
Happy reading ...
*************
“Hello..” Sapa Putra, setelah dirinya mengangkat gagang telepon yang baru saja berdering.
‘Halo?.....’
Putra spontan mengernyitkan dahinya setelah mendengar suara sahutan dari sebrang telepon.
“Gadis??....” Cetus Putra.
‘Hai! Putra ....’ Wanita disebrang telepon menyapa, yang adalah benar jika Gadis yang saat ini meneleponnya.
“Hey..”
‘Apa aku mengganggu?’ Tanya Gadis.
“Ti-dak, tentu tidak ..” Jawab Putra yang sedikit tergugu.
‘Kamu belum tidur?’ Tanya Gadis.
“Jika aku sudah tidur, mana mungkin aku sedang berbicara denganmu saat ini, Nona Gadis”
Gadis terdengar terkekeh, dimana Putra tersenyum lebar mendengar suara kekehan Gadis.
‘Oh iya, iya ..’ Sahut Gadis kemudian.
“Aku dan semua, termasuk Anth, baru saja selesai makan malam, Gadis”
‘Hmm ...’
“Kamu sendiri, sudah makan malam?” Tanya Putra.
‘Sudah ..’ Jawab Gadis.
“Benar?”
‘Iya, benar. Baru beberapa menit yang lalu juga’
“Syukurlah ..”
‘Euumm.... Putra ...’
“Hemm? ....”
‘Maaf ya, siang tadi aku tidak sempat menelepon dan berbicara pada Anthony’ Ucap Gadis.
“Apa ada masalah?”
‘Tidak ada, tadi aku hanya mendampingi Dokter yang sedang banyak pasiennya hari ini’
“Hemm..”
‘.......’
“Apa Ilse mengganggu dan menghinamu lagi?”
‘Engga kok, Putra’
“Benar, Ilse tidak lagi mengganggumu?” Putra sedikit belum percaya.
‘Benar, Putra...’
“..........”
‘Lagipula Dokter Ilse sedang cuti hari ini, dan sepertinya sampai beberapa hari kedepan. Tapi tepatnya berapa lama aku tidak tahu’
“Baguslah! ...... Jika perlu dia tidak usah kembali lagi ke tempat yang sama dimana kamu bekerja”
‘Kamu nih..’ Gadis terkekeh kecil.
“Aku masih kesal padanya!” Ucap Putra yang terdengar sedikit ketus suaranya.
‘Sudah ah! ... Aku masih kadang merinding jika melihat kamu seperti kemarin..’
Gadis berkata pelan, Putra menyunggingkan senyum di tempatnya.
“Ya sudah..”
‘Janji jangan seperti itu lagi ya?..’
“Aku kan sudah bilang, aku tidak suka ada orang yang menghina apalagi merendahkan kamu, siapapun orang itu”
‘Iya, iya..’
Gadis segera mengiyakan, agar repetan Putra tak berlangsung panjang.
“By the way ( Ngomong – ngomong ), Gadis ....”
‘Iya?’
“Kamu dimana?. Mengapa menghubungi di jam seperti ini?”
‘Di telepon umum’
“Apa?!” Putra spontan mendelik, setelah mendengar jawaban Gadis.
‘Iya, aku ditelepon umum Putra ...’
“Damned Gadis, berbahaya jika kamu berada di luar pada jam seperti ini!”
‘Enggaaa, Putra..’
“Sudahlah, cepat kembali ke rumahmu!”
‘Tidak apa – apa, jangan khawatir, telepon umum ini ada di ujung gang dekat rumahku, tidak terlalu jauh, dan juga masih ramai disini’ Jelas Gadis.
“Haish!”
Putra mendengus.
“Kamu kan bisa menghubungi aku besok Gadis..”
‘Yaa aku merasa tidak tenang saja jika belum menghubungi Anthony ataupun kamu. Kan aku udah janji ..’
“Tapi jika kondisinya jika tidak memungkinkan, tidak perlu kamu memaksakan, Gadis..”
‘Aku tidak memaksakan kok, sudahlah.. jangan terlalu dibesar – besarkan. Lagipula aku kan juga sudah bisa tenang sekarang’
“Kamu ini.. membuatku khawatir saja, Gadis...”
‘Habis aku takut kamu marah ..’
“Aku tidak akan marah jika kamu punya alasan....”
‘Iya, iya.. ya sudah, jangan bernada kesal begitu, aku seram mendengarnya...’ Sahut Gadis.
Putra mendengus geli mendengar Gadis yang terdengar seperti merajuk.
“Siapa yang bersamamu?”
‘Tidak ada, aku sendirian’
__ADS_1
“Haish!” Putra kembali mendengus, juga mendesis. “Bukankah ada perempuan tetanggamu yang waktu itu masuk ke rumahmu saat aku sedang berkunjung?!”
‘Lina, maksud kamu?’
“Entah, kamu kan tidak memperkenalkan dia dengan jelas padaku”
‘.....’
“Sudahlah, pulanglah sekarang, hem?”
‘Kamu mengusir aku nih ceritanya?’ Guyon Gadis.
“Iya!” Sahut Putra.
‘Kejam sekali ..’
Putra mendengus geli lagi mendengar suara Gadis yang terdengar merajuk dan manja.
Sungguh membuat Putra sontak semakin merasa rindu pada Gadisnya.
“Aku mengkhawatirkanmu ... sekarang pulanglah, hem?. Anthony memintaku untuk menghubungimu saat pagi nanti. Apa kamu bekerja besok?”
‘Oh iya, aku libur besok, Putra’
“Hemm.... begitu ya?”
‘Tapi aku akan tetap menghubungi Anthony besok. Jam berapa, kira – kira aku bisa menghubungi untuk berbicara pada Anthony?’
“Lakukan saja di waktu seperti biasa kamu menghubunginya”
‘Ya sudah’ Gadis pun mengiyakan ucapan Putra.
“Sekarang pulang, pastikan kamu mengunci semua pintumu”
Gadis terkekeh kecil.
“Jangan tertawa!” Tukas Putra. “Aku ini sangat mengkhawatirkanmu!”
‘Iya Tuan Putraa....’ Sambar Gadis.
“Ya sudah, akhiri ya?” Pinta Putra. “Pulang dan beristirahatlah”
‘Iya’ Kembali Gadis mengiyakan permintaan Putra.
“Gadis....”
‘Hmm? ...’
“I miss you ( Aku merindukanmu ) .....”
‘Aku juga rindu ..’
Putra tersenyum di tempatnya.
‘Ya sudah kalau begitu, aku tutup ya?. Koinku juga sudah habis kebetulan..’
“Iya. Jaga dirimu, Gadis”
‘Iya. Daaaaahh ...’
“Bye....”
***
‘Rasanya aku harus menempatkan satu orang untuk menjaga dan mengawal Gadis seperti yang Damian cetuskan tadi’ Batin Putra saat hubungan teleponnya dengan Gadis telah Gadis akhiri. ‘Hish! Saat aku ke Ibukota nanti, akan aku paksa dia untuk pindah dari rumah sewaannya itu ke kediaman kami yang berada di Ibukota’
Otak Putra sedang sibuk, akibat mengkhawatirkan Gadis – nya.
‘Sebaiknya aku menghubungi Arthur’
“Aku rasa Arthur sudah berada di kediamannya sekarang..” Gumam Putra.
Namun setelah beberapa saat dan beberapa kali mencoba untuk menghubungi Arthur, panggilan telepon yang Putra lakukan tidak terjawab. Bahkan Putra juga menghubungi nomor kantor Arthur, karena ia tidak mendapat jawaban di nomor rumah Arthur.
“Kemana dia, diwaktu seperti ini?” Kembali Putra menggumam. Terdiam sejenak, seraya berpikir. Lalu beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruang kerja untuk menyambangi Anthony yang kemungkinan sedang bercengkrama bersama Addison, Bruna, Damian dan Garret.
**
Esok hari ..
“Are we going to that bastardo place? ( Apa kita jadi pergi ke tempatnya ba**ngan itu? )”
“Ya”
“You called that man already? ( Kau sudah menghubungi laki – laki itu? ), Dalu?” Tanya Damian lagi.
“I did ( Sudah )” Jawab Putra seraya mengangguk.
“And what did he said? ( Dan apa yang dia katakan? )”
“Same as what Ad said, he has no family. So his land, is become no man’s land. Can say like that ( Sama seperti yang Ad katakan, dia memang tidak memiliki keluarga, jadi tanahnya adalah tanah tak bertuan. Bisa dikatakan seperti itu )” Jawab Putra pada Damian yang bertanya padanya itu.
“Then? ( Lalu? )”
“Then, I think it’s not no man’s land anymore... it’s ours ( Lalu, aku pikir tanah itu bukan lagi tanah tak bertuan ..... itu milik kita )”
“Hmm?..”
“He made us suffer of big loss, remember? ( Dia membuat kita menanggung kerugian besar, apa kau ingat? )”
“Ah, ya right! ( Ah iya benar! )” Timpal Damian.
“Let’s say, his land is the indemnifiable form of what he did to our gardens ( Anggap saja, tanahnya itu adalah bentuk ganti rugi untuk apa yang sudah dia perbuat pada setiap perkebunan kita )”
Damian pun manggut – manggut. “How smart my brother is!.. ( Pintar sekali saudara lelakiku ini! )” Kekeh Damian.
“Heh!”
**
Putra kini sedang bersiap untuk pergi untuk ke tanah milik Baskoro yang entah sudah bagaimana bentuknya itu sekarang.
Setelah menghubungi Dalu dan berbicara dengan pria tersebut, Putra segera bersiap untuk melaksanakan rencananya kemarin untuk pergi ke tanah milik Baskoro bersama Damian dan Garret yang akan diklaim oleh Putra sebagai miliknya dan keluarganya.
Sebagai bayaran atas hutang laki – laki bernama Baskoro atas kerugian kala laki –laki licik yang sudah almarhum berbarengan dengan para anak buahnya itu merusak perkebunan milik Putra dan keluarganya dengan racun tanaman dalam jumlah besar, dan membuat semua pohon teh yang seharusnya dapat dipanen itu hancur tak tersisa.
***
Beberapa waktu kemudian...
Putra, Damian dan Garret yang tadi pergi bersama ke sebuah tempat yang tadinya adalah milik laki – laki bernama Baskoro itu, kini sudah kembali ke Villa mereka.
Waktu sudah hampir menunjukkan jam makan siang, dan Bruna dibantu dengan Ibu Marsih serta satu pelayan wanita baru yang merupakan mantan pegawai dari laki – laki yang bernama Baskoro, sedang menyiapkan makan siang mereka.
“Dimana Anthony Pak Abdul?” Tanya Putra pada laki – laki yang dapat di katakan sebagai kepala pelayan di Villa
mereka itu, dan sudah berdiri untuk menyambut kedatangannya, Damian dan Garret didepan pintu Villa seperti biasa Pak Abdul menyambut para majikannya, jika ada dari mereka yang pergi ke luar Villa.
“Sedang menerima telepon dari Nona Gadis Tuan” Jawab Pak Abdul. “Tuan Addison yang menemaninya, karena Madam Bruna sedang menyiapkan makan siang, Tuan”
“Apa sudah lama Gadis menghubungi?”
“Belum lama Tuan” Jawab Pak Abdul lagi.
__ADS_1
Putra menarik sudut bibirnya lalu mengangguk. “Ya sudah, aku akan menyusul Anth kalau begitu. Dia menerima panggilan telepon dari Gadis di ruang kerja, bukan?”
“Iya Tuan, seperti biasa” Jawab Pak Abdul.
“Ya sudah kalau begitu” Putra pun segera melebarkan langkahnya menuju ruang kerja. Dengan harapan, dia punya kesempatan untuk berbicara dengan Gadis.
**
“Hey, how was it? ( Bagaimana? )” Tembak Addison yang langsung bertanya kala melihat Putra yang datang tergesa ke ruang kerja yang langsung melemparkan tatapannya ke arah Anthony yang nampak masih asyik mengobrol di telepon itu.
“Perfect! ( Sempurna! )” Putra menyahut cepat, sembari mendudukkan dirinya di sofa dekat Addison.
“So it is positive, to build our factory there? ( Jadi positif, untuk membangun pabrik disana? )” Tanya Addison lagi. Dan Putra langsung mengangguk.
“Positive! ( Positif! )” Jawab Putra yang nampak sangat yakin itu. “But maybe we have to prepare extra money first to the cop that ever came here, and kind of it ( Tapi mungkin kita harus menyiapkan uang ekstra untuk aparat yang pernah datang kesini itu, dan untuk hal – hal semacam itu )”
Addison manggut – manggut paham.
***
“Danny or Hizkia had a call? ( Danny atau Hizkia sudah menghubungi? )” Putra bertanya pada Addison.
“No not yet! ( Tidak belum! )”
“Do you think, is there any problem? ( Menurutmu, apa ada masalah? )”
“Supposed to be not. Maybe their just still busy? Rery ‘stuffs’ is a lot you know? ( Seharusnya tidak ada. Mungkin mereka hanya masih sibuk? ‘Miliknya’ Rery kan banyak? )”
“Heemmm...”
“Try to call them this evening if there is still no news from them ( Coba hubungi mereka sore nanti jika masih belum ada kabar apapun dari mereka berdua )”
Addison pun mengangguk.
“Ah ya by the way, Putra! ( Ah iya ngomong – ngomong Putra! )” Seru Addison.
“Ya?” Sahut Putra yang sesekali melirik Anthony.
“Arthur was called ( Arthur tadi menghubungi )” Ucap Addison.
“What did he said? ( Apa yang dia katakan? )”
“Arthur said, better he said the things that he want to say, directly to you ( Arthur mengatakan, sebaiknya dia membicarakan apa yang ingin dia katakan, secara langsung padamu )”
Putra manggut – manggut. Lalu perhatiannya kemudia teralih pada Anthony dimana terdengar Anthony berseru memanggilnya.
“Papaaa!! ....” Seru Anthony dengan bersemangat dan riang.
“Yaaaa???!! ...” Putra tak kalah bersemangatnya.
“Gadis want to talk to you! ( Gadis ingin berbicara pada Papa! )”
“Okaaaayy!!!”
Makin bersemangat Papa Putra berikut wajahnya yang nampak berseri – seri.
“Here Papa! ( Ini Papa! )”
Anthony memberikan gagang telepon pada Putra yang tersenyum lebar, dimana Addison berdecih melihatnya ekspresi konyol Putra itu.
“Don’t forget to tell Gadis to get marry with you .. ( Jangan lupa untuk mengatakan pada Gadis untuk menikahimu Papa )” Bisik Anthony setelah ia memberikan gagang telepon pada Putra. Dimana Putra spontan tergelak karenanya.
**
Ada rasa senang yang hinggap lagi di hati Putra, karena bisa kembali berbicara dengan Gadis setelah Anthony selesai berbicara dengan Gadis.
Kembali kerinduan Putra terobati, karena meskipun dirinya sudah berbicara dengan Gadis semalam, namun Putra sedikit kurang puas karena dirinya yang mengkhawatirkan Gadis yang keluar saat malam, dan malahan Putra menyuruh Gadis untuk buru-buru memutuskan panggilan teleponnya.
Putra merasa, kini dirinya macam seorang remaja yang baru merasakan jatuh cinta dan seringkali merutuki dirinya sendiri itu atas kelakuannya setelah ia jatuh cinta pada Gadis, dimana memang Putra sendiri tidak pernah sedikit pun terlibat suatu hubungan cinta dengan seorang wanita sebelum Gadis, baik hubungan yang serius atau tidak.
Tidak juga bermain – main dengan wanita macam Damian dan Garret yang hobi sekali mengajak wanita untuk bertarung di atas ranjang.
“Aku dan Anth kemungkinan akan memundurkan jadwal kami ke Ibukota” Ucap Putra sebelum memutuskan panggilan teleponnya dengan Gadis.
“Iya, aku akan menunggu kalian”
“Aku sedikit repot disini. Banyak hal dan urusan yang harus aku urus, jadi maaf ya?” Ucap Putra lagi. “Belum bisa memastikan kapan pastinya kami akan datang kesana”
“Iya tidak apa – apa”
“Ya sudah kalau begitu, selamat bekerja ya?”
“Iya”
“Makanlah yang banyak”
“Nanti aku gendut!”
“Aku akan tetap mencintaimu, jadi kamu tenang saja”
“Gombal!”
Putra pun terkekeh.
“Ya sudah, aku tutup ya?”
“Iya”
“Daaaah”
“Bye....”
**
Putra teringat pada perkataan Addison yang mengatakan jika Arthur tadi sempat menghubunginya dan ingin berbicara secara pribadi dengan Putra. Jadi Putra langsung menghubungi Arthur di nomor kantornya, karena dipastikan laki laki itu ada di kantornya pada jam seperti ini jika dia tidak pergi untuk makan siang di luar.
Syukurnya, Arthur sendirilah yang menerima panggilan Putra, yang memang sedang ditunggu oleh Arthur. Bahkan ia menunda makan siangnya sebelum dirinya bisa berbicara dengan Putra.
Dan memang, Arthur juga berencana untuk menghubungi Putra kembali setelah beberapa saat, namun ternyata Putra sudah lebih dulu menghubunginya.
Arthur memang ingin menyampaikan informasi yang telah dia dapatkan sesuai dengan apa yang Putra minta dirinya untuk lakukan, karena menurut Arthur ini adalah ranah urusan pribadi Putra, jadi Arthur tidak menyampaikannya pada Addison melainkan merasa lebih baik jika langsung menyampaikannya pada Putra.
“What information that you want to give to me ( Informasi apa yang ingin kau berikan padaku ), Ar?” Tanya Putra setelah mendapat sahutan dari Arthur disebrang telepon.
“....”
“Tell me then ( Katakan padaku kalau begitu )”
**
Wajah Putra nampak serius saat mendengarkan informasi yang dikatakan oleh Arthur dari sebrang telepon . Namun kemudian fokus Putra kemudian teralih dengan segera, saat suara Anthony ia dengar bersamaan sosoknya yang muncul lagi ke ruang kerja.
“Papa!! ....”
“Alright. I talk to you later ( Ya sudah. Aku akan berbicara lagi denganmu nanti )”
“Lunch is ready!!!.... ( Makan siang sudah siap!! ).....”
Putra mengangkat jempolnya pada Anthony yang kemudian berlalu lagi dari ruang kerja.
Lalu Putra mengakhiri panggilan teleponnya dengan Arthur, karena Anthony menyambanginya untuk mengajak makan siang.
“What a surprise.... ( Sungguh suatu kejutan ) ...” Gumam Putra sembari meletakkan gagang telepon di tempatnya.
__ADS_1
**
To be continue ....