara Gadis itu, Putra menjadi akan lebih sering menggunakan bahasa tersebut.
“Baiknya aku bicarakan dengan Dami, Garret, Ad dan Bruna nanti ..” gumam Putra lagi. “Bagaimana aku akan menyiksa Jaeden Zepeto sebelum aku habisi ..”
Putra lalu bersandar pada dinding bathtub dengan melandaikan kepalanya sambil memejamkan mata. Lalu Putra menghembuskan nafasnya dengan berat.
“Haah, ada hal lain yang lebih penting untuk kau pikirkan selain si keparat Jaeden itu, Papa Putra.”
Putra kemudian mengangkat sedikit kepalanya dan melirik sesuatu di bagian bawahnya yang terendam air.
“Haish.”
Mendengus putus asa kemudian.
‘Papa Putra junior akan berkarat,’ Putra lalu membatin. ‘Baru ini aku merasakan malang sekali nasibku.’
Putra menghembuskan nafas frustasi, lalu ia bersandar lagi. Rasanya Putra akan merendamkan dirinya lebih lama di dalam bathtub.
Namun dibeberapa menit berikutnya, Putra yang hampir jatuh terlelap di dalam bathtub itu terkesiap. ‘Eh?! ..’
__ADS_1
“Untung saja aku masuk,” ucap dia gerangan yang membuat Putra terkesiap.
Gadis.
“Karena jika tidak, bisa saja aku menemukan suamiku sudah tenggelam.”
Putra tersenyum di tempatnya, sambil ia sedikit menoleh pada Gadis yang tiba – tiba merengkuhnya dari belakang.
“Kenapa belum tidur?” tanya Putra lembut sambil menatap wajah Gadis yang kini berada dekat dengan wajahnya, dimana Gadis masih merengkuhnya dari belakang.
“Aku lupa mengatakan sesuatu pada kamu, Putra.”
Gadis menjawab.
“Apa?” tanya Putra lagi.
“Aku ingin memberikanmu hadiah natal---“
“Nanti kan---“
“Selamat natal, Papa Putra.”
“Ga-Gadis ..” Putra tergagap.
Meneguk ketat dan cepat salivanya ketika Gadis kini sudah berdiri di hadapannya dengan bathrobe yang telah Gadis lepaskan dari tubuhnya hingga kepolosan tubuh Gadis terpampang indah di pandangannya.
“Kenapa? Tidak suka dengan hadiahmu? ..” ucap Gadis yang kini sudah masuk ke dalam bathtub serta langsung memposisikan dirinya menduduki Putra yang membeku di tempatnya.
“Su – suka---“
“Tapi?---“
“Bu-bukankah kamu mengatakan jika beresiko melakukan hubungan suami istri di usia kandunganmu sekarang?---“
“Memang.” Gadis menukas ucapan Putra dengan berbisik menggoda di telinga Putra yang sedang gelagapan. “Tapi rasanya tidak jika perlahan,” bisik Gadis lagi dengan lebih menggoda.
Lalu Gadis menegakkan duduknya, dan Putra menggigit bibirnya bimbang. Apa yang sebelumnya ia ingin nikmati kini telah tersaji dengan bulat di hadapannya.
Sudah ingin sekali Putra sambar dan ‘memakannya’ dengan rakus. Tapi ingat ucapan Gadis tentang bayi mereka, Putra menahan dirinya juga.
“Jadi Papa Putra, apa kamu ingin menerima hadiahmu atau tidak?---“
“I-tu---“
“Kalau ragu, aku keluar dari sini---“
“Eh jangan!”
Putra menyergah, dan Gadis tersenyum geli.
“A-aku akan melakukannya dengan sangat perlahan ..” Putra yang tak tahan. ‘Tapi rasanya tidak janji kalau hanya sebentar.’
Membatin kemudian.
'Ingat anakmu Papa Putra.'
Namun setelahnya, batin Putra memperingatkan.
“Benar tidak apa-apa?”
Putra memastikan.
'Sebentar pun tak apa, yang penting aku dapat merasa lega.'
“Iya ..”
Gadis memberikan kepastian sebagai jawaban, dikala Putra membatin.
“Baik, aku terima hadiahmu untukku, Mama Gadis.”
Mata Papa Putra yang tadi redup kini sangat berbinar.
“Ya su---hmphh ..”
Gadis yang hendak bicara itu kini bibirnya telah Putra bungkam dengan ciuman.
Hingga d*sahan dan er*ngan kemudian terdengar di dalam kamar mandi pribadi Putra dan Gadis dan berlanjut ke peraduan keduanya.
********
To be continue .......
__ADS_1