
Happy reading .....
🔵🔵🔵🔵🔵🔵
Inggris ..
“Any last words? ( Ada kata-kata terakhir? )“
Yang Putra katakan pada Jaeden selepas ia menyirami tubuh Jaeden dengan bahan bakar mobil.
Lalu umpatan tajam serta merta keluar dari mulut Jaeden yang wajahnya sudah babak belur. Karena sebelum Putra memberikan dua jenis siksaan parah padanya – Damian lebih dulu menjadikan Jaeden samsak tinju.
Yang mana hal itu, dilakukan oleh Damian sebelum Putra memukul kaki Jaeden dengan sebuah balok kayu, yang kemungkinan membuat kaki Jaeden patah – dan tentu saja tidak Putra pedulikan. Karena itu yang memang Putra inginkan.
Menyiksa Jaeden sebelum menghabisi nyawanya.
Dimana sebelumnya, terlebih dahulu Putra menekan mental Jaeden sedemikian rupa.
Dan setelah hal itu Putra lakukan namun Jaeden hanya nampak terguncang mentalnya tidak lama, walau entah di dalam hatinya setelah Putra mengurus dua orang yang paling Jaeden sayangi di dunia ini, apakah Jaeden sehancur dirinya dan Anthony setelah pembunuhan yang dilakukan Jaeden atas dua orang terkasih Putra itu.
Tapi sekali lagi, Putra tidak mau peduli.
Yang penting hatinya puas telah memiliki kesempatan untuk menghabisi Jaeden, dan menekannya sedemikian rupa. Mengambil kembali semua yang Putra anggap adalah milik Rery dan Anthony, sekaligus menghancurkan apa yang telah Jaeden bangun dengan tangannya untuk kesejahteraan dirinya.
“*F*k You!”
Jaeden yang langsung menjawab pertanyaan Putra tentang apakah Jaeden memiliki permintaan terakhir sebelum Putra mengakhiri dendamnya, yakni membunuh Jaeden—dengan umpatan seraya memandang tajam pada Putra.
“Heh!”
Putra dan Damian sama-sama langsung berdecih sinis, setelah mendengar umpatan Jaeden tersebut.
Lalu Putra tak lagi bicara.
Karena Putra sudah menggerakkan tangannya untuk menyiram tubuh Jaeden dengan cairan yang amat mudah terbakar.
“Say ‘Hi’ to hell ( Katakan ‘Halo’ pada neraka )”
Putra berkata dingin setelah ia menyirami tubuh Jaeden secara keseluruhan dengan cairan yang mudah terbakar itu, sambil Putra memegang pemantik yang sudah ia buka tutupnya.
“Your hand spread by the fuel. You may get burn if you turn it on ( Tanganmu terkena bahan bakar. Kau akan terbakar saat menyalakannya )”
Namun Putra yang sudah membuka tutup pemantiknya dan siap dinyalakan itu, mendapat sergahan dari Damian.
Salah satu saudara Putra itu kemudian mendorong tangan Putra yang sedang memegang pemantiknya sendiri itu, lalu Damian mengambil pemantiknya sendiri dari dalam saku mantel panjangnya.
“Step back ( Mundurlah )” ucap Damian, dengan dirinya yang maju selangkah lalu membelakangi Putra. “Enjoy the fire ( Nikmati apinya )...”
Damian yang berujar pada Jaeden setelah membuat Putra mundur, sambil ia menyeringai memandang pada Jaeden—dan sudah menyalakan pemantiknya.
Damian memundurkan tubuhnya sedikit, lalu ia langsung melemparkan pemantik miliknya ke arah Jaeden yang sedang bergerak untuk menjauh menggunakan punggungnya di atas lantai geladak kapal dengan sisa-sisa tenaganya untuk menghindari api yang tersulut dari pemantik Damian yang telah pria itu lempar, dan kini sudah mulai menjalar.
__ADS_1
****
Damian langsung membalikkan tubuhnya saat dia telah melempar pemantiknya ke arah Jaeden, tanpa lagi memperhatikan keadaan sekitar. Karena api yang dirasa Damian akan cepat menjalar atas dasar geladak kapal sudah hampir kesemuanya telah disiram oleh bahan bakar dan akan menciptakan ledakan juga dikarenakan memang ada peledak yang sengaja diletakkan di kapal tersebut agar segera hancur setelah terbakar dengan Jaeden didalamnya—sesuai dengan yang Putra inginkan.
Namun saat Damian berjalan untuk meninggalkan kapal, ekor matanya menangkap Putra yang ia pikir telah lebih dulu meninggalkan geladak, ternyata masih berdiri di tempatnya saat Damian menyuruhnya mundur dan mengambil alih untuk menyulut api.
“COME PUTRA! THIS SHIP WILL BLOW UP NOT SO LONG! ( AYO PUTRA! KAPAL INI AKAN MELEDAK TIDAK LAMA LAGI! )” Damian pun segera berseru kencang dari tempatnya kepada Putra.
“I’LL CATCH UP! ( AKU AKAN MENYUSUL! )” jawab Putra dengan sama berseru kencang seperti Damian yang berseru padanya barusan, dimana mata Putra tetap terarah pada Jaeden yang masih bergerak susah payah dengan punggungnya untuk menghindari api. “I Must To Make Sure That He Really Burn And Die! ( Aku harus memastikan Jika Dia Benar-Benar Terbakar Dan Mati! )”
“Ck!”
Damian langsung saja berdecak tajam.
“He’ll die. His body will become pieces not so long when he get burn right after this ship blow up.”
“( Dia pasti mati. Tubuhnya akan menjadi kepingan-kepingan tidak seberapa lama setelah ia terbakar tepat saat kapal ini meledak )”
Berseru lagi kemudian, sambil Damian yang sudah mendekati Putra dengan cepat dan tergesa itu, juga menarik lengan Putra agar lekas bergerak dari tempatnya dan meninggalkan kapal yang kemungkinan akan meledak tidak lama lagi.
Dan karena hal itu, Putra dan Damian harus menyegerakan diri mereka untuk segera menaiki kapal kecil dimana Yona dan Accursio dan anak buah mereka telah ada di sana dan menunggu Putra serta Damian menaiki kapal tersebut juga, lalu bergerak cepat agar jauh dari kapal besar yang tadi mereka tumpangi itu.
Karena ditengarai, ledakan yang akan terjadi cukup besar dan membahayakan jika mereka tidak segera menjauh dari kapal besar tersebut.
****
Putra yang sedikit keras kepala, namun Damian memaksanya sembari menyentak Putra dan berseru tajam itu berhasil pada akhirnya membuat Putra mengikuti apa kata Damian. Lalu berjalan cepat untuk segera mencapai kapal kecil yang telah menunggu keduanya itu.
“MOVE NOW! ( JALAN SEKARANG! )”
Kapal kecil itupun segera pengemudinya lajukan dengan segera.
****
Kapal kecil yang kini ditumpangi Putra dan kawanannya telah melesat cepat menjauhi kapal besar yang sudah terlihat di lalap api besar bagian geladaknya itu. Dan seiring kapal kecil yang sekarang ia tumpangi tengah cepat melaju itu, mata Putra tak putus memandangi kapal besar yang mulai sedang terbakar hebat dalam pandangannya saat ini.
BLAARR!!!
Suara ledakan kemudian terdengar beruntun kemudian, bersamaan kapal yang mulai hancur. Dimana hal itu, membuat sunggingan miring terbentuk tak hanya di bibir Putra, namun juga di bibir Damian-Accursio dan Yona.
“Now you both can totally rest in peace ( Sekarang kalian berdua benar – benar dapat beristirahat dengan tenang ), Rery... Madelaine...” gumam Putra sambil memandangi kapal yang baru saja meledak dengan hebat itu.
Damian, Accursio dan Yona mendengar gumaman Putra itu, lalu sebersit senyum maklum terukir di bibir mereka. Damian kemudian merengkuh pundak Putra. “Not only Rery and Madelaine, but all of our brothers and fam who die because of him ( Tidak hanya Rery dan Madelaine, tetapi semua saudara dan keluarga kita yang tewas karena dia )”
****
Putra mengangguk sekali setelah mendengar ucapan Damian sambil salah satu saudara angkatnya itu merengkuh pundaknya, dan menatap pada kapal besar yang sebelumnya mereka tumpangi dan belum lama meledak di hadapan mereka yang sudah ada pada jarak yang lumayan jauh dari kapal besar yang belum lama meledak tersebut.
Bahkan ledakan juga masih terus terjadi saat kapal kecil yang dinaiki Putra kian menjauh dari kapal besar itu, untuk sampai ke daratan. “But still, I don’t feel satisfied because I don’t see that mtherfucker totally burning and dead in front of my eyes* ( Tapi tetap saja, aku tidak merasa puas karena aku tidak melihat keparat itu benar-benar terbakar dan mati di depan mataku ) –“
“No one will impossible survive from that kind of boom ( Tidak akan ada yang bisa selamat dari ledakan semacam itu )” timpal Accursio. Dan ucapan Accursio itu diiyakan oleh Damian serta Yona. “Beside, remember that mtherfucker condition before, he really has no chance to get out from that ship* ( Lagipula, mengingat kondisi si keparat itu tadi, dia memang tidak memiliki kesempatan untuk keluar dari kapal itu )”
__ADS_1
Putra pun mengangguk.
****
Putra dan rombongannya telah mencapai sisi pelabuhan di sudut berbeda dari sudut saat mereka berangkat tadi, yang mana memang sudut tersebut telah dijadikan satu titik sebagai tempat Putra dan rombongannya itu untuk keluar dari area pelabuhan, dimana setelah turun dari kapal pada sudut tersebut, Putra dan rombongan segera berjalan menjauh dari pelabuhan.
Ke satu sudut lain, dimana para anak buah telah standby dengan beberapa mobil yang sudah juga akan siap dilajukan saat Putra-Damian-Accursio dan Yona memasukinya.
****
Putra dan rombongan menjadikan mansion lama Putra di salah satu kota di Inggris menjadi tempat tujuan mereka untuk kembali. Yang mana memang sudah juga ditentukan sebelumnya. Dimana mereka yang tidak menyertai Putra ‘mengurus’ Jaeden, telah berada di sana di saat Putra memasuki mansion lama keluarganya itu.
Mendengar suara mobil yang datang beriringan, Addison, Garret dan Danny yang memang sudah menunggu kedatangan Putra-Damian-Accursio dan Yona itu, langsung bergegas ke teras mansion untuk menyambut kedatangan ke empat orang tersebut berikut rombongan. “Done?” Addison langsung bertanya.
“Just make a schedule for a celebration ( Hanya tinggal membuat jadwal untuk perayaan )” jawab Damian dengan tersenyum lebar. Dimana senyuman itu kemudian menular kepada lainnya. Dan tiga orang yang menyambut Putra-Damian-Accursio dan Yona itu pun paham makna dari ucapan Damian, bahwasanya Jaeden memang sudah tamat riwayatnya.
****
“Have you called villa ( Apa kau sudah menghubungi villa ), Ad?”
“Not yet. Me, Danny and Dev was just take some rest after we’re arrived here ( Belum. Aku, Danny dan Dev langsung pergi beristirahat saat kami sampai ke sini )”
“I see ( Aku mengerti )...” angguk Putra. “Beside, it’s dawn there ( Lagipula, ini sudah dini hari di sana )”
Putra berujar sambil melirik arlojinya.
“Oh, Thom... Have you connect the line ( Apa kamu sudah menghubungkan sambungan telepon )?...“
Putra berbicara pada pria yang merupakan orang kepercayaannya Accursio itu pada awalnya, ketika pria itu muncul dari dalam mansion, di saat Putra dan mereka yang tadi sempat bercakap kecil di teras mansion lama keluarga Putra, hendak masuk ke dalamnya.
Namun Thomas tidak menjawab pertanyaan Putra yang barusan.
“Mister Putra ..”
Melainkan pria itu menyebut nama Putra dengan wajahnya yang nampak aneh di mata Putra.
****
Putra menangkap gelagat aneh dari Thomas, kemudian Putra langsung saja bertanya pada pria kepercayaan Accursio itu.
“What’s wrong ( Ada apa ), Thom? .. You look nervous? ( Kau terlihat gugup? ) –“
“Your wife, got an accident, Sir ( Istri anda, mengalami kecelakaan, Tuan ) –“
“What did you say ( Apa katamu )?!” sambar Putra yang terkejut bukan main mendengar ucapan Thomas barusan.
“Mister Garret just called, and he said that your wife was fell from the second floor at your villa ( Tuan Garret baru saja menelepon, dan dia mengatakan jika istri anda terjatuh dari lantai dua di villa anda ) ..”
****
To be continue...
__ADS_1